Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Terjebak Di Tengah Perang


__ADS_3

Hana berjalan masuk ke dalam perpustakaan untuk mengembalikan buku yang dipinjamnya beberapa hari yang lalu. Bel pulang sudah berdering tigapuluh menit yang lalu. Setelah meletakkan buku itu di atas meja penjaga perpustakaan dan menulis tanggal pengembalian buku, Hana pun berjalan menuju tempat parkir dimana sepedanya berada. Gadis itu mengayuh sepedanya menjauh dari area sekolahnya.


Sebelum pulang ke rumah, Hana mampir terlebih dulu ke toko buah untuk membeli buah yang nantinya akan dia berikan kepada tetangga sebelah rumah. Hana memang dekat dengan para tetangganya. Tidak seperti di perumahan pada umumnya yang kebanyakan warganya bersifat individualis. Komplek perumahan yang Hana tinggali para penghuninya memiliki jiwa sosial yang tinggi.


Baru saja sepedanya berbelok di perempatan jalan, Hana di sambut oleh gerombolan anak- anak SMA dari dua arah. Melihat hal itu dia pun membulatkan matanya. Hana tahu saat ini situasi sedang sangat genting.


“Mereka mau tawuran?” gumam Hana dengan wajah panik.


Hana terkepung saat ini, ingin berbalik. Namun dari belakang juga sudah banyak gerombolan anak- anak SMA yang membawa senjata. Akhirnya Hana menepi, dia bersembunyi di balik sebuah pohon yang cukup untuk bisa melindunginya dari anak- anak SMA itu. Mata Hana meneliti dengan seksama, dia ingin tahu SMA mana yang menggelar tawuran di jalanan ini. Anak- anak SMA itu mulai saling serang. Melempar batu, balok kayu, bahkan petasan juga. Mata gadis itu menyipit melihat salah satu anak SMA yang memakai seragam seperti dirinya.


“Anak SMA 22. Jadi mereka yang tawuran?” gumam Hana.


Hana pun berinisiatif untuk melaporkan kepada pihak berwajib. Walau bagaimanapun dia menyaksikan sendiri para siswa SMA- nya terlibat tawuran yang sangat merugikan warga sekitar. Namun baru saja Hana hendak mengeluarkan ponselnya, sebuah petasan nyasar mampir di dekat tempat persembunyiannya. Ia yang terkejut pun spontan menghindar dari petasan itu.


BUKK!


Belum selesai dengan petasan, sebuah batu mampir tepat mengenai dahi Hana. Spontan dia pun memekik kesakitan. Kepalanya terasa pening, tangannya pun memegangi kepalanya yang terkena batu. Tidak hanya di dahi, tapi juga mengenai bahunya.


“Please! Jangan pingsan di sini.”


Hana masih berusaha menguasai kesadarannya. Dia harus tetap sadar dan segera keluar dari perang ini. Salah seorang anak yang tawuran itu menyadari keberadaan Hana. Apalagi melihat seragam yang gadis itu kenakan, dia seperti mendapat mangsa. Anak itu pun mengkomando teman- temannya untuk menuju tempat Hana berdiri sekarang. Ken yang memimpin tawuran mengernyitkan dahi melihat lawannya berlarian menuju sebuah pohon besar.


“Emang nyusahin,” gumam Ken. “Cepet ke pohon itu! Ada anak 22 di sana,” perintah Ken pada teman- temannya.


Alhasil dua kubu itu berbondong- bondong menghampiri Hana. Sementara gadis itu sudah gemetaran di tempatnya. Dia tidak pernah membayangkan akan terjebak di tengah- tengah perang antar siswa. Namun langkah Ken mendadak terhenti. Matanya melihat sosok yang amat dikenalnya sudah tiba lebih dulu di tempat Hana berada. Cowok itu kira orang itu juga hendak menyerang Hana, tapi ternyata dugaannya salah.


“Aldi kenal si ketua OSIS?” tanya salah seorang teman Ken.

__ADS_1


Namun Ken tidak menjawab pertanyaan itu, netranya masih melihat di depannya. Aldi bak pahlawan mencoba melindungi Hana dengan merentangkan jaketnya untuk menutupi kepala gadis itu. Lalu, Aldi membawa Hana pergi darisana. Cowok itu juga memerintahkan teman- temannya untuk mundur.


