
Hening, itulah yang nampak dalam ruangan ini. Hanya terdengar suara dari pendingin udara dan filter udara. Ada satu bed dan di atasnya terbaring sosok yang sedang lelap tertidur. Sejak kemarin dia belum juga membuka matanya. Sepertinya sangat lelah sehingga memutuskan untuk beristirahat sedikit lebih lama, atau tidak.
Perlahan jari gadis itu bergerak. Selanjutnya matanya mulai terbuka secara perlahan. Hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit berwarna putih bersih. Pintu terbuka bersamaan dengan itu. Seseorang terdengar berjalan mendekat.
“Oh? Pasien sudah sadar,” kata orang itu.
Ternyata seorang perawat dengan seragam berwarna tosca, dia segera memeriksa keadaan pasiennya. Hana mengernyitkan dahinya, mencoba mengingat apa yang terjadi padanya. Mengapa tiba-tiba dirinya berada di tempat ini?
“Saya akan panggilkan dokter dan keluarga anda,” kata perawat itu pada Hana.
Hana hanya diam, tenggorokannya terasa kering saat ini. Pikirannya melayang teringat peristiwa yang baru dia alami. Entah itu mimpi atau bukan, tapi Hana seperti pernah mengalami kejadian itu. Memikirkannya membuat kepala Hana sakit, ia meringis menahan sakit di kepalanya.
Tidak lama kemudian seseorang masuk ke dalam ruangan ini. Ada seorang dokter dan juga Mira. Mira terlihat sangat bahagia melihat Hana telah sadar setelah operasi. Ternyata perkiraan dokter sedikit meleset. Selama dua hari Hana dalam keadaan koma, tapi beruntung gadis itu hari ini membuka matanya.
Pria kurang lebih berusia sepantaran Samsul dengan jas putihnya memeriksa keadaan Hana, sementara Mira berdiri agak jauh dari sana menatap harap-harap cemas.
“Syukurlah, kondisi vitalnya baik dan kondisinya mulai membaik. Kami akan terus memeriksa perkembangannya selama beberapa hari ke depan.”
Spontan Mira menghembuskan napas leganya, beliau berjalan mendekat pada Hana. Sedangkan dokter tersebut pamit dari sana.
“Syukurlah kamu sudah sadar. Bunda sangat khawatir dengan keadaan kamu,” kata Mira menggenggam tangan Hana.
Ada sebuah senyum samar dari bibir pucat itu. Sakit kepalanya sudah sedikit reda saat ini, entah mengapa hilang begitu saja.
Hana tadi bertanya tentang peristiwa kemarin. Gadis itu sudah ingat apa yang menimpanya. Hana juga mengkhawatirkan teman-temannya. Mira pun berusaha menenangkan Hana, tentu saja yang terpenting saat ini gadis itu harus fokus pada dirinya sendiri. Sayang sekali Samsul tidak bisa datang kemari. Namun, pria itu telah tahu bagaimana kondisi Hana saat ini.
“Mau makan sekarang?” tanya Mira.
Hana hanya mengangguk sebagai jawaban, perutnya memang terasa perih saat ini. Dengan perlahan Hana mendudukkan diri. Sementara Mira menyiapkan sarapan untuk Hana. Wanita itu telaten menyuapi Hana yang bahu kanannya mengalami cedera sehingga sedikit kesulitan jika harus menggunakan tangan kiri, terlebih tangan kirinya terpasang infus.
“Lagi, sayang?”
Hana menggeleng perlahan. Mira mengangguk dan menyudahi acara makan Hana. Mira kembali membantu gadis itu berbaring. Kepala Hana kembali terasa sakit, membuat gadis itu memejamkan matanya. Bayangan-bayangan dalam mimpinya kembali muncul. Membuat dahinya mengernyit.
“Han? Ada yang sakit?” tanya Mira menyentuh tangan Hana perlahan.
__ADS_1
Mendengar suara Mira, spontan Hana membuka matanya. Melihat wajah cemas Mira yang sedang menatapnya.
“Kepala Hana sakit,” jawab Hana lirih.
“Istirahat lagi, ya?”
Hana mengangguk setuju, dia kembali memejamkan matanya. Sedangkan Mira duduk di sebelah gadis itu.
