Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
H-1


__ADS_3

Hari yang telah ditunggu oleh seluruh warga sekolah telah datang. Hari ini adalah hari di mana menuju acara puncak. Anak-anak OSIS maupun MPK sedang disibukkan oleh paket sembako yang akan dibagikan pada warga sekitar yang bermukim di dekat sekolah.


Tidak hanya mereka, ada juga beberapa perwakilan dari tiap kelas untuk ikut membantu membagikan bantuan itu. Nantinya Hana juga akan ikut bersama mereka. Sebentar lagi mereka akan berangkat.


Semetara itu, sebuah panggung besar telah berdiri di tengah lapangan. Panggung tersebut yang nantinya akan digunakan untuk acara puncak. Akan ada banyak pentas seni dan juga tentunya Akan ada penampilan para bintang tamu spesial.


“Han, udah siap semua?” tanya Ara.


“Udah, berangkat sekarang yuk.”


Ada beberapa orang guru yang mendapmpingi mereka. Para anak dari ekskul mading juga turut serta. Mereka akan mengabadikan momen selama acara berlangsung. Semua orang berjalan dan mulai mendatangi satu persatu rumah yang telah di data sebelumnya. Warga yang di data ialah yang kurang mampu dan berhak mendapat bantuan ini.


“Kalian bisa membagi menjadi beberapa kelompok. Agar kegiatan juga cepat selesai,” ucap seorang guru.


“Baik, Pak.”


Hana segera membagi beberapa dari anggotanya menjadi lima kelompok. Lima kelompok itu berpencar untuk membagikan bantuan.


Tidak hanya kepada warga sekitar saja, bantuan juga diberikan kepada salah satu panti asuhan yang kebetulan letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah. Setelah selesai membagikan ke warga sekitar, Hana beserta rombongan langsung menuju panti asuhan. Kegiatan di panti asuhan tidak berlangsung lama. Setelah menyerahkan bantuan kepada pengurus panti, Hana dan rombongan segera pamit.


“Kegiatan hari ini berjalan lancar dan tidak ada hambatan sama sekali. Terima kasih untuk kalian semua yang telah bekerja keras,” ucap Hana tersenyum puas.


Riuh tepuk tangan terdengar di seluruh ruangan OSIS ini, mereka mengapresiasi kerja keras masing-masing. Acara tidak selesai begitu saja untuk hari ini. Di tiap depan kelas ada stand yang digelar. Berbagai macam stand berdiri. Ada stand makanan atau minuman, tidak sedikit juga yang menawarkan stand jasa atau barang yang mereka buat sendiri.


“Gue balik ke kelas dulu, ya? Gue mau bantuin anak kelas gue,” pamit Hana pada teman-temannya.


“Nanti gue mampir ke kelas lo, Han,” kata Vio.

__ADS_1


Hana hanya mengangguk dan dia berjalan menuju kelasnya. Sedari pagi tadi Hana belum melihat keberadaan Adrian. Memang tadi cowok itu tidak ikut acara ke rumah-rumah warga atau ke panti asuhan. Cowok itu bertugas mengawasi stand-stand di sekolah.


Gadis itu telah sampai di kelasnya. Kelas Hana menggelar stand yang menjual makanan dan minuman ala café. Ruang kelas di sulap bak café yang sedang hits di kalangan anak remaja. Hana memperhatikan sekitarnya, teman sekelasnya terlihat sangat sibuk. Kebetulan café ini sedang ramai pengunjung.


“Gue bantu apa?” tanya Hana pada salah satu temannya.


“Oh? Bagus lo udah datang, Han. Bantuin jadi pelayan, ya? Itu, meja yang itu belum pesen.”


Hana mengangguk paham dan segera memakai apron yang memang menjadi seragam saat ini. Gadis itu mendekati salah satu meja dan menanyakan pesanan mereka. Lalu Hana meneruskan catatannya ke anak yang bertugas menyiapkan makanan.


“Silakan pesanannya, selamat menikmati,” ucap Hana setelah meletakkan makanan dan minuman di atas meja.


