
Ucapan teman-teman Hana tidak main-main. Mereka bekerja sama berusaha untuk menjauhkan Hana dari jangkauan Kendrict. Entah bagaimana bisa sekarang mereka semua berani terhadap Kendrict.
"Kalo kita kerjasama pasti bisa lawan si Ken," ucap salah seorang teman sekelas Hana.
"Kalian nggak perlu sampe kayak gini. Gue nggak papa kok," kata Hana.
"Nggak, pokoknya kita harus jauhin lo dari Ken. Kita nggak tau kapan dia bakal celakain lo."
Hana hanya menepuk dahinya. Dan akhirnya Hana hanya pasrah saja. Ia tidak menyangka jika teman-temannya ini serius. Hal tersebut dibuktikan ketika Hana ke kantin.
Ketika Kendrict hendak menghampirinya, teman-teman sekelas Hana maju pasang badan. Bahkan, teman-teman Hana di OSIS pun ikut membantu.
"Berasa tuan putri, ya?" ledek Nita menopang dagunya melihat rombongan Hana.
"Minggir! Gue mau ngobrol sama Hana," ucap Kendrict.
"Nggak boleh! Mulai sekarang lo jangan deket-deket Hana!" kata Anggun.
"Apa hak lo larang-larang gue, hah?" bentak Kendrict yang mulai terpancing emosinya.
"Kita ada hak, kita temen Hana dan bakal lindungi dia dari pengganggu macam lo!" tunjuk Anggun menantang.
Kendrict mengepalkan kedua tangannya, rahangnya pun mulai mengetat. Kepalan tangan itu mulai terangkat dan hendak diarahkan pada Anggun yang masih tak gentar menghadapi cowok itu.
Anggun yang sudah siap menerima tonjokan itu tetap bersikap berani. Namun, begitu mendekat spontan Anggun menutup matanya.
"Eh? Kok gue nggak jadi dipukul?" gumam Anggun mulai membuka matanya sedikit untuk mengintip.
Didepannya ada punggung seseorang menghalangi pandangan Anggun. Dia bertanya-tanya siapa sebenarnya anak didepannya ini.
"Kalo lo cuma mau cari ribut mending pergi dari sini. Lo ganggu anak-anak lain di sini," kata Adrian menatap tajam pada Kendrict.
"Ckck, mau jadi pahlawan kesiangan lo?" cibir Kendrict.
"Seenggaknya gue pahlawan di sini, daripada lo cuma pengganggu dan ngerugiin orang lain."
Hana memberi kode pada Kendrict untuk segera pergi dan jangan lagi meladeni Adrian. Gadis itu tidak mau terjadi keributan lagi dan akan merugikan Kendrict. Cowok itu membaca kode yang diberikan Hana dan mengangguk samar.
Tanpa sepatah kata pun Kendrict pergi dari sana bersama dengan teman-temannya yang lain. Bahu cowok itu terlihat merosot. Belum memberitahu semua orang tentang hubungan mereka saja, Hana dan Kendrict sudah ditentang seperti ini. Lalu, bagaimana jika mereka mempublikasikan hubungannya?
Adrian berbalik dan menatap Anggun yang mendadak gugup. Perempuan itu segera mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Lo nggak papa, Nggun?" tanya Adrian.
__ADS_1
"Nggak papa," jawab Anggun mengusap lengannya.
Anggun segera duduk di salah satu kursi, perasaannya menjadi campur aduk setelah kejadian barusan. Diam-diam memperhatikan Adrian yang sedang mengobrol dengan Hana. Dia menggigit bibirnya.
"Gue mau ke kamar mandi dulu," pamit Hana.
"Ayo gue anter," ucap Vio berdiri dari duduknya.
"Nggak usah, lagian deket kok."
"Nanti kalo lo dicegat Ken gimana? Gue yakin dia masih ngincer lo."
"Kalian nggak perlu berlebihan, gue bener-bener nggak papa. Tenang aja."
Hana segera pergi dari sana sebelum teman-temannya itu kembali menahan. Dia segera masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangan. Hana memang benar-benar hendak ke kamar mandi.
Namun, begitu keluar Hana disambut oleh Kendrict yang melipat tangan di depan dada. Hana menghembuskan napasnya, sebenarnya merasa kasihan juga pada cowok itu.
