Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Kantor Polisi


__ADS_3

Suasana di kantor polisi saat ini sangat ramai. Kendrict baru tiba dan dia sedang diberi beberapa pertanyaan terkait peristiwa di sekolah tadi. Sedangkan, tidak jauh dari tempatnya berada ada juga anak-anak yang dicurigai sebagai provokator tawuran. Mereka sengaja diberi jarak agar tidak saling menyerang.


Tadi polisi menempatkan mereka di satu tempat dan yang terjadi hampir saja kantor polisi ini dijadikan arena tawuran. Kendrict merasa tidak terima karena Aldi tidak turut serta diseret kemari. Padahal tadi cowok itu juga ikut dalam tawuran.


“Masih ada satu lagi yang belum ketangkap, Pak,” kata Kendrict.


“Siapa?” tanya polisi yang sedang menginterogasi cowok itu.


“Aldi, bos anak-anak itu,” jawab Kendrict dan menunjuk anak-anak Rajawali dengan dagunya.


“Jadi, anak bernama Aldi itu yang memerintahkan mereka tawuran?”


Kendrict mengangguk membenarkan. Sebenarnya cowok itu sudah sangat bosan berada di tempat ini. Memang sudah bukan satu dua kali cowok itu masuk ke tempat ini.


“Bisa hubungi orang tua kamu? Minta mereka datang sekarang.”


Kendrict menggelengkan kepala. “Mereka nggak bakal dateng, Pak. Lagian kenapa bapak nggak tangkap Aldi? Nggak adil kalo cuma saya yang ditangkap.”


“Cepat telpon orang tua kamu. Jika tidak, kamu akan kami tahan.”


“Coba aja bapak yang telpon,” kata Kendrict memberikan ponselnya pada polisi itu.


Untuk sementara waktu Kendrict dan anak-anak lainnya dimasukkan ke dalam sel tahanan sampai orang tua masing-masing datang. Kendrict merebahkan tubuhnya di atas lantai dingin ini. Mengedarkan pandangannya pada sel lainnya, ada kekehan yang muncul.


Anak-anak lain sedang berteriak histeris da nada beberapa di antara mereka bahkan menangis. Mereka ketakutan jika nantinya akan masuk penjara. Kendrict memejamkan matanya, rasa kantuknya tiba-tiba datang. Namun baru saja memejamkan mata, cowok itu teringat sosok gadis yang tadi tergeletak di rerumputan.


Mata Kendrict kembali terbuka ada rasa cemas yang tiba-tiba mendatanginya. Spontan kepalanya terisi berbagai pertanyaan tentang Hana.


Lamunan Kendrict buyar saat pintu selnya dibuka oleh seorang polisi dan menyuruhnya untuk keluar. Ada kernyitan di dahi cowok itu, dia diminta keluar. Apakah berarti orang tuanya ada di sini sekarang? Ada senyum miring yang tercipta. Namun, senyum itu menghilang seketika setelah melihat siapa yang berdiri di depannya kini. Kendrict menggaruk pelipisnya.


“Ah, bukan mereka ternyata,” gumam Kendrict.

__ADS_1


Saat ini yang berdiri di hadapannya adalah sekretaris sang ayah. Tangan kanan yang selalu diberi tugas untuk menyelesaikan segala macam masalah yang selalu Kendrict timbulkan.


“Pak, saya mau masuk lagi,” kata Kendrict pada polisi di sampingnya.


“Ya?” tanya polisi itu bingung.


“Jangan seperti ini, Pak Malik sedang menunggu di rumah,” kata sekretaris itu menyebutkan nama sang atasan.


Kendrict kembali menoleh. “Anaknya di sini kenapa nunggu di rumah?”


Perhatian mereka teralihkan saat ada suara heboh beserta beberapa orang memasuki kantor polisi ini. Orang-orang itu adalah para orang tua yang hendak menjemput anak mereka. Tidak hanya para orang tua, ada juga guru dari kedua sekolah. Seorang polisi mencoba menjelaskan apa yang telah terjadi.


“Ckck, kalo Pak Malik yang datang ‘kan mereka bisa gabung sama orang-orang di sana,” kata Kendrict.


“Tuan, ayo ikut saya sekarang!”


“Gue mau tidur di sini. Silakan pulang dan istirahat.”


