
Hana yang sedang bermain dengan anak-anak sesekali memperhatikan Kendrict yang duduk menyendiri di bawah sebuah pohon. Dahinya mengernyit melihat sepertinya cowok itu sedang melamun dengan tatapan mengarah pada gerombolan anak-anak yang sedang bermain. Namun, tidak lama Hana memperhatikan tingkah cowok itu. Dia kembali fokus pada anak-anak yang memintanya mengajari origami.
“Wah, Kak Hana hebat! Ajari aku, Kak,” ucap seorang anak dengan semangat.
Hana tertawa melihat betapa semangatnya anak itu. Gadis itu mulai larut dengan aktivitasnya, dengan wajah serius dia melipat kertas dan mulutnya sibuk menjelaskan.
“Kayak gini, Kak?”
“Iya, bagus itu punya Rara,” jawab dan puji Hana.
“Kak Hana, aku juga ajarin dong,” kata seseorang yang tiba-tiba datang.
“Boleh, ayo sini gab ….”
Ucapan Hana tidak berlanjut ketika tahu siapa orang itu. Aldi tertawa dan mengangkat kedua jarinya. Cowok itu duduk dan ikut bergabung dengan anak-anak yang fokus melipat kertas. Hana tadi mengajari anak-anak cara membuat pesawat, kapal, dan penguin dari kertas lipat. Mereka sangat antusias diajari olehnya.
Tak terasa hari sudah siang, rombongan dari komuitas sosial itu memutuskan untuk makan siang bersama anak-anak. Tadi sebagian dari rombongan membantu pengurus panti untuk memasak makanan. Sementara yang lain tetap bersama anak-anak. Kini waktu makan tiba, anak-anak sudah antre untuk mengambil makanan mereka.
“Makan yang banyak adik-adik,” ucap Adi ramah pada mereka.
Tidak hanya anak-anak yang makan, mereka dari komunitas sosial juga ikut mengantre setelah semua anak telah mendapat makan siang mereka. Hana menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan Kendrict yang sejak tadi belum terlihat. Entah ke mana perginya cowok itu.
“Lo lihat Ken, Han?” tanya Bima.
“Nggak, Kak,” jawab Hana dengan gelengan kepalanya.
“Oh, gue lihat tadi dia duduk di sana. Belum ambil makan kayaknya, tolong, ya, Han?”
Hana mengangguk dan bergegas menuruti permintaan temannya itu. Hana menghampiri Kendrict dengan membawa nampan berisi dua piring berisi makanan serta dua gelas minuman. Gadis itu menuju tempat di mana cowok itu berada.
Hana merasa aneh dengan tingkah Kendrict seharian ini. Cowok itu lebih banyak menghabiskan waktu sendiri dan tidak banyak berinteraksi dengan anak-anak. Hana menemukan Kendrict sedang duduk di rerumputan, tempat yang cukup teduh karena berada di bawah pohon.
__ADS_1
“Kenapa lo nggak ikut antre sama yang lain?” tanya Hana.
Kendrict mendongak menatap wajah Hana yang berdiri di depannya. Cowok itu tidak langsung menjawab, melainkan menatap wajah Hana cukup lama. Selanjutnya, sebuah seringai jahil muncul dari bibirnya.
“Sengaja biar lo bawain makanan ke sini,” kata Kendrict yang melihat Hana membawa nampan.
Mendengar jawaban Kendrict membuat Hana mendengus. Dia meletakkan nampan yang dibawanya di atas rerumputan dan memberikan piring milik Kendrict.
“Nih, punya lo.”
Kendrct menerima pemberian Hana, cowok itu menatap isi piringnya. Ada nasi beserta lauk di sana, cowok itu melirik pada Hana yang mulai menikmati makanannya. Merasa ditatap, Hana menoleh pada Kendrict.
“Kenapa nggak dimakan?” tanya Hana megernyitkan dahinya.
“Gue nggak laper,” jawab Kendrict meletakkan piring itu di nampan.
Kernyitan di dahi Hana bertambah. “Nggak mungkin, ini udah waktu makan siang. Nggak mungkin lo belum laper.”
“Perhatian juga ternyata lo,” kata Kendrict menaik-turunkan alisnya menggoda Hana.
“Lo nggak suka sama lauknya?” tanya Hana hati-hati.
