
Suasana kantin ketika jam istirahat sangat ramai. Ramainya bahkan mengalahkan pasar. Beberapa anak mengantre di depan para penjual makanan atau minuman, lainnya yang sudah mendapatkan pesanan mereka duduk di kursi secara bergerombol dan mengobrol. Obrolan random atau bahkan mengghibah. Hana dan teman-temannya baru saja menginjak kantin. Wajah mereka terlihat lesu karena rasa lapar yang menyerang.
“Kalian mau pesan apa? Biar gue yang antre, kalian cari meja yang kosong,” ucap Hana pada teman-temannya.
“Nggak, lo yang cari meja. Gue aja yang antre. Lo mau makan apa, Han?”
“Eh? Tapi ….”
“Udah, turutin aja,” kata Adrian memotong perkataan Hana dan diangguki teman-teman yang lain.
Rupanya teman-temannya itu merasa bersalah pada Hana karena percaya saja dengan gosip murahan ketika itu. Kini mereka semua sudah tahu akan kebenarannya dan mulai saat ini mereka berjanji akan memperlakukan sang ketua OSIS dengan baik.
Akhirnya Hana mengalah dan menyebutkan menu yang hendak dipesannya. Setelah mengucapkan terima kasih, Hana bersama satu temannya kini menjalankan tugas mereka. Mata menatap seluruh penjuru kantin untuk mencari meja yang kosong.
Hana berhasil menemukan meja yang kosong, mereka duduk di meja yang baru saja ditinggalkan oleh penghuninya ini. Walau letaknya tidak di pojok, apa boleh buat hanya meja ini yang tersisa.
“Kita nggak bantuin mereka?” tanya Hana pada Anggun.
Anggun menggelengkan kepalanya. “Nggak perlu, udah ada Adrian juga.”
Hana hanya mengangguk sekilas. Sedang asyik menunggu kedatangan teman-temannya sembari mengobrol dengan Anggun, tiba-tiba sebuah benda dingin meluncur membasahi kepala Hana. Hal itu membuat suasana hening seketika.
“Astaga! Maaf, gue nggak sengaja,” ucap seorang anak membantu menyeka wajah Hana yang basah akibat air itu.
“Nggak apa-apa, gue bisa bersihin nanti di kamar mandi,” ucap Hana mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa anak itu.
BRAKK!
Anggun menggebrak meja dan menatap tajam pada anak yang tadi mengguyur Hana. Hal yang dilakukan Anggun membuat semua perhatian tertuju pada meja Hana.
“Lo nyiram apa ke kepala Hana, hah?" tanya Anggun tajam.
“Gue bener-bener nggak sengaja. Tadi ada yang nyenggol tangan gue dan nggak sengaja tumpah kena kepala dia.”
“Nita! Gue nggak goblok, ya! Lo pikir masuk logika, hah? Lo ngapain bawa-bawa gelas sampai atas kepala orang?”
__ADS_1
“Nggun, udah. Nita udah bilang kalo nggak sengaja, nggak perlu diperpanjang lagi,” lerai Hana.
“Han, please! Sikap lo yang kayak malaikat ini yang bisa ngerugiin diri lo sendiri, Han! Lo tau? Ini yang buat lo selalu di bully!”
Semua yang ada di kantin benar-benar terdiam, apalagi setelah mendengar apa yang Anggun ucapkan. Adrian menatap dua perempuan itu dari tempatnya. Sebenarnya dia tidak terlalu paham apa yang telah terjadi. Namun ketika melihat ke arah Hana, alis cowok itu bertaut. Rambut Hana terlihat basah dan lepek, sementara di depannya Nita membawa gelas kosong.
“Han, gue nggak ….”
Hana memegang lengan Anggun dan mengangguk. “Gue paham, Nggun. Gue mau bersihin ini dulu. Lo tunggu di sini aja, nanti yang lain pada nyariin kalo lo ikut gue.”
“Tapi, Han ….”
Hana segera berlalu dari sana, masih dengan sikap tenangnya. Sementara Anggun jatuh terduduk, merasa bersalah telah melontarkan kata yang mungkin menyakiti perasaan Hana.
“Ada apa, Nggun?” tanya Vio.
Anggun menatap teman-temannya, mata cewek itu memanas. Melihat hal itu membuat Manda dan Vio panik, mereka duduk mendekat pada Anggun.
