
Hana memasukkan sepedanya ke dalam garasi. Kernyitan didahinya tercipta saat dia tidak menemukan mobil sang ayah di dalam sini. Setelah memarkir sepedanya, Hana segera memasuki rumahnya. Suasana di dalam rumah sangat hening. Dalam benaknya bertanya-tanya, di mana semua orang.
“Mbak Hana baru pulang?” sapa Mbak Jum yang berjalan dari dalam rumah dengan membawa sapu.
“Iya, Mbak. Oh ya, Ayah ke mana?”
“Tadi Bapak keluar sama Ibu, juga Mas Glen. Lho? Memangnya Mbak Hana nggak tau?”
Hana hanya menggelengkan kepalanya, dia pun pamit untuk masuk ke dalam kamarnya. Sementara Mbak Jum melanjutkan aktivitasnya. Hana segera membersihkan tubuhnya yang terasa lengket dengan keringat. Beberapa menit kemudian, gadis itu keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terasa lebih segar.
Tubuhnya dia jatuhkan ke atas tempat tidur, tangannya meraih ponsel yang tergeletak tak jauh dari sana. Hana mengecek chat yang masuk ke dalam ponselnya. Dia berharap ada chat dari Samsul yang mengabarinya. Namun nihil, tidak ada chat dari sang ayah untuknya.
Bahkan chat Hana tadi siang belum dibaca oleh sang ayah. Memang tadi Hana meminta izin pada Samsul jika dirinya akan pulang terlambat. Ada rasa sedikit kecewa dalam diri Hana saat ini.
Tidak terlalu lama larut dalam kekecewaannya, Hana dialihkan oleh notifikasi chat yang terdengar beruntun masuk ke ponselnya. Rasa penasarannya muncul dan dia segera menggulir layar ponselnya untuk melihat chat dari siapa.
Ternyata grup chat komunitas sedang ramai oleh para anggotanya. Hana membuka roomchat itu dan membaca tulisan-tulisan di sana. Ada sebuah gambar yang sepertinya akar dari ramainya grup malam ini. Tidak hanya gambar, ada juga video yang dikirimkan oleh salah satu anggota.
“Pacar sama mantannya Hana adu jotos tadi.”
Begitulah yang tertulis di caption video itu. Spontan Hana bangkit dari posisinya, jarinya membuka video itu. Mata Hana membulat sempurna melihat video di mana memperlihatkan Kendrict sedang melayangkan bogem mentah pada Aldi, hingga Aldi jatuh tersungkur.
“Kenapa mereka berantem?” tanya salah seorang teman Hana di komunitas itu.
“Nggak tau gue, tadi pas keluar bareng Mas Adi mereka udah berantem. Terus langsung dipisah sama Mas Adi,” jelas si pengirim video.
Adi adalah ketua komunitas dan tadi yang memisahkan dua cowok yang sedang berkelahi itu. Hana meringis membaca chat dari teman-temannya itu. Bahkan ada yang berasumsi jika dua cowok itu berkelahi karena memperebutkan Hana.
“Nggak, kalian salah paham. Gue memang nggak tau apa sebabnya mereka berantem, tapi bukan karena gue,” jelas Hana mencoba mengklarifikasi, tangannya menari-nari di layar ponselnya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian nomor Aldi tiba-tiba dimasukkan ke dalam grup. Alhasil bertambah ramai grup itu. Teman-teman Hana yang penasaran dengan insiden tadi pun bertanya langsung pada cowok itu.
“Si Ken masukkin sekalian,” kata salah seorang di antara mereka.
“Gue nggak ada nomornya.”
“Han, lo punya nomor dia?”
“Harusnya punyalah, masa’ nomor pacar sendiri nggak punya?”
Hana terdiam, dia tidak memiliki nomor ponsel milik Kendrict. Namun, kemudian mata Hana kembali menatap layar ponselnya. Dia melihat admin grup memasukkan sebuah nomor.
“Nih, nomor Ken. Dapet dari Aldi gue.”
“Grup apaan nih?” Tulis Kendrict.
