Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Selepas Ujian


__ADS_3

Hari ini, hari terakhir ujian akhir semester. Setelah bel berbunyi para siswa bersorak gembira. Mereka bersuka cita karena telah melewati hari-hari melelahkan.


Kini Hana sedang rapat OSIS untuk membahas acara yang akan diadakan setelah ujian ini, sembari menunggu penerimaan rapor. Pihak sekolah berencana mengadakan berbagai lomba antar kelas.


Dan OSIS dipercaya sebagai pelaksana. Sebenarnya rapat sudah diadakan beberapa hari yang lalu, bahkan dari sebelum dilaksanakannya ujian. Jadi, sekarang mereka tinggal membagi-bagi tugas dan mengumumkan pada seluruh penghuni sekolah.


Karena lomba akan dimulai pada esok hari. Maka dari itu, setelah rapat ini berlangsung para anggota OSIS segera menyiapkan keperluan yang dibutuhkan besok.


Mereka mulai menyiapkan lapangan yang akan dijadikan tempat lomba. Memasang berbagai atribut untuk melengkapi. Hana sedang menghitung jumlah kelereng dan juga tepung yang akan digunakan lomba estafet besok.


"Han, kalo udah selesai nanti ikut gue cek bola, ya?"


"Iya, Nggun. Sebentar lagi selesai kok."


Setelah menyelesaikan tugasnya, Hana dan Anggun pun menuju gudang peralatan olahraga. Mereka akan mengecek bola basket dan bola sepak.


"Udah bagus kayaknya," kata Anggun memperhatikan bola ditangannya.


"Iya, Nggun. Udah yuk, kita balik."


Anggun mengangguk dan mereka akhirnya keluar dari gudang tersebut. Tidak lupa Hana kembali mengunci gudang itu. Namun ketika Hana hendak melangkah, Anggun tiba-tiba menahannya.


"Kalung lo baru, Han?" tanya Anggun yang matanya meneliti kalung itu.


"Oh? Ini? Iya, Nggun," jawab Hana gugup.


"Bagus banget!" pekik Anggun dengan mata berbinar-binar. "Cocok sama lo."


Hana tertawa hambar mendengar pujian itu. Sebenarnya dia masih belum terbiasa memakai kalung ini. Tadinya Hana hanya ingin menyimpannya saja, tapi Kendrict memaksa agar ia memakainya setiap hari.


"Ckck, kalo cuma disimpen ngapain aku beli buat kamu? Pokoknya pake terus!" kata Kendrict kala itu ketika melihat Hana tidak memakai hadiah pemberiannya.


Hana bernapas lega karena Anggun tidak bertanya lebih lanjut lagi tentangnya. Dia tidak bisa membayangkan jika teman-temannya terutama Anggun tahu jika dirinya berpacaran dengan Kendrict. Secara teman-teman Hana adalah haters garis keras Kendrict.


"Masih belum selesai kalian?" tanya Anggun pada Vio.


"Belum, Nggun. Bantuin sini."


Vio sedang menyiapkan bambu yang nantinya juga akan digunakan untuk lomba estafet. Akhirnya Anggun dan Hana ikut membantu agar pekerjaan cepat selesai.


"Gue butuh bantuan nih, ikut gue sebentar beli tali rafia sama barang lain. Ternyata masih kurang," kata Adrian yang tiba-tiba datang.

__ADS_1


"Lo ikut sana, Nggun!" kata Manda mendorong-dorong Anggun.


"Iya, kerjaan lo udah selesai 'kan? Hana di sini udah cukup kok," tambah Ara.


"Ayo, Nggun. Gue tunggu di depan," ucap Adrian dan berjalan lebih dulu.


Anggun yang diperlakukan teman-temannya seperti itu hanya menghembuskan napas pasrah. Dia tahu apa maksud teman-temannya itu. Mereka kompak hendak mencomblangkan dirinya dengan Adrian.


Rupanya mereka sudah tahu jika Anggun menaruh rasa pada wakil ketua OSIS itu. Dan dengan berbaik hati mereka mendukungnya. Hanya saja mereka tidak tahu jika Adrian pernah menaruh hati pada Hana.


"Banyak yang mau dibeli?" tanya Anggun.


"Nggak juga, tapi kalo gue sendiri nggak bisa bawa."


Anggun hanya mengangguk dan segera naik ke motor Adrian. Cowok itu pun menggas motornya pelan keluar dari area sekolah. Tidak ada percakapan di antara keduanya.


