Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Deep Talk


__ADS_3

Hana terbangun dari tidurnya, pandangannya meneliti seluruh ruangan gelap ini. Ada kernyitan di dahinya. Dia berusaha mengingat apa yang baru saja menimpanya. Semua yang terjadi padanya seakan mimpi.


Terakhir yang diingatnya jika dia sedang tertidur di mobil tadi, selebihnya Hana sudah tidak ingat lagi. Namun, Hana juga masih ingat bagaimana dia kabur dari rumah dan menceburkan diri ke danau demi mengembalikan memorinya yang hilang.


Hana merasakan tenggorokannya kering dan dia memutuskan untuk keluar dari kamar. Bersamaan dengan Hana keluar, dari kamar depan juga ada seseorang yang keluar. Hana sempat memasang ekspresi waspada jika ternyata Glen yang keluar dari kamar tersebut.


Namun, ternyata sosok cowok yang entah bagaimana ceritanya bisa menyelamatkannya tadi. Melihat Kendrict yang sepertinya juga terkejut serta hendak berteriak, Hana cepat-cepat mengkode cowok itu agar tetap tenang.


"Ssstt," kata Hana menaruh telunjuk dimulutnya.


"Ngagetin aja lo," ucap Kendrict mendengus, "Lo mau kemana?"


"Mau ambil minum."


Hana turun terlebih dulu dan Kendrict mengekorinya dari belakang. Hana berhenti di depan kulkas dan mengambil sebotol air mineral.


"Gue mau juga," kata Kendrict menunjuk botol yang dibawa Hana.


Hana tidak menjawab, tapi dirinya kembali mengambil sebotol lagi untuk cowok yang maaih setia berdiri dibelakangnya. Gadis itu mengangsurkan botol itu pada Kendrict, lalu berjalan menuju halaman belakang.


Hana dan Kendrict duduk bersebelahan di kursi panjang yang ada di halaman belakang. Keduanya masih sama-sama terdiam. Kendrict telah meneguk minumannya dengan rakus hingga menyisakan setengah air di dalam botol.


"Lo nggak dingin? Kalo dingin lo bisa peluk gue," ucap Kendrict berusaha mencairkan suasana dan juga memecah keheningan.


"Kenapa lo ikut campur tadi?" tanya Hana tidak mempedulikan lelucon cowok disebelahnya.


"Nggak ada alasan apa-apa, gue juga nggak tau kalo itu lo. Tapi, kenapa lo berusaha bundir?"


"Gue nggak berusaha bunuh diri. Gue cuma mau kembaliin ingatan gue. Mungkin lo nggak percaya, tapi gue pernah hilang ingatan," jawab Hana, tangannya memainkan botol digenggamannya.


"Gue percaya kok. Tapi, lo kok bisa hilang ingatan?"


"Gue pernah jatuh ke danau dulu dan bunda gue yang selamatin. Cuma itu yang udah bisa gue inget saat ini," jelas Hana, "Lucu, ya? Gue baru tau kalo ternyata bunda meninggal bukan karena sakit," lanjutnya dengan kekehan kecil.

__ADS_1


"Lo udah bisa ingat penyebab bunda lo meninggal, tapi kenapa lo masih usaha buat ingat lagi? Masih belum cukup ingatan yang udah balik sekarang?"


"Gue nggak tau, gue cuma ngerasa ada ingatan yang harus gue inget lagi. Tapi gue masih belum tau ingatan apa yang mati-matian gue kembalikan."


Kendrict terdiam mendengar penuturan Hana. Ternyata memang benar jika gadis disebelahnya ini pernah mengalami hilang ingatan. Kini dia mengerti mengapa Hana tidak mengenalinya.


Awalnya memang Kendrict juga tidak mengenal Hana ketika pertama kali bertemu, dia beranggapan jika wajar saja mereka tidak saling kenal karena mungkin mereka sudah lama tidak bertemu. Namun, ternyata ada alasan lain Hana tidak mengenalinya.


"Berarti lo nggak inget gue ya?" tanya Kendrict.


Pertanyaan Kendrict membuat Hana menoleh dan menatap cowok itu heran. Kendrict yang ditatap intens oleh Hana terlihat santai, dia kembali meneguk minumannya.


"Lupain aja, nggak usah lo pikirin. Oh ya, lo punya charger type-c?" tanya Kendrict mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Punya," jawab Hana, "Lo bisa pake powerbank gue dulu."


