
Hana yang ditarik tiba-tiba oleh Kendrict tentu saja meronta minta dilepaskan. Beruntung cowok itu tidak menarik tangannya yang sedang terluka. Tangan Hana berhasil terlepas dari cekalan cowok itu dan membuat langkahnya terhenti.
“Lo mau bawa gue ke mana?” tanya Hana.
“Nggak usah cerewet, ikut gue aja. Tenang, gue nggak bawa lo ke tempat yang aneh,” kata Kendrict menatap Hana.
Hana menggelengkan kepalanya. “Gue nggak bisa ikut lo sekarang, gue sibuk.”
Hana memutuskan untuk meninggalkan Kendrict dan hendak menuju ke danau selanjutnya. Namun, ucapan Kendrict membuat langkah Hana terhenti mendadak.
“Lo cari danau ‘kan? Gue tau beberapa danau di sekitar sini. Lagian lebih cepet kalo sama gue,” kata Kendrict mengusap tengkuknya.
Gadis itu menyerah dan mengikuti langkah Kendrict. Sementara cowok itu diam-diam menyunggingkan senyumnya. Hana mengedarkan pandangannya karena tidak melihat keberadaan motor Kendrict. Hanya ada sebuah mobil yang terparkir di sini.
“Kenapa bengong? Cepet masuk!”
“Hah?”
“Ckck, cepet masuk atau gue tinggal lo.”
Mendengar hal itu spontan Hana masuk ke dalam mobil Jazz berwarna silver ini. Setelah mengenakan setabeltnya, mereka berangkat. Sebelumnya Kendrict telah mengatur GPS berisikan alamat yang dikirim oleh Mira. Tidak ada percakapan selama perjalanan, Hana sibuk dengan pemandangan di luar.
“Kenapa lo bohong? Bilang kalo mau kerja kelompok,” tanya Kendrict memecah keheningan.
“Ada yang harus gue inget,” jawab Hana tanpa menoleh.
Sementara Kendrict mengernyitkan dahinya. Tidak paham apa yang diucapkan gadis itu. Sebenarnya sejak tadi juga dia bertanya-tanya. Banyak pertanyaan muncul semenjak Mira mengirim sebuah alamat. Apa yang sedang dicari Hana? Sehingga gadis itu sampai berbohong pada keluarganya.
Kurang lebih perjalanan mereka hampir dua jam. Ternyata lokasi yang dimaksud Mira sangat jauh. Mobil Kendrict berhenti di tempat parkir yang ada di sana. Hari mulai sore, tapi matahari masih bersinar terik. Hana turun dari mobil Kendrict, dia memperhatikan sekitarnya. Gadis itu mengeluarkan ponselnya, mencocokkan nama tempat ini dengan daftar yang dia tulis.
__ADS_1
“Kok lo tau gue mau ke sini?” tanya Hana pada Kendrict yang baru turun dari mobil.
Namun, cowok itu hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban. Lalu berjalan mendahului Hana. Gadis itu hanya mendengus dan berjalan menyusul Kendrict. Keduanya berjalan masuk menuju di mana danau itu berada.
Di danau ini tidak berbeda jauh dari danau sebelumnya. Sangat sepi, tetapi danau ini cukup terawat. Airnya juga bersih dan jernih. Hana memperhatikan sekitarnya, tidak jauh dari tempatnya ada rerumputan yang cukup luas. Dia berjalan ke sana, sementara Kendrict mengikuti dari belakang.
Hana duduk di atas rerumputan ini, menyentuh rumput-rumput hijau ini. Tiba-tiba seperti ada yang menghantam dadanya sehingga dadanya terasa sesak. Tidak hanya itu, Hana merasakan kepalanya berdenyut. Pandangan Hana tertuju pada air tenang di danau itu.
Sebuah ingatan tiba-tiba muncul, tapi hanya potongan-potongan saja. Hana mengernyitkan dahinya, berusaha untuk mengingat. Dia merasa jika pernah datang ke tempat ini. Mata Hana memanas dan selanjutnya ada air mata jatuh membasahi pipinya, tangannya mencengkeram rerumputan yang dia duduki.
“Han? Lo kenapa?” tanya Kendrict yang melihat tiba-tiba Hana menangis.
Cowok itu duduk di sebelah Hana dan menyentuh bahunya pelan. Namun, respon Hana membuat dahi Kendrict berkerut. Gadis itu terlihat sangat terkejut dan matanya menatap Kendrict.
