
Suasana kantin pada siang ini sangat ramai. Suara hiruk pikuk para siswa memenuhi kantin ini. Di salah satu meja kantin Hana duduk bersama dengan teman-temannya. Beberapa anak-anak OSIS berkumpul.
Hana sedang menikmati siomaynya sambil menyimak obrolan teman-temannya. Suasana kantin yang tadinya ramai mendadak sunyi selama beberapa detik. Dari arah pintu masuk kantin beberapa anak berjalan memasuki kantin.
Mereka adalah Kendrict dan teman-teman gengnya. Tentu ada Nita dan Devi yang selalu ikut. Beberapa anak berbisik-bisik setelah rombongan itu lewat. Beberapa anak perempuan menyadari perubahan Kendrict.
"Kayaknya Ken potong rambut," bisik salah satu di antara mereka.
"Iya, jadi makin cakep."
Hana yang mendengar percakapan dua anak itu hanya diam. Dia memang mengakui jika Kendrict makin keren dengan gaya rambut yang baru. Hana kembali menikmati makanannya dengan tenang.
"Han, malam Minggu kemarin lo ke mana?" tanya Anggun.
Hampir saja Hana tersedak bumbu kacang mendengar pertanyaan Anggun yang tiba-tiba itu. Namun, ia berusaha untuk tetap terlihat tenang.
"Di rumah. Kenapa, Nggun?" jawab dan tanya Hana.
"Gue kira lo jalan keluar. Soalnya kemarin gue lihat ada orang pake sepatu yang sama kayak punya lo."
"Sepatu mana?"
"Yang itu lho, warna biru muda. Lo beli bareng gue."
PLAK!
Vio menggeplak lengan Anggun, sementara Anggun melayangkan protes pada Vio.
"Ckck, yang punya sepatu kayak gitu nggak cuma Hana. Pabriknya juga nggak mungkin cuma produksi sepasang," kata Vio kesal.
"Ya iya sih. Tapi, memang bukan Hana kok," ucap Anggun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Nah 'kan. Gue bilang apa, nggak mungkin Hana keluar selarut itu. Dia punya jam malam dirumahnya kalo lo lupa," sambung Manda.
"Gue cuma mau pastiin aja. Lagian gara-gara kemarin lihat pasangan mesum gue jadi kena sial mulu," gerutu Anggun.
Adrian yang sejak tadi menyimak kini menjadi tertarik dengan cerita Anggun. Cowok itu mengernyitkan dahinya.
"Pasangan mesum apaan?" tanya Adrian.
__ADS_1
"Kemarin 'kan kita ke mall bareng-bareng. Nah waktu di basement ada orang mencurigakan. Ya, karena gue kepo jadi mau pastiin," kata Anggun mulai bercerita.
Sementara Hana mulai berkeringat dingin, matanya melirik ke arah Kendrict yang kebetulan sedang menatapnya. Cowok itu menaikkan alisnya, mencoba berkomunikasi dengan Hana. Namun, tetap tidak paham maksud dari tatapan Hana.
"Terus?" tanya Adrian.
"Di pojok belakang mobil, ada dua orang lagi kissing," kata Anggun.
"Beneran lo liat mereka? Gimana ciumannya?" tanya Vio semakin tertarik, matanya berbinar.
"Gue nggak terlalu lihat jelas sih, kayaknya lambe ketemu lambe," jawab Anggun menyedot minumannya.
Wajah Hana mendadak merah padam mendengar hal tersebut, karena yang sedang dibicarakan Anggun dan teman-temannya adalah dia. Hana berdehem dan meraih minuman di gelas. Tenggorokannya terasa kering.
"Terus lo gimana?"
"Gue minta maaf ke mereka. Gue nggak enak aja karena ganggu aktivitas mereka, terus gue pergi," ucap Anggun nyengir.
Sementara Kendrict yang terang-terangan menatap Hana sedikit mengernyitkan dahi melihat gelagat aneh gadis itu. Tiba-tiba wajah Hana memerah, bahkan hingga telinga.
"Kenapa tuh anak?" gumam Kendrict yang mulutnya tersumpal sedotan plastik.
Hana hanya mendengarkan cerita Anggun yang sebenarnya sedikit salah. Kejadian kemarin tidak seperti yang Anggun bayangkan. Kendrict hanya berdiri didepannya agar tubuhnya tidak terlihat oleh perempuan itu.
