Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Harapan Hana


__ADS_3

Keesokkan harinya, setelah Hana bangun tidur dia berencana hendak berbicara pada Samsul. Meminta maaf atas kesalahannya semalam karena pulang terlambat. Namun, Hana tidak menemukan keberadaan sang ayah. Mira yang melihat Hana seperti mencari seseorang pun menghampiri gadis itu. Wanita itu meletakkan cangkir tehnya.


“Cari apa, Han?” tanya Mira.


“Ayah ke mana?”


“Oh, pagi tadi ayah kamu jogging sama Glen,” jawab Mira.


Hana mengangguk lesu setelah mendengar jawaban dari Mira. Melihat Hana murung membuat Mira merasa bersalah. Wanita itu tersenyum hangat pada Hana, merangkul bahu putri tirinya itu.


“Sarapan, yuk. Pasti Hana udah laper ‘kan? Bunda tadi udah masak nasi goreng.”


Hana menurut dan berjalan bersama dengan Mira menuju meja makan. Benar saja, di atas meja sudah tersaji nasi goreng yang masih mengepulkan asap. Aroma harum juga menusuk indera penciuman Hana. Gadis itu duduk di salah satu kursi dan mengambil piring, sementara Mira duduk di depan Hana. Keduanya mulai menikmati sarapan mereka. Sebenarnya tadi Mira juga diajak untuk lari pagi bersama, tetapi wanita itu memilih untuk tinggal di rumah.


Selesai sarapan, Hana kembali ke kamarnya untuk mandi pagi dan memulai aktivitasnya hari ini. Walau hari ini libur, biasanya kegiatan Hana malah sangat padat. Selesai mandi, Hana membuka laptopnya untuk menyelesaikan tugas OSIS yang belum diselesaikannya. Hana larut dalam kegiatannya hingga tak sadar jika Samsul dan Glen sudah pulang. Keduanya banjir keringat. Glen menjatuhkan tubuhnya di sofa.


“Capek, Glen?” tanya Samsul.


“Iya, Yah. Tapi seru juga tadi,” jawab Glen tersenyum.


Mira datang membawakan dua gelas berisi jus yang tadi dibuatnya. Wanita itu meletakkan gelas itu di atas meja. Begitu gelas diletakkan, Glen segera meraih gelas itu dan meneguk isinya hingga tandas. Melihat tingkah Glen membuat Samsul terbahak, tangannya mengacak rambut cowok itu.


“Mas, dicari Hana tadi,” kata Mira pada sang suami.


Gelak tawa Samsul maupun Glen seketika menghilang. Melihat hal itu membuat Mira menghembuskan napasnya.


“Glen mau mandi dulu,” pamit Glen dan pergi dari sana.


Setelah kepergian Glen, kini Mira beralih pada Samsul yang masih bungkam. Wanita itu sangat tidak menyukai tingkah sang suami yang mengabaikan Hana. Sebenarnya Mira tahu jika Samsul tidak bermaksud tidak mempedulikan putri semata wayangnya itu. Namun, luka masa lalu yang dialami Samsul menggores terlalu dalam. Pria itu masih belum dapat melupakan luka itu, apalagi jika beliau berhadapan langsung dengan Hana. Luka itu kembali menganga.

__ADS_1


“Mas, jangan seperti ini! Kasihan Hana, yang dia punya saat ini hanya Mas Samsul. Dia membutuhkan tempat bersandar, tempat berlindung. Mira tau sebenarnya Mas Samsul juga menyayangi Hana dan sangat mempedulikan dia. Tolonglah, jangan keras kepala, Mas!”


“Aku mau mandi dulu, nanti kita bicara lagi,” ucap Samsul bermaksud menghindari percakapan mereka.


“Mas, jika kamu bertingkah seperti ini. Kamu juga menyakiti hatiku,” ucap Mira dengan mata memanas.


Ucapan Mira berhasil membuat Samsul menghentikan langkahnya. Namun, pria itu tidak berbalik. Samsul diam di tempat, hanya beberapa detik. Setelahnya, beliau kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar.


Mira menyeka air yang keluar dari sudut matanya dan hembusan napas keluar dari mulutnya. Wanita itu benar-benar menyayangkan tingkah Samsul terhadap Hana. Tidak ingin larut dalam kesedihannya, Mira bangkit dari duduknya. Membawa gelas kosong ke dapur dan mengambil segelas berisi jus untuk Hana.


