
Tadi Hana tidak menjawab pertanyaan Kendrict tentang rambutnya yang basah kuyup. Bel terlanjur berbunyi dan mereka spontan membubarkan diri ketika melihat seorang guru piket sedang berkeliling. Tentu hal itu juga dapat menyelamatkan Hana dari tatapan penasaran Kendrict. Sebenarnya Hana tidak mempunyai kewajiban untuk menjawab, karena itu juga bukan urusan Kendrict.
Namun, ketika bel berbunyi tanda pelajaran telah usai seketika menyadarkan Hana. Sepulang sekolah ini dia harus mengawasi Kendrict untuk melaksanakan hukumannya. Satu per satu teman-teman sekelas Hana telah keluar, menyisakan anak-anak piket.
“Mau gue gantiin, Han?” tawar Adrian pada Hana yang saat ini terlihat gusar.
Mendengar hal itu membuat Hana menoleh pada Adrian. “Nggak perlu, Dri.”
“Yakin?”
Hana memaksakan seulas senyum dan megangguk. Dia bergegas memasukkan semua bukunya ke dalam tas. Hana tidak mau jika Kendrict akan kabur dari hukumannya.
“Ketua OSIS! Gue jadi dihukum nggak? Lama banget lo!” teriak sebuah suara dari ambang pintu kelas.
“Tumben tuh anak nggak kabur?” tanya Adrian melihat keberadaan Kendrict yang sedang tebar pesona diambang pintu kelas.
“Gue duluan, Dri,” pamit Hana dan bergegas menghampiri Kendrict.
Hana dan Kendrict berjalan bersama menuju halaman belakang untuk menemui Udin salah satu penjaga sekolah. Tidak ada obrolan selama perjalanan mereka, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Suasana koridor masih ramai oleh anak-anak yang bersiap untuk pulang. Mereka telah sampai di halaman belakang. Hana mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Udin.
“Lo tunggu di sini, gue mau cari Pak Udin dulu,” ucap Hana.
“Orangnya yang itu bukan?” tanya Kendirct menunjuk seseorang dengan dagunya.
Hana menoleh ke belakang, ternyata benar tidak jauh dari tempat mereka sekarang ada Udin yang sedang bersiap hendak membersihkan area sekolah. Gadis itu segera menghampiri beliau untuk meminta peralatan kebersihan.
“Pak, anak yang di sana mau bantuin Pak Udin bersihin halaman belakang. Dia lagi dapat hukuman,” jelas Hana.
“Oh, iya. Tadi bapak guru BK sudah bilang pada saya. Sapunya ada di dalam gudang, Mbak. Mau saya ambilkan?”
“Biar saya ambil sendiri, Pak. Pintunya nggak dikunci ‘kan?”
“Nggak, Mbak. Gudang buat simpan peralatan kebersihan nggak pernah dikunci.”
Hana kembali pada Kendrict yang sedang memainkan ponselnya. Dia pun meminta cowok itu untuk mengikutinya mengambil sapu di gudang. Kendrict hanya menurut tanpa banyak bicara. Cowok itu hanya berharap jika hukumannya akan segera berakhir dan dia bisa cepat pulang.
__ADS_1
“Di sini?” tanya Kendrict menoleh pada Hana. Sementara Hana hanya mengangguk sebagai jawaban.
Kendrict pun melongokkan kepalanya untuk melihat keadaan di dalam. Cowok itu memperhatikan seluruh ruangan. Ruangan itu tidak terlalu luas, tapi tidak sempit juga. Tiba-tiba Kendrict memiliki sebuah ide, bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Cowok itu masuk ke dalam dan mengambil sebuah sapu yang ada di sana. Sedangkan Hana menunggu di luar gudang.
“Gue mulai dari mana?” tanya Kendrict.
“Dari sana aja,” tunjuk Hana dekat taman belakang.
Kendrict mengangguk dan segera menuju ke sana. Cowok itu mulai menyapu dan Hana memperhatikan dari belakang.
Ponsel di saku Hana bergetar. Gadis itu mengambil benda pipih itu dari dalam saku roknya. Melihat siapa yang menelponnya. Dahi Hana mengernyit melihat layar ponselnya yang berkedip beberapa kali. Gadis itu segera menjawab panggilannya.
“Halo, Al?” sapa Hana.
Kendrict yang sedang melakukan aktivitasnya, diam-diam menguping pembicaraan Hana dengan seseorang yang diyakininya adalah Aldi.