“Gue nyakitin Hana, gue buat kesalahan besar.” Akhirnya tangis Anggun pecah.
Anggun pun menceritakan apa yang terjadi tadi dengan sesekali sesenggukan menahan tangisnya. Sementara itu yang lain berusaha mendengarkan walau suara Anggun terdengar tidak jelas dan putus-putus. Mereka menahan kesabaran demi mengetahui duduk perkaranya.
Sementara itu, Hana sedang mencuci rambutnya di keran air. Tidak hanya rambutnya, dia juga membasuh wajahnya yang terasa lengket. Bau manis tercium dari indera penciuman Hana. Hana terdiam ketika kembali teringat perkataan Anggun tadi.
Anggun memang tahu sedikit tentang Hana, mereka satu SMP dulu. Menurut Anggun, dahulu Hana sering dirundung oleh teman-temannya. Namun, menurut Hana tidak. Hana masih dapat mengatasinya, jadi dia tidak pernah melaporkannya pada pihak guru.
“Han, lo didalem?” tanya sebuah suara.
Tidak lama, seseorang masuk. Ternyata dia adalah Vio, lalu Manda menyusul begitu juga dengan Ara yang tadi baru diberitahu. Terakhir, Anggun masuk dengan menundukkan kepalanya.
“Udah bersih, Han? Sini gue bantu,” ucap Manda.
“Udah kok, nanti sampai rumah gue bisa keramas.”
“Han, gue mau minta maaf sama lo. Maaf, kata-kata gue tadi keterlaluan. Lo boleh benci sama gue sekarang,” kata Anggun berdiri di depan Hana.
__ADS_1
“Lo ngomong apa, Nggun? Gue nggak benci sama lo. Lo nggak salah, apa yang lo bilang tadi bener. Gue yang harusnya percaya sama kata-kata lo,” tutur Hana mengusap lengan Anggun.
“Hana! Lo bener-bener baik, nggak tau lagi gue harus gimana. Kenapa bisa ada orang sebaik lo?” Tangis Anggun kembali pecah.
Melihat Anggun yang menangis membuat Hana panik. Apalagi suara tangis Anggun menggema dan terdengar hingga luar kamar mandi. Bahkan Adrian yang sedang menunggu di depan pun sampai menoleh dan bertanya-tanya ada apa di dalam sana. Tidak hanya cowok itu, anak-anak yang lewat spontan menoleh mendengar tangis itu.
Hana berusaha menenangkan Anggun. Sementara Anggun berusaha menghentikan tangisnya. Setelah beberapa menit tangis Anggun mereda, tapi masih sesenggukan. Lalu cewek itu mengeluarkan sesuatu dari saku roknya dan memberikannya pada Hana.
“Apa tuh, Nggun?” tanya Vio.
“Sampo buat Hana,” jawab Anggun polos, “Gue beli di koperasi tadi,” lanjutnya.
Hana dan yang lain saling pandang, kemudian tawa mereka meledak. Sementara Anggun menatap ketiganya dengan heran.
“Gue baru tau kalo koperasi jualan sampo juga,” ucap Ara.
“Gue juga baru tau, siapa yang butuh sampo di sekolah coba?” tanya Vio yang masih berusaha menghentikan tawanya.
“Nyatanya ada, Vi,” jawab Manda mentap Anggun dan Hana bergantian.
“Makasih, Nggun,” kata Hana tersenyum dan menerima sampo pemberian Anggun.
Adrian yang masih berdiri di depan kamar mandi masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana. Ingin masuk ke dalam, tapi ini adalah kamar mandi perempuan.
“Ckck, gue bener-bener penasaran,” gumam Adrian.
“Ngapain waketos berdiri di depan kamar mandi cewek?” tanya seseorang membuat Adrian menatap anak itu.
Hana bersama dengan teman-temannya keluar dari kamar mandi masih dengan sisa-sisa tawa mereka. Anggun menyayangkan rambut Hana yang masih basah kuyup. Dia tidak memiliki handuk untuk mengeringkan rambut Hana.
“Wah, jangan-jangan mau ngintip nih. Ternyata waketos kita kayak gitu, ya?”
Hana dan teman-temannya menghentikan langkah mereka mendengar perkataan itu. Empat gadis itu kompak melihat apa yang sedang terjadi.
“Rambut lo kenapa, Han?” tanya Kendrict menatap Hana.
__ADS_1
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...