Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Usai Liburan


__ADS_3

Liburan Hana berakhir, keluarganya memutuskan untuk pulang karena melihat situasi yang kurang mendukung. Hana sama sekali tidak berminat dengan liburannya. Hanya Glen yang terlihat sangat antusias.


Padahal cowok itu telah berbaik hati mengajak Hana bermain bersama. Namun, Hana sama sekali tidak menikmatinya. Alhasil, Samsul dan Mira memutuskan untuk mengakhiri liburan mereka.


Kini mereka telah tiba di rumah dan sedang bergotong royong menurunkan koper. Kebetulan selama liburan ini Mbak Jum diperbolehkan untuk pulang ke rumah selama satu minggu. Hana sedang berusaha menurunkan kopernya dari bagasi mobil. Namun, sebuah tangan menahannya.


"Biar gue aja, lo masuk ke dalem istirahat," kata Glen.


Hana menggelengkan kepalanya, "Nggak, biar Hana aja yang bawa sendiri."


"Ckck, dibilangin ngeyel, ya? Udah sana masuk aja," ucap Glen mendorong-dorong Hana agar menjauh dari tempatnya berdiri.


Hana mengalah dan masuk ke dalam, tapi sebelumnya ia mengucapkan terima kasih kepada Glen. Hubungan Hana dan Glen sudah benar-benar membaik. Bahkan, Glen sudah menganggapnya sebagai adik kandung. Sebenarnya sudah tidak ada kecanggungan di antara mereka, hanya Hana yang belum terbiasa.


"Han, mau makan siang dulu?" tanya Mira.


"Nanti aja, Bun," jawab Hana.


Mira hanya mengangguk dan melanjutkan aktivitasnya, sedangkan Hana melanjutkan langkahnya menuju kamar. Sesampainya di kamar, Hana segera membersihkan diri.


Beberapa saat kemudian, gadis itu keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar. Matanya tidak sengaja melihat koper berwarna biru muda tergeletak di dekat tempat tidurnya. Hana menghampiri koper dan membukanya.


Tidak banyak pakaian yang dibawanya kemarin, tapi setelah pulang kopernya menjadi penuh. Sebelum pulang tadi, Samsul sempat berhenti di sebuah pusat oleh-oleh. Sebenarnya Glen yang meminta agar mereka mampir.


Tentu Hana juga tidak melewatkan kesempatan itu. Dia juga membeli beberapa barang sebagai oleh-oleh untuk teman-temannya nanti. Hana mengambil beberapa barang tersebut. Dia tadi membeli beberapa gantungan kunci, kaos, dan topi. Barang-barang tersebut yang tadi sempat menarik perhatiannya.


"Bunda! Celana Glen yang warna abu-abu kok nggak ada di koper?" teriak Glen.


Hana menghentikan kegiatannya ketika mendengar teriakan Glen itu. Sebenarnya sudah menjadi hal biasa cowok itu berteriak memanggil sang bunda atau sang ayah. Entah untuk menanyakan keberadaan barangnya yang hilang atau menanyakan sesuatu yang lain.


"Dek, tadi lo jadi beli topi warna item itu?" tanya Glen berdiri di ambang pintu kamar Hana.


"Jadi, Kak," jawab Hana menunjukkan sebuah topi hitam.

__ADS_1


"Lo beli buat siapa?" tanya Glen dengan pandangan menyelidik.


Bukan tanpa alasan cowok itu menanyakan perihal topi itu. Menurut pengamatan Glen, topi itu istimewa karena berbeda dengan topi lain yang Hana beli.


"Buat temen Hana," jawab Hana.


"Masa'? Bukan buat ...."


"Celana yang ini bukan, Kak?" tanya Mira yang memotong ucapan Glen.


Pertanyaan dari sang bunda membuat fokus Glen buyar. Cowok itu pergi begitu saja dari tempatnya tadi. Hana hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah cowok itu. Lalu, pandangan Hana kembali beralih pada topi ditangannya.


Dia menimang-nimang topi tersebut, masih memikirkan siapa yang hendaknya cocok untuk menerima topi ini. Jujur saja, Hana tadinya hanya tertarik dengan topi ini yang menurutnya lumayan bagus.


TING!