Mendengar pertanyaan dari Hana membuat spontan Kendrict menoleh. Terkejut mendengar pertanyaan itu terlontar dari mulut gadis itu. Apakah dirinya terlihat kentara? Memang menu makan siang hari ini adalah nasi dengan lauk ayam goreng dan tempe goreng serta sayur tumisan buncis. Kendrict memang belum pernah memakan menu seperti ini.
“Sok tau lo,” alibi Kendrict membuang pandangannya ke arah lain.
Hana hanya mengangguk, dugaannya salah berarti. Gadis itu kembali menikmati makan siangnya. Namun, suara aneh tiba-tiba menghentikan sendok yang hendak masuk ke mulutnya.
“Masih mau ngeles kalo nggak laper?” sindir Hana, “Lo cobain sesuap, ini enak kok. Bunda-bunda di sini masakannya enak,” lanjut Hana.
Akhirnya Kendrict terpaksa menurut. Dia mencoba sesuap kecil nasi beserta lauk di pringnya. Ada raut ragu dari wajah cowok itu, tapi tatapan yang Hana berikan membuat Kendrict memasukkan sendok itu ke mulutnya.
__ADS_1
“Enak ‘kan?” tanya Hana tersenyum ketika melihat ekspresi Kendrict.
Cowok itu tidak menjawab, dia kembali memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Entah sudah berapa lama dia tidak merasakan masakan rumahan seperti ini. Selama ini Kendrict selalu makan di luar, itupun makanan cepat saji dengan harga dan menu bagi kelas atas.
Hanya bakso di warung langganannya menjadi menu satu-satunya yang sederhana. Mendadak mata Kendrict memanas, cowok itu berusaha menahan rasa sesak yang tiba-tiba menyergapnya. Hal itu membuat Kendrict tersedak.
“Lo kenapa? Pelan-pelan aja makannya,” tanya Hana panik melihat Kendrict terbatuk hebat.
Gadis itu berusaha membantu Kendrict dengan menepuk-nepuk punggungnya. Merasa sudah reda, Kendrict memberi isyarat jika dirinya sudah baik-baik saja.
“Lo nangis?” tanya Hana memperhatikan ada air mata keluar dari pelupuk mata Kendrict.
Cowok itu segera mengelap air matanya yang keluar. “Gue kepedesan.”
“Nih minum.” Hana menyodorkan gelas berisi air putih pada Kendrict.
Piring milik keduanya kini sudah kosong. Kendrict benar-benar menikmati makan siangnya kali ini. Walau pada awalnya dia ragu pada menu yang tersaji, nyatanya rasanya tidak seperti penampilannya. Hana mengajak Kendrict untuk kembali berkumpul bersama dengan anak-anak kembali. Namun, cowok itu menahan langkah kakinya dan melontarkan sebuah pertanyaan.
“Lo bahagia?” tanya Kendrict.
Hana terdiam mendengar pertanyaan itu, pertanyaan aneh menurutnya. Tentu saja Hana bahagia, salah satu kebahagiaannya adalah bersama dengan anak-anak dan dapat membantu mereka juga menghibur mereka.
“Iya,” jawab Hana dengan anggukan kepala, “Lo nggak ngerasa bahagia?” tanya Hana.
“Kebahagiaan mahal buat gue,” jawab Kendrict terkekeh, “Ayo ke sana!”
Hana terdiam mendengar jawaban Kendrict, dia menatap puggung cowok itu yang telah menjauh darinya. Cukup terkejut mendengar hal itu dari seorang Kendrict. Hana segera menyusul langkah cowok itu. Mereka kembali berkumpul bersama anak-anak yang lain.
Setelah makan siang dan beres-beres, komunitas itu berpamitan. Tidak banyak anak-anak yang merasa sedih, bahkan ada beberapa yang menangis melepas kepergian mereka. Namun, komunitas itu menjajikan anak-anak jika nanti mereka akan kembali bermain bersama mereka.
“Kak Hana sering main ke sini lagi, ya? Ajarin Nino buat bangau,” pinta seorang anak memeluk Hana erat.
__ADS_1
Hana tersenyum dan mengangguk. Memang akhir-akhir ini dia jarang berkunjung karena masih disibukkan dengan kegiatan sekolah. Selesai berpamitan, rombongan menaiki bus mereka. Anak-anak serempak melambaikan tangan mereka melepas kepergian kakak-kakak baik itu, melepas mereka dengan senyum ceria yang kembali hadir.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...