Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Strategi Kendrict


__ADS_3

Napas Ken ngos- ngosan, keringat mengucur deras membasahi dahinya juga seluruh tubuh cowok itu. Ken belum pernah bersepeda jauh sebelumnya, apalagi memboncengkan seseorang. Tiap kayuhannya dalam hati dia selalu mengumpat. Sementara perlahan Hana menurunkan tangannya yang sejak tadi bertengger memeluk pinggang cowok itu. Hana masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi dan apa yang dikatakan Ken tadi.


“Pegangan! Gue nggak tanggung jawab kalo lo jatuh cium aspal,” ucap Ken dengan susah payah sembari mengatur napasnya yang tersengal.


“Nggak akan jatuh, lo ngayuhnya pelan,” balas Hana. “Kalo lo capek istirahat dulu di depan,” lanjutnya yang paham akan kondisi Ken saat ini.


Ken menurut dan dia menepikan sepedanya di pinggir jalan. Matahari sudah meredup sehingga cuaca sudah tidak sepanas tadi. Ken terduduk di trotoar dengan kaki selonjoran. Tangannya membuka kemeja seragamnya yang telah basah oleh keringat, kemeja Ken berkibar tertiup angin dan memperlihatkan kaos hitam. Cowok itu mendongak saat melihat ada sebuah botol minum terulur di depannya.


“Nih minum,” ujar Hana.


Tanpa babibu, Ken merebut botol itu dan segera meneguk air di dalamnya. Dia menghembuskan napas lega saat berhasil menghabiskan air di dalam botol itu. Sementara Hana mengalihkan pandangannya pada seekor kucing yang berada tidak jauh darinya. Gadis itu menghampiri kucing yang terus mengeong itu.


Hana jongkok di depan kucing yang belum menyadari kedatangannya. Namun, saat sadar kucing itu hendak lari menghindar. Dengan cepat Hana menahan kepergian kucing itu, perlahan tangannya mengelus kucing kotor itu. Dia segera mengambil sesuatu di dalam tasnya, tapi baru saja resleting dibuka, kucing itu sudah berlari menjauh. Hana menghembuskan napas kecewanya. Sementara itu, Ken memperhatikan apa yang dilakukan oleh gadis itu. Gerak- gerik Hana tidak lepas dari mata cowok itu. Hana kembali berdiri dan berjalan menghampiri Ken.


“Lo nggak usah anter gue. Cukup sampai sini aja dan jangan ulangi apa yang lo ucapkan tadi,” kata Hana. “Gue nggak mau ada salah paham,” lanjutnya.


“Kenapa? Lo masih ngarep sama Aldi?” tanya Ken tersenyum miring. Tatapan cowok itu terlihat mengejek.


Hana menggelengkan kepala. “Bukan urusan lo. Gue pulang duluan.”


Hana segera naik ke sepedanya dan mengayuh manjauh dari tempat Ken berada. Cowok itu masih bertahan di tempatnya, matanya masih belum lepas dari punggung mungil Hana yang makin lama makin menjauh.


“Lihat aja lo, Al. Gue bakal bales perbuatan lo,” gumam Ken. Tangannya merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda pipih dari sana.

__ADS_1


Jari- jari cowok itu menari di atas layar ponsel, mengetikkan beberapa kata untuk seseorang. Setelah terkirim dan hanya butuh hitungan detik chat- nya dibalas, Ken kini menunggu kedatangan orang itu.


Sembari menunggu, Ken membuka sosial medianya. Sebuah foto yang dia posting siang tadi membuat jagat maya heboh. Postingan itu kebanjiran berbagai komentar. Niat hendak menghapus postingan itu urung dilakukan oleh Ken. Cowok itu memandangi foto yang dipostingnya. Dimana wajahnya dan wajah Hana terpampang di sana. Ken yang tersenyum lebar, sementara Hana dengan ekspresi bingungnya. Ken tertawa saat mengingat bagaimana tadi dia memaksa gadis itu untuk berfoto bersamanya.


