
Sembari menunggu Kendrict yang sedang di toilet, Hana memainkan ponselnya. Namun, sebelumnya dia menyiapkan uang untuk membayar makanan yang tadi dimakannya. Hana tidak ingin mempercayai cowok itu lagi. Ponselnya berdering, membuat pergerakan Hana terhenti.
Dia mengambil ponselnya yang berada di atas meja. Di layar ponselnya tertera nama Mira. Ada kernyitan di dahi Hana saat ini. Bertanya-tanya mengapa Mira menelponnya. Hana memutuskan menjawab panggilan itu di luar café, karena di dalam sini sangat ramai. Dia mencari tempat yang sepi.
“Halo?” jawab Hana sembari berjalan keluar.
“Han, kenapa belum pulang?” tanya Mira dari seberang sana.
“Ah iya, sebentar lagi Hana pulang. Ini lagi nunggu Ken,” jawab Hana.
“Jangan pulang terlalu malam, ya? Hati-hati di jalan,” ucap Mira sebelum mengakhiri percakapan mereka.
Hana kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas dan dia berniat hendak kembali masuk. Namun, tiba-tiba langkahnya dicegat oleh dua anak perempuan.
“Wah, lihat nih kita ketemu siapa. Ternyata ketua OSIS suka main ke café ini juga,” kata Nita.
“Kalian anak SMA 22?” tanya Hana, jujur saja dia tidak terlalu mengenal dua anak ini.
Wajah Nita menjadi masam, ternyata Hana tidak mengenalinya. Padahal dia selalu ikut kemana pun Kendrict pergi. Nita dan temannya ini yang paling dekat dengan geng Kendrict. Seharusnya ketua OSISnya ini juga mengenalnya.
“Ckck, gue temennya Ken. Lupa lo?”
Hana terdiam mencoba mengingat-ingat. Lalu, dia mengangguk setelah ingat. Sementar Nita mendengus kesal melihat sikap anak di depannya ini.
“Mumpung kita ketemu di luar nih, ada yang mau gue omongin sama lo,” ucap Nita melipat tangannya di depan dada.
“Apa?” tanya Hana.
“Lo tau kalo gue suka Ken ‘kan? Sekarang gue lagi usaha buat PDKT sama dia, awalnya rencana pendekatan gue berjalan lancar. Tapi, sejak lo ikut campur urusan Ken, rencana gue jadi gagal total. Jadi, gue harap lo jangan ikut campur lagi urusannya Ken.”
Hana mendengarkan semua penuturan Nita, tapi selanjutnya dia menggelengkan kepala. Hana tidak bisa menuruti permintaan Nita.
“Maaf, gue nggak bisa. Ken selalu melanggar tata tertib sekolah dan gue nggak bisa tutup mata lihat dia dengan seenaknya melanggar tata tertib sekolah. Nggak cuma Ken, anak-anak yang lain juga gue perlakuin hal yang sama jika mereka melanggar tata tertib sekolah.”
Nita memutar bola matanya malas mendengar penjelasan Hana yang dianggapnya hanya alasan semata. Namun menurut Nita, sebenarnya Hana hanya ingin tetap dekat dengan Kendrict. Nita sudah mulai muak dengan Hana yang masih membicarakan tentang tata tertib sekolah yang sebenarnya juga sering dia langgar. Bahkan sudah tak terhitung dia keluar masuk ruang BK bersama dengan geng Kendrict.
__ADS_1
BRUKK!
Akhirnya Nita mendorong Hana hingga menyebabkan gadis itu terjatuh di atas tanah. Nita menyunggingkan senyum puasnya.
“Gue udah ingetin lo, ya. Ini peringatan dari gue! Jangan lagi lo ikut campur urusan Ken! Masih banyak anak lain yang melanggar, kenapa lo cuma ngejar Ken? Cari-cari kesalahan dia?’
“Gue nggak ….”
“Kalian ngapain, hah?” bentak Kendrict.
Mendengar suara yang cukup keras membuat tiga orang itu serempak menoleh. Nita dan temannya membulatkan matanya, dan wajah mereka sudah pucat. Nita tidak mengira jika ternyata Hana datang bersama dengan Kendrict.
"Ke …, Ken? Lo ngapain di sini sama dia?” tanya Nita pada Kendrict yang membantu Hana berdiri.
