
Suasana rumah ini sangat ramai, suara riuh tawa menggema, dan asap dari panggangan menambah suasana membahagiakan pada malam ini. Hana menjadi salah satu dari anak-anak di sana. Ya, gadis itu mendapat izin dari Mira untuk datang ke rumah salah satu teman sekelasnya.
Menyambut malam tahun baru, anak-anak di kelas Hana mengadakan acara pesta kecil-kecilan di rumah salah satu anak. Kini, Hana sedang membantu menusuk daging ke tusukan sate. Baru pertama kali ini dia mengikuti kegiatan seperti ini. Biasanya malam tahun baru seperti ini, Hana hanya berada di rumah saja.
"Han, lo lagi ada masalah sama Adrian, ya?" tanya seorang teman Hana.
Kegiatan menusuk daging ke tusukan sate seketika terhenti. Hana terdiam mendengar pertanyaan tersebut. Ia langsung melihat ke arah Adrian yang sedang membuat api.
"Nggak kok. Kita baik-baik aja," jawab Hana.
Memang semenjak Adrian menyatakan perasaan pada Hana hubungan mereka menjadi canggung. Keduanya mengobrol hanya seputar tugas-tugas sekolah atau OSIS saja. Jika tidak ada hal penting keduanya tidak akan berkomunikasi.
Sebenarnya ada perasaan bersalah pada cowok itu yang dirasakan Hana. Dia sempat bersikap dingin pada Adrian yang kala itu sudah berbaik hati hendak membantunya. Namun, malah sikap dingin yang Adrian dapatkan.
Adrian berjalan mendekat pada gerombolan Hana. Gadis itu langsung mengalihkan pandangannya dari cowok itu, kembali melakukan aktivitasnya tadi.
"Mana daging yang udah ditusuk? Apinya udah jadi," tanya Adrian.
"Ini," jawab salah satu di antara mereka.
"Cuma segini?"
"Ckck, ini juga lagi dikerjain lagi."
Adrian hanya mengangguk dan segera membawa piring berisi daging yang telah ditusuk itu ke pembakaran. Cowok itu sempat melirik ke arah Hana yang masih fokus menusuk daging. Hanya sebentar, lalu cowok itu kembali melanjutkan langkahnya.
Adrian merasa jika hubungannya dengan Hana menjadi renggang. Dia memang merutuki kebodohannya itu. Bisa-bisanya mulutnya tidak bisa direm saat itu, apalagi keadaan Hana sepertinya sedang tidak baik-baik saja.
Mereka berkomunikasi hanya jika ada hal penting saja. Adrian sangat ingin hubungannya dengan Hana bisa seperti dulu lagi. Berbincang tanpa ada rasa canggung dan rasa bersalah. Namun, Adrian tidak tahu bagaimana cara untuk memperbaikinya.
"Dri!" panggil salah seorang teman sekelas Adrian.
Mendengar panggilan itu membuat Adrian terperanjat kaget. Dia menoleh dan memandang anak yang memanggilnya tadi dengan kernyitan di dahi.
__ADS_1
"Dagingnya hangus b*go!" bentak anak itu menunjuk sate di atas pembakaran.
Adrian melotot melihat sate itu sudah hangus terbakar. Namun, dengan bodohnya cowok itu langsung mengambil daging yang masih panas itu.
"Akh!" pekik Adrian spontan melempar daging yang telah membakar tangannya itu.
"Lo kenapa sih, Dri? Aneh banget hari ini," omel anak itu. "Lo obatin dulu luka lo, biar gue yang ambil alih."
Kegaduhan itu terdengar hingga tempat Hana berada. Gadis itu menoleh dan mendengarkan percakapan dua orang itu agar mendapat informasi sebenarnya ada apa di sana.
"Han, bisa minta tolong obatin luka Adrian? Tuh anak t*lol ngebakar tangannya sendiri," kata anak yang tadi bersama dengan Adrian. Sementara Adrian berdiri di belakang anak itu.
"Gue bisa obatin sendiri, nanti gue bisa minta obat merah ke Torik," ucap Adrian menyela.
