Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Bimbingan Konseling


__ADS_3

Hana merasakan dagunya terasa perih. Sementara Adrian mencoba membantu gadis itu untuk bangkit. Kendrict yang melihat kejadian itu merasa bersalah.


"Gue minta maaf, gue nggak sengaja tendang dagu lo tadi," kata Kendrict.


"Kalo lo ngerasa bersalah, ke ruang BK sekarang," ucap Hana.


"Iya, tapi gue mau ambil tas gue dulu," kata Kendrict beralasan.


"Dri, bawa Ken ke ruang BK. Gue bisa ke UKS sendiri."


"Gue aja yang anter. Sebagai permintaan maaf, ya?"


"Nggak perlu. Lo pergi sama Adrian aja."


Hana menyerahkan Kendrict pada Adrian. Gadis itu segera pergi dari sana menuju ruang UKS. Kendrict yang melihat celah, berusaha kabur dari sana.


"Mau ke mana lo?" tanya Adrian menarik kerah kemeja Kendrict hingga cowok itu berhasil mundur beberapa langkah.


"Bukan urusan lo. Mending sana lo temenin Hana ke UKS."


"Serius lo nyuruh gue nyamperin Hana? Nggak nyesel lo?" tanya Adrian menantang.


"Nyesel kenapa?" tanya balik Kendrict mencoba mengalihkan pandangannya.


Adrian mengangguk paham dan dia melepaskan cekalannya. "Oke, gue ke Hana dulu. Terserah lo mau lanjut cabut atau ke mana. Gue udah nggak ada urusan sama lo."


Adrian berbalik badan dan melangkah meninggalkan Kendrict yang masih terdiam ditempatnya.


"Sst, Ken. Jadi cabut nggak?" tanya Putra yang berada dibalik dinding.


"Gue nitip tas, Put! Woy, waketos! Tunggu gue!" Kendrict berlari menghampiri Adrian yang sudah berjarak cukup jauh.


Akhirnya Kendrict masuk ke ruang BK bersama dengan Adrian. Cowok itu diberi wejangan oleh guru BK, sementara Adrian diperbolehkan untuk kembali ke kelas.


"Ken, kamu itu sudah berapa kali keluar masuk ruang BK?" tanya guru tersebut.


"Lumayan sering, Bu," jawab Kendrict santai.


Guru tersebut menggelengkan kepalanya, lalu beliau memberikan sebuah kartu nama pada Kendrict.


"Itu nomor teman Ibu. Siapa tau kamu perlu bantuan beliau, kamu bisa hubungi kapan-kapan."


Kendrict hanya mengangguk seadanya dan matanya membaca tulisan di kertas itu. Ternyata kartu nama itu berisi informasi data diri seorang psikolog. Cowok itu terkekeh pelan, membuat Lastri nama guru BK tersebut mengernyitkan dahinya.


"Kayaknya saya nggak perlu ini, Bu," kata Kendrict.

__ADS_1


Lastri mengedikkan bahunya. "Mungkin memang sekarang kamu belum perlu. Tapi, siapa yang tau nanti kamu membutuhkannya. Simpan dulu aja kartu namanya."


"Oke," jawab Kendrict lirih.


"Kamu boleh kembali ke kelas. Ingat kembali ke kelas, bukan bolos lagi."


Kendrict mengangguk dan segera pamit dari sana. Lastri hanya menperhatikan punggung Kendrict yang menjauh dari ruang ini. Seorang guru menghampiri Lastri.


"Bu, memangnya si Kendrict kenapa?"


"Nggak apa-apa, Pak. Hanya sepertinya saya punya firasat."


"Firasat apa?"


"Kita tidak bisa membaca hati manusia dan melihat keadaan didalamnya. Tidak semua yang terlihat kuat di luar dalamnya juga sama," jawab Lastri tersenyum.


"Maksud Ibu si Kendrict?"


"Bisa jadi atau mungkin perkiraan saya salah. Sekali lagi kita tidak tahu isi hati manusia."


Setelah mengucapkan hal tersebut, Lastri pamit untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. Beliau memang baru beberapa kali menangani Kendrict di ruang BK ini. Namun, anak itu cukup sering berkunjung kemari dan Lastri sering memperhatikannya.


Sementara itu, Kendrict masih menggenggam kartu nama yang tadi Lastri berikan. Cowok itu meremas kertas itu dan hendak membuangnya. Kendrict merasa tidak perlu datang ke psikolog. Dia merasa baik-baik saja saat ini, dia tidak memiliki gangguan jiwa.


