Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Penasaran


__ADS_3

Hana masih mengurung diri di dalam kamar. Tentu hal tersebut membuat Mira sedih juga khawatir. Hari ini beliau hendak ke sekolah Hana dan Glen untuk menghadiri undangan yang kemarin Glen bawa.


Semalam Hana demam tinggi, tapi beruntung pagi tadi demamnya sudah turun. Mira masuk ke dalam kamar Hana yang masih terbaring dengan selimut menutup seluruh badannya. Wanita tersebut berjalan perlahan mendekati tempat tidur Hana.


"Han, Bunda mau ke sekolah dulu. Kalau ada apa-apa bilang ke Mbak Jum, ya?" pamit Mira.


Dari dalam selimut Hana hanya mengangguk sebagai jawaban. Mira pun keluar dari kamar tersebut dan berpamitan juga pada Mbak Jum. Mira menitipkan Hana pada asisten rumab tangganya.


Sepeninggal Mira, Hana membuka matanya dan menurunkan selimutnya sebatas lehernya. Kepalanya terasa masih berat. Gadis itu mencoba untuk duduk. Pandangannya mengarah pada ponsel yang tergeletak di atas meja. Sejak dia membaca komentar jahat untuknya, Hana belum berani mengaktifkan ponselnya lagi.


Semalam suntuk Hana tidak bisa tidur. Tiap dia memejamkan matanya, pasti akan kembali teringat kata-kata dan juga perbuatan mereka. Hana masih terus memikirkan kesalahan apa yang diperbuatnya.


"Kalau memang mereka semua mau gue mundur dari OSIS, gue bakal lakuin," gumam Hana sedih.


Hana sangat menikmati kegiatannya selama ini. Dengan sepenuh hati Hana melaksanakan semua tugasnya. Dia juga selalu berusaha membuat reputasi yang baik untuk sekolah tempatnya menimba ilmu. Namun jika memang saat ini waktunya mengakhiri semua, Hana akan menerimanya dengan lapang dada.


Memikirkannya lagi, membuat Hana kembali menitikkan air mata. Gadis itu memeluk lututnya dan tubuhnya gemetar dengan tangis yang berusaha dia redam.


Sementara itu, di lain tempat Kendrict baru saja bangun dari tidurnya. Cowok itu memperhatikan sekitarnya untuk mengetahui dimana dia sekarang. Mendadak dia lupa sesaat tentang kejadian kemarin.


Tembok putih dengan sofa di dekat tempat tidurnya dan ada sebuah televisi di depan ranjangnya, tentu tempat ini bukan kamar tidur rumahnya. Kendrict berada di ruang ini seorang diri.


Cowok itu menyibak selimutnya dan hendak turun dari tempat tidurnya. Namun, mendadak dia mengurungkan niatnya setelah melihat pergelangan kaki kirinya dibalut perban elastis.


Kendrict kini ingat apa yang dialaminya semalam. Sang ayah menghajarnya habis-habisan dan Kendrict meminta bantuan Putra untuk membawanya ke rumah sakit.


Namun, Kendrict tidak melihat keberadaan sahabatnya itu di sini. Cowok itu pun mencari keberadaan ponselnya, dia menemukannya di atas meja.


Kendrict meraih benda pipih tersebut dan segera mencari nomor Putra.Cukup lama waktu yang diperlukan Kendrict untuk dapat tersambung dengan Putra yang entah berada dimana sekarang.


"Ckck, ke mana tuh anak," gumam Kendrict kembali berusaha menelpon Putra.


"Apa, Ken?" ucap suara dari seberang sana.


"Ke mana lo? Lama amat jawab telpon gue," tanya Kendrict kesal.


"Lagi setor sambil push rank. Kenapa?"

__ADS_1


"Di mana?"


"Di sekolah. Nih dari pagi tadi banyak emak-emak pada dateng ke sekolah ...."


"Semalem lo balik?"


"Tadinya mau numpang sama lo, tapi bokap lo ngusir gue," jelas Putra.


"Eh? Bokap gue ke sini?"


"Iya, bawa rombongan banyak semalem. Terus bagi gue duit, tapi ...."


PLUNG!


Kendrict langsung mengakhiri panggilannya setelah mendengar suara aneh dari seberang sana. Cowok itu mendengus, benar-benar sahabatnya itu tidak bisa diandalkan.


