Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Jadian?


__ADS_3

Hana tercekat mendengar penuturan Kendrict. Sementara di belakang sana Aldi sudah bangkit dan dapat mengendalikan rasa sakit di sekitar perutnya. Cowok itu segera menghampiri Kendrict.


"Lo bener-bener licik, Ken!" kata Aldi menarik bahu Kendrict sekuat tenaga membuatnya berhasil mundur beberapa langkah.


Kendrict menoleh dan menampakkan ekspresi tidak senang. Sebuah bogem melayang tepat mengenai wajah Kendrict. Melihat hal tersebut membuat Hana terkejut.


"Kita udah sepakat!" bentak Aldi.


Dia merasa jika Kendrict mencuranginya saat ini. Momennya bersama dengan Hana tiba-tiba direbut oleh cowok didepannya ini. Kendrict yang dipukul mendadak itu merasa tidak terima.


"Sejak kapan gue buat kesepakatan sama lo?" tanya Kendrict tersenyum miring.


"Brengs*k lo! Memang ya, ucapan lo nggak bisa dipegang! Dasar kek bocah lo!" umpat Aldi.


Hana mengernyitkan dahi mendengar pembicaraan kedua cowok itu. Mendadak rasa takutnya menghilang.


"Kalian buat kesepakatan apa?" tanya Hana menginterupsi perseteruan sengit antara Kendrict dan Aldi.


"Bukan apa-apa. Sekarang lo balik sama gue!" kata Kendrict kembali mendekat pada Hana.


"Jangan curang lo, Ken! Hana balik sama gue," serobot Aldi menahan tangan Kendrict.


Kembali terjadi keributan membuat Hana mendadak sakit kepala. Kenapa dua orang ini selalu ribut? Topik tang diributkan pun tidak pernah jelas.


"Sekarang lo pilih, Han! Lo mau balik sama gue atau cecunguk ini?" tanya Kendrict menunjuk Aldi.


Hana kembali dibuat diam. Dia menatap wajah Kendrict dan Aldi secara bergantian. Mengapa masalah menjadi rumit seperti ini?


"Kalo lo balik sama Aldi, gue mundur sampai di sini. Gue nggak akan ganggu lo lagi dan gue bakal lupain perasaan gue ke lo," kata Kendrict dengan wajah serius menatap Hana.


"Ckck, lebay lo," gumam Aldi.


Hana masih diam, sebenarnya dia juga tidak paham mengapa harus memilih seperti ini. Gadis itu menghembuskan napasnya, melepas jaket milik Aldi dan mengembalikannya. Melihat hal itu membuat Kendrict mesem-mesem, dia sudah bersiap melepas jaketnya untuk diberikan pada Hana.


"Gue balik sendiri, rumah gue udah di depan sana," ucap Hana menunjuk dengan dagunya.

__ADS_1


Lalu, Hana benar-benar pergi dari sana meninggalkan Kendrict dan Aldi yang kompak melongo. Mereka tidak menyangka dengan keputusan yang dibuat Hana.


"Ckck, lo sih! Ganggu aja jadi orang!" kata Aldi menyalahkan Kendrict.


Cowok itu memukul belakang kepala Kendrict sebelum pergi dari sana. Kendrict tentunya merasa tidak terima, dia hendak membalas. Namun, langsung diam setelah melihat Aldi pulang begitu saja.


Tentu Kendrict melihat kesempatan. Dia segera menyusul Hana yang ternyata mampir ke minimarket. Sepertinya gadis itu masih belum sadar jika dia dibuntuti seseorang.


Hana masih berkeliling di tiap rak, melihat apakah ada barang yang sedang dibutuhkan. Hampir saja Hana berteriak kaget ketika melihat wajah Kendrict yang sedang senyum terlihat dari pantulan pintu lemari pendingin.


Hana langsung berbalik dan tepat didepannya berdiri sosok Kendrict yang tersenyum ceria, tapi hanya sebentar. Spontan Kendrict memegang sudut bibirnya yang robek akibat pukulan Aldi tadi.


"Ngapain lo?" tanya Hana ketus.


"Gue mau beli perban," jawab Kendrict beralasan.


Hana hanya mengangguk tak acuh dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Sedangkan, Kendrict masih mengekor. Gadis itu mulai jengah dengan tingkah Kendrict.


"Kenapa lo ngikutin gue terus sih?"


