Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Gosip


__ADS_3

Ternyata menghindari gosip sangat sulit. Pasti ada saja orang-orang yang membicarakan di belakang. Sejak pagi tadi sudah merebak sebuah gosip di antara para penghuni sekolah.


Target kali ini lagi-lagi Hana. Entah seberapa banyak anak yang membencinya di sekolah ini sehingga menyebarkan berita bohong seperti itu.


Kabar yang beredar pun sama saja, tentang cowok-cowok yang dekat dengan Hana. Apalagi beberapa hari yang lalu Hana terlihat sedang terlibat obrolan bersama dengan Aldi dan Kendrict di depan sekolah. Tentu banyak anak yang memperhatikan mereka.


Namun, seperti biasa Hana tidak mempedulikan orang-orang yang membicarakannya dari belakang. Walau dia juga lelah menjelaskan pada orang-orang jika berita tentang dirinya tidak benar, masih banyak dari mereka yang tidak percaya dengan klarifikasi yang diberikan Hana.


"Ckck, mereka pada syirik sama lo kayaknya," kata Anggun melirik tajam pada anak-anak yang terang-terangan melihat ke arah Hana sambil mulut mereka tidak berhenti mengoceh.


"Udah biarin aja, Nggun," ucap Hana.


"Mereka iri karena lo bisa berteman sama siapa aja, nggak pilih-pilih teman," tambah Ara.


"Han," panggil seseorang yang sudah berdiri di sebelah meja Hana.


Serempak semua penghuni meja tersebut menoleh. Beberapa di antara mereka berdehem untuk menggoda Hana.


"Kenapa, Dam?" tanya Hana.


"Gue mau ngomong sesuatu sama lo," kata Adam.


"Boleh, mau ngomong apa?"


"Nggak di sini, ikut gue sebentar!" ajak Adam.


Hana menurut dan pamit ke teman-temannya. Dia berjalan mengekor Adam yang entah hendak mengajaknya ke mana. Cowok itu tidak menyebutkan tempat tujuan mereka.


Adam tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuat Hana hampir saja menabrak punggung cowok itu. Adam membalikkan tubuhnya dan terlihat menarik napas dalam sebelum mulai bicara. Sementara Hana masih menunggu.


"Han, gue mau ajak lo balikan. Gimana menurut lo?" tanya Adam menundukkan kepalanya dengan memainkan tangan. Merasa gugup.


"Maaf, tapi gue nggak bisa."


Adam mendongak menatap Hana setelah mendengar penolakan langsung dari mulut gadis didepannya.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Maaf, gue udah nggak ada rasa kayak dulu. Sekarang gue cuma berharap kita bisa jadi teman," jawab Hana.


Sebenarnya Hana juga merasa was-was, dia takut jika dia salah bicara pada cowok didepannya ini. Dia menatap Adam, ingin melihat bagaimana reaksinya. Ada rasa bersalah juga dalam diri Hana. Namun, dia juga tidak bisa membohongi perasaannya.


Sudah tidak ada rasa untuk Adam, itu yang Hana yakini saat ini. Lagi pula dulu Adam lah yang memutuskan hubungan mereka. Cowok itu yang telah mengkhianatinya dengan berselingkuh dengan teman sekelas Hana.


"Nggak mau dipikirin lagi, Han? Lo udah yakin sama jawaban lo tadi?"


Hana mengangguk dengan tatapan serius. Hal itu membuat Adam menunduk semakin dalam. Namun, terdengar kekehan yang keluar dari mulut cowok itu membuat Hana mengernyitkan dahi.


"Lo mau balas dendam ke gue? Karena kesalahan gue dulu? Tapi gue udah minta maaf, Han."


Hana menggelengkan kepala. "Nggak, bukan karena masalah itu. Gue udah maafin lo."


"Lo naksir Ken? Memang apa bagusnya dia? Cuma anak biang onar yang buat malu sekolah."


Hana menghembuskan napas lelah. Ternyata Adam salah paham. Mengapa pembicaraan mereka menjadi merembet kemana-mana?