"Temen-temen kamu lebay amat sih," kata Kendrict berdecih tidak suka.
"Nah 'kan! Apa gue bilang? Ken pasti nyegat Hana," kata seseorang mengagetkan Hana dan juga Kendrict.
"Ayo ke kelas, Han!"
Akibat ulah teman-teman Hana itu membuat Kendrict jadi uring-uringan. Putra yang melihat hal itu hanya geleng-geleng kepala.
"Kenapa lo jadi gila gini? Lo masih bisa nyamperin dia ke rumahnya," kata Putra yang matanya masih fokus pada layar ponsel.
Kendrict yang tadi masih galau dan mengacak-acak rambut, tiba-tiba berhenti. Ia menoleh pada Putra dan tersenyun senang. Hal tersebut membuat Putra bergidik ngeri.
"Tumben lo pinter, Put," puji Kendrict tersenyum ceria.
"Gue emang pinter. Nggak kayak lo gobl*k," sewot Putra.
Mendengar hinaan Putra tidak membuat Kendrict emosi. Cowok itu kini terlihat berbunga-bunga. Dia jadi tidak sabar menunggu hingga bel pulang berbunyi. Kendrict yakin jika teman-teman Hana tidak akan melepaskan gadis itu hingga pulang ke rumah.
"Lagian salah gue apa sih? Gue belain pacar gue, emang salah?" tanya Kendrict terlihat sedang berpikir.
"Cara lo yang salah beg*," jawab Putra tanpa menoleh.
"Lo dari tadi isinya ngatain gue mulu, ya?"
"Gue cuma bicara fakta, Ken. Jangan terlalu dimasukin ati gitu."
__ADS_1
Kendrict mendengus. Mengaku kalah dari Putra. Cowok itu pun merebahkan diri di dekat Putra yang masih bermain game di ponsel. Dia berguling-guling di atas alas kardus.
"Berisik lo, Ken! Bisa diem nggak?" tanya Putra yang merasa terganggu.
"Kenapa bel pulang lama banget sih?" gerutu Kendrict.
"Ahelah, kurang lima menit doang. Nggak usah lebay lo!"
Benar saja, tidak lama kemudian suara bel terdengar di seluruh penjuru sekolah. Tanpa babibu, Kendrict segera pergi sana meninggalkan Putra. Ingin rasanya Putra mengumpat pada sahabatnya itu.
"Dasar nggak tau terima kasih," kata Putra dan memutuskan untuk pergi dari sana.
Putra melihat kepergian Kendrict dengan mengendarai sepeda motor. Akibat sibuk memperhatikan Kendrict, Putra tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
"Maaf, maaf, gue nggak sengaja," kata anak itu panik. Barang yang sedang dibawanya jatuh berceceran di lantai.
Putra menatap anak itu yang sedang berusaha mengumpulkan barang-barangnya. Lalu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia pergi dari sana.
"Ckck, main pergi aja. Bantuin sebentar kek," gumam anak itu, tapi masih terdengar dengan jelas di telinga Putra.
"Sini gue bantu, Nggun," ucap Adrian yang tiba-tiba datang.
Kembali lagi ke Kendrict yang kini sudah sampai di rumah Hana. Tidak lama kemudian Hana juga pulang bersama dengan Glen. Melihat Kendrict berdiri di depan rumahnya, Hana segera menghampiri cowok itu.
"Kenapa, Ken?" tanya Hana.
"Mau ketemu kamu lah," jawab Kendrict.
Glen mendengus melihat drama picisan itu, dia pun segera masuk ke dalam rumah. Mira menyambut kedatangan mereka.
"Eh? Ada Ken rupanya, nanti makan malam di sini, ya?" kata Mira antusias.
"Iya, Bun," jawab Kendrict semangat.
Sementara Hana hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka. Kendrict terlihat sangat akrab dengan Mira, bahkan cowok itu seperti menganggap Mira sebagai bundanya sendiri.
"Bun, masa' Ken nggak boleh deket-deket Hana," adu Kendrict dengan ekspresi memelas.
"Astaga, bisa-bisanya dia ngadu ke bunda," gumam Hana dan segera masuk ke kamarnya.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...
Hai, hai, Otor yang baik nan kyut ini bagi visual Anggun. Seperti biasa, jika dirasa kurang cocok kalian bisa membayangkan visual lain ☺
__ADS_1