Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Pelantikan Ketua OSIS


__ADS_3

Sebuah tepukan di bahu, membuat Hana terkejut. Gadis itu segera menoleh pada orang yang tadi mengejutkannya.


"Kenapa melamun?" tanya Glen mengernyitkan dahinya.


"Emm, nggak Kak. Cuma lagi mikirin pelantikan nanti," jawab Hana sedikit berbohong.


Hana memang sedikit kepikiran tentang pelantikan yang akan diadakan siang nanti. Siang nanti ketua OSIS sekolahnya resmi berganti. Namun, sebenarnya bukan hanya pelantikan saja. Tiba-tiba Hana kembali memikirkan kejadian tempo hari, dimana dirinya bersama Kendrict di atap.


"Lo sakit, Dek?" tanya Glen menempelkan tangannya di dahi Hana untuk memeriksa suhu tubuh gadis itu. "Muka lo kok merah gitu?"


Hana terkejut dan segera menurunkan tangan Glen. Dia segera menjelaskan pada cowok itu jika ia baik-baik saja saat ini.


"Beneran lo nggak papa? Gue masih belum tau dagu lo kenapa," tanya dan ucap Glen menunjuk dagu Hana yang tergores.


"Ketendang kakinya Ken," jawab seseorang tiba-tiba datang meletakkan mangkok di atas meja.


Hana membulatkan matanya pada orang yang baru datang tadi. Sementara anak itu hanya mengangkat bahunya tidak peduli.


"Kok bisa?"


"Si Hana narik kaki Ken pas dia mau bolos. Terus nggak sengaja ketendang."


"Diem lo, Dri!" peringat Hana pada Adrian yang membeberkan semuanya pada Glen.


"Wah, brengs*k tuh anak. Gue harus buat perhitungan sama tuh anak," ucap Glen menggebrak meja membuat beberapa anak menoleh ke arah mereka.


Saat ini Hana bersama Glen ada di kantin. Tadinya Hana seorang diri duduk di sini, lalu Glen kebetulan juga berada di kantin ini. Akhirnya Glen bergabung dengan Hana.


"Apa nih rame-rame?" tanya Anggun yang baru datang bersama teman-teman OSIS.


"Nggak ada apa-apa. Duduk aja kalian," jawab Hana mengisyaratkan pada mereka yang baru datang untuk segera duduk.


Mereka pun menurut dan serempak duduk. Suasana kantin yang tadinya ramai mendadak sepi ketika rombongan Kendrict datang masuk ke kantin. Mata Hana tidak sengaja bersibobrok dengan Kendrict. Ada senyum yang cowok itu berikan pada Hana, membuatnya spontan mengalihkan pandang.


Hana berdehem pelan dan meminum minumannya. Beruntung tidak ada yang melihat tingkah anehnya ini. Entah mengapa Hana mendadak gugup. Apalagi jika dia kembali teringat kejadian di atap, membuatnya merasa canggung.


Dia melirik ke arah meja Kendrict. Cowok itu terlihat sedang asyik mengobrol bersama dengan teman-teman gengnya. Di sana juga ada Nita yang duduk bersebelahan dengan Kendrict.

__ADS_1


"Lo lihat apa, Han?" tanya Ara.


"Hah? Nggak lihat apa-apa," jawab Hana dan mengalihkan pandangannya.


"Kok gue sebel lihat tuh rombongan, ya? Satu hari aja nggak buat onar bakal bisulan kayaknya mereka," ucap Vio.


"Tuh, buat ulah lagi mereka," tunjuk Anggun.


Hana menghembuskan napas melihat Kendrict dan teman-temannya dengan percaya diri merokok di kantin. Adrian dan Hana serempak berdiri dari duduknya hendak menegur.


Namun, suara dari speaker membuat pergerakan Hana dan Adrian terhenti. Mereka semua diminta untuk ke lapangan.


"Tuh Pak Amin jalan ke sini. Pasti mereka kena, kalian ke lapangan duluan nanti kita nyusul," kata Anggun pada Hana dan Adrian.


Kedua orang itu pun menurut dan segera keluar dari area kantin. Anak-anak yang masih di kantin juga berbondong-bondong menuju lapangan. Sementara geng Kendrict lari kocar-kacir ketika melihat Amin yang merupakan guru piket hari ini datang membawa pentungan.


