
Hana memandang sekitarnya, mencari keberadaan teman-temannya di antara para manusia yang memadati gelanggang olahraga ini. Tiket sudah berada di tangan dan sebentar lagi pertandingan akan segera di mulai. Seseorang menepuk bahu Hana, membuat gadis itu terkejut.
“Gue cari-cari dari tadi, ayo masuk sekarang,” ucap Anggun.
Kemarin Hana dan teman-temannya janjian untuk menonton pertandingan serta memberi dukungan untuk perwakilan dari sekolah mereka yang hari ini akan bertanding di kejuaraan kabupaten. Juga kemarin Hana sudah berjanji pada Adam akan menonton hari ini.
“Vio sama Manda udah di dalem katanya,” tambah Anggun.
Hana mengangguk dan berjalan bersama Anggun masuk ke dalam GOR yang sudah padat pengunjung. Suasana di dalam sangat ramai, mendadak Hana merasa bingung dengan sekelilingnya. Beruntung Anggun tidak melepas gandengan mereka. Gadis itu mengajak Hana untuk naik ke tribun penonton bergabung bersama dengan teman-teman yang lain.
Memang ini merupakan pengalaman pertama Hana menonton pertandingan secara langsung. Jadi tidak heran jika Hana belum terbiasa dengan keramaian seperti ini. Akhirnya mereka bertemu dengan teman-teman satu sekolahnya. Ternyata banyak juga yang hadir ada beberapa guru juga yang terlihat duduk tidak jauh dari mereka.
“Tumben lo mau nonton pertandingan kayak gini, Han?” tanya salah seorang teman Hana.
“Dia mau dukung si Adam, kalo bukan karena dia mana mau si Hana datang,” jawab Vio mengerling pada Hana.
Sementara Hana hanya mendengus, tidak menghiraukan apa yang dikatakan teman-temannya itu. Pandangannya menyapu pada sekelilingnya. Netranya terhenti saat melihat Kendrict bersama teman-teman satu gengnya duduk tidak jauh dari dirinya. Sepertinya cowok itu masih belum mengetahui kehadirannya. Suara riuh penonton mengalihkan pandangan Hana yang sejak tadi tanpa sadar memperhatikan Kendrict.
Pertandingan taekwondo tingkat kabupaten ini sudah di mulai. Adam akan bertanding di urutan ketiga nanti. Namun sebelumnya, para penonton disuguhkan oleh pertandingan dari sekolah lain. Hana terpaku melihat aksi para atlet itu.
“Han, itu yang warna biru keren, ya?” bisik Manda di antara gemuruh para penonton.
Hana hanya mnegangguk-anggukkan kepala saja tanpa mengalihkan pandangannya dari lapangan di bawah sana. Kini tibalah giliran Adam untuk bertanding. Cowok itu memakai body protector berwarna merah. Terlihat sangat gagah. Teman-teman dari sekolah Hana bersorak memberi dukungan. Tanpa sadar Hana juga bersemangat memberi dukungan untuk Adam.
“Semangat bener, Bu,” ucap Anggun menyenggol lengan Hana.
“Eh?” Kaget Hana, mendadak dia merasa malu sendiri.
Mengapa dia menjadi sangat bersemangat seperti ini? Entah dia merasakan euforia yang sangat luar biasa melihat salah satu perwakilan dari sekolahnya maju bertanding. Padahal bukan dirinya yang ikut bertanding, tetapi ada rasa deg-degan di dada.
__ADS_1
Semua orang bersorak ketika Adam berhasil melumpuhkan lawannya dan dinyatakan menang dalam pertandingan kali ini. Gemuruh tepuk tangan juga bunyi terompet, tidak lupa suara pukulan kaleng biskuit membahana memenuhi gelanggang ini.
“Astaga, si Adam bener-bener keren,” pekik Vio yang masih bertepuk tangan.
Setelah pertandingan Adam tadi, masih ada beberapa pertandingan lainnya. Juga tidak hanya Adam yang berhasil masuk ke babak final, ada juga satu perwakilan dari sekolah Hana yang berhasil lolos. Hana masih menonton hingga pertandingan selesai.
Namun, ternyata tidak semua pertandingan dilaksanakan hari ini. Pertandingan akan dilanjutkan besok hingga beberapa hari ke depan. Dan untuk hari ini pertandingan sudah selesai. Para penonton satu-persatu mulai meninggalkan GOR ini. Termasuk Hana dan teman-temannya yang lain.
