
Ken menatap sepeda yang ada di depannya. Sepeda yang sudah rusak cukup parah. Cowok itu sengaja membawa barang itu ke markas, entah apa yang nantinya akan dia perbuat. Sejak satu jam yang lalu, Ken hanya memperhatikan sepeda itu. Sebenarnya di dalam kepala cowok itu sudah banyak sekali berbagai pertanyaan. Sejak kejadian siang tadi, Ken merasa dirinya mulai terusik. Selama hidupnya, dia sama sekali tidak pernah merasa tertarik dengan sesuatu, sementara lihat sekarang, dia mulai tertarik oleh sesuatu.
“Kenapa lo bawa itu sepeda ke sini sih?” tanya Angga, salah seorang temannya.
“Lagi gue sandera,” jawab Ken pendek.
“Bukannya nih sepeda punya cewek tadi? Ketua OSIS sekolah kita, kan?”
Ken hanya mengangguk sekilas tanpa berniat menjawab. Dia sedang menyusun strategi. Saat ini Ken harus bisa memanfaatkan keadaan dengan sebaik mungkin. Ya, pertama yang harus dia lakukan adalah mencari tahu apa hubungan Aldi dengan Hana. Mungkin saja setelah mengetahui hal itu, Ken akan bisa mengalahkan cowok itu. Sebuah senyum miring terlihat di bibir Ken, senyum yang membuat orang yang melihatnya bergidik ngeri.
“Lo bawa ke bengkel tuh sepeda!” perintah Ken dan dia segera pergi darisana.
“Lah? Lo mau benerin sepeda ini?”
“Nggak usah banyak b*cot lo! Turutin aja perintah gue!” ucap Ken nge- gas.
Cowok itu hendak pergi ke suatu tempat. Namun, netranya menangkap sosok yang sejak tadi berada di dalam pikirannya. Senyum miring muncul dari balik helmnya. Motornya dia tujukan pada sosok yang sedang berjalan itu. Hana yang berjalan santai, tidak menyadari ada seseorang yang daritadi mengincarnya.
CKITT!
Ken mengerem persis di depan Hana, membuat gadis di depannya itu langsung mendongak dengan mata membulat. Jantung Hana berdetak sangat cepat akibat terkejut.
“Ken?” panggil Hana mengernyitkan dahi setelah Ken membuka kaca helm fullface- nya.
“Hai,” sapa Ken tersenyum samar.
“Ngapain lo di sini?” tanya Hana. “Ah ya, lo bakal gue laporin ke BK. Lo dan temen- temen lo terlibat tawuran siang tadi.”
“Iya, laporin aja,” jawab Ken masih mempertahankan senyumannya. Sementara Hana merasa aneh dengan sikap cowok di depannya itu.
“Lo mau kemana?” tanya Ken.
“Hah? Bukan urusan lo,” jawab Hana, dia segera melanjutkan langkahnya tanpa mempedulikan cowok itu.
Namun ternyata Ken mengikuti Hana. Cowok itu mengendarai motornya pelan di sebelah gadis itu. Hana yang melihat hal itu pun mempercepat langkahnya, sebenarnya merasa aneh dengan sikap Ken yang tiba- tiba seperti ini. Merasa jengah, Hana menghentikan langkahnya dan berkacak pinggang menatap Ken.
__ADS_1
“Lo mau apa sih sebenernya?” tanya Hana.
“Gue mau tanya sama lo,” ucap Ken, kini ekspresinya terlihat sangat serius.
“Apa?” tanya Hana mengernyitkan dahi.
“Lo ada hubungan apa sama Aldi?”
“Kenapa lo pengen tau?”
Ken mengangkat bahunya. “Gue cuma pengen tau aja.”
“Bukan urusan lo,” ucap Hana dan kembali melanjutkan langkahnya.
Gadis itu masuk ke dalam minimarket tanpa mempedulikan Ken yang masih terus mengawasinya. Sementara cowok itu menunggu Hana di depan minimarket, dia duduk di kursi yang sama ketika ia jatuh malam itu.
“Lho? Mas yang jatuh waktu itu?” tanya Pak Man yang hendak membuka warung nasi gorengnya.