“Han, ini udah bener gini?” tanya Kendrict yang sengaja mengeraskan suaranya.
Mendengar pertanyaan dari Kendrict membuat Hana spontan menoleh. “Bentar, Al.”
“Kenapa malah lo berantakin?” tanya Hana menatap Kendrict kesal.
“Ckck, sama pacar nggak boleh ngomong lo-gue.”
Hana memutar bola matanya malas, masih saja cowok itu bicara omong kosong. Akhirnya Hana mengakhiri panggilannya dengan Aldi. Namun belum sempat menyentuh layar ponselnya, Kendrict telah merebut ponsel itu dari tangan Hana.
“Kamu telponan sama siapa sih? Jadi nggak fokus sama aku gini,” ucap Kendrict dengan suara dimanis-maniskan. Sebenarnya ia sendiri juga merasa geli.
Tentu Hana tidak tinggal diam, dia berusaha merebut ponsel itu dari tangan Kendrict. Namun, tinggi badan gadis itu tidak selaras dengan cowok didepannya ini. Jadi dia membutuhkan tenaga ekstra untuk merebut kembali ponselnya. Sementara Kendrict tersenyum miring melihat layar ponsel Hana. Ternyata benar yang menelpon gadis itu adalah Aldi.
BRUKK!
Tiba-tiba Hana kehilangan keseimbangan dan berakhir menubruk Kendrict yang fokus pada ponsel Hana. Mereka berdua terjatuh di atas tanah dengan Hana menimpa tubuh Kendrict.
“Han? Lo kenapa?” tanya Aldi dari seberang sana. Pasalnya dia seperti mendengar suara benda jatuh.
__ADS_1
“Aduh,” erang Kendrict memegang kepalanya yang terantuk tanah.
Sementara Hana segera bergegas bangkit ketika menyadari posisinya. Namun, rambutnya malah tersangkut kancing kemeja Kendrict. Rambut Hana kusut karena setelah keramas tadi tidak langsung dia sisir.
“Rambut gue nyangkut. Aduh,” pekik Hana berusaha melepas rambutnya yang tersangkut.
“Hah?” tanya Kendrict bingung.
Perlahan Kendrict mendorong tubuh Hana agar duduk, cowok itu meletakkan ponsel gadis itu ke sembarang tempat. Lalu Kendrict berusaha melepaskan untaian rambut yang menyangkut di kancing kemejanya. Posisi keduanya sangat dekat, kepala Hana bahkan menempel di dada cowok itu. Lamat-lamat Hana mendengar suara degub jantung milik Kendrict. Membuatnya tanpa sadar mengepalkan tangan.
“Han? Halo? Lo nggak apa-apa? Si Ken apain lo?”
Kendrict mendengus mendengar suara Aldi dari seberang sana. Cowok itu langsung meraih ponsel Hana dan berencana menutup panggilan itu. Namun, akibat gerakannya itu membuat tubuh Hana kembali oleng.
“Aduh!” pekik Hana yang tubuhnya limbung disertai rasa perih pada kepalanya.
Spontan Kendrict menahan tubuh gadis itu agar tidak jatuh. Akhirnya cowok itu mengurungkan niatnya untuk mengambil ponsel Hana. Dia kembali fokus pada rambut gadis didepannya ini.
Tidak lama kemudian, rambut Hana berhasil terlepas dari jerat kancing milik Kendrict. Cowok itu berdehem setelah sadar jika jarak mereka terlampau dekat. Kendrict menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk menutupi rasa gugupnya.
“Makasih,” ucap Hana dan dia segera mengamankan ponselnya.
“Rambut lo kusut, jadi susah buat lepas tadi.”
“Sorry, tadi nggak sempat sisiran,” jelas Hana, dia segera merapikan rambutnya dengan tangan.
“Gu …, gue mau lanjut nyapu lagi,” kata Kendrict dan kembali mengambil sapu.
“Gue bantu biar cepet selesai.” Hana segera menuju gudang untuk mengambil sapu.
Sementara Kendrict diam memandang punggung Hana yang berjalan menjauh. Ada perasaan aneh dalam diri cowok itu. Terasa ada yang menggelitik perutnya sejak tadi, juga degub jantungnya terdengar hingga telinganya.
“Gue kenapa? Aneh banget,” gumam Kendrict memperhatikan dirinya sendiri, “Efek belum makan kali,” lanjutnya mengedikkan bahu.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...
__ADS_1