"Han, gue mau bantu lo biar anak-anak nggak buat gosip tentang lo. Gue tau apa yang dibicarain anak-anak nggak bener. Gue mau bantu lo. Jadi pikirin lagi jawaban lo, ya?" pinta Adam meraih kedua tangan Hana dan menggenggamnya erat.


"Dam, keputusan gue udah bulat. Gue juga tadi udah jelasin alasannya dan lo nggak perlu repot bantu gue. Gue harap lo ngerti."


Hana masih berusaha bersabar menghadapi cowok didepannya ini. Hingga sebuah tarikan kasar membuat genggaman Adam terlepas. Hana terkejut dan tanpa sadar memekik.


Kendrict yang datang entah dari mana menghajar Adam yang belum siap menerima pukulannya. Hana berusaha memisahkan mereka. Keributan yang dibuat oleh Kendrict membuat anak-anak berbondong menuju tempat mereka berada.


"Ckck, lagi-lagi dia," ucap salah seorang di antara para kerumunan.


"Masalahnya juga sama, direbutin cowok."


"Ini nih tampang ketua OSIS sekolah kita. Suka nemplok sana-sini."


PLAK!


Suara tamparan terdengar nyaring, membuat suasana seketika hening. Bahkan, Kendrict dan Adam juga menghentikan perkelahian mereka.


"Jaga ucapan lo! Ada hak apa lo keluarin kata-kata kotor gitu?" bentak Anggun pada anak yang tadi mengeluarkan kata-kata menyakitkan bagi Hana.

__ADS_1


"Emang yang bukan anak OSIS nggak boleh keluarin pendapat? Cuma kalian yang boleh? Mentang-mentang anak OSIS jadi kesayangan guru."


Akhirnya keributan terjadi lagi, kini antara para anak yang membenci OSIS dan beberapa anggota OSIS yang ada di sini.


"Ayo bilang ke guru buat ganti ketua OSIS! Kalian lihat ketua OSIS sekolah kita! Nggak bisa kasih contoh yang baik," kata seorang anak berusaha memprovokasi.


Anak tersebut berbicara sembari menunjuk-nunjuk wajah Hana. Sementara Hana benar-benar merasa terpukul. Dia mendengar dengan jelas kata-kata menyakitkan yang ditujukan untuknya.


Hal tersebut membuat Anggun kembali meradang. Dia hendak kembali maju, tapi seorang anak langsung mendorong anak yang tadi berkata jahat.


"Dateng lagi nih cowok yang bela dia," kata anak lain.


"Gue nggak rela lo jelekin Hana! Lo siapa, Bangs*t? Udah ngerasa paling bener? Anj*ng lo!" umpat Glen mendorong anak itu hingga jatuh ke tanah.


Melihat keributan yang terjadi membuat Hana ketakutan, dia pernah berada di posisi seperti ini. Pernah menjadi korban bully di SMP dulu. Anggun yang melihat Hana gemetar ketakutan pun segera menghampiri dan berusaha menenangkan. Hendak membawa gadis itu pergi dari sana.


GREP!


"Mau kemana lo, Jal*ng!"


Seseorang menarik rambut Hana hingga membuatnya tertarik ke belakang. Hana merasakan pedih di kepalanya, tangannya berusaha melepaskan cengkeraman itu.


"Udah gil* lo, Hah?" bentak Kendrict murka.


PRITT!!


Suara peluit nyaring dibarengi oleh para guru dan anak-anak MPK memisahkan mereka yang terlibat keributan. Tadi ada beberapa anak MPK yang melihat kejadian tersebut dan segera melapor pada guru piket.


Anak-anak tersebut digiring menuju lapangan untuk disidang. Hana menangis dipelukan Anggun, dia benar-benar ketakutan. Tidak pernah membayangkan ia kembali menjadi bulan-bulanan orang-orang yang membencinya.


Hana dan Anggun juga ikut menuju lapangan. Keadaan Hana sangat berantakan dengan rambut acak-acakan. Sedangkan Anggun berusaha menenangkan temannya itu.


"Sungguh kalian mempermalukan sekolah! Bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya kepala sekolah yang terlihat sangat marah.


Tidak ada yang menjawab, anak-anak itu hanya saling pandang seperti melemparkan tanggung jawab.


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...

__ADS_1


__ADS_2