
Hari ini Hana kembali ke sekolah. Tadi dia berangkat bersama dengan Glen. Sebenarnya masih ada rasa takut untuk kembali ke sekolah. Dia terlalu takut menghadapi anak-anak yang kemarin menyerangnya.
"Nggak usah dipikirin, Dek. Mau gue anter sampe kelas?" tanya Glen.
"Nggak usah, Kak," tolak Hana.
Glen hanya mengangguk. Mereka berjalan bersama, beberapa anak di sepanjang koridor ada yang masih mencuri pandang pada Hana. Hal itu membuat Hana menundukkan pandangannya.
"Hana!" panggil seseorang membuat Glen dan Hana menoleh serempak.
Anggun bersama dengan Ara berlari menghampiri kedua orang itu. Ara langsung memeluk Hana dengan erat.
"Akhirnya lo masuk lagi, Han. Gue kangen lo tau," ucap Ara melepas pelukannya.
"Gue juga kangen sama kalian," jawab Hana tersenyum tipis.
"Ayo ke kelas bareng," ajak Ara mengamit lengan Hana dan membawa pergi gadis itu.
"Kita duluan, Kak," pamit Anggun pada Glen dan dia segera menyusul kedua temannya yang telah berjalan lebih dulu.
Glen mendengus kesal karena tiba-tiba terlupakan. Cowok itu pun melanjutkan langkah menuju kelasnya.
Anggun dan Ara berpisah dengan Hana di depan kelas gadis itu. Keduanya serempak pamit untuk masuk ke kelas masing-masing. Sementara Hana masih berdiri di depan pintu kelasnya. Mendadak ada rasa ragu untuk masuk ke kelas.
Lagi-lagi Hana kembali terbayang bagaimana reaksi teman-teman kelasnya. Hana mundur beberapa langkah. Namun karena tidak memperhatikan, Hana tidak sengaja menubruk seseorang dibelakangnya.
"Han? Kok nggak masuk?" tanya Adrian mengernyitkan dahi.
Hana menoleh dan mendapati Adrian berdiri di belakang. Cowok itu bingung dengan tingkah Hana yang hari ini terlihat aneh, tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Hana?" panggil seseorang dari dalam kelas.
"Woy, Hana udah balik lagi nih!" teriak anak itu heboh memberitahu seluruh penghuni kelas.
Mendengar kehebohan itu membuat Hana semakin dalam menundukkan kepalanya. Tangannya mencengkeram tali tasnya dengan erat. Beberapa anak keluar dan menyambut kedatangan Hana.
"Kok nggak masuk, Han? Nih anak-anak pada kangen sama lo."
"Iya, sebenernya kita mau jenguk lo. Tapi takut nanti malah ganggu, jadi kita tunggu sampai lo berangkat lagi."
"Ayo, masuk!"
Seorang teman Hana mengajak Hana masuk ke dalam kelas, gadis itu hanya menurut tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sementara Adrian berjalan mengikuti dari belakang. Dia meletakkan tas dibangkunya, lalu berjalan menghampiri bangku Hana yang sudah ramai oleh para penghuni kelas.
"Tenang aja, Han. Kita pasti bela lo kok. Lo 'kan baik," ucap salah satu di antara mereka.
"Makasih temen-temen," jawab Hana yang tidak tahu harus berkata apalagi.
Hana fokus mencatat tulisan dari papan tulis sembari mendengarkan guru di depan menjelaskan materi. Dia benar-benar rindu suasana seperti ini. Saat ini harapan Hana hanya satu, dia berharap bisa belajar di sekolah dengan nyaman.
Ternyata beberapa anak mendapat hukuman skorsing akibat keributan kemarin. Anak-anak tersebut termasuk Kendrict, untuk kesekian kalinya cowok itu mendapat hukuman tersebut.
Beberapa waktu yang lalu Kendrict telah menceritakan hubungan mereka di masa lalu. Hana hanya mendengarkan sembari menatap foto ditangannya. Entah rasanya Hana masih belum dapat percaya sepenuhnya dengan cerita Kendrict.
