
Hana akhirnya diperbolehkan pulang lebih awal oleh pihak sekolah. Tadi anak yang bertugas di UKS melaporkan apa yang telah menimpa Hana, jadi guru BK langsung membuatkan surat izin untuknya.
Tadi Hana sudah menolak, dia tetap ingin berada di sekolah dan mengikuti pembelajaran yang masih tersisa. Namun, para guru melarang. Mereka melarang karena mengingat kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada Hana.
"Loh? Han, kok kamu sudah pulang?" tanya Mira yang melihat Hana berjalan masuk ke dalam rumah.
Hana hanya menundukkan kepalanya, tidak tahu harus menjawab bagaimana. Mulutnya seakan terkunci, juga Hana tidak mau membuat beban pikiran untuk Mira. Namun, seseorang yang berdiri di belakang Hana dengan entengnya menjawab pertanyaan Mira.
"Hana di bully tadi, Bun," jawab Glen matanya tidak beralih pada tubuh mungil didepannya.
"Kok bisa? Ada masalah apa sampai Hana di bully?" tanya Mira terkejut dan segera menghampiri Hana.
Sekuat tenaga Hana menahan tangisnya. Dia tidak berani menatap wanita didepannya. Hana terlalu takut membayangkan reaksi Mira setelah mendengar jika dia menjadi korban kekerasan di sekolah.
Sebuah pelukan hangat membuat Hana terkejut. Setelahnya tangis gadis itu pecah, suara pilu itu membuat Mira ikut merasakan kesedihan yang dirasakan anaknya ini.
Sementara Glen menundukkan kepalanya, ada air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Sekuat tenaga cowok itu menahan tangisnya. Beruntung tadi dia diminta ke ruang guru dan tidak sengaja mendengar percakapan adik kelasnya tentang Hana.
Glen langsung menawarkan diri untuk mengantar Hana pulang, tentu para guru langsung setuju mengingat Glen juga merupakan keluarga Hana. Walau tidak mudah membujuk gadis itu untuk pulang ke rumah, tapi akhirnya Glen berhasil.
Cowok itu meletakkan tas milik Hana di sofa. Lalu, dia mencari surat dari sekolah di dalam tasnya. Mira sedang mengantar Hana menuju kamar gadis itu. Tidak lama kemudian wanita tersebut kembali.
Glen segera menghampiri Mira dan menyerahkan surat dari sekolah tersebut pada sang bunda. Cowok itu meringis ketika Mira membaca surat tersebut.
"Apa ini?" tanya Mira dengan wajah masam.
"Itu surat pemanggilan orang tua, Bun," jawab Glen takut-takut.
"Kamu nakal di sekolah? Berantem, ya?"
"Maaf, Bun. Glen berantem sama anak yang tadi jelek-jelekin Hana," ucap Glen menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Mendengar ucapan putranya membuat Mira menghembuskan napasnya. Walau marah, tapi Mira juga bangga pada putranya karena telah bersikap baik pada Hana.
"Ya sudah, sekarang kamu kembali ke sekolah. Besok Bunda ke sekolah," kata Mira menyimpan surat tersebut.
"Glen udah boleh pulang kok. Oh ya, ini tasnya Hana."
Mira menerima tas milik Hana yang terasa berat, kemudian beliau menyuruh Glen berganti pakaian. Mira mengernyitkan dahi karena dari tas Hana menetes air. Beliau membuka tas tersebut untuk memeriksanya.
"Astaga!" pekik Mira.
"Ada apa, Bu?" tanya Mbak Jum lari tergopoh-gopoh.
"Lihat ini, Mbak. Anak-anak zaman sekarang memang sudah keterlaluan. Bagaimana bisa mereka berbuat seperti ini?" tanya Mira sedih melihat seragam Hana basah kuyup dan berbau tidak sedap. Baunya sangat busuk.
Mbak Jum juga tidak habis pikir dengan anak-anak sekarang. "Apa salah Mbak Hana? Padahal Mbak Hana anak yang sangat baik."
Sementara itu, Hana berbaring di tempat tidurnya setelah membersihkan diri. Seluruh tubuhnya tertutup oleh selimut tebal. Walau Hana sudah membersihkan seluruh badan hingga wangi, gadis itu tetap terbayang-bayang oleh bau busuk dari air yang tadi disiram ke tubuhnya.
