Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Teringat Kembali


__ADS_3

Hari ini Hana kedatangan teman-teman yang ingin menjenguknya. Sepulang sekolah teman-teman kelas dan juga anak-anak OSIS datang menjenguk. Mira menyambut hangat kedatangan teman-teman Hana tersebut. Namun, berbeda dengan Hana.


Gadis itu benar-benar berubah sejak kemarin. Pandangan mata Hana kosong dan kini dia lebih tertarik pada pemandangan di luar sana. Tentu melihat perubahan sosok yang biasanya sangat ceria juga ramah menjadi tanda tanya bagi teman-teman gadis itu.


“Hmm, kayaknya Hana masih kurang sehat. Kita pamit sekarang aja, biar Hana bisa istirahat,” kata Vio menginterupsi anak-anak yang lain.


Sejak kedatangan mereka Hana benar-benar tidak bebicara. Bahkan ketika Adrian dan yang lain mendekat, pandangan Hana tidak teralihkan.


“Kami pamit dulu, Tante,” pamit Adrian pada Mira.


Satu-persatu dari mereka mencium tangan Mira dan keluar dari kamar rawat Hana. Sebelumnya mereka juga pamit pada gadis itu. Namun, sama sekali tidak mendapat respon. Mira meminta maaf pada anak-anak itu, beliau juga merasa tidak enak dengan mereka.


“Nggak apa-apa, Tan. Kami paham kok,” kata Adrian sebelum benar-benar pergi. Sebelumnya, dia menyempatkan diri untuk kembali melihat keadaan Hana.


Setelah kepergian teman-teman Hana, Mira menghampiri gadis itu. Mira merasa sangat sedih melihat keadaan Hana sekarang. Gadis itu membisu dan tidak mau bercerita apa yang dirasakannya entah pada Mira maupun Samsul. Rencananya Hana sudah diperbolehkan pulang lusa. Lukanya sudah membaik, hanya cedera di bahunya yang masih harus mendapat perawatan.


“Hana mau jalan-jalan sebentar?” tawar Mira. Wanita itu berharap jika kali ini Hana akan meresponnya.


Hana menoleh dan mengangguk samar. Ada sebuah senyum tercipta di bibir Mira. Beliau segera mengambil kursi roda untuk gadis itu dan mengantarnya keluar dari kamar rawat. Keduanya menuju taman rumah sakit untuk mendapatkan udara segar. Suasana taman tidak seramai biasanya. Hanya ada dokter atau perawat yang lalu-lalang. Mereka berhenti dan Mira duduk di bangku yang disediakan di taman ini.


“Masih ada yang sakit?” tanya Mira.


“Kepala Hana sering sakit,” jawab Hana lirih.

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Hana membuat Mira cemas juga senang. Cemas karena ternyata Hana masih merasakan sakit di kepalanya, sekaligus senang karena akhirnya gadis itu mau menjawab pertanyaannya. Mira hendak melontarkan pertanyaan lagi, tapi tidak sengaja beliau melihat keberadaan Samsul dan Glen yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada.


Kedua orang itu berjalan menghampiri Hana dan Mira. Samsul berakhir mengambil cuti untuk beberapa hari ke depan sampai kondisi Hana benar-benar membaik. Pria itu mencoba untuk berani menyembuhkan luka hatinya. Berusaha memperbaiki apa yang telah rusak, walau dalam prosesnya bisa saja entah dia atau Hana akan merasakan kembali luka lama itu.


“Glen,” panggil Mira.


Cowok itu sedari tadi menundukkan kepalanya. Entah apa yang terjadi pada Glen. Melihat hal itu membuat Mira mengernyitkan dahinya.


“Kamu kenapa?” tanya Mira menyentuh tangan putranya.


Glen mendongakkan kepalanya dan wajahnya sudah berlinang air mata. Lalu, cowok itu memeluk Mira. Tentu perlakuan tiba-tiba dari Glen membuat Mira kebingungan, ia menatap penuh tanya pada sang suami. Namun, Samsul hanya tersenyum dan mengangguk saja.


“Maafkan Glen. Kemarin Glen kelewatan sama bunda. Nggak seharusnya Glen ngomong kayak gitu ke bunda,” kata cowok itu di sela tangisnya.