Anggun memperhatikan langit yang berwarna oranye. Entah sampai pukul berapa nanti mereka semua menyelesaikan persiapan untuk acara besok.


Beberapa saat kemudian keduanya sampai di sebuah toko kelontong. Jaraknya cukup jauh dari sekolah. Entah mengapa Adrian memilih toko ini, padahal ada yang lebih dekat dengan sekolah.


"Gue langganan di sini, nggak cuma gue sih. Sekolah juga sering belanja di sini," jelas Adrian yang sudah menjawab pertanyaan di benak Anggun.


Perempuan itu hanya mengangguk saja dan dia mengekor Adrian dari belakang. Anggun memperhatikan sekitarnya. Barang-barang yang dijual cukup lengkap.


"Oke," jawab Anggun menurut.


Mereka pun berpencar dan sibuk dengan aktivitas masing-masing. Anggun fokus pada barang yang dibutuhkan. Karena tidak terbiasa dengan toko ini, Anggun sedikit kewalahan dengan letak barang-barang yang dijual.


Jadi, dia harus teliti memperhatikan di tiap raknya. Namun, ada salah satu barang yang letaknya di rak paling tinggi dan Anggun tidak bisa menggapainya.


Dia menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaan Adrian. Hendak meminta tolong cowok itu mengambilkannya.


DEG!


Sebuah tangan menjulur, membuat Anggun terkejut dan spontan mematung di tempatnya. Di depannya terpampang dada seseorang yang tidak dikenalnya.


"Maka ...."


"Apa?" tanya sosok itu mengernyitkan dahinya.


Anggun membulatkan matanya ketika tahu siapa orang yang berdiri didepannya dengan jarak yang begitu dekat ini. Dia adalah Putra yang entah bagaimana bisa juga ada di sini.

__ADS_1


"Itu, lo mau bantu ...."


"Oh? Ini? Gue mau beli ini," kata Putra meninggalkan Anggun begitu saja.


"Hah?" tanya Anggun bengong.


Wajah perempuan itu mendadak menjadi merah padam karena malu. Anggun ternyata salah paham, mengira jika Putra hendak membantunya mengambil barang yang tidak bisa dijangkaunya.


"Nggun? Udah semua?" tanya Adrian yang tiba-tiba muncul.


"Oh? Belum, kurang itu. Gue nggak sampai," jawab Anggun cepat dan menunjuk barang tersebut.


Adrian pun mengangguk dan membantu Anggun mengambil barang tersebut. Cowok itu menepuk kepala Anggun.


"Tumbuh tuh ke atas," kata Adrian mengejek menepuk-nepuk puncak kepala Anggun.


Mendengar ejekan Adrian membuat rona merah di wajah Anggun hilang seketika. Digantikan rasa kesal. Sementara Adrian hanya tertawa melihat reaksi Anggun itu.


"Udah ayo, kita ditunggu anak-anak."


Anggun menghembuskan napasnya dan berjalan mengikuti Adrian. Anggun melongokkan kepalanya untuk melihat meja kasir. Dia juga hendak menaruh barang-barang yang diambilnya untuk dihitung.


"Loh?" kaget Anggun tanpa sadar mengacungkan telunjuknya.


"Apa? Kagetan lo, ya?" tanya Putra malas.


"Lo belum tau, ya? Ini toko punya orang tua dia," jelas Adrian menunjuk Putra yang sedang menghitung belanjaan.


Anggun membulatkan mulut tanpa suara dan mengangguk paham. Disela-sela Putra yang sedang sibuk menghitung belanjaan Adrian dan Anggun dengan wajah dongkol, datang seorang pria paruh baya.


"Nah, gitu. Kalo nggak punya duit ya ikut bantuin. Jangan main ambil barang di toko! Emang nih toko punya bapakmu?"


"Lah emang punya bapak! Gitu, ya? Nggak diakuin sekarang!" kata Putra ngegas, wajahnya yang tadi masam sekarang tambah masam.


"Oh ya, lupa. Eh? Ada Adrian, beli apa?"


"Ini belanja buat acara sekolah, Koh," jawab Adrian.


Pria itu mengangguk dan kemudian mengalihkan perhatian pada Anggun yang sejak tadi hanya diam menyimak.


"Tumben, biasanya sendiri belanjanya. Tapi, kayaknya pernah lihat deh. Di mana, ya?" tanya pria itu memperhatikan instens Anggun dan membuat perempuan itu menjadi kurang nyaman.

__ADS_1


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...


Hari ini partnya Anggun dulu, ya 😗


__ADS_2