Hana memperlihatkan powerbank yang dibawanya dan dia melepas kabel yang tersambung pada ponselnya. Lalu, Hana memberikannya pada Kendrict.


Hana menatap langit yang gelap tanpa bintang yang menghiasi. Sementara Kendrict masih sibuk dengan ponselnya. Entah mengapa Hana merasakan ketenangan melihat langit gelap itu. Gadis itu hanyut dalam lamunannya, entah apa yang sedang ia pikirkan.


Setelah selesai dengan ponselnya dan mengirimkan chat pada Putra, Kendrict kembali beralih pada gadis disebelahnya. Mendadak suasana menjadi hening, tidak ada lagi perbincangan di antara keduanya.


Ingin rasanya Kendrict memberitahukan Hana sebuah rahasia yang selama ini disimpan seorang diri. Namun, cowok itu urung memberitahukannya pada Hana. Kendrict merasa jika waktunya sedang tidak tepat. Mungkin untuk saat ini Kendrict harus kembali bersabar lagi.


Dada Kendrict terasa bergemuruh ketika melihat sosok gadis didepannya ini sedang menikmati semilir angin dengan mata terpejam. Kendrict menyentuh dadanya, jantungnya berdetak lebih kencang daripada biasanya.


Selanjutnya, sebuah suara aneh terdengar oleh indera pendengaran Hana maupun Kendrict. Hana spontan membuka matanya, sementara Kendrict terdiam mematung. Tangan yang tadi bertengger di dada, kini berpindah di perut.


"Lo laper?" tanya Hana.


"Lo punya makanan?"


"Gue nggak tau," jawab Hana mengedikkan bahunya.

__ADS_1


Namun, gadis itu meminta Kendrict untuk menunggu sebentar. Hana bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam. Sepeninggal gadis itu, Kendrict meninju kursi yang didudukinya. Hancur sudah harga diri yang selama ini dia jaga sebaik mungkin. Mulutnya juga tidak henti mengumpat.


Umpatan tersebut spontan berhenti saat Hana kembali dengan beberapa bungkus makanan ringan di tangan. Gadis itu kembali duduk di samping Kendrict dan memberikan bungkusan itu padanya.


"Buat ganjel lapar, gue cuma nemu itu di dapur," kata Hana.


Kendrict hanya mengangguk dan segera memakan makanan itu. Jujur, dia memang sangat kelaparan. Tadinya Kendrict sudah membayangkan betapa enaknya daging panggang dan segelas soda dingin masuk ke dalam perutnya. Namun, ternyata Tuhan sedang berkehendak lain padanya.


'Udah syukur perut gue keisi makanan,' batin Kendrict yang masih menikmati jajanannya.


Cowok itu telah menghabiskan sebungkus makanan ringan dengan ditutup meminum habis air mineralnya. Tangannya menepuk-nepuk perutnya yang tadi sempat berteriak minta diisi.


"Lo nggak makan?" tanya Kendrict pada Hana.


Hana menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Melihat gadis itu menggelengkan kepalanya membuat Kendrict terdiam.


"Mau gue suapin? Bilang aja kalo minta disuapin, mumpung gue lagi baik nih," kata Kendrict menaik-turunkan alisnya.


"Nggak perlu," balas Hana dengan ekspresi datarnya. Saat ini Hana benar-benar tidak memiliki tenaga untuk meladeni Kendrict.


Sebuah notifikasi chat dari ponsel Hana membuat gadis itu segera meraih benda persegi itu. Mata gadis itu fokus pada layar ponselnya, melihat siapa yang mengirim pesan di pagi buta seperti ini. Tidak hanya Hana yang penasaran, Kendrict juga kepo. Cowok itu mendekatkan diri dan kepalanya melongok dengan mata fokus pada layar ponsel Hana.


"Ngapain waketos chat jam segini?" tanya Kendrict ngegas.


"Kok lo ngintip!" kata Hana melotot.


"Apa katanya?" tanya Kendrict tidak menggubris perkataan Hana. Cowok itu masih berusaha melihat isi percakapan Adrian.


"Kenapa lo kepo?" tanya Hana mengernyit dan menjauhkan ponselnya dari jangkauan Kendrict.


Cowok itu mendengus kesal mendengar pertanyaan Hana. "Gue cuma pengen tau. Pelit amat."


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...

__ADS_1


__ADS_2