Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Menunggui Kendrict


__ADS_3

Hana, Glen, dan Mira serempak menoleh ke arah pintu. Mereka menghentikan aktivitas masing-masing. Ada dua orang masuk ke kamar rawat Kendrict.


"Oh? Aldi," ucap Hana yang tadi membukakan pintu.


Hana mempersilakan Aldi dan Sarah masuk. Mira bangkit dari duduknya, tadi beliau duduk di sebelah tempat tidur Kendrict.


"Terima kasih karena sudah merawat Ken," ucap Sarah pada Mira.


"Sama-sama. Kebetulan tadi Hana ditelpon temannya dan memberi kabar tentang Ken," jelas Mira memperhatikan Kendrict. "Tadi Ken baru makan terus minum obat, sekarang tidur mungkin karena obatnya," lanjutnya.


Mira dan kedua anaknya pamit tidak lama kemudian. Meninggalkan Sarah dan Aldi. Tadi Sarah sudah mencoba menghubungi orang tua Kendrict, tapi masih belum bisa tersambung.


"Kenapa Ken bisa banyak luka gini?" tanya Sarah.


Beliau memang belum tahu bagaimana perlakuan Malik terhadap putranya. Sarah jarang berkunjung ke rumah keluarga Malik. Jadi, Sarah tidak tahu menahu masalah yang sedang dialami keponakannya tersebut.


Sementara Aldi hanya terdiam. Dia sudah biasa melihat bagaimana papa Kendrict menghajar anaknya tersebut. Bahkan, Malik tidak sungkan memperlihatkan amarahnya ketika Aldi dan sang papa sedang berkunjung.


Malik yang selalu membanding-bandingkan Kendrict dengan Aldi, ditambah dengan papa Aldi yang ikut menjadi kompor. Hasilnya, Kendrict yang menjadi korban.


Tentu bukan mau Aldi mereka membanding-bandingkannya. Aldi sudah lelah mengingatkan sang papa yang terlalu berlebihan ketika membanggakannya.


"Ckck, mana orang tuanya susah dihubungi," gerutu Sarah.


"Kayaknya mereka lagi di luar, Ma," ucap Aldi.


Sarah hanya menghembuskan napas lelahnya. Ada rasa iba melihat bekas luka di wajah Kendrict yang sedang nyenyak tidur. Beliau tidak menyangka jika anak yang tidak pernah menunjukkan raut sedih ini terbaring di ranjang rumah sakit.


"Nanti Mama pulang aja, biar Aldi yang nemenin Ken," kata Aldi menawarkan diri.


Sarah hanya mengangguk. Cukup lama Kendrict tidur. Baru kali ini cowok itu bisa tidur senyenyak ini, walaupun dengan bantuan obat. Sarah dan Aldi masih sabar menunggu Kendrict bangun, tapi mereka tidak berniat membangunkan tidur nyanyak cowok itu.


"Mama pulang dulu, Al. Nanti Mama sama Papa ke sini. Kamu jagain Ken, ya?"


"Iya, Ma."


Aldi mengantar Sarah hingga depan rumah sakit. Lalu dia kembali ke kamar Kendrict, tapi sebelumnya cowok itu mampir ke kantin untuk membeli beberapa cemilan.


Sekembalinya Aldi, Kendrict masih belum bangun. Dia duduk di kursi sebelah ranjang sepupunya itu. Kini dia fokus pada game di ponsel dengan sesekali matanya memeriksa Kendrict.


"Han," lirih Kendrict.

__ADS_1


Aldi mengernyit mendengar suara lirih yang berasal dari mulut Kendrict. Dia pun mencoba membangunkan cowok itu. Namun, Kendrict masih mengigau dengan memanggil nama Hana.


"Ken!" panggil Aldi menepuk pipi Kendrict.


Kendrict terkejut dan langsung membuka matanya. Ada keringat yang keluar dari dahi cowok itu. Kendrict memperhatikan sekitarnya mencoba mengingat peristiwa yang dialaminya.


Aldi masih memperhatikan sepupunya itu dengan tenang. Sementara Kendrict yang sudah tenang melihat ada Aldi di sebelahnya.


"Ngapain lo di sini?" tanya Kendrict mengernyitkan dahi.


"Nungguin lo," jawab Aldi yang kembali duduk dan melanjutkan bermain game.


Aldi pikir jika Kendrict baik-baik saja, melihat cowok itu bisa berbicara normal dengan nada menyebalkan jika didengar.


"Nggak perlu, lo pulang sana!" usir Kendrict.


"Gue juga nggak mau, nyokap gue nyuruh jaga lo. Gue nggak mau kena omel," jelas Aldi malas, dia masih fokus dengan ponselnya.


