
Pagi ini suasana lapangan sudah ramai dengan suara musik yang disetel cukup keras. Lapangan sudah dihias sangat meriah. Acara classmeeting akan diadakan sebentar lagi. Para anggota OSIS sibuk mempersiapkan keperluan yang dibutuhkan.
Hana bertugas ikut mengamati lomba futsal. Tidak hanya Hana, dia bersama dengan tiga anggota OSIS lainnya. Beberapa perwakilan kelas sudah mendaftarkan untuk ikut futsal.
"Han, ini punya kelas ak ...."
Spontan Hana menyikut lengan Kendrict yang hampir saja keceplosan. Cowok itu tersadar dan segera berdehem sembari mengamati sekitar.
"Nih, punya kelas gue," kata Kendrict mengulangi.
Hana menerima kertas itu dan menganggukkan kepalanya. "Tunggu, nanti diumumin urutan tandingnya."
"Oke."
Kendrict segera pergi dari sana dan Hana kembali melanjutkan aktivitasnya. Gadis itu membaca nama-nama yang akan ikut bertanding. Ternyata nanti Kendrict akan ikut bermain.
"Udah semua, Han?" tanya seorang temannya.
"Kurang kelas sepuluh IPA 2 sama kelas duabelas IPS tiga," jawab Hana.
Anak itu mengangguk dan segera memberi pengumuman menggunakan pengeras suara. Akan ada denda jika dari masing-masing kelas yang tidak mengikuti kegiatan hari ini.
Tidak lama kemudian terlihat seorang anak lari tergopoh-gopoh menghampiri meja yang ditempati Hana.
"Ini punya kelas sepuluh IPA 2, Kak," kata anak itu.
"Iya, tunggu aja. Nanti diumumin urutannya," jelas Hana.
Anak itu mengangguk dan pamit dari sana. Mereka masih menunggu satu kelas yang belum juga menyetorkan nama. Karena terlalu lama dan tidak ada kejelasan dari kelas tersebut, akhirnya panitia menganggap jika kelas itu tidak mengirimkan wakilnya dan akan dikenakan denda.
"Mulai undi aja, Vi."
Vio mengangguk dan segera mengundi untuk menentukan urutan permainan. Setelah mengetahui urutan permainan, lomba futsal resmi dimulai.
Hana bertugas mencatat siapa yang menang dan kalah, lalu menentukan siapa saja yang akan bertanding di babak selanjutnya. Sementara Vio bertugas untuk menjadi komentator, lalu seorang lagi menjadi wasit.
Suara peluit menjadi tanda jika pertandingan dimulai. Vio juga mulai berkomentar tentang pertandingan itu. Suasana ramai oleh sorak sorai penonton yang berkumpul di pinggir lapangan.
Suara gemuruh bertambah ramai ketika salah satu tim berhasil mencetak gol. Hana juga menikmati pertandingan futsal itu. Walau sebenarnya dia tidak terlalu paham.
__ADS_1
"Selamat untuk tim yang menang," kata Vio di akhir pertandingan pertama.
Pertandingan berlanjut hingga siang hari. Tadi mereka sempat istirahat sebentar sebelum melanjutkan kembali pertandingan. Tahun ini cukup banyak lomba yang diadakan.
Ada lomba estafet yang terdiri dari lomba egrang bambu, estafet kelereng dengan bambu, pecah balon, dan estafet tepung. Kemudian, ada ajang bakat dan minat. Dimana para siswa dapat menunjukkan bakat mereka entah itu menyanyi, bermain alat musik, menari, atau bakat lain. Terakhir ada lomba bidang olahraga yaitu basket dan futsal.
"Kelasnya Ken, ya?" tanya Vio.
"Iya," jawab Hana.
Mata gadis itu tidak lepas menatap Kendrict yang mulai memasuki lapangan bersama dengan teman-teman kelasnya. Baru kali ini Hana melihat Kendrict bermain futsal. Sebelumnya dia memang sudah tahu jika cowok itu ikut ekskul futsal. Namun, belum pernah menontonnya secara langsung.
"Lo liatin siapa sih? Sampe nggak kedip gitu," tanya Vio menyenggol Hana.
"Eh? Gue cuma lihat anak-anak yang mau tanding," jawab Hana salah tingkah.