Keringat dingin mengucur deras membasahi dahi gadis itu. Hana kembali teringat tadi ketika hendak mengambil seragam di dalam lokernya. Lokernya sudah penuh dengan kertas-kertas berisi tulisan jahat yang ditujukan untuk Hana.
Suara notifikasi dari ponselnya membuat Hana membuka mata, meraih ponsel yang berada di dekat tempat tidurnya. Banyak notifikasi masuk dari forum sekolahnya.
Hana membuka forum tersebut membaca sebuah artikel yang baru dirilis. Entah siapa yang menulisnya, karena orang tersebut menyenbunyikan identitasnya.
Isi tulisan tersebut hanya kata-kata kasar dan beberapa ancaman juga cacian yang ditujukan untuk Hana. Air mata Hana kembali meleleh keluar membasahi pipinya.
"Mundur lo dari jabatan ketua!"
"Atau sekalian keluar dari sekolah, pindah aja lo ke sekolah khusus cowok!"
"Bener, setuju gue! Dia 'kan suka nemplok sana-sini ke anak-anak cowok!"
__ADS_1
"Setelah ini hidup lo nggak bakalan bisa tenang!"
"Kalian mau tau kelakuan dia waktu SMP?"
Hana tidak melanjutkan membaca komentar-komentar tersebut. Gadis itu segera menjauhkan ponselnya. Kembali menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Tubuhnya gemetaran, menahan tangis.
Apa salahnya hingga mereka sangat membencinya dan berkata kasar seperti itu? Apakah dia salah jika ingin berteman dengan anak-anak cowok? Hana tidak pernah membeda-bedakan teman. Dia berteman dengan siapa saja.
Hana tidak keluar kamar hingga malam. Hal itu membuat Mira dan Glen khawatir. Tadi Mira sudah mengantar makan siang untuk gadis itu. Namun, tidak ada jawaban dari dalam kamar.
Perlahan Mira membuka pintu kamar Hana. Kamar gadis itu gelap karena lampu yang sengaja tidak dinyalakan. Glen mengikuti Mira dari belakang. Dia menyalakan lampu agar mereka tidak berjalan dalam kegelapan.
"Han, makan dulu, ya? Bunda bawain kamu makan malam," kata Mira duduk di pinggir tempat tidur Hana.
Tidak ada jawaban dari gadis itu. Mira dan Glen saling pandang, lalu dengan perlahan Mira menurunkan selimut yang menutupi wajah Hana. Wanita itu mengernyit melihat keringat yang mengucur deras membasahi dahi Hana.
Mira berniat menyeka keringat tersebut, tapi ternyata malah tangannya terasa hangat ketika bersentuhan dengan dahi Hana.
"Kenapa, Bun?" tanya Glen.
"Hana demam, tolong ambilkan air hangat sama kain. Minta ke Mbak Jum kalau kamu nggak tau tempatnya," perintah Mira.
Glen langsung menurut dan keluar dari kamar Hana. Sementara Mira membuka selimut dan mencari handuk di lemari milik Hana. Handuk tersebut digunakan untuk menyeka keringat yang membasahi tubuh.
Beberapa saat kemudian Glen kembali dengan sebaskom air hangat. Mira meminta Glen untuk keluar terlebih dulu, karena beliau hendak mengganti baju Hana yang basah kuyup.
Glen menurut dan keluar dari kamar Hana, dia menunggu di kamarnya. Cowok itu meraih ponselnya berniat hendak bermain game. Namun, dia menghentikan aktivitasnya ketika melihat sebuah notifikasi yang menarik perhatiannya.
Glen membaca sebuah komentar yang ada di forum sekolahnya. Sebenarnya ada banyak komentar di sana. Kebanyakan komentar jahat yang entah siapa pelakunya karena mereka semua menyembunyikan identitas akunnya.
"Dasar sampah! Forum sampah yang isinya cuma sampah!" umpat Glen marah.
__ADS_1
"Gue pastikan hidup si ketua OSIS nggak bakal bisa tenang selama sekolah di sini! Gue akan buat dia enyah dari sekolah atau bahkan dari dunia ini!" tulis seseorang di forum tersebut.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...