Suara notifikasi yang berasal dari ponsel Hana membuat gadis itu segera meraih benda pipih itu. Hana menggulir layar ponselnya dan membaca chat yang dikirim pada grup kelasnya. Ternyata kelasnya sedang merencanakan acara untuk tahun baru nanti.


Tanpa terasa sebentar lagi tahun akan berganti. Hana masih menyimak obrolan di grup tersebut. Namun, tiba-tiba ada seorang temannya yang menanyakan pendapatnya.


"Gue belum tau, nanti coba gue izin sama orang tua gue dulu," jawab Hana.


"Ayo dong, Han. Tahun kemarin lo udah nggak ikut lho. Masa' tahun ini nggak ikutan lagi?"


"Nanti gue kabarin lagi deh. Kalian tau sendiri ayah gue gimana, gue nggak boleh main sampe malem," jelas Hana.


"Nanti kita rame-rame ke rumah lo buat izin sama bokap lo," usul salah satu di antara mereka.


Grup kelas Hana kembali ramai tentang ide salah seorang temannya. Hana hanya tersenyum membaca tulisan-tulisan di layar ponselnya.


"Han, ayo makan siang dulu," panggil Mira.


"Iya, Bun," jawab Hana.

__ADS_1


Hana segera pamit kepada teman-temannya dan setelahnya turun ke bawah untuk makan siang bersama dengan keluarganya. Dia duduk di sebelah Glen.


Selama beberapa menit tidak ada percakapan di antara mereka. Mereka makan dengan tenang, hanya suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring sebagai pemecah keheningan.


Samsul menandaskan air putih di dalam gelasnya, tanda jika makannya telah selesai. Sementara Hana juga telah berhasil menandaskan makanan dipiringnya. Begitu juga dengan Mira dan Glen.


"Ayah lusa akan berangkat dinas lagi. Kalian baik-baik di rumah, kalau ada apa-apa langsung kabarin ayah," kata Samsul.


"Iya, Yah," jawab Hana dan Glen serempak.


Setelah mengatakan hal tersebut, Samsul undur diri dari meja makan. Glen masih bertahan di meja makan dengan buah di piringnya. Mira dan Hana membersihkan meja makan, membawa piring kotor ke dapur.


"Oh ya, Han. Kamu udah chat Ken? Rencananya Bunda mau undang dia ke rumah," kata Mira, tangannya sibuk membasuh piring dengan sabun cuci piring.


"Belum, Bun. Nanti Hana chat dia. Bunda kapan mau undang Ken?"


"Setelah ayah berangkat aja, ya? Bunda takut kalau Ken malah nggak nyaman nanti."


"Iya, Bun."


Hana membenarkan ucapan Mira. Memang jelas terlihat jika Kendrict sangat tidak nyaman ketika berhadapan dengan Samsul. Cowok nakal itu terlihat mengkeret jika dihadapkan dengan anggota TNI itu.


Selesai membantu mencuci piring, Hana kembali ke kamarnya untuk melaksanakan permintaan Mira tadi. Gadis itu mencari nomor Kendrict dan mengetikkan beberapa kata. Namun, ternyata Kendrict sedang tidak aktif. Terbukti dari chat yang baru saja Hana kirim hanya menunjukkan centang satu.


"Tumben dia nggak aktif," gumam Hana.


Hana hanya mengedikkan bahunya dan meletakkan ponselnya, lalu dia kembali membereskan barang-barang di dalam kopernya. Dia membuat list, siapa saja yang akan menerima oleh-oleh darinya. Cukup banyak teman-teman yang Hana belikan oleh-oleh tersebut. Termasuk Aldi.


Entah mengapa Hana teringat mantan pacarnya itu. Beberapa saat yang lalu, mereka sempat mengobrol tentang sepatu yang sudah sangat lama ingin Aldi beli. Hana mengetahui hal tersebut, karena cowok itu beberapa hari yang lalu membuat status tentang sepatu tersebut.


Beruntung Hana berhasil mendapatkan sepatu itu. Sebelumnya Hana telah mengkonfirmasi pada Aldi tentang ukuran dan warna yang diinginkan cowok itu.


"Besok aja gue ke rumah dia," gumam Hana memperhatikan sepatu milik Aldi.

__ADS_1


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...


__ADS_2