Ken hanya mengangguk seadanya, sebenarnya dia malas bertemu dengan penjual nasi goreng itu. Masih dendam dengan nasi goreng pedas buatan bapak- bapak itu. Tidak lama Hana keluar dari minimarket dengan membawa sekantong plastik berukuran sedang.
“Iya, Pak. Persediaan di rumah sudah habis,” jawab Hana berjalan menghampiri Pak Man.
Gadis itu benar- benar tidak menganggap Ken saat ini. Sedangkan cowok itu yang merasa dikacangi pun mendengus kesal.
“Lho? Itu dahinya kenapa, Mbak?” tanya Pak Man menunjuk dahi Hana yang berbalut plester.
“Oh, ini? Nggak sengaja kena lemparan batu tadi.”
“Kok bisa? Siapa yang lempar batu?”
“Nggak tau, Pak. Tadi Hana nggak sengaja lewat jalan, ternyata masih pada tawuran,” jawab Hana, dia melirik pada Ken yang ternyata juga sedang menatapnya.
“Hati- hati, Mbak. Anak- anak zaman sekarang memang aneh- aneh, buat apa tawuran segala.”
Hana hanya tersenyum dan mengangguk. Sementara Ken sedang mengepalkan kedua tangannya menahan emosi. Dia sangat yakin dua orang itu sengaja menyindirnya. Hana pun pamit pada Pak Man untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
Melihat hal itu, Ken masih saja mengikuti langkah Hana. Cowok itu terus membuntuti Hana tanpa menawarinya tumpangan. Ken sudah hilang kesabaran, dia pun menarik lengan Hana menyebabkan gadis itu hampir saja oleng.
“Apa sih? Lo nggak ada kerjaan lain, ya?” tanya Hana dongkol.
“Lo sengaja nyindir gue tadi?”
“Nyindir lo? PD banget lo.”
“Lo tadi sengaja cerita gitu ke tukang nasi goreng itu sambil lirik- lirik gue.”
Hana menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan tingkah cowok di depannya ini. “Gue nggak lirik- lirik lo.”
“Lo pikir gue nggak tau, hah?”
“Lo kenapa suka banget cari ribut, sih? Nggak di sekolah, nggak di sini kerjaan lo ribut mulu.”
“Gue nggak akan cari ribut kalo lo mau jawab pertanyaan gue tadi.”
“Udah gue bilang tadi, itu bukan urusan lo. Sekarang, mending lo urus aja peraturan yang udah lo langgar selama ini.”
Hana pergi meninggalkan Ken begitu saja. Gadis itu mempercepat langkahnya, dia tidak mau berurusan dengan cowok itu sekarang. Cukup di sekolah saja dia berurusan dengan Ken. Kepalanya sudah cukup pening setelah terkena lemparan batu nyasar tadi, sekarang dia tidak ingin memikirkan hal- hal yang membuat kepalanya itu bertambah sakit.
Lagi- lagi Ken belum juga menyerah. Cowok itu kembali menghadang Hana dengan motornya. Berhenti tepat di depan gadis itu, membuat jantung Hana hampir saja berhenti. Ken membuka kaca helmnya dan sebuah senyum yang belum pernah Hana lihat muncul di bibir cowok itu.
“Gue cuma mau bilang sama lo,” ucap Ken sengaja menggantung kalimatnya. “Sepeda lo untuk sementara gue sandera…”
Hana spontan membulatkan matanya. Benarkah yang diucapkan Ken saat ini? Sepedanya benar- benar ada pada cowok itu? Ada rasa lega dalam diri Hana saat ini juga.
“Kalo lo mau ambil sepeda lo dalam keadaan utuh, temuin gue besok di belakang gudang sekolah setelah pulang,” ucap Ken yang membuat Hana mengubah ekspresinya seketika.
“Kalo gue nggak mau?” tanya Hana menantang dengan menatap mata Ken.
“Gue bakar sepeda lo sampai jadi abu,” jawab Ken santai dan segera menggas motornya pergi darisana.
Hana terdiam mematung di tempat itu, tubuhnya seakan membeku mendengar jawaban dari cowok tadi. Beberapa detik gadis itu membeku, dia kembali tersadar. Namun terlambat, Ken sudah tidak ada di sana lagi.
__ADS_1
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...