
Ada yang berubah dalam diri seorang Hana. Perubahan yang sangat kentara dan terjadi secara tiba-tiba. Gadis yang biasanya terlihat ceria dan ramah, sejak kemarin raut mukanya terlihat suram. Hana sudah mulai bersekolah kembali, hari ini dia akan menjalani ujian susulan.
Tidak hanya Hana, tapi juga Kendrict yang beberapa waktu yang lalu mendapat skorsing. Keduanya mengerjakan soal-soal ujian di ruang guru. Kendrict sama sekali tidak bisa fokus pada kertas ujiannya, cowok itu duduk tidak terlalu jauh dari tempat gadis itu. Sesekali netranya melirik tempat Hana berada.
TUKK!
Sebuah tepukan di atas kepala Kendrict menyadarkannya dari lamunan. Cowok itu mendongak dan mendapati ekspresi tidak mengenakkan dari guru yang sejak tadi mengawasinya.
“Kerjakan! Jangan lirik-lirik yang lain,” ucap beliau.
Kendrict hanya bisa menurut dan kembali berusaha fokus pada pekerjaannya. Namun, hanya beberapa menit saja cowok itu bisa benar-benar fokus. Lagi-lagi dia teralihkan ketika Hana telah menyelesaikan ujiannya. Gadis itu pemit pada guru dan berjalan keluar dari ruang guru.
“Pak! Saya sudah selesai!” kata Kendrict berdiri dari duduknya dan menyerahkan lembar soal beserta lembar jawabnya.
Kepala Kendrict kembali menjadi korban oleh guru tersebut. Guru itu memerintahkan Kendrict untuk kembali duduk dan benar-benar mengerjakan ujiannya. Beliau mengembalikan lembar jawab Kendrict yang masih bersih tanpa noda tinta.
“Kerjakan yang serius!”
Meninggalkan Kendrict yang masih harus tertahan di ruang guru, Hana kini berjalan seorang diri menuju kelasnya. Setelah ujian tidak ada kegiatan belajar mengajar. Mereka dibebaskan sampai nanti penerimaan rapor. Gadis itu berjalan dengan pikiran melayang entah ke mana. Sejak kemarin pikirannya tidak bisa tenang.
Hana sudah mulai ingat beberapa hal tentang masa lalunya. Sebenarnya ada rasa ragu ketika dia hendak terus berusaha mengembalikan ingatannya. Hana takut jika apa yang dikatakan Glen ternyata benar. Dirinya yang telah membunuh bundanya. Hana terlalu takut untuk mengetahui kebenaran itu.
GREP!
Langkah Hana spontan terhenti. Gadis itu terkejut saat tiba-tiba seseorang menahan lengannya. Dia segera menoleh dan mendapati Adrian yang berdiri di belakangnya.
“Hampir aja nabrak,” ucap Adrian, “Lo lagi ngelamunin apa sih? Sampai tembok mau lo tabrak?” tanya cowok itu.
“Makasih, Dri,” jawab Hana tidak menghiraukan pertanyaan Adrian.
“Mau ke kelas bareng?”
“Lo duluan aja.”
__ADS_1
“Lo mau ke mana? Gue temenin.”
Hana menggelengkan kepalanya. “Nggak perlu, lo ke kelas duluan aja.”
“Gue takut nanti lo nabrak lagi.”
Hana menyerah, dia membiarkan Adrian mengikuti langkahnya. Niat awal hendak langsung ke kelas, Hana urungkan. Langkah kakinya membawa gadis itu di taman sekolah. Adrian juga masih mengikuti gadis itu bahkan tanpa permisi juga duduk di sebelah Hana.
“Tangan lo masih sakit?” tanya Adrian basa-basi.
“Lumayan,” jawab Hana pendek.
“Lo lagi ada masalah, ya?” tanya Adrian lagi.
Namun, kali ini tidak ada jawaban dari Hana.
Hal itu membuat Adrian menoleh pada gadis di sebelahnya. Lagi-lagi Hana melamun. Adrian merasa aneh dengan sikap temannya ini. Cowok itu sadar perubahan Hana terjadi sejak dia menjenguknya di rumah sakit bersama dengan teman-teman OSISnya.
“Mau cerita sama gue? Siapa tau gue bisa bantu.” Adrian berusaha membujuk.
“Lo tau ‘kan kalo gue suka sama lo sejak lama?” tanya Adrian tiba-tiba.