“Lo kenapa?” tanya Kendrict lagi.
Kendrict dibuat terkejut saat Hana tiba-tiba berteriak sembari menutup kedua telinganya. Hana merasakan telinganya berdengung disertai kepalanya yang terasa hampir pecah. Sekelebat ketika dia jatuh ke air kembali terlintas dalam pikirannya.
Namun, sepertinya Hana tidak mendengarnya. Gadis itu menoleh ke kanan dan kiri seperti sedang mencari sesuatu. Masih dengan air mata yang meluncur deras, juga napasnya yang menggebu.
Akhirnya Kendrict menangkup wajah Hana. Menatap wajah yang terlihat masih gelisah itu. Perlahan cowok itu menghapus air mata yang mengalir di pipi Hana. Kendrict masih dibuat kebingungan seharian ini. Mengapa lokasi yang Mira kirimkan membuat Hana menjadi seperti ini? Sebenarnya apa yang terjadi pada gadis di depannya ini?
“Tenang, Han. Napas pelan-pelan,” kata Kendrict lembut.
Tatapan Hana terkunci oleh sorot mata Kendrict yang tajam. Dia menurut dan mulai mengatur napasnya. Perlahan dadanya yang tadi terasa sesak berangsur mulai normal kembali. Beberapa saat kemudian, Hana sudah mulai tenang.
Tersadar dengan posisi mereka saat ini, spontan Hana melepas kedua tangan Kendrict yang masih bertengger di wajahnya. Namun, cowok itu kembali menangkup wajah Hana dan kembali menatap wajah gadis itu. Ekspresi Kendrict benar-benar serius saat ini.
“Sebenernya lo kenapa? Ceritain semuanya ke gue!” perintah cowok itu dengan sorot mata tajamnya.
__ADS_1
Hana menundukkan kepalanya dan kembali melepas tangan Kendrict. Mendadak bimbang apakah akan menceritakan semuanya pada cowok di sebelahnya ini atau tidak? Sedangkan, Kendrict menunggu jawaban dari Hana. Pandangannya tak lepas dari cewek berambut pendek ini.
“Gue nggak bisa cerita,” kata Hana lirih dengan gelengan pelan.
Kendrict memejamkan matanya mendengar penuturan Hana. Hembusan napas keluar dari mulut cowok itu.
“Kenapa? Lo nggak tau gue panik liat lo barusan?” tanya Kendrict masih berharap jika Hana mau bercerita padanya.
Hana menoleh dan menatap cowok itu, lalu ada kekehan keluar dari mulut gadis itu. “Emang lo siapa? Kenapa pengen tau cerita hidup gue?”
Kendrict terdiam, dia belum pernah melihat ekspresi Hana yang seperti ini. Kepala cowok itu mendongak saat Hana tiba-tiba bangkit dari posisinya.
“Ayo pulang, hari ini udah cukup,” kata Hana.
Gadis itu berjalan lebih dulu sambil sesekali tangannya menyeka sisa air mata di pipi. Kendrict menghembuskan napasnya lagi dan kini ikut bangkit dari posisinya. Mengikuti langkah Hana yang telah sampai pintu masuk danau.
Lagi, selama perjalanan tidak ada percakapan sama sekali. Pemandangan di luar sana lebih menarik bagi Hana. Namun, sebenarnya gadis itu tidak sedang menikmati pemandangan, melainkan sedang memikirkan kejadian di danau tadi. Sepertinya lain kali dia harus kembali ke danau ini lagi.
Tanpa Hana sadari sejak tadi Kendrict mencuri-curi pandang padanya. Cowok itu mengulum bibirnya, dia benar-benar tidak nyaman dengan situasi saat ini. Jarinya mengetuk-ngetuk kemudi, sedang berpikir untuk memecah keheningan ini.
“Gue laper, mau makan dulu,” kata Kendrict, tatapannya fokus ke jalanan di depannya.
“Oke,” jawab Hana disertai anggukan kepala.
“Eh? Beneran lo mau gue ajak makan dulu?” tanya Kendrict, kini menoleh menatap gadis itu.
Pasalnya kemarin-kemarin Hana akan protes jika tiba-tiba diajak mampir ke café atau rumah makan.
“Gue juga laper,” jawab Hana pendek dan kembali mengarahkan pandangannya ke luar jendela.
__ADS_1
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...