Namun, foto di tangan Hana adalah sebagai bukti. Kendrict menjelaskan jika Hana wajar lupa, karena cowok itu pernah pindah sekolah dan tidak lulus bersama dengan Hana. Walau Kendrict sudah menjelaskan alasan tersebut, Hana masih belum bisa percaya sepenuhnya.
Memang anak perempuan di foto tersebut adalah dirinya, tapi Hana masih asing dengan wajah anak laki-laki disebelahnya. Anak tersebut sedikit gemuk, agak berbeda jika dibandingkan dengan wajah Kendrict saat ini.
Hana menggelengkan kepalanya dan kembali berusaha fokus pada pelajaran di depan. Belum selesai guru tersebut menjelaskan, tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu. Serempak perhatian seluruh isi kelas menuju pintu tersebut.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Saya mau menyampaikan amanah dari Pak Budi untuk memanggil Hana dan Adrian," ucap anak itu yang merupakan salah satu anggota OSIS.
"Hana dan Adrian, silakan segera menemui Pak Budi."
Hana dan Adrian pun segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke depan. Sebelumnya mereka berpamitan lebih dulu pada guru di depan sebelum meninggalkan kelas.
"Pak Budi nunggu di ruang OSIS. Ada anak-anak MPK juga di sana," jelas anak itu.
"Mau bahas kejadian waktu itu, ya?" tanya Adrian.
"Iya mungkin, gue juga nggak tau persisnya. Tiba-tiba kita disuruh kumpul."
Adrian mengangguk paham, sementara Hana masih bungkam. Dia merasa gugup, tapi dalam hatinya sudah bertekad untuk menghadapi kejadian ini. Walau bagaimana pun, Hana harus bertanggung jawab.
Adrian mengetuk pintu ruang OSIS dan masuk setelah dipersilakan, diikuti oleh Hana dan temannya. Di dalam sudah ada anak-anak OSIS dan beberapa anak MPK.
"Silakan duduk yang baru datang. Kita akan segera mulai musyawarah ini," kata Budi selaku guru kesiswaan.
Adrian dan Hana segera mengambil tempat duduk masing-masing. Budi segera membuka rapat musyawarah ini. Tentu mereka semua telah tahu tema rapat kali ini.
"Jadi, kemarin Hana sudah sempat berbincang dengan saya mengenai masalah yang terjadi beberapa hari yang lalu. Silakan umumkan keputusan kamu, Han."
Hana mengangguk dan berdiri dari duduknya. "Pertama saya sangat meminta maaf terkait keributan yang terjadi beberapa hari yang lalu. Kedua, seperti yang diinginkan oleh anak-anak SMA 22 ini saya akan mundur dari jabatan saya sebagai ketua OSIS. Tentunya saya akan menyelesaikan semua tugas-tugas yang belum terselesaikan sebelum menyerahkan jabatan kepada ketua berikutnya. Keputusan ini saya buat setelah mempertimbangkan hal-hal lain dan keputusan saya sudah bulat."
Setelah Hana menyampaikan keputusannya tersebut, suasana ruang OSIS menjadi gaduh. Banyak yang tidak setuju jika Hana mundur, karena mereka menilai kinerja Hana selama ini sangat baik.
"Tenang ..., tenang. Saya rasa keputusan Hana sudah tepat, lagi pula sebentar lagi juga ketua OSIS akan diganti oleh junior kalian. Setidaknya Hana sudah bertanggung jawab dan akan menyelesaikan tugas-tugasnya hingga masa jabatannya berakhir."
Suasana kembali tenang, hanya bisik-bisik yang terdengar. Sebenarnya mereka masih mencari dalang dibalik keributan itu. Kemarin anak-anak OSIS juga telah memanggil anak yang pertama kali menyebarkan rumor tentang Hana. Namun, nihil.
__ADS_1
Mereka masih belum mendapat jawaban yang pasti dan untuk sementara ini pihak sekolah bertindak tegas terhadap anak-anak yang merundung di sekolah. Anak-anak yang terlibat akan mendapat hukuman dari sekolah mulai dari dikeluarkan dari sekolah hingga yang terberat adalah tindak pidana sesuai hukum yang berlaku.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...