"Han? Lo masih di sini?" tanya Kendrict menjeblak pintu UKS.


Akibat tingkah Kendrict itu, membuat penghuni UKS serentak terkejut. Senyum Kendrict mengembang melihat Hana masih berada di sini. Cowok itu segera menghampiri Hana yang melengos melihat kedatangannya.


"Belom selesai?" tanya Kendrict.


"Udah," jawab Hana pendek. "Lo udah ke ruang BK?"


"Udah dong," jawab Kendrict senang.


"Ya udah balik ke kelas, kenapa malah ke sini?"


"Gue mau lihat lo dulu. Terus kita bisa bareng ke kelas."


"Kelas kita beda lantai kalo lo lupa."


"Gue bisa anter lo dulu."


Hana memijit pelipisnya mendengar penuturan Kendrict. Gadis itu pun pamit pada penjaga UKS dan mengucapkan terima kasih karena telah mengobatinya. Sedangkan, Kendrict membuntuti Hana.


"Nanti lo pulang sama siapa, Han?" tanya Kendrict.

__ADS_1


"Kak Glen," jawab Hana pendek.


"Bareng gue aja."


"Kenapa bareng lo?" tanya Hana mengernyit.


"Gue mau main ke rumah lo, pengen ketemu bunda," jawab Kendrict.


"Main tinggal main, nanti gue ada rapat OSIS."


"Kalo gitu gue tunggu sampai lo selesai rapat."


"Nggak usah. Udah sana lo masuk kelas. Awas kalo lo bolos lagi!"


Hana segera meninggalkan Kendrict. Cowok itu masih berdiri ditempatnya memandang tubuh mungil Hana yang hilang dibalik tangga. Kemudian, Kendrict berbalik. Dia membawa langkahnya menuju atap gedung.


Kendrict tidak mengindahkan peringatan dari Hana tadi. Cowok itu menidurkan tubuhnya di pinggir gedung, bahkan kaki kanannya sengaja dia juntai ke bawah.


"Hah, gue capek," gumam Kendrict memejamkan matanya menikmati hembusan angin.


Kendrict menikmati kesendiriannya di tempat ini. Terkadang dia sangat menyukai momen seperti ini. Menghilang sejenak dari hiruk pikuk yang ditimbulkan olehnya atau teman-temannya.


Cowok itu tertidur dalam keheningan. Cukup lama dia tidur di atap ini, tanpa seorang pun tahu keberadaannya. Kendrict tadi sengaja mematikan ponselnya.


Suara bel tanda pembelajaran berakhir berbunyi. Kendrict membuka matanya, tapi seketika kembali terpejam karena merasakan terik sinar matahari menyerang matanya.


Setelah terbiasa dengan bias sinar matahari. Kendrict mulai membuka matanya. Tubuh dan jiwanya masih terasa lelah walaupun tadi Kendrict sudah tidur. Dahi cowok itu mengernyit melihat seseorang berdiri didepannya dengan berkacak pinggang.


Mata Kendrict terbuka sempurna melihat sosok itu. Namun, tanpa ia sadari matanya sudah berair. Kendrict menyentuh pipinya yang sudah basah. Dia juga merasa bingung karena tiba-tiba menangis seperti ini.


"Lo kenapa, Ken?" tanya sosok itu mengernyitkan dahinya.


Kendrict kembali mendongak, menatap wajah sosok tersebut. Kilasan masa lalu tiba-tiba kembali hadir. Kendrict tertegun ditempatnya, sementara sosok itu berjalan mendekat. Dia berniat memeriksa apalah Kendrict baik-baik saja.


"Kenapa? Ada yang sakit? Udah gue bilang lo jangan bolos. Ngeyel banget sih? Baru juga tadi masuk BK," cerocosnya di depan Kendrict yang masih terdiam.


"Eh?" kagetnya karena tiba-tiba Kendrict memeluknya.


"Ken? Lo sebenernya kenapa?"


Kendrict memejamkan matanya merasakan pelukan hangat ini. "Gue bingung harus istirahat dimana. Gue capek, Han."


Hana terdiam, dia tidak memberikan pertanyaan lagi. Dia membiarkan Kendrict berada diposisinya seperti ini.


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...

__ADS_1


__ADS_2