"Ckck, nggak yakin gue lo bisa sendiri. Tolong ya, Han?"
"O... Oke," jawab Hana.
"Lo tunggu aja di sana, gue mau minta P3K ke Torik dulu," kata Hana dan segera pergi dari sana.
Gadis itu menghampiri si pemilik rumah untuk meminta obat merah dan juga perban guna mengobati luka Adrian. Setelah mendapatkan barang-barang tersebut, Hana kembali ke tempat Adrian menunggunya.
"Udah lo bersihin lukanya?" tanya Hana.
"Udah," jawab Adrian disertai anggukan kepala.
Hana pun meraih tangan kanan Adrian yang telapaknya sedikit melepuh itu. Dia mulai meneteskan obat merah di luka tersebut. Aktivitas Hana tidak luput dari penglihatan Adrian. Apalagi jarak mereka cukup dekat saat ini.
'Wajar kalo kemarin gue keceplosan, gue deket sama lo aja dada gue selalu deg-degan,' batin Adrian.
Tidak membutuhkan waktu lama, Hana selesai membalut luka Adrian dengan perban. Cowok itu memperhatikan tangannya yang terbalut perban. Sementara Hana sedang membereskan perban dan obat merah yang sudah tidak digunakan lagi.
"Maaf, Dri," ucap Hana.
__ADS_1
"Ya?" tanya Adrian terkejut mendengar permintaan maaf tiba-tiba yang terlontar dari mulut Hana.
"Gue minta maaf soal kata-kata gue waktu itu. Gue udah kelewatan sama lo. Gue minta maaf, gara-gara gue hubungan kita jadi nggak enak," jelas Hana menundukkan kepalanya. Tangannya menggenggam erat sisa perban.
"Gue juga salah waktu itu. Gue nggak bisa baca situasi, di sini gue juga salah. Maafin gue, Han. Dan lo nggak usah pikirin kata-kata gue waktu itu, lo bisa lupain aja," ucap Adrian walau nyatanya terasa sangat berat untuk diucapkan.
"Makasih, Dri. Gue cuma nggak mau hubungan kita jadi canggung dan itu buat gue selalu kepikiran."
"Tenang aja, Han. Anggap gue nggak pernah ngomong hal seperti itu," ucap Adrian disertai senyuman tipis yang sedikit dipaksakan.
"Iya. Oh ya, lo istirahat aja di sini. Gue lanjut bantu anak-anak dulu," kata Hana pamit dan segera pergi dari sana.
Adrian hanya mengangguk walau masih ada rasa kecewa. Dia sangat sadar, memang tidak mengatakannya secara langsung. Hana sudah menolaknya. Dari kata-kata Hana tadi Adrian sudah sangat paham apa maksudnya.
Adrian menghembuskan napasnya, ternyata seperti ini rasanya patah hati. Perasaan yang baru pertama kali dia rasakan. Lagi, Adrian menatap tangannya yang diperban.
"Nggak apa-apa, seenggaknya hubungan kita jadi kayak dulu lagi," gumam Adrian.
Ya, dirinya harus bersyukur. Adrian masih tetap bisa dekat dengan Hana. Mengetahui fakta itu sudah membuat cowok itu merasa puas. Tidak harus memiliki, tapi dia bisa menjaganya.
"Woah! Kita belum telat 'kan?" pekikan sebuah suara membuat anak-anak yang sedang sibuk dengan aktivitasnya serempak menoleh.
Melihat siapa yang datang membuat anak-anak itu berbisik-bisik. Namun, ada seorang anak yang keceplosan berbicara lantang membuat yang lain melotot.
"Ngapain lo ke sini?" tanya anak itu yang belum menyadari marabahaya yang sebentar lagi menghampirinya.
"Lah? Emang nggak boleh akrab sama anak kelas lain? Lagian gue diundang sama Torik. Ya, nggak?"
Torik yang dirangkul erat dan hampir saja pingsan saking eratnya hanya bisa mengangguk pasrah. Membuat anak yang sedang merangkulnya ini tertawa puas.
"Oh ya, ketua OSIS mana?" tanyanya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...
__ADS_1