Sejak tadi gadis itu tidak keluar dari kamarnya. Entah apa yang sedang dilakukan putri tirinya itu. Mira mengetuk pintu kamar Hana yang tertutup rapat. Wanita itu menunggu hingga pintu terbuka dan menampilkan sosok Hana di depannya. Mira tersenyum melihat wajah cantik Hana.


“Kamu mau jus?” tanya Mira menunjukkan gelas ditangannya.


Hana mengangguk dan menerima gelas itu. “Bunda mau masuk kamar Hana?”


Hana kembali mengangguk dan membuka pintu lebih lebar. Mira berjalan perlahan masuk ke dalam kamar gadis itu. Baru pertama kali ini Mira masuk ke dalam kamar Hana. Mira tidak berani langsung masuk tanpa izin dari si pemilik kamar. Wanita itu memperhatikan sekitarnya. Seperti dugaannya, kamar Hana sangat rapi.


Barang-barang tertata pada tempatnya. Hati Mira menghangat melihat pemandangan didepannya, ada rasa bangga dalam dirinya. Walau Hana bukan anak kandungnya, entah mengapa ada rasa bangga melihat kamar ini sangat rapi.


Hana mempersilakan Mira untuk duduk di atas kursi yang ada di kamarnya. Wanita itu menurut. Sementara Hana meminum jusnya, Mira terpaku pada sebuah bingkai foto yang ada di meja belajar Hana.


“Itu foto bunda kamu?” tanya Mira tersenyum.


Hana mengikuti arah pandang Mira. Gadis itu mengambil bingkai foto dan memperlihatkannya pada Mira. Hana tersenyum melihat wajah bahagia sang bunda di potret itu.


“Bunda kamu cantik,” puji Mira masih dengan senyum hangatnya.


“Terima kasih.”

__ADS_1


“Hana mirip bundanya ternyata, ya?”


Hana menunduk malu mendengar hal itu. Sebenarnya dia juga tidak menyadari, seberapa miripkah dirinya dengan sang bunda. Kebersamaannya dengan sang bunda hanya sebentar dan kenangan yang singkat itu bisa saja pudar.


“Han, kamu tau kalau ayah kamu sangat sayang pada Hana ‘kan?” tanya Mira mengembalikan bingkai foto itu pada Hana.


Hana tersenyum dan mengangguk mantap. “Hana tau, ayah memang sangat sayang pada Hana.”


“Dia bersikap keras pada Hana untuk menutupi gengsinya. Kamu tau semalam dia sangat khawatir karena Hana pulang terlambat?”


“Benarkah?” tanya Hana tidak percaya.


“Iya, Bunda telepon Hana semalam juga atas permintaan ayah.”


Ada secercah harapan bagi Hana setelah mendengar penuturan Mira. Ternyata Samsul sangat khawatir padanya. Mendengar hal itu saja sudah membuat Hana amat bahagia.


Setelah obrolan singkat itu, Mira kembali pamit untuk menyiapkan makan siang. Wanita itu tadi meminta maaf pada Hana karena telah menyita waktunya. Tidak sengaja tadi Mira melihat laptop beserta beberapa kertas di meja belajar Hana. Mira berpikir jika Hana sedang sibuk mengerjakan tugas sekolahnya.


“Bunda bangga sama kamu, Han. Kamu anak yang rajin. Nggak kayak Glen, dia sangat malas. Padahal sebentar lagi lulus,” kata Mira geleng-geleng kepala ketika teringat bagaimana malasnya Glen jika disuruh belajar.


Selepas Mira keluar dari kamarnya, Hana kembali menyibukkan diri dengan tugas yang belum selesai. Namun, sebuah notifikasi chat masuk ke dalam ponselnya. Hana meraih benda pipih itu dan membaca chat dari seseorang.


“Han,” tulis orang itu.


Hana membulatkan matanya membaca tulisan singkat itu. Dia benar-benar lupa pada Aldi. Cowok itu semalam mengiriminya pesan dan hanya dibacanya saja, Hana belum sempat membalas hingga saat ini. Kini cowok itu kembali mengiriminya pesan. Hana segera mendial nomor Aldi, hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja hingga sambungan teleponnya dijawab.


“Halo, Al? Maaf, semalem gue nggak balas chat lo,” ucap Hana begitu suara Aldi terdengar dari seberang sana.


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...

__ADS_1


__ADS_2