
Dia adalah Glen yang memang sejak tadi berada di tempat ini tanpa sepengetahuan Hana maupun Kendrict. Cowok itu tiduran di sebuah bangku yang ada di sana. Dia merasa terganggu oleh suara ribut yang ditimbulkan oleh kedua orang itu. Namun, saat tahu jika ternyata yag sedang ribut adalah Hana. Cowok itu memutuskan untuk pergi dari sana, dia sama sekali tidak tertarik dengan urusan adik tirinya itu. Glen melirik Hana sekilas yang sedang menatapnya. Gadis itu terdiam mematung dengan ekspresi yang sangat kentara jika dia terkejut.
“Sorry, ganggu,” ucap Glen pada mereka.
“Nggak, Kak. Kak Glen salah paham,” ucap Hana yang seketika panik. Dia takut jika nanti Glen menceritakan yang tidak-tidak pada sang ayah.
Memang seharusnya Hana tidak boleh berpikiran seperti ini pada sang kakak. Namun, gadis itu takut jika Glen akan melakukan hal itu. Dia tahu cowok itu masih terlihat membencinya. Hana hendak mengejar langkah Glen, tapi Kendrict menahannya.
BRUKK!
Hana meringis ketika punggungnya membentur dinding cukup keras. Sementara Kendrict melotot, cowok itu terkejut dengan ulahnya sendiri. Tadi niatnya hanya ingin menahan Hana agar tidak pergi dari sana. Namun, ternyata dorongannya terlalu kuat hingga menyebabkan gadis itu membentur dinding.
“Gue nggak sengaja! Sumpah!” ucap Kendrict,
“Obrolan kita belum selesai, jadi …."
“Iya, gue tau. Tapi, maaf. Gue nggak bisa turutin permintaan lo. Kalo temen-temen lo termasuk lo langgar peraturan sekolah, gue sama anak-anak OSIS yang lain wajib laporin kalian. Gue pergi dulu,” jawab Hana dan segera pergi dari sana meninggalkan Kendrict.
Hana mengejar Glen yang punggungnya masih terlihat oleh matanya. Memang Samsul sudah kembali bertugas, tapi Glen sering berhubungan dengan beliau. Hampir tiap hari mereka saling menelpon. Hana juga sering mendengar obrolan keduanya. Biasanya Glen akan menceritakan semua kegiatannya selama satu hari. Terkadang Samsul juga menanyakan perihal Hana pada Glen dan tak jarang cowok itu menceritakan sikap Hana di sekolah. Berkat cerita dari Glen, membuat Hana ditegur oleh Samsul.
“Kak Glen!” panggil Hana.
Glen menghentikan langkahnya dan menoleh pada Hana. Cowok itu diam, dia menunggu apa yang akan gadis di depannya ini bicarakan.
“Kak, jangan salah paham. Tadi ….”
“Gue nggak tertarik sama kisah hidup lo,” potong Glen dan pergi dari sana.
__ADS_1
Hana terdiam di tempatnya melihat punggung Glen yang makin menjauh dari pandangannya. Hana mengehmbuskan napasnya ada rasa perih setelah mendengar ucapan menusuk Glen tadi. Sebenarnya dia sudah terbiasa dengan kata-kata tajam yang dilontarkan oleh cowok itu, tapi tetap saja saat mendengar lagi membuat hatinya terluka.
Sementara tak jauh dari keberadaan Hana, Kendrict diam-diam memperhatikan. Cowok itu mengernyitkan dahinya. Anak yang mengobrol dengan Hana terlihat asing dan belum pernah dilihatnya. Namun, Kendrict mengedikkan bahunya tanda jika dia tidak peduli. Dia segera pergi dari sana, sedangkan Hana kembali dengan aktivitasnya.
Tadi gadis itu hendak makan di kantin bersama dengan teman-temannya. Ponsel Hana bergetar, ada notifikasi chat masuk. Hana segera membaca chat itu. Chat dari Vio yang menanyakan keberadaannya. Mereka mengkhawatirkan Hana yang tadi tiba-tiba dibawa oleh Kendrict. Hana pun segera menuju ruang OSIS, di mana mereka semua berkumpul.
“Han, lo nggak apa-apa?” tanya Anggun begitu melihat Hana memasuki ruang OSIS.
“Lo nggak diapa-apain sama Ken ‘kan?” lanjut Ara.
“Nggak kok, kita cuma ngobrol tadi,” jawab Hana.
