Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Jalan-jalan


__ADS_3

Sekarang ini Kendrict sudah bisa full senyum. Setelah pembicaraan serius kemarin, suasana sudah sedikit merenggang dan tidak terlalu kaku. Walau ada beberapa persyaratan yang harus Kendrict penuhi sebagai syarat berpacaran dengan Hana, dia sama sekali tidak keberatan.


"Jangan pernah sakiti anak saya!" kata Samsul tegas.


"Siap, Om. Saya janji nggak akan buat Hana nangis," jawab Kendrict ala militer.


"Jangan putusin anak saya, kalau Hana yang minta putus kamu harus setuju!"


"Siap, Om!"


"Buktikan kalau kamu setia. Saya tidak menerima janji-janji yang hanya terucap di mulut saja."


"Siap, Om!"


Kendrict menghembuskan napas leganya ketika teringat kejadian kemarin. Hari ini dia berencana mengajak Hana jalan-jalan dan beruntung Samsul memberi izin untuk mereka.


"Selamat pagi, Om!"


Samsul hampir saja menyemburkan kopi yang baru diseruputnya ketika mendengar sapaan cempreng Kendrict. Beliau berdehem dan meletakkan cangkir kopinya di meja.


"Pagi. Jadi pergi sama Hana?"


"Jadi dong. Hananya sudah siap, Om?"


"Masuk saja, periksa sendiri."


"Siap, Om! Kalau gitu saya masuk dulu."


Samsul hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kendrict. Sementara itu, Kendrict masuk ke dalam dan bertemu dengan Mira yang sedang berbincang dengan Hana.


"Itu Ken, Han," kata Mira yang lebih dulu melihat Kendrict.


Hana tersenyum ceria melihat kedatangan Kendrict. Cowok itu membalas senyuman yang Hana berikan untuknya.


"Hana berangkat dulu, Bun," pamit Hana pada Mira.


Kendrict juga berpamitan pada wanita itu. Beliau mengantar keduanya hingga depan rumah. Di depan, mereka juga berpamitan pada Samsul.


"Pake dulu helmnya," kata Kendrict memberikan helm pada Hana.


Gadis itu menurut dan segera mengenakan helm tersebut. Kendrict berencana mengajak Hana untuk jalan-jalan di sebuah tempat wisata belanja yang ada di kota ini. Jaraknya tidak terlalu jauh dari wilayah tempat tinggal keduanya.

__ADS_1


Motor yang Kendrict kendarai melaju perlahan keluar dari area perumahan. Hana menikmati semilir angin yang berhembus menerpa wajahnya. Kendrict sengaja lewat jalan alternatif agar tidak terlalu banyak kendaraan.


"Kita mau ke mana, Ken?" tanya Hana sedikit berteriak.


"Nanti kamu juga tau," jawab Kendrict sedikit menoleh ke belakang.


"Ckck, kebiasaan kamu. Jangan-jangan aku salah kostum lagi kayak dulu."


"Nggaklah, kamu pake apa aja tetep cantik kok."


Mendengar gombalan yang keluar dari mulut Kendrict membuat Hana tidak melanjutkan protesnya lagi. Ia mengeratkan pegangannya pada perut cowok itu.


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai. Hana memperhatikan sekitarnya, dia tahu tempat ini. Namun, Hana masih gagal paham mengapa Kendrict mengajaknya ke sini.


"Kamu mau belanja?" tanya Hana menyerahkan helm miliknya.


"Nggak, kita jalan-jalan aja di sini. Tapi, kalo kamu pengen sesuatu bilang aja. Nanti aku beliin," jawab Kendrict menyimpan helm Hana dimotornya.


Hana tidak menjawab, tapi matanya masih memperhatikan sekitarnya. Tempat ini terdiri dari gang-gang yang semuanya dijadikan tempat usaha. Mereka menjual pernak-pernik seperti gantungan kunci, kaos, topi, dan lain sebagainya.


"Ayo ke sana dulu," ajak Kendrict menggandeng tangan Hana.


Kendrict mengajak Hana berkeliling. Terkadang juga mampir ke salah satu toko untuk melihat-lihat. Gadis itu terlihat sangat menikmati kencan kali ini.


"Ken, cobain ini deh," kata Hana memakaikan sebuah topi perempuan untuk Kendrict.


Lalu, dia menarik Kendrict untuk berdiri di depan cermin yang ada di toko ini. Tawa Hana tidak bisa ditahan lagi melihat wajah lucu cowok itu. Sementara Kendrict cemberut, tapi tidak berlangsung lama. Cowok itu terkekeh dan berakhir tertawa bersama.


