
Akhirnya Hana pulang dengan di antar Kendrict. Awalnya gadis itu sudah menolak, tapi Kendrict terus memaksanya dengan dalih hendak membicarakan sesuatu dengannya.
"Lo mau ngomong apa?" tanya Hana dengan sedikit berteriak agar Kendrict dapat mendengar suaranya.
"Nanti aja, lo juga nggak bakal denger. Capek kalo harus ulangi dua kali," jawab Kendrict.
"Hah?"
"Baru juga gue ngomong," gumam Kendrict mendengus kesal.
Hana sudah tidak mendesak Kendrict untuk bicara sekarang. Gadis itu hanya diam memperhatikan jalanan yang dilaluinya. Beberapa saat kemudian, motor yang Kendrict kendarai telah memasuki kawasan perumahan Hana.
Kendrict berhenti di depan pintu gerbang rumah Hana. Gadis itu segera turun dari motor cowok itu.
"Lo mau ngomong apa?" tanya Hana menagih Kendrict.
"Apa, ya? Gue lupa apa yang mau gue omongin," jawab Kendrict langsung tancap gas pergi dari sana.
Sementara Hana masih berdiri mematung di tempatnya. Lalu, ia segera tersadar jika ternyata lagi-lagi cowok nakal itu sedang menjahilinya.
"Nggak ada kerjaan, ya?" gumam Hana menggelengkan kepalanya dan segera masuk ke dalam rumah.
Sore harinya, Glen mengajak Hana untuk menemaninya membeli sesuatu ke mall. Gadis itu setuju saja, karena memang Hana tidak ada kegiatan.
"Tunggu sebentar, ya," kata Glen yang sedang sibuk dengan berbagai pilihan kaos.
Hana tidak tahu barang apa saja yang hendak Glen beli, ia hanya menurut saja. Sebelum berangkat tadi malah Mira sangat antusias ketika tahu Glen dan Hana hendak pergi bersama.
Mira memang menantikan hal-hal seperti ini dan tentunya beliau merasa sangat bahagia melihat kedekatan anak-anaknya. Glen sangat berubah drastis ketika tahu fakta tentang Hana. Walau terkadang ada sifat Glen yang membuat Hana gemas dan kesal.
"Nggak ada yang bagus, kita pindah toko sebelah aja," kata Glen menarik tangan Hana agar mengikuti langkahnya.
"Kak Glen mau beli apa aja? Dari tadi belum ada yang kebeli lho."
"Lumayan banyak barang yang mau dibeli. Ayah baru transfer uang jajan," jelas Glen nyengir.
"Pantesan," gumam Hana.
"Nanti gue traktir lo makan deh. Janji," kata Glen.
Hana hanya mengangguk dan kini keduanya telah sampai di sebuah toko. Mereka masuk ke dalam toko tersebut. Sembari menunggu Glen memilih, Hana juga ikut melihat-lihat koleksi di toko ini.
"Dek, menurut lo ini sama yang ini bagus mana?"
__ADS_1
"Kak Glen suka warna apa?"
Cukup lama Glen terdiam untuk memikirkannya, "Kalo warna sih gue lebih suka yang kiri."
"Ya udah, pilih yang kiri aja."
"Gitu, ya? Oke deh."
Glen pun membawa kaos pilihannya menuju kasir untuk membayar. Hana mengekor dari belakang dan menunggu cowok itu hingga selesai melakukan pembayaran.
"Loh? Ketua OSIS? Kebetulan ketemu di sini," ucap seseorang menyapa Hana.
Hana menoleh begitu juga Glen. Di depan mereka berdiri Nita dan Devi yang sedang tersenyum sok akrab.
"Lo anak baru di sekolah kita 'kan?" tanya Nita mengalihkan pandangannya pada Glen.
Glen mengernyitkan dahi karena merasa tidak mengenal dua orang didepannya, tapi cowok itu juga mengangguk membenarkan jika dia anak baru di sekolah.
"Kalian berdua jalan bareng?" tanya Nita penasaran.
"Iya, kalian juga lagi jalan-jalan?" jawab dan tanya Hana.
