Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Puncak Acara


__ADS_3

SMA 22 sudah sangat ramai oleh anak-anak yang sedang menyiapkan stand mereka di pinggir lapangan. Sementara itu ada juga orang-orang yang sedang menata panggung, menyiapkan segala peralatan. Hana sejak pagi juga sudah sibuk bersama dengan anak-anak OSIS yang lain.


“Han, ini punya lo,” kata Anggun memberikan nasi kotak.


Anggun sedang membagikan nasi kotak untuk semua orang panitia. Panitia harus bersiap sejak pagi dan tentu saja belum sempat sarapan dari rumah. Hana mengucapkan terima kasih dan segera menikmati sarapannya bersama dengan yang lain. Ruang OSIS terlihat sangat berantakan, kertas-kertas berserakan juga ada beberapa kardus tergeletak.


“Anak-anak dari luar dateng jam berapa?” tanya Vio.


“Jam setengah sembilan kayaknya.”


“Heh, sekarang udah setengah sembilan,” kata Ara membulatkan matanya setelah melihat jam di pergelangan tangannya.


Benar saja apa yang dikatakan oleh Ara. Spontan Hana tersedak makanannya. Melihat sang ketua terbatuk-batuk, membuat mereka panik. Beberapa di antara mereka berusaha menolong Hana, menepuk-nepuk punggung gadis itu.


“Thank’s, gue udah nggak apa-apa.”


Alhasil, Hana tidak sempat menyelesaikan sarapannya. Dia telah mendapat informasi jika para tamu sudah mulai berdatangan dan tugasnya sebagai ketua adalah menyambut mereka. Hana berlari menuju depan sekolah untuk menemui mereka semua. Namun akibat kurang memperhatikan jalan, hampir saja gadis itu menabrak seseorang.


“Sibuk amat, Bu. Sampe mau nabrak,” ledek Kendrict.


Hana hanya mendengus malas, tidak ada waktu baginya untuk meladeni ulah usil cowok itu. Walkie talkie di tangannya berbunyi, membuat perhatian Hana teralihkan.


“Iya, gue ke sana,” balas Hana.


Hana melirik Kendrict sekilas dan segera pergi dari sana, sementara cowok itu mengulum senyum dan melambaikan tangan pada gadis itu. Sementara Kendrict juga pergi dari sana, melanjutkan kembali langkah kakinya.


Hana bertemu dengan Aldi dan mereka sedang berjalan menuju kantin sekolah. Tadi cowok itu meminta tolong pada Hana untuk menunjukkan di mana keberadaan kantin. Memang sekarang tugas Hana sudah berkurang. Semua tamu telah berada di tempat masing-masing, acara juga sudah di mulai. Tadi Hana telah memberikan sambutan sebagai ketua OSIS. Jadi sekrang dia lebih banyak mempunyai waktu luang.

__ADS_1


“Nggak apa-apa lo nganter gue?” tanya Aldi merasa tidak enak.


“Nggak apa-apa, lagian cuma sebentar.”


Aldi hendak membeli minuman untuk beberapa temannya. Teman-teman Aldi tadi menitip padanya saat tahu jika ia hendak ke kantin. Setelah selesai membeli semua barang yang dibutuhkan, Aldi dan Hana kembali ke lapangan. Saat ini sedang digelar pentas seni oleh perwakilan ekstrakulikuler maupun perwakilan per kelas.


“Gue tinggal dulu, Al. Temen-temen butuh gue kayaknya,” kata Hana pamit pada Aldi.


“Oke. Oh ya, ini buat lo,” ucap Aldi memberikan satu botol minuman pada Hana, “Semangat, Han.”


Hana tersenyum dan mengangguk, dia pun segera menemui teman-temannya. Sedangkan Aldi kembali ke tempatnya semula.


Acara puncak sebentar lagi akan dimulai. Sebuah band dari ibukota telah bersiap untuk naik ke atas panggung. semua penonton pun juga sudah memadati depan panggung. Suara riuh tepuk tangan dan sorakan penonton menggema ketika band itu naik ke atas panggung. Intro musik mulai dimainkan dan sang vokalis menyapa para penonton.


Hana diajak oleh teman-temannya ikut bergabung ke tengah lapangan. Sebenarnya gadis itu tidak mau, ia ingin menyaksikan dari pinggir saja. Namun, teman-teman Hana memaksa dan menyeret gadis itu untuk ke tengah. Melewati beberapa penonton yang asyik bergoyang mengikuti irama musik.


