Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Mencari Ken


__ADS_3

Hana turun dari motor Adrian. Mereka sudah sampai di depan rumah Hana. Sebenarnya Adrian merasa heran karena tiba- tiba saja tadi gadis di sampingnya ini mencegat dan memintanya untuk mengantar pulang. Padahal biasanya Hana tidak akan mau dia antar pulang.


“Tumben lo minta antar pulang?” tanya Adrian.


“Sorry, lo kaget pasti. Gue terpaksa karena ada hal mendesak tadi,” jawab Hana disertai ringisan perasaan bersalah.


“Sebenarnya kemana sepeda lo?” tanya Adrian mengernyit.


“Oh, sepeda gue bannya bocor. Gue belum tambal,” jawab Hana berbohong.


Adrian menatap temannya itu penuh curiga. “Ya udah, selama sepeda lo belum bener ke sekolah bareng gue aja.”


“Nggak usah, gue bisa berangkat sendiri. Makasih udah antar gue pulang. Gue masuk dulu, ya?”


Adrian menghembuskan napasnya, lalu hanya mengangguk sebagai jawaban dari ucapan Hana tadi. Matanya masih mengawasi gerak- gerik gadis itu yang sudah masuk ke dalam.


“Gue udah tau jawaban lo bakal gitu,” gumam Adrian menghembuskan napasnya.


Adrian pun segera menggas motornya dan menjauh dari komplek perumahan Hana untuk pulang ke rumah.


Hana menatap kepergian Adrian dari balik kaca jendela di ruang tamu. Dia merasa bersalah pada Adrian yang sudah sangat baik padanya. Namun, tetap saja Hana tidak mau merepotkan siapa pun. Selagi masih bisa dia tangani sendiri, dia tidak akan melibatkan orang lain. Hana pun masuk ke dalam kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Hari sudah beranjak sore.


“Mbak Jum masak apa?” tanya Hana pada ART- nya yang sedang sibuk di dapur itu.


“Mbak Hana mau makan malam apa?” tanya Mbak Jum.


“Apa aja, Mbak. Mau Hana bantu?”


“Nggak perlu, Mbak. Mbak Hana pasti capek habis pulang sekolah. Oh iya, di kulkas ada puding dari Bu Deni.”

__ADS_1


Bu Deni merupakan salah satu tetangga Hana yang rumahnya berada persis di sebelah rumah Hana. Beliau memang sering berbagi makanan dengannya juga dengan tetangga yang lain. Hana pun segera berjalan menuju kulkas untuk mengecek keberadaan puding itu. Benar saja, ada satu box berisi puding mangga di dalam sana. Mata Hana berbinar, dia segera mengeluarkan box itu dan menaruhnya di meja. Lalu gadis itu mengambil piring kecil, mengiris puding itu dan memindahkannya ke atas piring.


“Mbak Jum kalau mau ambil aja.”


“Iya, Mbak. Nanti Mbak Jum ambil,” jawab Mbak Jum.


Hana membawa sepiring puding itu ke halaman belakang rumahnya, dia ingin menikmati puding kesukannya itu di tempat ini. Halaman belakang rumahnya tidak ada bunga apapun, hanya lahan kosong dengan rerumputan. Ingin menanam bunga, tapi tidak aka nada yang merawatnya. Hana sibuk dengan kegiatan sekolahnya begitu juga dengan Mbak Jum yang sibuk dengan urusan dapur. Mereka sama- sama sibuk dan tidak memiliki waktu untuk merawat tanaman.


“Hmm, enak,” gumam Hana saat merasakan puding itu masuk ke dalam mulutnya.


Dia menikmati pudingnya dengan sesekali menatap pada langit yang mulai gelap. Semburat warna jingga menghiasi langit sore ini. Matahari mulai kembali keperaduannya dan digantikan sang bulan. Hana membawa piring kosong itu ke dapur. Ternyata Mbak Jum sudah selesai memasak.


“Sepeda Mbak Hana kok nggak ada?” tanya Mbak Jum yang berjalan dari arah luar menghampiri Hana.


“Ada di bengkel, Mbak.”


“Bannya bocor lagi?”