“Bukan urusan lo. Kalian ngapain tadi? Ketua OSIS punya salah sama kalian?”
“Nggak, bukan itu. Gue cuma ….”
“Apa?” tanya Kendrict dengan tatapan mengintimidasi.
Nita sudah gugup di tatap seperti itu oleh Kendrict. Hana menarik ujung kaos Kendrict, meminta cowok itu tidak terlalu kasar pada dua anak perempuan ini. Sementara Kendrict mengernyitkan dahinya melihat tingkah Hana, Nita sudah terbakar api cemburu melihat kedekatan dua orang didepannya ini.
Hana memang tidak mau memperkeruh keadaan, menurutnya ini masalah sepele yang tidak perlu diperbesar. Nita salah paham dengannya dan menyebabkan gadis itu marah padanya.
“Tapi gue belum denger penjelasan dari dia,” ucap Kendrict.
“Gue bisa jelasin, Ken,” kata Nita.
Namun, baru saja Nita membuka mulutnya ada suara dering dari ponsel milik Hana. Cepat-cepat Hana mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya. Gadis itu membulatkan matanya ketika yang menelponnya adalah Samsul.
Hana menjawab panggilan dari sang ayah. Setelah sekian lama, akhirnya sang ayah menelponnya. Belum sempat Hana menyapa, suara tegas dari Samsul sudah masuk ke indera pendengarannya. Beliau menyuruh Hana untuk cepat pulang karena malam sudah larut, dari nada suaranya Samsul terdengar marah padanya.
“Maaf, gue harus pulang sekarang,” kata Hana setelah menyelesaikan panggilan itu.
“Ayo.”
__ADS_1
“Ken!” panggil Nita.
Kendrict yang telah berjalan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Nita dengan alis bertaut.
“Apa?”
“Lo nggak ikut nongkrong sama kita?” tanya Nita, “Putra juga ikut gabung nanti,” lanjutnya.
“Gue harus anter Hana balik dulu. Nanti gue nyusul,” jawab Kendrict dan benar-benar pergi dari sana bersama dengan Hana.
“Ckck, awas aja lo, Han. Gue nggak akan tinggal diam, gue buat lo menyesal karena udah ikut campur.”
“Lo ada ide, Nit?”
Nita menyunggingkan senyumnya, matanya masih memperhatikan Kendrict dan Hana. Hingga mereka keluar dari area parkir café ini.
Sementara itu, Hana sangat gelisah di dalam perjalanannya. Ayahnya terdengar marah karena hingga pukul sembilan malam belum juga pulang. Padahal tadi Mira telah berpesan agar tidak pulang larut malam. Terlalu sibuk dengan pikirannya hingga Hana tidak sadar jika telah sampai di depan rumahnya.
“Oii, ketua OSIS!” panggil Kendrict sembari menggoyangkan motornya.
“Ya?” tanya Hana terkejut.
“Udah sampai, lo nggak mau turun? Gue mau lanjut nongkrong nih.”
“Oh? Maaf, gue nggak tau kalo ternyata udah sampai,” jawab Hana bergegas turun dari motor, “Makasih, Ken,” lanjut Hana.
Kendrict hanya mengangguk dan cowok itu segera pergi dari sana. Setelah kepergian Kendrict, Hana pun masuk ke dalam rumah. Ternyata Samsul sedang berada di ruang keluarga bersama dengan Mira.
“Mana cowok itu? Kenapa nggak masuk?” tanya Samsul pada Hana yang baru menginjak ruang keluarga.
“Ken langsung pulang, ada acara lain katanya,” jawab Hana menundukkan kepalanya takut.
“Dasar, anak zaman sekarang tidak tau sopan santun. Bawa anak gadis sampai malam, bukannya ….”
“Sudah, Mas,” ucap Mira menghentikan gerutuan Samsul, “Hana masuk ke kamar, ya? Istirahat, pasti kamu capek.”
__ADS_1
Hana menurut dan segera naik ke kamarnya. Memang hari ini sangat melelahkan baginya. Gadis itu segera membersihkan dirinya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamar. Tadi memang salahnya karena pulang sangat terlambat, Hana berencana hendak meminta maaf pada sang ayah esok hari.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...