Kendrict terbawa suasana sehingga tidak bisa mengontrol sikapnya. Akibat dari perlakuan Kendrict itu, Hana dibuat merona, bahkan sampai melongo.
"Lo kenapa, Han?" tanya Manda. "Dari tadi diem aja."
"Nggak papa, gue dengerin aja."
"Oh ya, Han. Dulu lo pacaran sama Adam gimana?" tanya Anggun yang lagi-lagi mendapat geplakan dari Vio.
"Nggak usah ngomongin mantan," kata Vio.
"Sorry, nggak usah dijawab, Han."
Hana memaksakan senyumnya dan kembali meminum minumannya. Sementara Kendrict masih terus memperhatikan gadis itu dari tempatnya. Namun, tanpa cowok itu sadari sejak tadi Nita memperhatikan.
Wajah Nita sudah sangat masam. Beberapa hari ini dia sudah memperhatikan gelagat Kendrict yang sangat berbeda dengan biasanya. Cowok itu sering mencuri-curi pandang pada Hana, bahkan mesem-mesem seperti orang gila.
__ADS_1
"Gue duluan, guys," pamit Nita tiba-tiba, membuat yang ada di meja ini serempak menoleh.
Devi yang juga hendak berdiri ditahan oleh Nita. Dia memerintahkan Devi untuk tetap di sini. Nita pun segera pergi dari sana menuju belakang gedung yang sepi.
"Sorry, Dev. Gue nggak percaya sama lo," kata Nita yang tangannya menari-nari pada layar ponsel.
Nita sedang menelpon seseorang dan dia menunggu panggilan itu tersambung. Ekspresi kesal Nita tergantikan dengan senyum bahagia begitu panggilan itu terhubung.
"Lo jadi mau bantu gue?" tanya Nita pada seseorang di seberang sana.
Nita mengangguk dengan senyum mengerikan. "Gue udah punya rencana. Besok pulang sekolah gue jelasin detailnya."
"Oke, nanti gue kirim alamat tempatnya lewat chat. Kita ketemu di sana."
Nita mengangguk dan mengakhiri percakapannya. Dia tersenyum senang karena berpikir rencananya kali ini akan berhasil.
"Gue yakin pasti Ken sama anak itu ada hubungan. Gue nggak akan biarin lo pacaran sama Ken," kata Nita bermonolog.
"Ken harus sama gue. Cuma gue yang boleh jadi pacarnya," lanjutnya.
"Rencana gue harus berhasil. Jangan sampai gagal!" gumam Nita.
Kata-kata 'jangan sampai gagal' terus terngiang dalam benak Nita. Seakan menjadi sebuah mantra. Mulutnya terus menggumamkan kata-kata itu.
Nita pergi dari sana dan hendak kembali ke kelasnya sebelum bel berbunyi. Namun, mendadak langkahnya terhenti melihat dua orang yang sedang berduaan di tempat sepi.
Tangan Nita mengepal kuat hingga kukunya yang tajam menancap ke kulit telapak tangannya. Tatapannya menatap tajam pada Kendrict dan Hana yang sedang tertawa bersama di sana. Tangan cowok itu terulur untuk menata rambut Hana yang sedikit berantakan.
"Bener tebakan gue, mereka pasti punya hubungan sekarang. Mereka pacaran. Gue harus cepet-cepet jalanin rencana ini. Ken cuma boleh pacaran sama gue, cuma gue yang boleh jadi pacar Ken," kata Nita.
"Pokoknya jangan sampai gagal!"
Nita melangkah pergi dari sana meninggalkan dua sejoli yang sama sekali tidak mengetahui keberadaan Nita.
"Lo dari mana, Nit? Lama banget," tanya Devi yang sudah sampai di kelas terlebih dulu.
Namun, Nita tidak menjawab pertanyaan Devi. Gadis itu masih memikirkan hal lain. Devi pun menepuk bahu Nita pelan.
BRAKK!
__ADS_1
Serempak semua penghuni di kelas ini menoleh ke meja yang ditempati Nita dan Devi. Devi terkejut dengan respon yang diberikan Nita. Perempuan itu terlihat sangat emosi sekarang hingga menggebrak meja seperti tadi.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...