“Sepertinya memang udah takdir gue gunain lo buat ngusik Aldi.”


“Lo nggak ada tempat yang lebih bagus lagi, Hah?” bentak sebuah suara mengangetkan Ken. “Ketawa sendiri di pinggir jalan. Emang udah sinting lo.”


“Oh? Udah dateng lo,” ucap Ken dan naik ke atas motor besar itu.


“Astaga, punya temen gila amat. Nggak cuma gila, sinting juga.”


“Nggak usah kebanyakan drama, cepet jalan. Kasihan motor gue kesepian.”


Putra mendengus dan akhirnya menuruti perintah Ken. Mereka berdua berboncengan kembali ke sekolah untuk mengambil motor milik Ken yang ditinggalkannya tadi.


“Sukses, Bos?” tanya salah seorang dari mereka.


“Tentu aja sukses. Gue berhasil buat Aldi panas,” jawab Ken tersenyum lebar.


“Berkat si Frans. Dia yang kasih tau kalo Aldi ada di depan sekolah.”


“Thank’s, kapan- kapan gue traktir lo,” ucap Ken menunjuk Frans. Frans mengacungkan jempolnya dengan senyum sumringah.

__ADS_1


“Ken! Lo nggak beneran pacaran sama si ketua OSIS, kan?” tanya Nita menunjukkan layar ponsel yang memperlihatkan postingan milik Ken.


“Lo tenang aja, Ken nggak mungkin beneran pacaran sama cewek sok baik itu,” potong Putra.


Ken mengangguk- anggukkan kepalanya. “Gue cuma mau gunain dia buat kalahin Aldi.”


“Gue nggak sangka, ketua OSIS pernah pacaran sama si Aldi.”


“Tapi wajar aja sih, tuh cowok juga anak OSIS di sekolahnya,” ucap Putra.


Ken bangkit dari duduknya dan pamit hendak pulang terlebih dulu. Teman- temannya yang lain mengikutinya. Nita yang meminta agar Ken mau mengantarnya pulang hanya menelan kekecewaan. Cowok itu mengabaikan Nita yang mendengus kesal. Ken memacu motornya membelah jalanan yang mulai dipadati oleh banyaknya kendaraan bermotor.


“Gue harus buat strategi selanjutnya. Lo lihat aja, Al! Gue nggak akan pernah kalah dari lo,” gumam Ken, tangan kirinya menutup kaca helmnya dan dia memacu kuda besinya dengan kecepatan penuh.


Tidak dia hiraukan bunyi klakson yang memekakan telinga, juga Ken tidak menghiraukan nyawanya sendiri. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja sampai cowok itu tiba di rumah. Mata Ken berkilat melihat sebuah motor yang sudah sangat familiar baginya terparkir di samping sebuah mobil. Cowok itu menghentikan motornya tepat di depan gerbang rumahnya. Bahkan seorang satpam sudah membukakan gerbang itu, tapi Ken berbalik. Dia memacu motornya kembali menjauh dari rumahnya.


“Sial! Kenapa dia di sini?” umpat Ken kesal. “Ckck, mau cari muka dia.”


Ken melajukan motornya tak tentu arah, dia hanya berputar- putar mengelilingi komplek perumahan ini. Dia tidak ingin bertemu dengan seseorang yang pasti akan membuatnya tidak dapat mengontrol emosi. Langit sudah menghitam, bulan dan bintang sudah gagah menghiasi langit. Ken memutuskan berhenti di pinggir jalan. Lelah juga berkeliling sekitar komplek rumahnya.


Cowok itu mengeluarkan rokok dari dalam tas sekolahnya. Menyulutnya dengan korek gas, lalu menghisap nikotin itu. Dihembuskannya asap rokok itu dari mulutnya. Kepalanya mendongak menatap langit. Ia hendak menghabiskan sebatang rokok dan kemudian dia akan pulang ke rumah.


“Ken, di sini lo ternyata!” ucap seseorang dengan senyum miringnya.

__ADS_1


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...


Saha eta? 😳😳


__ADS_2