Setelah ini Hana juga berencana untuk berkeliling melihat para stand dari kelas lain. Dia lihat tiap kelas sangat antusias dengan kegiatan semacam ini. Tujuan acara ini adalah untuk melatih berwirausaha dan harapannya di masa depan pengalaman seperti ini akan berguna.


Sementara di kelas Hana sedang sibuk dengan para pembeli, di lain tempat Kendrict dan teman-temannya sedang mempersiapkan sesuatu. Mereka sedang berkumpul di halaman belakang sekolah. Saat ini suasana sedang sangat sepi atau memang Kendrict meminta area ini disterilisasi.


“Bos, anak kelas tiga setuju gabung sama kita,” kata anak itu.


Mendengar hal itu membuat senyum di bibir Kendrict terbit. Sedangkan temang geng cowok itu tertawa puas.


“Ken, gue nggak yakin simpen barang-barang di sini,” ucap Putra memupuskan senyuman Kendrict.


Kendrict diam, membenarkan apa kata sahabatnya itu. Jika menyimpan barang-barang itu di sini pasti besok sudah ketahuan dan rencananya akan gagal total. Lalu di mana seharusnya dia menyimpan barang-barang ini? Sebuah ide tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya.


“Gue ada ide. Gue tau di mana bisa simpen barang-barang kita biar nggak ada yang temuin.”


Teman-teman Kendrict saling pandang, mereka bertanya-tanya di mana tempat yang di maksud sang bos?

__ADS_1


Kendrict berjalan santai sembari netranya memperhatikan keadaan sekitar, memastikan situasi aman. Setelah di rasa aman, cowok itu mengirim pesan pada teman-temannya yang lain. Kendrict berdiri di tempatnya untuk menunggu kedatangan teman-temannya.


“Lo yakin, Ken?” tanya Putra yang pertama sampai. Cowok itu sedikit sangsi dengan ide Kendrict.


“Yakin. Nggak bakal ketahuan kalo kalian nggak ngadu sama para guru atau anak-anak OSIS. Lagian mereka semua pasti sibuk sama acara nggak penting ini. Juga, tempat ini terlarang bagi semua anak di sini.”


Putra menghembuskan napasnya, membenarkan semua perkataan sahabatnya itu. Alhasil dia mengangguk dan menyuruh yang lain untuk segera datang dengan membawa barang-barang yang akan di simpan di tempat ini.


“Oh ya, keadaan Frans gimana?” tanya Putra.


“Udah sadar dia, tapi lukanya cukup serius. Itu yang gue tau dari bokap nyokap dia,” jawab Kendrict dengan tatapan lurus ke depan.


Tangannya mengepal menahan segala emosi jika mengingat kembali wajah babak belur temannya itu.


Dia tidak akan tinggal diam kali ini. Mereka yang telah menyerang teman-temannya akan mendapatkan pembalasan yang setimpal. Kendrict pastikan mereka akan mendapatkannya.


“Lo udah cari info buat besok?” tanya Kendrict pada Putra.


“Udah. Banyak yang bakal dateng besok. Ternyata sekolah kita luar biasa,” jawab Putra dengan gelengan kepala.


Perayaan ulang tahun sekolah tahun ini memang sangat meriah, banyak artis lokal maupun nasional yang akan memeriahkan. Juga akan banyak tamu undangan penting yang akan hadir. Tidak hanya itu, untuk acara besok juga pihak sekolah mejual tiket untuk masyarakat umum dan tiket-tiket itu telah habis terjual sejak seminggu yang lalu.


Namun, semua hal itu tidak menyurutkan rencana Kendrict untuk besok. Dia tidak peduli terhadap para tamu atau para penonton. Cowok itu sudah terlanjur diselimuti emosi yang siap meledak. Kendrict menoleh ketika ada sebuah tepukan dibahunya. Putra menunjuk sesuatu dengan dagunya.


Kendrict melihat arah yang ditunjuk oleh Putra. Tidak jauh dari tempatnya saat ini ada Hana yang sedang berbincang dengan seseorang. Kendrict terdiam memperhatikan gadis itu. Tiba-tiba dia kembali ingat ketika berkunjung ke rumah Hana beberapa waktu lalu.


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...

__ADS_1


__ADS_2