Kendrict hanya mengedikkan bahunya tak acuh. Namun, hal berikutnya yang terjadi adalah seperti di film-film. Beberapa pria berjas masuk dan menyeret Kendrict dengan paksa. Hal itu menarik perhatian orang-orang yang tadi heboh. Serempak mereka terdiam melihat Kendrict yang berusaha meronta minta dilepaskan.


“Sampaikan salam Pak Malik pada Pak Kepala. Kalau begitu saya permisi,” pamit sekretaris itu.


Sementara polisi yang ada di sana mengangguk dengan ekspresi bingung. Sebenarnya siapa orang yang baru saja berhadapan dengannya?


“Dia siapa?” tanya polisi itu.


“Sekretaris perusahaan M. Kenalan Pak Kepala,” jawab rekannya dan menunjuk ruangan kepala dengan dagunya.


Sementara itu, Kendrict sampai di rumahnya. Ternyata memang benar jika sang ayah berada di rumah saat ini. Namun, sepertinya tidak hanya sang ayah yang berada di rumah. Ada seseorang juga yang membuat Kendrict menjadi seperti sekarang ini.


“Pak Malik sudah menunggu di dalam.”

__ADS_1


“Cuma Pak Malik? Bu Zakia nggak ada?” tanya Kendrict.


“Nyonya sedang berada di Hongkong saat ini, tapi beliau juga tau ….”


Kendrict tidak menjawab dan berjalan masuk. Tidak ingin mendengar kelanjutan perkataan sekretaris itu. Malik duduk di ruang tamu dan di depannya ada dua orang yang duduk memunggunginya. Melihat kedatangan Kendrict, Malik berdiri dari duduknya.


PLAK! BUGGH!


Tamparan dan bogeman yang menyambut kedatangan Kendrict. Cowok itu langsung bersimpuh di lantai. Sementara dua orang tadi menoleh. Aldi dan seorang pria yang berusia lebih muda dari Malik.


“Sudah puas telah menuang kotoran ke wajah orang tua, hah?” bentak Malik.


“Seenggaknya kita jadi sama-sama kotor,” kata Kendrict menatap wajah sang ayah.


“Apa kamu bilang?”


Pukulan kembali Kendrict terima. Membuat cowok itu kembali tersungkur di lantai. Ada darah keluar dari bibir Kendrict. Bukan ringisan, tapi malah kekehan yang keluar dari mulut cowok itu. Matanya menatap tajam pada Aldi yang hanya diam di tempatnya. Namun, Kendrict yakin jika cowok itu sedang mengejeknya saat ini.


Setelah selesai dengan Kendrict, Malik pergi dari sana bersama dengan dua orang itu. Meningalkan Kendrict begitu saja yang terkapar di lantai. Akhirnya ada desisan keluar dari mulutnya. Dengan sekuat tenaga cowok itu bangkit dari posisinya dan masuk ke dalam kamarnya.


“Gue nggak akan berhenti sampai di sini. Keadaan ini nggak setimpal setelah apa yang lo lakuin ke temen-temen gue,” gumam Kendrict mengepalkan tangannya erat.


Cowok itu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menatap langit-langit. Baginya sudah biasa dia mendapat perlakuan seperti tadi. Orang tuanya sendiri yang membuat Kendrict menjadi seperti ini. Seseorang yang bebas dan haus akan perhatian.


“Lo lihat aja nanti, semua ini belum berakhir.”


Kendrict meraih ponselnya dan mencari-cari sebuah nomor. Lalu jarinya mengetikkan sesuatu di layar ponsel. Mengirim pesan pada Putra, sahabatnya yang tadi tidak terjaring oleh polisi. Setelah terkirim, cowok itu bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Saat ini dia sama sekali tidak memikirkan anak-anak yang menjadi korban akibat ulahnya, karena Kendrict yakin semua telah diurus oleh Malik. Namun, satu gadis yang membuatnya kepikiran saat ini. Gadis tangguh yang terakhir kali dilihatnya tergeletak dengan lumuran darah di kepala. Hana yang sejak tadi selalu memenuhi kepala Kendrict.


“Besok gue harus ke rumah sakit,” kata Kendrict di bawah guyuran shower. Ada senyum samar tercipta dari bibir Kendrict yang terdapat luka.

__ADS_1


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...


__ADS_2