Ada sebuah ketukan di pintu yang membuat Mira menoleh. Sebelum membukakan pintu itu, Mira melihat sekilas ke arah Hana. Ternyata gadis itu telah tertidur. Mira pun segera membuka pintu setelah ketukannya kembali terdengar. Terkejut ekspresi yang Mira tampilkan begitu membuka pintu dan melihat seseorang berdiri tepat di depan pintu.
“Wajah kamu kenapa?” tanya Mira.
“Ah ini, saya kemarin jatuh, Tan,” jawabnya.
“Kamu mau jenguk Hana, ya? Dia baru aja tidur, mau tunggu dia?”
“Ya.”
“Masuk, Ken. Tunggu di dalam.”
“Ken, Tante harus keluar sebentar. Bisa Tante minta tolong?”
Kendrict mengangguk tanda dia menyanggupi permintaan Mira. Beliau pun pamit dan meninggalkan Kendrict seorang diri di sini. Setelah kepergian Mira, Kendrict berjalan mendekat ke tempat tidur Hana. Cowok itu memperhatikan wajah gadis itu, matanya tertuju pada dahi Hana yang tertutup perban.
Kendrict sudah tahu keadaan Hana. Cowok itu duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur gadis itu. Sepertinya kehadiran Kendrict tidak membuat Hana terganggu. Dia tetap masih memejamkan matanya dengan napas teratur.
Namun, beberapa saat kemudian ada keringat yang mengucur membasahi pelipis Hana. Juga tidur Hana menjadi tidak nyenyak, seperti sedang gelisah. Kendrict yang melihat hal itu pun mengernyitkan dahinya.
“Dia kenapa? Apa gue panggil dokter aja, ya?” tanya Kendrict pada dirinya sendiri.
Kendrict pun bangkit dari duduknya dan berniat memencet tombol di dekat tempat tidur Hana. Namun belum sempat memencet tombol itu, Hana membuka matanya dengan napas ngos-ngosan.
“Han? Lo nggak apa-apa? Mau gue panggilin dokter?” tanya Kendrict.
Hana menggelengkan kepalanya. “Nggak usah, gue nggak apa-apa.”
__ADS_1
Hana berusaha mengatur napasnya, lagi-lagi dia bermimpi buruk. Mimpi yang sama, yaitu ketika ia tenggelam entah di mana.
“Ken? Kok lo di sini?” tanya Hana, setelah dia berhasil mengontrol napasnya.
“Uhm, itu. Gue mau jenguk lo,” jawab Kendrict mengusap tengkuknya.
“Makasih,” ujar Hana tulus, “Oh ya, kejadian kemarin itu bukan ide lo ‘kan?”
Kendrict terdiam mendengar pertanyaan dari Hana. Dia tidak tahu harus menjawab apa, karena memang aksi kemarin adalah idenya untuk membalas dendam. Hana masih menuntut jawaban dari Kendrict. Cowok itu menghembuskan napasnya sebelum menjawab.
“Gue yang rencanain,” jawab Kendrict akhirnya.
Kini ganti Hana yang terdiam mendengar fakta itu. Tidak menyangka dengan tingkah Kendrict yang merugikan banyak pihak. Sementara Kendrict menatap Hana dengan tatapan menyesal. Cowok itu benar-benar menyesal telah berbuat seperti itu.
“Maaf, Han,” kata Kendrict menundukkan kepalanya.
Hana menghembuskan napas pasrahnya. “Bukan cuma ke gue, ke yang lain juga.”
Kendrict mengangguk. “Udah, gue udah minta maaf. Sebagai imbalannya gue di skors seminggu.”
Hana membulatkan matanya mendengar hal itu. Di skors? Namun, itu memang hukuman yang lebih baik bagi Kendrict. Cowok itu masih beruntung pihak sekolah tidak mengeluarkannya.
“Terus, lo mau ngapain selama di skors? Padahal ujian sebentar lagi.”
Kendrict mengedikkan bahunya. Dia juga belum memikirkan apa yang akan dilakukannya selama liburan ini. Cowok itu menganggap skrosing dari pihak sekolah sebagai liburannya.
“Gue bisa jagain lo di rumah sakit,” kata Kendrict yang tiba-tiba mendapat ide.
“Nggak usah, udah ada bunda. Lagian kenapa lo yang jagain gue?”
“Lo ‘kan pacar gue.”
“Gue lagi nggak mau bercanda, Ken,” kata Hana dengan ekspresi datar. Sementara Kendrict tertawa dan meringis merasakan bibirnya terasa perih.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...
__ADS_1