
Suasana kantin sangat ramai dengan kehebohan yang ditimbulkan oleh Nita dan teman-temannya. Sebenarnya beberapa anak merasa terganggu, tapi mereka tidak berani menegur karena Nita adalah anak yang dekat dengan geng berandalan.
"Terus, gimana reaksi Ken?" tanya Devi bersemangat.
Nita sedang menceritakan perihal kebersamaannya bersama dengan Kendrict di hari Sabtu lalu. Dia sengaja mengeraskan suaranya karena tahu jika tidak jauh dari meja mereka ada Hana dan teman-temannya.
"Dia kaget, tapi ekspresinya lucu. Sumpah gemesin banget," jawab Nita dengan mata melirik pada Hana yang sedang mengobrol bersama teman-temannya.
"Berarti sebentar lagi bisa aja kalian jadian dong?" tanya seorang teman Nita antusias.
Kebanyakan anak di sekolah ini memang sangat berharap jika Nita dan Kendrict berpacaran. Mereka menilai jika keduanya akan menjadi pasangan yang serasi. Apalagi hanya Nita yang dapat mendekati Kendrict.
"Doain aja, gue juga lagi usaha."
"Ckck, mereka bener-bener ganggu," kata Anggun merengut.
Sebetulnya sejak tadi Hana dan teman-temannya sangat terganggu dengan pembicaraan Nita. Nita dan teman-temannya sengaja mengencangkan volume mereka agar seluruh penghuni kantin mendengar.
"Tau tuh, nggak punya malu kali ya? Perkara nyosor cowok diceritain," balas Vio.
Hana hanya menggelengkan kepalanya mendengar penuturan teman-temannya. Dia sama sekali tidak tertarik dengan obrolan mereka. Hana mempercepat makannya agar cepat selesai. Setelah ini dia harus bertemu dengan Arya. Mereka telah memiliki janji sebelumnya.
"Gue duluan, ya? Si Arya udah nungguin di ruang OSIS," pamit Hana.
"Iya, Han."
Hana segera bergegas keluar dari kantin dengan membawa buku catatan miliknya. Catatan itu berisi tulisan-tulisan selama dia menjadi ketua OSIS. Lusa Arya akan dilantik menjadi ketua OSIS menggantikan Hana. Artinya anak itu akan secara resmi menjadi ketua dan sepertinya Arya masih belum percaya diri dengan jabatannya.
Hana sampai di ruang OSIS yang pintunya telah terbuka. Ternyata tidak hanya ada Arya, tapi juga ada Adrian di sana.
"Udah lama nunggu, ya?" tanya Hana.
"Nggak juga, Kak. Tadi ditemenin sama Kak Adrian," jawab Arya.
"Lo nggak ke kantin, Dri?" tanya Hana pada Adrian.
"Nggak, Han. Lagi males gue, mau numpang tidur di sini aja," jawab Adrian yang sudah merebahkan tubuhnya di sofa.
Hana duduk di depan Arya dan memberikan buku catatan miliknya. Arya menerima buku itu dan membacanya.
"Kamu boleh pinjem dulu, pelajari juga. Itu juga ada tata cara buat pelantikan nanti."
Arya mengangguk paham dan kembali membuka lembar kertas, lalu membacanya. Sementara Adrian mengintip dari posisinya. Ada senyum tersungging dibibirnya. Entah mengapa melihat Hana bersama Arya membuatnya senang.
"Kamu hapal sumpahnya 'kan?" tanya Hana.
"Nanti Arya hapalin lagi, Kak," jawab Arya meringis.
Hana mengangguk. "Karena yang diganti cuma ketuanya, jadi nanti kamu ucap sumpah sendiri."
__ADS_1
"Iya, Kak. Terima kasih Kak Hana mau bimbing Arya."
"Sama-sama. Kamu juga boleh tanya-tanya sama Adrian juga kalo bingung," kata Hana melirik pada cowok yang terbaring di sofa.
Arya mengangguk dan dia pamit untuk kembali ke kelas terlebih dulu. Sedangkan Hana masih bertahan di ruang OSIS bersama dengan Adrian. Gadis itu memperhatikan Adrian yang memejamkan matanya.
"Dri, gue mau tanya sama lo."
"Hmm?"
"Gue tau lo nggak tidur," ucap Hana memutar bola matanya malas.
"Mau tanya apa?" tanya Adrian membuka matanya dan menatap Hana.
"Lo nggak lagi naksir seseorang?"