Setelah puas melihat-lihat, mereka mampir di sebuah kedai yang menjual minuman. Hana membeli segelas minuman dingin untuk melepas rasa hausnya. Kendrict juga membeli sebotol minuman kemasan.


"Kamu mau coba ini?" tanya Hana.


Kendrict menggeleng. "Kamu yakin minum itu? Nanti kalo tenggorokan kamu sakit gimana?"


"Nggaklah. Kamu lihat sendiri tadi tempatnya bersih."


Hana memang sudah tahu sifat Kendrict yang sangat berhati-hati dalam memilih makanan dan minuman. Cowok itu tidak mau sembarangan jajan di luar. Terkadang Kendrict mengomel ketika tahu Hana jajan sembarangan.


Keduanya terus berjalan hingga tanpa sadar sampai di lorong-lorong yang sepi. Toko-toko di sekitar tempat ini juga tutup.


"Kayaknya di depan buntu. Kita balik lagi aja yuk," ajak Hana.

__ADS_1


Kendrict mengangguk dan mereka berbalik arah. Keduanya kembali berjalan menuju tempat yang tadi cukup ramai.


"Ken, cari toilet dulu dong."


"Kenapa? Kamu mules, ya? Udah aku bilang jangan beli minuman yang ini 'kan?"


"Ish, nggak. Aku cuma kebelet buang air kecil," jawab Hana memutar bola matanya malas.


"Oh, kirain. Ya udah ayo. Tapi, kalo tempatnya kotor gimana?"


"Kalau udah urgent mau gimana lagi."


Kendrict yang hendak protes kembali segera dibungkam oleh Hana yang menutup mulut cowok itu dengan tangan kanannya. Alhasil, cowok itu hanya bisa menurut.


Setelah beberapa lama mereka berkeliling, Hana menemukan sebuah toilet. Gadis itu segera masuk ke dalam meninggalkan Kendrict. Sedangkan cowok itu, menunggu di depan pintu toilet.


Namun, mata Kendrict melihat hal yang menarik. Ada sebersit ide untuk memberi kejutan pada Hana. Kendrict pikir tidak apa-apa meninggalkan Hana sebentar yang sedang di dalam toilet itu untuk pergi ke toko di depan sana. Jarak toko itu hanya lima langkah dari tempatnya.


Kendrict pun menuju toko itu meninggalkan sebentar Hana yang masih di dalam toilet. Tidak lama kemudian, gadis itu keluar. Namun, Hana tidak menemukan keberadaan Kendrict di sana.


Ia menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari dimana Kendrict berada. Mata Hana menyipit ketika sepertinya dia melihat keberadaan Kendrict di seberang sana yang sedang memilih-milih sesuatu.


Hana tersenyum dan hendak berjalan menghampiri cowok itu. Namun baru saja beberapa langkah maju, tiba-tiba saja seseorang menarik tangannya dengan kasar hingga menyebabkan tubuh Hana limbung.


Tarikan kasar itu mampu membuat Hana dalam sekejap menghilang ke dalam sebuah lorong sempit. Merasa ada hal yang tidak beres, membuat Hana spontan berteriak minta dilepaskan. Namun, sebelum dia berteriak sudah ada seseorang yang membekap mulutnya serta menutup matanya.


Jantung Hana berpacu dengan cepat, tentu sekarang dia dalam keadaan yang tidak baik. Gadis itu terus berusaha meronta. Namun, sia-sia karena sepertinya ada beberapa orang di sekitar yang berusaha memeganginya.


"Bener dia, kalungnya sama," ucap salah seorang di antara mereka.


DEG!


Hana seketika teringat dengan kalung pemberian Kendrict. Apakah dia sedang dirampok saat ini? Apakah orang-orang ini tahu jika kalung yang dipakainya mahal?


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...


Hai, hai, hai. Othor menyapa pembaca setia Ken dan Hana. Sebenernya Othor mau minta maaf karena tidak bisa up rutin seperti kemarin-kemarin.


Untuk saat ini karena ada kesibukan di RL, sementara Othor akan up ketika sempat saja. Jadi, mohon pengertian kalian, ya?


Othor juga berharap kalian selalu menunggu kelanjutan kisah Ken dan Hana. Jangan lupa juga tinggalkan jejak kalian setelah membaca cerita ini. Jejak yang kalian tinggalkan sangat berarti bagi Othor 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2