
Hana terkesiap kaget ketika Kendrict bertepuk tangan tepat didepan wajahnya. Gadis itu menatap tidak senang pada Kendrict. Akhirnya Hana pamit pada cowok itu untuk masuk ke dalam kelas. Dia tidak mau terlambat mengikuti pembelajaran. Kini Kendrict melepaskan Hana, dia tidak menahan atau mengejar langkah kaki gadis mungil itu.
Hana beruntung karena guru yang mengajar pada jam ini belum masuk kelas. Dia segera duduk di bangkunya dan menyiapkan buku pelajaran di atas meja. Hana bukannya tidak tahu jika dia kin sedang menjadi objek pembicaraan di sana-sini sejak tadi. Entah mereka mendapat gosip dari mana, sehingga mudah percaya seperti itu.
“Selamat siang,” sapa seorang guru memasuki kelas.
Kasak-kusuk yang sejak tadi terdengar seketika hilang. Kini anak-anak di kelas ini fokus pada materi yang disampaikan oleh sang guru, begitu juga Hana. Kali ini mereka belajar biologi dan guru sedang menjelaskan di depan dengan media papan tulis putih bersih. Hana mulai membuka buku catatannya dan mencatat beberapa kata yang penting.
Materi pada hari ini adalah sistem gerak manusia. Guru tadi telah menjelaskan sedikit tentang struktur dan sistem gerak seperti tulang dan otot. Setelahnya mereka diberi beberapa pertanyaan ringan untuk menguji penguasaan materi. Hana memang anak yang aktif dan dia biasanya akan membaca buku pelajarannya tiap malam. Jadi hari ini dia tidak mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan dari sang guru.
“Otot ada 3 macam yaitu otot lurik, otot polos, dan otot jantung. Sementara sebagai pendukungnya, otot memiliki 8 bagian. Siapa yang bisa menyebutkan kedelapan bagiannya?”
Hana mengangkat tangannya. “Saya, Pak.”
“Ya, Hana. Apa saja?”
“Tendon, ventrikel, origo, isersio, normotrofi, atrofi, hipertrofi, dan diskus interkalaris.”
“Bagus. Kalian bisa membaca penjelasannya di buku paket halaman 130.”
Anak-anak serempak membuka halaman yang dimaksud sang guru dan mulai membacanya. Kelas menjadi hening karena mereka semua fokus pada buku paket masing-masing.
“Minggu depan Bapak akan mengadakan ulangan, materinya tentang sistem gerak pada manusia. Silahkan kalian pelajari terlebih dulu.”
Kelas yang tadinya hening menjadi ramai, para anak laki-laki serempak mengeluh dan protes pada sang guru. Namun, protes mereka tidak ditanggapi dan ulangan akan tetap dilaksanakan.
Suara bel pergantian mata pelajaran membuat anak-anak bersorak riuh. Guru yang sedang duduk di depan hanya menggelengkan kepalanya melihat betapa semangat anak-anak yang diajarnya. Beliau mengakhiri pembelajaran pada hari ini.
__ADS_1
“Ah ya, Hana. Bisa bantu saya bawakan tugas dari kelas IPA 2? Bawa ke meja saya. Nanti saya bantu.”
“Baik, Pak,” ucap Hana dan segera berjalan mengekori guru tersebut.
Adrian yang tadi hendak mengajukan diri untuk membantu mengurungkan niatnya. Cowok itu sebenarnya juga sudah mendengar perihal gosip yang sedang hangat di seluruh sekolah. Dia ingin menanyakan kebenarannya langsung pada yang bersangkutan. Namun, sayang Adrian belum menemukan waktu untuk berbicara berdua dengan Hana.
Menunggu guru selanjutnya masuk, anak-anak kembali bergerombol meninggalkan tempat duduk mereka. Melanjutkan obrolan yang tadi tertunda. Sementara Adrian, dia masih bertahan di bangkunya. Hanya saja ada satu dua anak duduk di dekat bangkunya, meminta bantuan mengerjakan pekerjaan rumah yang belum selesai dikerjakan.
Sedangkan Hana sedang menuju ruang guru dengan tumpukan buku yang dibawanya. Suasana koridor sangat sepi. Namun, mata Hana awas memperhatikan sekitar kalau-kalau ada yang membolos di jam ini. Hana memperlambat langkahnya ketika melewati jalan setapak yang mengarah pada taman belakang sekolah.