"Itu yang mau lo tanyain?"
Hana mengangguk. "Iya. Pertanyaan gue nyinggung lo, ya?"
"Nggak juga. Gue cuma kaget lo tiba-tiba tanya gitu."
"Ya udah jawab pertanyaan gue tadi," ujar Hana menopang dagunya.
"Gue 'kan suka sama lo," jawab Adrian.
Adrian meringis mendengar perkataan Hana. Hana tidak salah, tapi tidak benar juga. Adrian masih menyimpan perasaan pada Hana, walau hanya tersisa sedikit sekarang. Dia tidak bisa berbohong jika suatu saat masih berharap Hana berubah pikiran dan akan menerimanya.
Namun, Adrian juga tidak terlalu berharap. Ia juga sudah mendengar dengan gamblang penolakan Hana kala itu.
"Mau gue jodohin?" tanya Hana menatap Adrian penuh harap.
"Emang lo bisa?" tanya Adrian balik dengan alis bertaut.
"Gue juga nggak pede sebenernya, tapi gue mau coba bantu aja," jawab Hana ragu.
"Apaan tuh? Masa coba-coba?"
Hana mendengus mendengar balasan dari Adrian yang mengejeknya. Padahal maksudnya bukan seperti itu. Sementara Adrian tertawa terbahak melihat ekspresi lucu Hana.
"Lo mau comblangin gue sama siapa emang?"
Belum sempat Hana menjawab pertanyaan Adrian, suara bel berbunyi. Akhirnya pembicaraan mereka harus terhenti sejenak.
"Kasih tau gue sambil jalan," pinta Adrian.
Hana hanya mengangguk dan menutup pintu ruang OSIS sebelum mereka meninggalkannya. Keduanya berjalan menuju kelas.
"Lo pasti nggak tau kalo Ang ...."
__ADS_1
"Kenapa, Han?" tanya Adrian mengernyitkan dahi ketika tiba-tiba Hana menghentikan langkahnya.
"Kayaknya ada yang mau bolos," jawab Hana berjalan ke belakang gedung.
Adrian pun mengikuti langkah Hana dari belakang. Benar apa yang dikatakan Hana tadi, di depan mereka ada beberapa anak yang sedang berusaha melompati dinding sekolah untuk membolos.
"Heh! Kalian mau ke mana?" tanya Hana berlari menghampiri anak-anak nakal itu.
Adrian juga ikut membantu Hana. Gadis itu menarik kaki salah satu anak tersebut. Anak yang tertangkap spontan menengok ke bawah, matanya membulat karena kaget.
"Ken! Turun nggak lo!" perintah Adrian.
"Ogah, siapa lo nyuruh-nyuruh gue?" tantang Kendrict menjulurkan lidahnya.
Sementara Hana masih berusaha menarik kaki kanan Kendrict yang masih terjuntai ke bawah. Cowok itu masih memeluk dinding dengan erat.
"Ken! Turun sekarang!" perintah Hana.
"Nggak mau! Lepasin! Temen-temen gue udah nunggu!" pekik Kendrict berusaha menggerakkan kakinya.
"Nggak bakal gue lepas! Dri, panggil guru piket!" perintah Hana.
"Lo bisa nahan dia, Han?" tanya Adrian ragu.
"Gue bisa," jawab Hana mantap, dia masih berusaha menarik kaki Kendrict.
"Buset, tenaga lo boleh juga," kata Kendrict tertawa mengejek.
"Diem lo, Ken! Turun nggak lo?"
"Nggak mau. Gue mau main sama temen-temen gue!"
"Kalo gitu gue nggak bakal lepasin nih kaki lo!" ancam Hana.
"Duh ..., duh. Han, kaki gue masih sakit nih yang cedera kemarin. Lepasin dong!"
"Salah lo sendiri, udah tau masih sakit kenapa segala manjat-manjat tembok?" tanya Hana sewot. "Dri, cepet panggil guru piket!"
Adrian pun menuruti perintah Hana. Namun, baru saja dia berbalik hendak pergi dari sana tiba-tiba ada kejadian tak terduga yang menimpa Hana.
DUAKK!
Hana jatuh terduduk dan Kendrict ikut jatuh gagal menyeberangi tembok yang sedang dipanjatnya. Adrian membulatkan matanya dan kembali menghampiri Hana.
"Han, lo nggak papa?" tanya Adrian membantu Hana.
"Mamp*s," gumam Kendrict melihat dagu Hana berdarah.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...
__ADS_1