Aldi membawa Hana ke tempat yang lebih aman. Dia mendudukkan gadis itu yang terlihat sangat syok. Pandangan Hana kosong. Aldi menyentuh bahu Hana membuat gadis itu langsung tersadar. Matanya membulat melihat wajah di depannya.


“Aldi?” tanya Hana, dia mengerjapkan matanya. Mencoba memastikan jika penglihatannya tidak salah.


Aldi adalah mantan pacar Hana dulu. Kini gadis itu tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Hana tidak menyangka jika akan bertemu dengan mantan pacarnya di sini.


“Lo kok bisa ada di sini? Lo tau tadi itu bahaya,” kata Aldi menatap wajah Hana.


“Tadi gue mau… Eh? Sepeda gue masih di sana,” ucap Hana terlihat panik begitu teringat akan sepedanya. Dia berniat hendak kembali ke tempat tadi.


SREETT!


Aldi menahan tangan Hana dan menariknya agar kembali duduk di kursi itu. Hana yang mendapat perlakuan seperti itu hendak memberontak.


Spontan tangan Hana menyentuh dahinya, ada darah yang keluar dari dahinya. Namun dia terlihat tenang, tangannya beralih pada tas ranselnya mencari kotak P3K yang selalu dia bawa.


“Lo nggak pernah berubah dari dulu,” gumam Aldi. Cowok itu merebut kotak P3K dari tangan Hana.


Aldi membantu mengobati luka di dahi Hana. Sementara gadis itu terdiam mematung. Matanya menatap wajah Aldi yang berjarak sangat dekat dengannya. Hana kembali teringat hubungannya dengan cowok di depannya dahulu. Memang keduanya mengakhiri hubungan dengan cara baik- baik. Namun sudah begitu lama Hana tidak bertemu dengan Aldi.


“Selesai,” ucap Aldi mengelus plester yang baru ditempelkannya pada dahi Hana.


Hana berdehem dan segera menjauhkan wajahnya dari Aldi. Mendadak suasana menjadi canggung bagi cowok itu, dia mengusap tengkuknya dan matanya memandang hal lain.


“Bos, di sana nggak ada sepeda,” ucap salah seorang teman Aldi.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Hana kembali panik. “Beneran nggak ada?”


Aldi menatap anak itu dan anak itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Hana terduduk lemas. Bagaimana jika sepedanya benar- benar hilang? Hanya itu kendaraan yang dia miliki. Hana tidak terbiasa naik kendaraan umum.


“Ayo gue anter lo balik. Soal sepeda lo, nanti coba gue sama temen- temen gue cari.”


Hana mengangguk lemah, dia pun menurut dan pulang bersama dengan Aldi. Namun pikirannya masih tertuju pada sepedanya yang hilang entah kemana.


Hana hanya diam selama perjalanan pulang, wajahnya benar- benar murung. Aldi yang melihat hal itu menghembuskan napasnya dari balik helm yang dikenakannya. Kini mereka sampai di depan rumah Hana. Gadis itu segera turun dari motor Aldi.


“Makasih, Al,” ucap Hana.


“Tunggu!”


Hana yang hendak masuk rumah berbalik. Dia mengernyitkan dahinya dan memandang Aldi dengan ekspresi bertanya.


“Besok berangkat sekolah sama gue. Sampai sepeda lo balik lagi,” kata Aldi membuka helm fullface- nya.


“Nggak perlu, gue bisa jalan kaki ke sekolah. Lagian jaraknya nggak jauh,” tolak Hana. “Makasih buat hari ini.”


Hana benar- benar masuk ke dalam rumah, sementara Aldi masih diam di tempat itu. Tidak lama, cowok itu pergi dari kediaman Hana. Namun tanpa mereka sadari, sejak tadi ada sepasang mata yang terus mengamati keduanya. Dia berada tidak jauh dari rumah Hana. Sebuah seringai muncul dari mulutnya.


“Untuk sementara sepeda lo gue sandera,” gumam Ken.


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...


Sepeda Hana 😍😍😍

__ADS_1



__ADS_2