Tadi terpaksa Hana naik angkutan umum untuk datang ke tempat ini. Jarak rumah hingga ke GOR lumayan jauh jika ditempuh dengan naik sepeda. Hari sudah gelap, Hana melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah menunjukkan angka delapan.
Hana pun pamit pada teman-temannya yang lain. Dia harus segera pulang, karena makin malam angkutan umum akan jarang lewat. Sementara teman-temannya yang lain masih ingin menghabiskan waktu bersama terlebih dulu dengan nongkrong di café.
“Lo beneran nggak mau ikut? Nanti pulang bareng gue deh.”
“Maaf, Vi. Ini udah malem buat gue, gue juga masih harus selesaiin tugas yang belum selesai,” tolak Hana.
“Hmm, oke deh. Tapi lain kali lo harus mau kalo kita ajak kumpul. Oh ya, lo naik angkutan umum? Yakin?”
Hana berjalan menuju halte terdekat untuk menunggu angkutan yang akan membawanya pulang ke rumah. Cukup lama dia menunggu angkutan yang lewat.
Di saat dia sedang menunggu angkutan yang lewat, tiba-tiba ada sebuah motor yang berhenti di depan halte tempat Hana menunggu. Gadis itu mengernyit melihat seseorang dengan motor besar berwarna hitam. Sosok itu membuka helm fullface-nya dan barulah Hana tahu siapa sosok itu.
“Naik! Gue anter lo pulang!” perintah Kendrict.
“Nggak perlu, gue bisa naik angkutan,” tolak Hana.
“Mau nunggu sampai kapan?” tanya Kendrict mengernyitkan dahi.
Hana melihat jam di pergelangan tangannya, saat ini ternyata sudah pukul sembilan lebih tigapuluh menit. Tanpa terasa Hana sudah menunggu di halte ini selama tigapuluh menit lamanya. Mulut Hana yang hendak menjawab pertanyaan cowok itu mendadak kembali terkatup saat mendengar dering ponselnya. Hana segera mengambil ponsel di dalam tas selempangnya.
__ADS_1
“Halo, Mbak Jum?” sapa Hana.
“Mbak Hana sekarang ada di mana?”
“Ini sudah mau pulang, Mbak. Mbak Jum mau titip sesuatu?”
“Nggak, Mbak. Ini Mbak Jum mau kasih tau, ayahnya Mbak Hana pulang. Sekarang Mbak Hana diminta cepat pulang.”
“Ayah pulang, Mbak? Kok nggak telpon Hana dulu?”
Kendrict memperhatikan Hana yang sedang mengobrol di telpon itu. Dia memperhatikan ekspresi yang dibuat oleh gadis itu. Raut wajahnya terlihat berseri-seri. Sepertinya ada hal baik yang terjadi pada Hana. Kendrict spontan mengalihkan pandangannya ketika Hana menatapnya. Gadis itu berjalan menghampiri motor Kendrict.
“Maaf, gue boleh nebeng lo? Gue harus cepat pulang sekarang,” kata Hana merasa tidak enak, karena tadi dirinya sudah menolak tawaran cowok di depannya ini.
“Naik! Nih, pake helm lo.”
Hana mengangguk dan segera menerima uluran helm dari Kendrict. Setelah memakainya, Hana segera naik ke atas motor cowok itu. Sementara Kendrict memperhatikan kaca spionnya, dia melihat ada seseorang di belakang motornya.
Dibalik helmnya ada sebuah seringai muncul. Cowok itu menoleh ke belakang dan mengacungkan jari tengah pada seseorang sebelum menggas motornya menjauh dari sana. Hana yang penasaran mencoba menoleh ke belakang. Namun, sebuah tarikan mengejutkannya.
“Pegangan! Kalo lo jatuh gue nggak tanggung jawab!” teriak Kendrict memacu motornya lebih kencang.
Sosok yang tadi diberi hadiah jari tengah oleh Kendrict seketika berwajah masam. Ada umpatan meluncur dari mulutnya. Namun, tiba-tiba saja dia dikejutkan oleh seorang perempuan yang berdiri tidak jauh darinya. Perempuan itu terlihat sangat kesal menatap lurus ke depan, sesekali kakinya menghentak.
“Ken! Kok lo ninggalin gue?” teriak perempuan itu.
“Ckck, mana helm gue dibawa dia.”
“Udahlah, Nit. Bareng gue aja, rumah lo juga udah deket dari sini.”
__ADS_1
Nita menghentakkan kakinya kesal, tapi menurut juga. Dua gadis itu pun berjalan pergi dari sana meninggalkan sosok yang diam-diam sejak tadi memperhatikan.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...