"Ya lo tanya ke pegawainya, kenapa malah ngikutin gue?"


"Gue yakin kalo lo tau tempatnya."


Hana menggelengkan kepalanya dan menyerah atas Kendrict. Dia pun kembali melanjutkan aktivitasnya dan segera menuju kasir setelah selesai. Namun, sebelumnya dia sempat mengambil plester dan obat merah.


Setelah melakukan pembayaran, Hana keluar dari minimarket. Dia masih diikuti Kendrict. Gadis itu duduk di salah satu kursi.


Hari ini Pak Man ternyata tidak berjualan, jadi di depan minimarket terlihat sepi. Kendrict duduk di depan Hana tanpa disuruh. Hana pun mengeluarkan plester dan obat merah dari dalam kantong belanja. Dia memberikannya pada Kendrict.


"Obatin luka lo," kata Hana.


"Obatin, Han. Gue nggak bisa. Lo 'kan pinter ngerawat luka. Gue yakin lo juga bisa rawat luka gue. Luka karena kangen sama lo," ucap Kendrict mesem-mesem, dia merasa keren setelah melontarkan gombalan pada Hana.


Hana menatap aneh pada Kendrict. "Apaan sih? Nggak nyambung."

__ADS_1


"Memang nggak nyambung, yang nyambung 'kan gue sama lo," balas Kendrict bersiul.


Hana dibuat tidak bisa berkata-kata. Gadis itu pun segera membantu Kendrict merawat lukanya agar cowok itu cepat pergi dari sini. Senyum cowok itu masih belum pudar, matanya fokus menatap wajah Hana yang jaraknya dekat.


"Gue jadi inget lagi dulu lo rela manjat pohon buat ambilin sepatu gue yang nyangkut," ucap Kendrict dengan pandangan menerawang ke masa lalu.


"Mana pernah gue gitu?" tanya Hana menjauhkan wajahnya setelah selesai merawat luka Kemdrict.


"Lo bilang gitu karena belum inget. Mungkin buat lo momen kebersamaan kita biasa aja, tapi buat gue momen itu bener-bener indah dan susah dilupain. Dulu lo malaikat penolong gue, Han," ungkap Kendrict tersrnyum manis.


Lagi-lagi jantung Hana dibuat heboh setelah melihat senyum mematikan yang Kendrict tunjukkan. Walau Hana masih belum bisa mengingat dengan benar apakah Kendrict memang pernah satu kelas dengannya kala sekolah dasar, tapi kini ia mulai merasa familiar dengan wajah cowok didepannya ini.


"Gue nggak lagi gombal sekarang. Nggak apa-apa lo masih belum inget sama gue. Entah sejak kapan gue mulai suka sama lo, awalnya gue cuma anggepnya sekedar cinta monyet bocah SD. Tapi, nyatanya sampai sekarang setelah tau kalo orang itu lo, perasaan itu belum hilang."


"Memang gue dulu ngapain?" tanya Hana mengernyit.


"Banyak banget yang lo lakuin ke gue dulu," jawab Kendrict tersenyum. "Perkataan gue yang tadi masih berlaku, Han. Gue suka lo dan lo suka gue. Kenapa kita nggak jadian aja sekarang?"


Tidak hanya jantung Hana yang makin kencang degubannya, kini wajah Hana pun sudah memanas. Pipinya merah semerah tomat dan Kendrict malah menikmati semburat merah itu.


"Jadian?" tanya Hana memberanikan diri menatap manik hitam cowok didepannya.


Kendrict mengangguk mantap. Sementara Hana masih terlihat memikirkan jawabannya. Sebenarnya dalam hati Kendrict ketar-ketir menunggu jawaban Hana. Namun, dia tetap stay cool dihadapan gadis yang dia suka sejak lama itu.


"Gimana, Han?" tanya Kendrict yang sudah tidak sabar.


"Kenapa sih gue bisa suka sama anak nakal kayak lo?" tanya Hana frustasi menutup wajahnya.


"Gue nakal, tapi 'kan ganteng," jawab Kendrict terlalu percaya diri. "Jadi gimana? Kita jadian 'kan?"


"Iya," jawab Hana yang suaranya teredam karena wajahnya masih tertutup oleh kedua tangan.


BRAKK!!


Suara gebrakan meja membuat Hana kaget. Sementara Kendrict bersorak senang setelah mendengar jawaban Hana tadi.

__ADS_1


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...


__ADS_2