“Kenapa tiba-tiba?” tanya Hana mengernyitkan dahinya.
Adrian mengedikkan bahunya. “Gue cuma mau ungkapin perasaan gue dan gue pengen tau lo anggep gue apa.”
“Maaf, tapi gue lagi nggak ada waktu buat pikirin perasaan lo atau perasaan gue sama lo.”
Setelah mengucapkan hal itu, Hana pergi begitu saja. Tentu hal itu membuat Adrian sedikit terkejut. Namun, beberapa saat dia tersadar jika dirinya telah membuat kesalahan. Cowok itu mengacak rambutnya. Rasa sesal menghinggapinya, seharusnya dia bisa menahan diri sedikit lagi.
“Mulut sialan!” umpat Adrian.
Sementara itu Hana kembali ke kelasnya. Suasana kelas sangat ramai karena anak-anak di kelas itu sedang memainkan sebuah permainan. Entah mengapa hari ini Hana merasa tidak nyaman berada di sekolah. Hal yang baru kali ini dia rasakan. Saat ini suasana sekolah terasa asing baginya.
__ADS_1
Hana menidurkan kepalanya di meja dan memejamkan mata. Dia tidak tidur, hanya matanya saja yang tertutup. Telinganya masih sangat jelas mendengar gelak tawa anak-anak di kelas ini.
“Dri, ayo ikut main,” kata seorang anak mengajak Adrian yang baru masuk ke kelas.
“Nggak, gue males,” jawab Adrian dan berjalan menuju bangkunya.
“Kenapa tiba-tiba lo lemes gini?”
“Nggak. Udah sana lo lanjut main.”
Anak itu mengedikkan bahunya dan kembali bergabung dengan teman-teman yang lain. sementara Adrian diam-diam menengok ke belakang. Melihat Hana yang sedang tertidur di bangkunya.
Hana membuka matanya ketika seseorang menggoyangkan tubuhnya pelan. Ternyata dia benar-benar ketiduran, padahal awalnya dia hanya hendak memejamkan matanya saja. Hana melihat salah seorang temannya berdiri di sebelah mengatakan jika sekarang sudah boleh pulang.
Hanya anggukan yang Hana berikan dan dia segera membereskan semua alat tulisnya. Setelahnya Hana segera keluar dari kelas tanpa sepatah kata pun. Langkah Hana terhenti ketika tepat di depan pintu gerbang ada sebuah mobil yang sangat familiar baginya. Di samping mobil itu ada Glen yang sedang melambaikan tangannya ketika melihat sosok Hana.
Tidak hanya Hana yang berubah, Samsul dan Glen juga berubah. Setelah Hana mengaku jika telah mengingat semuanya, Samsul meminta maaf padanya. Bahkan ayahnya itu untuk pertama kalinya menangis dihadapannya. Beliau berkata jika menyesali perbuatannya selama ini. Bahkan beliau mengambil cuti sedikit lebih lama untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya.
Tidak berbeda juga dengan Glen yang kini menjadi sangat baik pada Hana. Cowok itu telah meminta maaf pada Hana karena menuduh tanpa tahu kebenarannya. Keluarganya telah berubah. Namun, hal itu malah membuat Hana merasa asing dengan sang ayah juga sekitarnya.
Entah memang Hana yang belum terbiasa dengan perubahan ini atau memang dia tidak bisa menerima perubahan yang terjadi saat ini. Hana masih harus mencari tahu kebenaran yang terlihat samar-samar ini. Dia akan memberanikan diri untuk menerima kenyataan dan takdir yang telah digariskan untuknya.
‘Gue harus berusaha ingat semuanya,’ batin Hana menatap pada Glen yang tersenyum lebar dan melambaikan tangan padanya, menyuruhnya untuk bergegas.
Sementara itu, jauh di belakang Hana ada Kendrict yang mendengus sebal. Tadi dia sudah berencana hendak mengajak Hana untuk pulang bersama. Namun, ternyata gadis itu telah dijemput oleh Samsul.
“Gue nggak akan menang lawan bapaknya,” gumam Kendrict.
“Katanya mau ngajak ketua OSIS pulang bareng?” tanya Putra merangkul bahu Kendrict.
“Gue takut sama bapaknya,” jawab Kendrict.
Putra hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari sahabatnya ini. “Ya udah nongkrong aja di tempat biasa.”
__ADS_1
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...