“Nih, Han. Punya lo. Kita makan di sini aja,” kata Adrian memberikan sebuah kotak kardus berisi nasi beserta lauk, tak lupa cowok itu juga memberikan minuan.
Akhirnya Hana dan yang lain menikmati makanan mereka di sini dengan sesekali membicarakan persiapan untuk acara ulang tahun sekolah nanti.
Hana dan anak-anak OSIS yang lain masih berada di sekolah hingga matahari terbenam. Gadis itu memutuskan untuk mengakhiri pekerjaannya sekarang, dia juga merasa kasihan pada teman-temannya.
Satu persatu dari mereka pamit untuk pulang. Kini yang tersisa hanya Hana yang sedang mengunci pintu ruan OSIS, lalu menyerahkan kunci itu kepada guru bagian kesiswaan. Selanjutnya, Hana berjalan menuju pintu gerbang. Sekolah benar-benar telah sepi. Gadis itu menyapa beberapa pekerja di sekolah dan juga satpam yang sedang bertugas.
Hari ini Hana tidak membawa sepedanya. Pagi tadi ban sepedanya bocor dan dia meminta tolong pada Mbak Jum untuk menambalkannya. Dia terpaksa meminta tolong pada ARTnya karena pagi tadi Hana sudah sangat terlambat. Hana berjaan menyusuri jalanan yang ramai oleh lalu-lalang para pengguna jalan.
Langit sudah benar-benar gelap, tidak ada bintang yang nampak pada malam hari ini. Lagkah Hana diperlambat ketika melihat ada dua anak yang sedang duduk di dekat lampu merah. Salah satu di antara mereka terdengar sedang merengek karena lapar. Hana yang melihat hal itu berniat ingin membantu, dia menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari sebuah warung.
Beruntung, tidak jauh dari tempatnya sekarang ada sebuah angkringan. Hana segera menuju angkringan itu dan membeli nasi untuk dua anak itu. Lalu, dia kembali lagi dan menghampiri dua anak itu.
“Dek, ini buat kalian,” ucap Hana memberikan kantong plastik berisi bungkusan nasi beserta minuman.
__ADS_1
“Terima kasih, Kak,” ucap keduanya dengan raut wajah bahagia.
“Rumah kalian di mana?”
Salah satu dari mereka menunjuk sebuah tempat di bawah jembatan. Hana mengangguk, dia pun mengajak mereka untuk duduk di taman. Hana menemani mereka makan. Ada senyum terbit kala melihat anak itu makan dengan lahap.
“Kakak nggak perlu temani kita,” ucap anak itu menatap Hana.
“Nggak apa-apa, kakak temani sampai kalian selesai makan.”
“Jangan, Kak! Nanti kakak dalam bahaya.”
Hana mengernyit mendengar ucapan anak itu. Tidak paham dengan yang diucapkan anak itu, hendak bertanya. Namun, anak itu mendorong-dorong Hana agar segera pergi dari sana. Akhirnya Hana mengalah dan pamit pada dua anak itu.
Gadis itu melanjutkan langkahnya menuju rumah. Hana pulang sangat terlambat, tapi tadi dia sudah mengirim pesan pada Mira. Langkah Hana terhenti ketika ada beberapa anak laki-laki mencegatnya. Hana mengernyit melihat anak-anak itu.
“Dia orangnya?” tanya salah satu di antara mereka dan diagguki oleh yang lain.
“Anak orang kaya kayaknya.”
“Serahin semua uang yang lo bawa!” pinta salah satu dari mereka.
Alarm bahaya berbunyi bagi Hana. Gadis itu berjalan mundur dengan perlahan, kepalanya sedang merencanakan untuk kabur dari mereka. Merasa ada kesempatan, Hana segera berlari menghindar. Melihat hal itu, anak-anak itu mengejar Hana.
BRRMMM! CKITT!
“Cepet naik!”
__ADS_1
Hampir saja jantung Hana copot dibuatnya. Kendrict mengulurkan tangannya untuk membantu Hana naik ke atas motornya. Mau tidak mau karena tidak memiliki pilihan lain, Hana pun segera naik ke motor Kendrict. Cowok itu segera menggas motornya dan berjalan melewati para anak yang tadi mengejar Hana. Hana terdorong ke depan dan berakhir tanpa sengaja memeluk Kendrict. Ada degub jantung yang tak beraturan dari keduanya.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...