Nita memaksakan seulas senyum dan mengangguk sebagai jawaban. Glen mengajak Hana untuk pergi dari sana, hendak menuju tempat selanjutnya.
"Iya, kita juga mau lanjut jalan," balas Nita.
Nita dan Devi masih bertahan di sana hingga punggung Hana tidak terlihat lagi. Selanjutnya ada senyum miring yang tercetak dibibirnya.
"Ternyata bener kata anak-anak yang lain kalo si ketua OSIS suka main sama cowok," kata Nita.
"Kenalan dia nggak cuma di sekolah kita, gue pernah lihat dia akrab sama anak cowok sekolah sebelah."
"Lihat aja nanti, gue nggak akan biarin dia deketin Ken," kata Nita.
Di lain tempat, Hana dan Glen berada di sebuah toko sepatu. Hari ini sepertinya cowok itu ingin menghamburkan uangnya. Memang uang jajan mereka baru saja turun, tapi Glen terlihat kalap membeli beberapa barang.
"Udah, habis ini kita makan dulu. Gue udah laper."
Hana hanya bisa menurut. Kedua tangan cowok itu menenteng paperbag berisi barang-barang yang tadi dibelinya. Mereka naik ke lantai tiga untuk menuju foodcourt.
"Kita makan di mana?"
"Terserah Kak Glen aja."
__ADS_1
"Di sana aja, ya? Lagi ada diskon kayaknya," ucap Glen bersemangat dan lagi-lagi menarik tangan Hana.
Suasana di lantai tiga ini cukup padat. Banyak pengunjung yang memenuhi tempat ini, apalagi sekarang masih suasana libur sekolah. Hana berusaha menyeimbangkan langkah lebar Glen yang masih erat menggenggam tangannya.
"Akhirnya nemu meja yang masih kosong," kata Glen.
Cowok itu menyuruh Hana untuk duduk dan dia pergi untuk mengambil buku menu. Tentu Glen juga menitipkan barang-barangnya pada gadis itu. Tidak lama Glen kembali dengan buku menu dan seorang pelayan.
"Ini, lo mau makan apa?"
Hana membaca menu-menu makanan dan minuman yang tersedia di sini. Pilihan Hana jatuh kepada ramen dengan kuah pedas dan segelas matcha tea.
"Ada pesanan lain?" tanya pelayan itu.
"Mau pesan apa lagi?" tanya Glen pada Hana.
Hana menggeleng, "Itu aja, Kak."
"Baik, ditunggu sebentar," kata pelayan itu dan undur diri dari sana.
Sembari menunggu pesanan mereka datang, Hana dan Glen banyak mengobrol. Namun, Glen yang lebih banyak berbicara. Hana lebih sering mendengarkan saja.
"Oh ya, lo kenal anak-anak yang tadi?" tanya Glen.
"Nita sama Devi namanya. Mereka biasanya main sama Ken," jawab Hana.
"Lo masih sering ketemu si anak nakal itu?"
"Nggak juga sih. Tadi pagi aja nggak sengaja ketemu, karena ternyata Ken sepupu teman Hana."
"Jangan terlalu sering berurusan sama anak kayak dia."
"Nggak bisa, Kak. Tugas Hana berurusan sama anak-anak kayak Ken."
"Lagian kenapa lo tertarik sama OSIS sih? Padahal capek 'kan? Banyak yang harus diurus."
"Nggak capek kok, Hana malah seneng karena jadi ada kegiatan. Lagipula sebentar lagi juga tugas Hana berakhir. Ketua OSIS bakal diganti sama anak kelas satu."
Glen mengangguk membenarkan. Namun, cowok itu jadi teringat jika berarti sebentar lagi dirinya juga akan lulus. Mengingat Glen saat ini sudah kelas tiga.
"Silakan pesanannya, selamat menikmati," ucap pelayan itu menata semua pesanan Hana dan Glen di atas meja.
Setelah mengucapkan terima kasih pada pelayan tersebut, Hana dan Glen mulai menikmati makanan masing-masing. Namun, Glen tidak bisa fokus dengan makanannya. Ia teringat dengan perkataan Hana tadi, karena Glen masih belum tahu tujuannya setelah lulus nanti.
__ADS_1
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...