Mbak Jum hanya mengangguk paham dan tidak lagi bertanya. Sementara Hana, lagi- lagi dia harus berbohong. Sepertinya memang Hana harus menemui Ken besok utnuk meminta sepedanya kembali.


“Ckck, padahal gue males mau ketemu dia,” gumam Hana naik ke kamarnya.


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...


Keesokan harinya, Hana benar- benar mencari keberadaan cowok itu. Kaki gadis itu mengitari gedung- gedung sekolah untuk mencari keberadaan Ken. Tempat- tempat di seluruh area sekolah sudah dia sambangi. Namun nihil, Hana tidak menemukan sosok itu. Alhasil Hana pun memberanikan dirinya untuk bertanya pada salah satu teman Ken di kelas cowok itu.


“Mau apa lo cari dia?” tanya Putra mengernyitkan dahi menatap Hana.


“Gue ada perlu sama dia.”

__ADS_1


Putra mengedikkan bahunya. “Ken nggak masuk hari ini.”


“Dia sakit?” tanya Hana ganti mengernyitkan dahi.


“Mana mungkin manusia macam Ken sakit. Nggak, dia bolos hari ini.”


“Bolos?” tanya Hana membulatkan matanya.


“Nggak usah kaget gitu, udah biasa Ken bolos,” jawab Putra santai.


Hana hanya geleng- geleng kepala mendengar fakta itu. Lalu dia pun pamit karena tidak bisa bertemu dengan cowok itu. Sementara itu, Putra masih memperhatikan punggung Hana yang berjalan makin menjauh dari penglihatannya. Tangan Putra merogoh saku celananya, mengambil ponselnya. Jarinya menari- nari di layar ponselnya. Hanya beberapa detik saja Putra memainkan ponselnya, lalu dia berbalik masuk ke dalam kelas karena bel tanda pelajaran dimulai sudah berbunyi.


Hana duduk di dalam kelas, hembusan napasnya terdengar hingga bangku yang diduduki Adrian. Cowok itu menatap pada wajah Hana yang terlihat kusut hari ini. Namun, rasa penasaran Adrian harus tertunda karena ada seorang guru yang masuk ke dalam kelas untuk memulai pembelajaran. Pembelajaran dimulai dan semua penghuni kelas ini mulai fokus pada materi yang dismapaikan oleh guru di depan kelas.


Hana juga melupakan sejenak tentang Ken, masih ada hari esok pikirnya. Lagipula dirinya juga tidak keberatan berjalan kaki ke sekolah. Hana malah senang karena bisa mengamati hal disekitarnya. Gadis itu memang senang mengamati hal- hal di sekitarnya. Hana memang pengamat yang baik, juga pendengar yang baik saat teman- temannya bercerita padanya. Teman- teman Hana merasa nyaman bercerita pada gadis itu. Dia memang sering menjadi tempat curhat bagi teman- temannya. Tentu Hana tidak merasa keberatan, dia malah senang dapat membantu teman- temannya.


“Baik, pelajaran hari ini Ibu cukupkan sampai di sini. Kita bertemu dua hari lagi, jangan lupa kerjakan tugasnya juga. Selamat siang,” ucap guru itu dan keluar dari kelas.


Pembelajaran tadi merupakan pembelajaran terakhir di hari ini. Tidak lama suara bel tanda pulang berbunyi. Hana segera merapikan pelengkapan sekolahnya, lalu bergegas untuk pulang.


Adrian yang melihat Hana sudah keluar dari kelas pun segera mnegejar gadis itu. Namun, ternyata langkah Hana cepat. Gadis itu bahkan sudah hampir sampai di depan gerbang. Adrian tidak menyerah, dia masih mengejar Hana. Langkah Hana terhenti, membuat Adrian yang berada di jarak beberapa meter juga ikut berhenti. Adrian mengernyit melihat Hana sedang bersama seseorang sekarang. Cowok itu pun berjalan mendekat pada Hana.


“Lo tadi cari gue?” tanya seseorang dari balik helmnya.


“Hah?” tanya Hana mengernyitkan dahinya.


Pengendara motor itu mendengus dan membuka kaca helmnya. Membuat Hana terkejut, sedangkan Adrian mengernyitkan dahinya.


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...

__ADS_1


Babang Ken 😳😳


__ADS_2