"Arya!" panggil Hana.


"Iya, Kak."


"Udah siap? Jangan gugup, ya?"


Hana sudah berada di posisinya dengan membawa bendera OSIS sementara disebelahnya ada Adrian yang membawa bendera merah putih. Pembukaan telah dilakukan oleh MC yang bertugas.


Lalu, Arya masuk ke lapangan dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kemudian, Hana dan Adrian masuk ke lapangan. Hana menyerahkan bendera kepada Arya sebagai bentuk penyerahan jabatan.


Setelahnya bendera tersebut diberikan terlebih dulu pada seorang anggota OSIS untuk kembali disimpan dan Arya mengucapkan sumpah OSIS yang dipimpin oleh kepala sekolah.


Selesai melakukan sumpah, kepala sekolah memberikan pidato singkatnya sebelum dilakukannya doa penutup.


Upacara pelantikan berjalan dengan lancar. Arya terlihat sangat percaya diri di tengah lapangan tadi, bahkan suaranya terdengar lantang ketika mengucapkan sumpah jabatan.


Upacara telah selesai dan mereka diperbolehkan untuk pulang lebih awal. Tentunya hal tersebut membuat anak-anak SMA 22 bersorak bahagia.


"Sebagai perayaan, gue mau traktir kalian semua," ucap Hana pada pengurus OSIS yang lain.


Setelah upacara tadi berakhir, para pengurus OSIS berkumpul di ruang OSIS. Ruang ini langsung heboh mengetahui Hana akan mentraktir mereka.

__ADS_1


"Arya juga mau traktir, Kak. Kita bagi dua aja," kata Arya pada Hana.


"Eh? Nggak usah, kamu bisa traktir lain kali."


"Nggak apa-apa. Kita bagi dua aja," ucap Arya. "Ayo semuanya, kita berangkat!" seru Arya semangat.


Hana hanya menggelengkan kepalanya melihat bagaimana teman-temannya ini sangat bersemangat. Setelah mengambil tas masing-masing, mereka pun berangkat menuju sebuah cafe yang sudah Hana pesan sebelumnya.


"Astaga, mereka itu buntutin kita apa gimana sih? Perasaan ketemu terus sama mereka," ucap Anggun yang melihat Kendrict bersama teman-temannya baru datang ke cafe ini.


"Udahlah, lagian tempatnya juga masih luas," kata Vio menepuk lengan Anggun.


"Wah, kebetulan ketemu sama anak 22. Gabung sekalian nggak masalah 'kan?" tanya Kendrict dengan ekspresi dibuat seterkejut mungkin.


"Maaf, tapi ini acara buat anak OSIS," kata seorang pengurus OSIS.


"Loh? Kenapa? Lagian kita juga anak 22. Nggak boleh beda-bedain gitu. Kita juga mau ucapin selamat buat ketua OSIS baru sekolah kita," balas Kendrict menatap seluruh orang di sini.


"Gimana, Ar?" tanya Hana pada Arya yang kebetulan memang duduk disebelahnya.


Kendrict menatap tajam pada Arya. Memberi kode pada Arya agar setuju. Dengan terpaksa Arya mengangguk dan membuat rombongan Kendrict bersorak girang.


"Sip! Kalian boleh pesan apa aja. Gue yang traktir!" ucap Kendrict.


"Tapi ...."


Kendrict menatap Arya yang hendak berbicara. "Gue nggak terima penolakan. Enjoy aja, jangan sungkan-sungkan."


Hana menghembuskan napasnya melihat tingkah Kendrict. Lalu, cowok itu dengan kejamnya mengusir Arya dan Kendrict menggantikan posisi anak itu.


Walau awalnya para anak OSIS menolak kehadiran teman-teman Kendrict, tapi akhirnya mereka terlihat akur. Suasana cafe ini menjadi ramai oleh mereka.


Hanya Hana yang merasa tidak nyaman dengan posisinya. Dari tadi Kendrict tidak melepas tatapannya pada Hana.


"Han," panggil Kendrict berbisik.


Hal itu membuat Hana merinding. Gadis itu menoleh sekilas dan kembali mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


"Gue pengen ulangin kejadian di atap waktu itu," ucap Kendrict memamerkan deretan gigi putihnya dan membuat wajah Hana memerah.


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...


__ADS_2