Vio hanya mengangguk seadanya dan dia pun segera bertugas karena pertandingan sudah dimulai. Sebenarnya dia malas mengomentari kelas Kendrict yang hampir semuanya berisi anak-anak nakal.
"Nih, ada jajan," kata Anggun yang tiba-tiba datang.
"Makasih, Nggun," ucap Hana yang matanya tak lepas dari lapangan.
Hana hanya mengangguk. Akhirnya Anggun berhenti sejenak untuk melihat pertandingan futsal ini. Dia tertarik karena sepertinya pertandingan kelas Kendrict sangat seru. Bahkan, Vio terlihat menggebu ketika berkomentar.
"Woah! Ucok bagus banget opernya. Yah, baru dipuji malah salah oper," kata Vio kecewa.
Hana terpukau dengan permainan Kendrict di lapangan. Cowok itu terlihat sangat lihai mengendalikan bola itu. Bahkan beberapa kali berhasil mencetak gol ke gawang lawan.
Jantung Hana berdetak hebat ketika Kendrict memberikan senyum padanya. Wajahnya sudah merah dan seketika Hana salah tingkah. Fokus Hana saat ini hanya pada Kendrict. Matanya terus mengekor gerak-gerik lincah cowok itu.
Anggun yang kini berbagi tempat duduk dengan Hana mengernyitkan dahi melihat sikap temannya itu. Ada rasa curiga terhadap Hana. Anggun kembali melihat ke lapangan. Namun, malah tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan Putra yang juga ikut bertanding.
Hanya sekilas saja, Putra membuang wajahnya seketika. Sebenarnya cowok itu tidak bisa bermain bola sepak. Dia dipaksa Kendrict untuk ikut. Alhasil, di lapangan Putra tidak banyak membantu. Dia lebih seperti pajangan saja.
"Woi! Itu yang pake kacamata dari tadi salah mulu opernya!" teriak Vio gemas.
"Bac*t lo!" balas Putra dari tengah lapangan.
"Sabar, Put. Kita pasti menang," kata Kendrict menepuk punggung Putra yang sudah emosi.
__ADS_1
"Ckck, apa tujuan lo nyeret gue ke sini?" tanya Putra.
"Biar pas tim kita," jawab Kendrict pendek dan dia memberi kode pada temannya meminta bola.
Putra mendengus. Terpaksa Putra mengikuti kemauan Kendrict walau dari pinggir lapangan Vio terus mengomentarinya. Hal itu membuat penonton malah fokus pada Putra. Cowok itu melirik tajam pada Vio yang sama sekali tidak merasa bersalah.
Sementara Anggun sudah ngakak mendengar komentar yang Vio lontarkan. Namun, tiba-tiba tawa Anggun terhenti ketika di tengah lapangan terjadi insiden yang tidak terprediksi.
Mendadak suasana hening. Putra terkena bola nyasar hingga jatuh terjengkang. Kacamatanya pun sampai terlempar dan darah keluar dari hidung cowok itu.
"Medis mana?" tanya Vio menggunakan pengeras suara. "Ada yang sekarat!"
"Lebay amat lo, Vi," kata Anggun.
"Biar cepet dateng mereka," jawab Vio. "Ngomong-ngomong si Hana kenapa?"
Anggun spontan melihat Hana yang sedang menahan tawanya. Entah apa yang sedang gadis itu lihat.
"Han," panggil Anggun.
"Ya?" jawab Hana terkejut dan menoleh.
"Lo punya pacar, ya?" tanya Anggun menyelidik.
Mendengar pertanyaan Anggun membuat Vio juga tertarik. Pertandingan dihentikan sementara karena insiden itu. Namun, tidak lama kemudian kembali dimulai dengan pergantian pemain.
"Nggak. Kenapa lo tanya gitu?"
"Dari tadi lo aneh. Ada orang yang lo suka?"
Hana yang tiba-tiba diinterogasi mendadak gugup. Dia ketar-ketir jika ketahuan oleh Anggun. Hana belum siap dengan penolakan teman-temannya.
"Nggak ada, Nggun," jawab Hana bohong.
"Lo nggak lagi nyembunyiin sesuatu 'kan?"
Anggun masih terlihat curiga juga penasaran. Sementara Hana sudah panas dingin. Namun, helaan napas lega bisa Hana rasakan ketika Anggun teralihkan dengan pekikan heboh Vio.
"Gol!" teriak Vio membuat semua penonton ikut terkejut.
__ADS_1
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...