Akhirnya Kendrict menyerah, cowok itu diam. Seketika ruangan ini terasa sangat hening. Hanya suara dari AC sebagai pemecah keheningan. Tiba-tiba, Kendrict menyibak selimutnya. Tingkah Kendrict tidak lepas dari pengamatan Aldi.


"Mau ke mana lo?" tanya Aldi.


"Bukan urusan lo," jawab Kendrict sewot.


"Anj*r! Kaki gue kram! Argh!" teriak Kendrict suaranya menggema.


Bahkan, Aldi hampir saja menjatuhkan ponselnya. Cowok itu berdecak melihat Kendrict yang meringis kesakitan.


"Mana yang kram?" tanya Aldi.


"Mau ngapain lo?"


"Udah diem aja. Rewel mulu lo."


Aldi menepuk kaki kiri Kendrict, tapi cowok itu tidak bereaksi. Lalu, Aldi menepuk kaki kanan Kendrict membuat cowok itu mengeluarkan kata-kata mutiaranya.


"Anj*ng lo, Al!" umpat Kendrict menepis tangan Aldi.


Namun, Aldi tidak menggubrisnya. Cowok itu meraih kaki kanan Kendrict dan mengangkatnya hingga tubuh Kendrict terjatuh ke tempat tidur. Aldi berusaha meluruskan kaki Kendrict. Sedikit rusuh memang, tapi dia berhasil menghilangkan kram itu.


"Jawab! Lo mau ke mana?" tanya Aldi.

__ADS_1


"Gue mau ke kamar mandi! Mau kencing, puas lo?"


"Ckck, nggak perlu ngegas juga. Ya udah sana."


Kendrict pun segera masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa infusnya. Sementara Aldi melanjutkan aktivitasnya lagi. Ada sebuah notifikasi chat masuk, membuat Aldi mengalihkan fokus dari game ke chat tersebut.


Ternyata chat dari Hana yang menanyakan kabar Kendrict. Sebenarnya Aldi malas membalas chat tersebut jika Hana hanya menanyakan tentang Kendrict. Namun, Aldi tidak ingin mengabaikan gadis itu begitu saja. Akhirnya Aldi tetap membalas chat dari Hana walau dengan hati yang berat.


BRAKK!


"Emang nyusahin tuh anak," geram Aldi meletakkan ponselnya dan segera menghampiri Kendrict.


"Kenap ..., anj*ng. Pake dulu celana lo, Nyet!" pekik Aldi mengalihkan pandangannya.


"Cerewet lo! Ngapain lo nyamper ke sini?"


"Lo rusuh mulu!"


"Nggak usah peduliin gue!" kata Kendrict berusaha bangun.


Walau keduanya adu mulut terus menerus, Aldi tetap membantu Kendrict. Cowok itu melotot melihat tangan kiri Kendrict yang mengeluarkan darah.


"Lo apain infusnya, hah?" tanya Aldi.


"Bac*t mulu lo! Selangnya nyangkut tadi!" jawab Kendrict kesal.


Aldi pun segera memanggil perawat untuk kembali memasangkan infus pada Kendrict. Perawat yang sedang menangani Kendrict terlihat sangat tertekan mendengar adu mulut yang tidak berhenti dari Aldi dan Kendrict.


"Ini rumah sakit, mohon jangan berisik!" peringat perawat tersebut setelah selesai memasang infus.


"Maaf, Mbak," ucap Aldi merasa bersalah.


Perawat itu pamit meninggalkan dua anak itu. Terjadi hening lagi di antara keduanya. Ponsel Aldi berdering dan tidak sengaja Kendrict melihat layar ponsel itu. Tertera nama Hana di sana.


"Kondisikan mata lo yang jelalatan!" peringat Aldi segera meraih ponselnya.


Kendrict menahan tangan Aldi yang hendak menjawab telepon dari Hana tersebut. Aldi menoleh dan mengernyitkan dahinya. Namun, tatapan Kendrict mendadak membuat Aldi menciut. Cowok itu menatapnya dengan tatapan serius, jarang sekali Kendrict terlihat seserius ini.


"Lo boleh rebut apapun yang gue punya. Tapi, satu hal yang nggak akan gue biarin lo rebut. Gue nggak akan biarin lo rebut Hana dari gue!" ucap Kendrict tajam, tangannya mencekal tangan Aldi membuat cowok itu spontan meringis.


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...

__ADS_1


Hai, Otor yang baik dan kalem ini akan bagi visualnya Aldi. Kalau menurut pembaca visualnya kurang cocok, kalian bisa bayangin visual lain. Ngoghey?



__ADS_2