PYARR!


“Suara apa tadi, Han?” tanya Anggun.


“Nggak tau, suaranya kayak kaca yang pecah.”


Belum terjawab pertanyaan mereka, tiba-tiba saja ada lemparan batu entah dari mana datangnya. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Hana membulatkan matanya setelah tahu situasi apa yang terjadi saat ini.


“Astaga! Ada yang tawuran!” pekik Hana.


Hana segera meminta anak-anak OSIS yang berjaga dekat dengan panggung menyuruh orang-orang di atas panggung segera turun. Suasana menjadi tidak terkendali. Para penonton lari kesana-kemari berusaha menyelamatkan diri. Hana juga berusaha keluar dari kerumunan, dia memperhatikan sekitarnya. Sejak kapan orang-orang di sini membawa senjata?

__ADS_1


DUKK!


“Argh!”


“Aaaaa!”


Suara teriakan terdengar memenuhi area ini. Hana terkena lemparan batu saat ingin keluar dari kerumunan. Tubuhnya sulit digerakan karena terombang-ambing oleh banyaknya orang-orang yang bergerak tak beraturan.


BUKK!


Hana jatuh tersungkur ketika seseorang memukulnya tepat di belakang kepala. Kepalanya mendadak pening dan suara disekitarnya terdengar tidak jelas. Hana berusaha mengumpulkan kesadarannya, dia harus keluar dari sini. Samar-samar terdengar sebuah suara yang tertangkap oleh telinganya.


“Mampus! Gue nggak sengaja mukul si ketua OSIS.”


Lagi, Hana terkena lemparan batu. Batu itu tepat mengenai bahunya. Lalu datang lagi ari depan mengenai dahinya. Gadis itu benar-benar kehilangan kesadarannya saat ini, tergeletak di tengah-tengah tawuran. Namun, Hana beruntung. Polisi yang bersiaga untuk mencegah terjadinya hal-hal seperti ini sigap membantu.


Mereka berhasil mengamankan orang-orang yang diduga sebagai provokasi. Salah satunya adalah Kendrict, cowok itu dibawa oleh seorang polisi. Namun, pandangan Kendrict tidak sengaja menemukan Hana yang tergeletak di tanah. Dia spontan menghentikan langkahnya. Berdiri kaku bak patung batu.


“Cepat jalan!” perintah polisi itu ketika Kendrict hendak mendekati Hana.


Cowok itu meronta, meminta untuk dilepaskan. Ingin menolong sosok yang tak berdaya itu. Namun, gerakan Kendrict berhasil dikunci oleh polisi tersebut. Kendrict masih sesekali menoleh pada Hana, belum ada yang menolong gadis itu.


“Sh*t! Selamatkan ketua OSIS! Sekarang!” teriak Kendrict pada orang-orang yang dilewatinya.


Entah mengapa cowok itu menjadi kalap saat ini, bahkan seorang polisi yang sedang memeganginya kewalahan. Dia masih berusaha membebaskan diri dari cekalan dua polisi di kanan dan kirinya. Namun saat melihat ada seseorang yang mendekati Hana, ada perasaan lega dalam diri Kendrict. Cowok itu menjadi lebih terkendali dan menurut ketika diminta masuk ke dalam mobil patrol.


Sebenarnya, bukan hanya Hana yang menjadi korban tawuran ini. Ada beberapa anak yang mengalami luka-luka yang cukup serius. Setelah kepergian Kendrict dan beberapa orang lain, ambulans datang membantu mereka yang terluka. Keadaan sekarang sudah lebih terkendali. Acara terpaksa dibatalkan karena peristiwa tak terduga ini.

__ADS_1


Pihak sekolah juga berusaha menengangkan para tamu yang terlihat sangat terkejut bahkan syok. Sekolah juga tentunya mengalami kerugian, banyak sarana yang rusak gara-gara kejadian ini. Beberapa orang guru diminta untuk ikut ke kantor polisi dan akan dimintai keterangan terkait kejadian ini. Sementara para korban yang memiliki luka cukup serius telah dibawa ke rumah sakit. Termasuk Hana yang mengalami pendarahan di kepalanya.


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...


__ADS_2