“Sekarang, kamu minta maaf juga ke Hana,” kata Mira melepas pelukannya.


Mendengar hal itu membuat tangis Glen seketika berhenti. Mendadak dia merasa canggung, diliriknya gadis yang duduk di kursi roda itu. Hana sama sekali terlihat tidak tertarik dengan adegan yang baru saja terjadi. Matanya fokus pada seseorang di depannya. Di sana ada dua orang yang Hana kira adalah ibu dan anak.


Keduanya terlihat sangat bahagia, walau sang anak sepertinya sedang sakit. Anak itu memakai baju pasien seperti dirinya, sehingga perkiraan Hana tentang anak itu benar.


“Ayah dan bunda kasih waktu buat kalian ngobrol, ya?”


Glen membulatkan matanya mendengar penuturan Samsul. Namun, tidak ada pilihan lain selain menyetujuinya. Lagi pula dia bukan anak pengecut yang lari dari masalah. Cukup lama keduanya diam. Hana juga belum sadar jika dia ditinggalkan hanya dengan Glen. Mata gadis itu masih fokus pada ibu dan anak di depannya. Tiba-tiba saja sekelebat ingatan muncul dalam kepala Hana. Ada air mata menetes mengalir membasahi pipi.

__ADS_1


“Lo nangis? Gue belum ngomong apa-apa lho,” kata Glen panik melihat Hana meneteskan air mata.


Hana terkejut mendengar perkataan Glen. Dia menoleh dan mendapati cowok itu telah duduk di sebelahnya. Hana menyeka air matanya. Sementara Glen merasa makin bersalah, dia kira jika Hana menangis akibat perkataannya tempo hari. Memang Glen menyadari jika perkataannya itu pasti sangat menyakiti hati gadis di sampingnya ini.


“Gue mau minta maaf sama lo. Soal kata-kata gue yang lo denger waktu itu. Gue udah salah paham sama lo, gue sok tau tentang lo. Gua yang nggak tau kebenarannya malah ngehakimi lo. Maaf, Han. Gue pantes dibenci sama lo,” kata Glen menahan tangisnya, “Gue nggak tau kalo lo amnesia, ayah udah cerita semuanya. Gue bener-bener menyesal,” lanjutnya.


“Kak Glen benar. Semua kata-kata Kak Glen waktu itu benar. Bunda meninggal gara-gara Hana. Hana memang pembunuh. Kak Glen nggak perlu minta maaf, karena Kak Glen nggak salah apa-apa.”


Glen terkejut mendengar ucapan Hana. “Kok lo ….”


“Hana udah inget semuanya,” kata Hana menatap Glen.


Tidak hanya Glen yang terkejut, Samsul dan Mira yang berdiri tidak jauh dari mereka dan mendengar semua pembicaraan mereka juga sama terkejutnya. Mira menutup mulutnya, perasaannya saat ini sulit dijelaskan. Ada sesuatu yang menghantam hatinya mendengar jika ternyata Hana telah mengingat masa suramnya.


Sementara Samsul berjalan mendekati putrinya, berjongkok di depan Hana dan menatap wajah yang sangat mirip dengan mendiang istrinya itu.


Air mata Hana meleleh tanpa diminta. Gadis itu menangis hebat, berusaha menutupi wajahnya. Melihat hal itu, Samsul segera membawa Hana ke dalam dekapannya. Namun, Hana sempat meronta minta untuk dilepaskan.


“Harusnya ayah marah sama Hana. Ayah jangan peluk Hana!” teriak Hana dalam dekapan sang ayah, “Hana nggak pantes dipeluk. Ayah harusnya benci sama Hana. Harusnya Hana yang meninggal, bukan bunda. Harusnya bunda nggak tolongin Hana waktu itu.”


Mira benar-benar tidak tega melihat keadaan Hana yang seperti ini. Mereka memang telah memperkirakan hal seperti ini akan terjadi suatu saat ketika ingatan Hana telah kembali. Namun, Mira tidak menyangka jika ingatan Hana kembali secepat ini.


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...

__ADS_1


__ADS_2