Kendrict mengacak rambutnya, dia memperhatikan tangan kanannya yang terpasang infus. Di selang infus itu ada sedikit noda darah, lalu Kendrict mendongak. Ternyata infus yang terpasang sudah habis, jadi dia memanggil seorang perawat.


Tidak lama kemudian seorang perawat masuk diikuti oleh pria berjas salah satu bawahan Malik. Mereka berjalan mendekat ke ranjang Kendrict.


"Copot aja, Mbak," kata Kendrict.


"Nggak usah ngeyel, gue udah sembuh," potong Kendrict dengan ekspresi masam.


Perawat itu tampaknya masih belum berani melepas infus yang terpasang di tangan Kendrict, dia sempat menoleh ke belakang untuk meminta persetujuan pria dibelakangnya. Pria tersebut mengangguk.


Akhirnya perawat tersebut menurut dan melepas infus milik Kendrict. Setelah melepasnya, cowok itu turun dari ranjangnya dan meraih jaket yang ada di sofa.


"Anda mau ke mana?" tahan pria itu.


"Gue mau pulang, tidur di rumah lebih enak," jawab Kendrict memakai jaketnya.


Pria berjas itu hanya menghembuskan napasnya dan berjalan mengikuti Kendrict dari belakang. Anak majikannya itu berjalan dengan perlahan. Menahan rasa sakit di kaki dan sepertinya juga di wajah.


Semalam Kendrict mendapat beberapa jahitan di pelipisnya dan hidungnya sempat mengalami cedera. Penampilan Kendrict saat ini benar-benar mengkhawatirkan. Cowok itu lebih mirip preman pasar, untuk sementara wajah tampannya tertutup oleh beberapa luka.


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...

__ADS_1


Suasana di sekolah ramai oleh para orang tua siswa yang kemarin terlibat keributan. Glen memperhatikan dari depan kelasnya. Hari ini pembelajaran ditiadakan sampai istirahat yang pertama. Jadi, banyak anak yang berseliweran di luar kelas.


Mata Glen tidak sengaja melihat sang bunda yang baru sampai. Setelah melihat kedatangan Mira, Glen memutuskan untuk turun ke bawah.


"Mau ke mana, Glen?" tanya seorang teman Glen.


"Ke kantin bentar," jawab Glen.


Cowok itu menuruni tangga dengan perlahan, takut terjungkal jika tidak berhati-hati. Suasana tangga pun juga padat, beberapa anak banyak yang naik turun tangga.


"Kak Glen?" tanya seseorang menghentikan Glen yang berada di ujung tangga.


Glen menghentikan langkahnya dan menatap anak perempuan didepannya dengan dahi berkerut. Dia merasa tidak pernah mengenal anak itu.


"Gue mau tanya sesuatu ke lo, Kak," lanjut anak tersebut.


"Tanya apa?" tanya Glen.


"Ikut gue sebentar."


"Kenapa gue harus ikut lo? Kalo mau tanya ya udah di sini aja."


"Di sini rame. Tenang aja gue nggak bakal ngapa-ngapain lo."


"Gimana gue bisa percaya? Gue nggak kenal sama lo," tanya Glen dengan pandangan curiga.


Anak itu terlihat frustasi menghadapi Glen, tapi dia juga tidak bisa menyalahkan cowok itu juga. Mereka memang tidak mengenal satu sama lain. Dia masih berusaha sabar menghadapi seniornya ini.


"Gue Anggun, temennya Hana. Gue mau tanya tentang dia sama lo. Gue tau kemarin lo yang antar dia pulang 'kan?"


Anggun masih menunggu jawaban dari Glen. Jika cowok didepannya ini masih saja diam dan memberikan rekasi menyebalkan, Anggun tidak yakin bisa menahan kesabarannya.


"Oke, lo mau tanya apa tentang Hana?" tanya Glen.


"Ayo ikut gue ke ruang OSIS sekarang," jawab Anggun dan berjalan lebih dulu.


Sedangkan Glen mengekor dari belakang. Namun, cowok itu sudah dapat memperkirakan pertanyaan apa yang akan ditanyakan oleh Anggun dan mungkin ada beberapa anak lain di ruang OSIS itu

__ADS_1


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...


__ADS_2