Hana melihat dengan jelas raut wajah Glen yang terlihat sangat bahagia. Tidak hanya Glen, Samsul sang ayah juga terlihat sangat bahagia. Hana berjalan mundur menjauh dari jendela. Duduk di tepi ranjang dengan kepala tertunduk. Ada sebuah hantaman yang terasa perih di dalam dadanya setelah melihat sang ayah tadi.
Ketukan pintu membuat kepala Hana mendongak. Perlahan gadis itu berjalan menuju pintu untuk membukakan pintu itu. Ternyata Mira yang berdiri di depan pintu kamarnya. Ada sebuah senyum hangat dari wanita itu. Sementara Hana memandang penuh tanya pada Mira.
“Kamu sudah makan malam? Kalau belum, ini tadi ayah kamu beli makanan untuk kamu,” jelas Mira yang paham arti tatapan dari Hana.
Hana mengangguk dan keluar dari kamarnya. Berjalan mengekori Mira hingga sampai di meja makan. Di atas meja makan ada sebuah piring berisi nasi beserta lauknya. Hana menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaan Samsul.
“Ayah ke mana?”
“Ayah di kamar, sepertinya kecapekan karena nyetir lama tadi,” jawab Mira, “Ayo makan, saya temani di sini.”
Hana menurut, dia menuju dapur untuk mencuci tangannya. Sementara Mira, mengambil segelas air untuk Hana.
__ADS_1
Sama sekali tidak ada percakapan selama Hana menyantap makanannya. Namun, Mira tetap setia menemaninya hingga selesai. Setelah selesai makan, Hana pamit untuk kembali ke kamarnya. Gadis itu berjalan menuju meja belajarnya, duduk di kursi dengan pandangan kosong.
Walaupun Mira sangat baik padanya, tetap saja masih ada rasa canggung dalam diri Hana. Masih ada rasa kurang nyaman. Hana menggelengkan kepalanya pelan, lalu tangannya meraih buku cetak di depannya. Membuka buku itu dan mulai larut dalam tugas sekolahnya. Selama kurang lebih dua jam berkutat dengan buku cetaknya, Hana memilih mengakhiri belajarnya. Malam sudah semakin larut.
Rumah ini juga sudah hening, sepertinya semua penghuni di dalam rumah ini sudah tertidur lelap. Setelah membereskan semua bukunya, Hana merangkak naik ke tempat tidurnya. Sebelum tidur, dia kembali memeriksa ponselnya.
Hana tidak berminat membuka obrolan di grup lagi. Jarinya menggulir layar ponselnya untuk melihat chat lainnya. Jari Hana berhenti menggulir layar saat melihat satu chat masuk dari nomor tak dikenal. Dia membuka roomchat dari nomor itu untuk mengetahui milik siapa nomor itu.
“Ketua OSIS!”
Hanya dua kata itu yang terpampang di roomchat. Dahi gadis itu mengernyit membaca rentetan kata itu. Pesan itu dikirim sejak tiga jam yang lalu. Hana berniat membalas chat itu. Namun, barus saja dia ingin mengirim chat balasan. Orang itu mengiriminya chat kembali.
“Simpen nomor gue!”
“Maaf, siapa?” tanya Hana.
Hana masih menunggu balasan dari orang tersebut. Namun bukan balasan yang Hana dapatkan, melainkan sebuah panggilan masuk. Ragu Hana menjawab panggilan itu. Dia takut jika telepon itu berasal dari seseorang yang ingin iseng padanya.
“Kenapa nggak dijawab telpon gue?”
Panggilan itu kembali masuk. Akhirnya Hana menjawab panggilan itu, menempelkan benda pipih itu ke telinga kirinya. Lalu sebuah suara seseorang terdengar di telinga Hana. Sebuah suara yang terdengar tidak asing di telinga Hana.
“Gue, Ken. Pacar lo. Jadi simpen nomor gue!”
Hana bergidik mendengar suara Kendrict dari seberang sana. Lagi-lagi Kendrict berbicara seenaknya.
“Kenapa diem, hm? Lo nggak tidur ‘kan?” lanjut Kendrict, kini dengan nada suara yang lebih rendah dan lembut.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...
__ADS_1