Dia melihat beberapa anak sedang duduk di taman itu dan sedang tertawa, tawa itu tidak terlalu keras. Namun, telinga Hana dapat mendengar suara tawa itu. Dia sudah menargetkan anak-anak itu untuk nanti ditindak. Hana kembali fokus pada jalanan, ruang guru sudah terlihat di depan sana.
“Terima kasih, Hana,” ucap guru tersebut setelah mereka sampai di ruang guru.
Di ruang guru hanya ada beberapa orang saja. Kemungkinan mereka sedang ada kelas atau dinas keluar sekolah. Setelah meletakkan buku-buku itu di atas meja, Hana segera pamit untuk kembali ke kelasnya. Namun saat berbalik, hampir saja Hana bertabrakan dengan seorang siswa yang baru masuk ruang guru.
“Glen, sini! Tolong bawakan LKS ini ke kelas kamu, nanti saya susul. Kamu tau jalannya ‘kan?”
Glen menggaruk tengkuknya, dia belum hapal dengan area di sekolah barunya. Nasib sial menghampiri ketika tadi dia tidak sengaja bertemu dengan guru ini. Dia diminta untuk membantu beliau membawa LKS milik teman-teman sekelasnya.
“Oh? Ada Hana. Han, tolong antarkan Glen ke kelasnya, ya? Dia belum hapal sekolah kita.”
Mendengar hal itu, Hana terdiam. Gadis itu tidak bisa menolak. Malah Glen yang terlihat keberatan dengan ucapan gurunya itu. Dia hendak protes, tapi sang guru sudah lebih dulu memberikan LKS padanya.
“Terima kasih, Glen, Han. Saya harus menemui kepala sekolah dulu.”
Guru itu pergi dari hadapan mereka. Keadaan menjadi canggung. Glen berjalan lebih dulu keluar dari ruang guru, sementara Hana mengekor dari belakang.
__ADS_1
“Kak Glen kelas apa?” tanya Hana.
“IPA 5,” jawab Glen singkat.
Hana mengangguk. “Kelasnya di lantai tiga.”
Cowok itu tidak peduli dan terus berjalan. Setelah tahu jika kelasnya berada di lantai tiga, Glen langsung berjalan menuju tangga yang tidak jauh dari tempatnya sekarang.
“Bukan tangga yang itu, tapi yang di sana,” ucap Hana, spontan menghentikan langkah Glen.
“Ckck, kenapa nggak lo tunjukin jalannya? Jalan di depan!” ucap Glen sewot.
Hana mengangguk dan segera berjalan mendahului Glen. Gadis itu sudah berusaha menerima Glen sejak pertama kali tahu jika cowok itu akan menjadi kakaknya. Namun, sikap yang ditunjukkan cowok itu malah sebaliknya. Kesan yang diberikan, dia tidak menerima Hana sebagai adiknya. Namun, Glen menerima Samsul sebagai ayahnya.
Keduanya telah sampai di depan ruang kelas duabelas IPA 5, suara riuh terdengar dari luar kelas ini. Maklum, guru belum masuk kelas. Glen melenggang masuk tanpa mengucapkan kata ‘terima kasih’. Seorang anak yang melihat keberadaan Hana, langsung berteriak memanggil Hana.
“Ketua OSIS!” panggil anak itu.
Mendengar panggilan anak itu, mendadak kelas IPA 5 menjadi hening. Beberapa di antara mereka ada yang mengintip lewat jendela.
“Ketua OSIS nganter si anak baru. Mulia sekali,” ledek anak itu.
Hana segera pamit pada anak itu sebagai bentuk sopan santun terhadap seniornya. Gadis itu tidak sengaja melihat keberadaan Glen yang masih berdiri di depan meja guru. Hana segera meninggalkan area kelas duabelas dan menuju ke taman belakang sekolah, di mana anak-anak yang membolos tadi berada.
Sebenarnya ada rasa sdih dalam diri Hana mengingat sikap Glen pada dirinya. Entah di mana letak kesalahannya sehingga membuat cowok itu bersikap dingin padanya. Keduanya seperti tak saling kenal, padahal memiliki ikatan saudara sekarang. Walaupun hanya saudara tiri. Namun, setidaknya Hana berusaha untuk menerima kehadiran Glen dan Mira. Sedikit demi sedikit Hana telah menerima kehadiran Mira. Namun, untuk Glen entahlah.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...
__ADS_1