Malaikat Penolong

Malaikat Penolong
Firasat


__ADS_3

Hana turun dari motor Kendrict yang berhenti di depan rumahnya. Gadis itu masih terlihat syok dengan apa yang baru saja terjadi. Kendrict membuka kaca helmnya dan menatap Hana yang masih mengatur napasnya. Lalu, decakan keluar dari mulut cowok itu.


“Ckck, makanya nggak usah sok ikut campur lo,” ucap Kendrict.


Hana mendongakkan kepalanya dan menatap Kendrict tak percaya. Gadis itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


“Udah sepatutnya sesama manusia saling tolong menolong, gue nggak bisa tutup mata lihat orang-orang disekitar gue kesulitan,” kata Hana, ekspresinya terlihat kesal.


“Terus apa? Lo sendiri yang rugi, nggak inget tadi lo dikejar-kejar sama preman?” tanya Kendrict melayangkan tatapan menusuk pada gadis itu.


Mendengar hal itu, Hana kembali menundukkan kepalanya. “Gue nggak tau kalo bakal terjadi hal kayak gitu.


Kendrict mendengus dan membuka helmnya, dia benar-benar tak habis pikir dengan gadis di sampingnya ini. Beruntung tadi dia sengaja mengikuti Hana. Tadinya dia hendak menawari gadis itu tumpangan, tapi Hana sudah pasti akan menolaknya.


Tidak mau makin larut dalam kekesalannya, Hana segera mengucapkan terima kasih pada Kendrict yang telah menolongnya. Kendrict hanya mengangguk seadanya dan dia pamit untuk pulang ke rumahnya. Namun, baru saja cowok itu memakai helmnya. Mira keluar dari halaman membuat dua anak itu menoleh serempak.


“Kamu? Cowok yang waktu itu datang kemari ‘kan?” tanya Mira.


Terpaksa Kendrict kembali melepas helmnya dan turun dari motor. Mau tidak mau dia juga harus menyapa Mira sebelum pergi karena sudah kepergok.


“Iya, Tante. Saya tadi mengantar Hana pulang. Kalau begitu, saya mau pamit pulang,” jawab Kendrict sesopan mungkin.


“Lho? Kok pulang?”


“Ya?” tanya Kendrict bingung dan menoleh pada Hana yang juga sedang menatapnya.


“Kamu pasti belum makan malam, makan malam di sini dulu yuk. Baru kamu boleh pulang.”


Hana terkejut mendengar penuturan Mira, lagi-lagi dia mencuri pandang pada cowok yang kini berdiri di sebelahnya. Keduanya berkomunikasi dengan isyarat.


“Yuk. Han, temannya diajak masuk,” ajak Mira dan beliau telah berjalan ke dalam terlebih dulu.

__ADS_1


Akhirnya Hana membawa Kendrict masuk, sementara cowok itu memperhatikan rumah ini. Keduanya mengekori Mira yang telah sampai di meja makan. Kebetulan dari arah dapur ada Glen yang hendak masuk ke kamarnya. Kendrict mengernyitkan dahinya melihat keberadaan Glen di rumah ini. Langkah ketiganya terhenti secara otomatis.


“Lo!” tunjuk Kendrict pada Glen. Sementara Glen hanya menatap datar pada dua orang di depannya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Glen berlalu dari sana. Pandangan Kendrict mengikuti ke mana Glen pergi hingga cowok itu menghilang di balik pintu kamarnya di lantai atas.


“Dia anak yang tadi siang ‘kan?” tanya Kendrict pada Hana yang sejak tadi diam.


“Iya,” jawab Hana disertai anggukan kepala.


“Sepupu lo?”


“Kakak gue.”


“Hah? Kalian nggak mirip,” ucap Kendrict spontan, memang faktanya antara Hana dan Glen tidak ada kemiripan sama sekali.


“Kakak tiri gue. Cepet ke meja makan, bunda udah nunggu,” kata Hana dan berjalan lebih dulu.


“Terima kasih makan malamnya,” ucap Kendrict setelah menghabiskan makanannya.


Jujur saja, makan malam kali ini tidak terlalu cocok dengan selera Kendrict. Hana mengantar cowok itu hingga depan halaman.


“Sorry, jadi nyita waktu lo,” kata Hana.


Kendrict hanya mengedikkan bahunya, dia pun segera pergi dari sana. Hana masih menatap jalanan dengan pandangan kosong. Hari ini benar-benar sangat melelahkan untuknya. Gadis itu menghembuskan napasnya dan berjalan masuk ke dalam rumah. Hana masuk ke dalam kamarnya. Namun, baru saja dia menyentuh kenop pintu, gerakannya tertahan oleh Glen.


“Gue nggak mau anak-anak di sekolah tau apa hubungan kita,” ucap Glen melipat tangannya di dada.


Cowok itu tidak memberi kesempatan bagi Hana mejawab dan dengan seenaknya pergi dari sana. Bahkan membanting pintu, membuat Hana terkejut mendengar suara itu.


Setelah membersihkan tubuhnya, Hana memutuskan untuk istirahat sejenak. Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menatap langit-langit kamarnya. Suara dering ponselnya membuat Hana mau tak mau bangkit dari posisinya sekarang. Dengan malas gadis itu meraih ponselnya dan menjawab panggilan itu.

__ADS_1


“Halo?” sapa Hana.


“Gue cuma mau pastiin lusa jadi ketemu. Anak-anak sekolah lo yang ke sekolah gue ‘kan?”


“Oh? Aldi. Iya, Al. Tapi kayaknya gue nggak bisa ikut, gue masih harus kerjain beberapa hal buat hari H.”


“Ok, nggak masalah. Gue tau lo pasti sibuk, Bu Ketua.”


Hana terkekeh mendengar panggilan Aldi untuknya. “Ada-ada aja lo, kita ketemu pas hari H. semoga kalian bisa menikmati acaranya.”


“Pasti, lo nggak pernah gagal buat acara.”


Hana tersenyum mendengar perkataan Aldi yang terlalu memujinya. Obrolan mereka berakhir karena keduanya sama-sama harus menyelesaikan tugas sekolah.


Dia benar-benar berharap jika acara ulang tahun sekolah akan berjalan dengan lancar dan tidak ada hambatan apapun. Namun, entah mengapa ada perasaan mengganjal dalam diri Hana. Gadis itu segera meggelengkan kepalanya. Dia tidak boleh memiliki pikiran negatif. Ia akan terus meyakinkan dirinya agar acara berjalan lancar.


“Sekarang gue harus fokus sama tugas sekolah yang belum selesai.”


Hana duduk di kursi dan bersiap untuk belajar. Malam ini begitu tenang, membuat Hana seharusnya bisa fokus pada tugasnya. Namun, tiba-tiba pikiran gadis itu teralihkan pada kejadian tadi. Ketika dia dikejar oleh para preman itu.


Hana tidak bisa membayangkan hal apa yang akan terjadi jika tidak ada Kendrict. Gadis itu kembali fokus dengan buku-bukunya. Setelah acara ulang tahun sekolah, selang beberapa minggu kemudian akan di adakan ujian.


Malam makin larut, tapi belum ada tanda-tanda Hana mengakhiri sesi belajarnya. Tugas yang sedang dikerjakannya sebentar lagi selesai. Mata Hana beralih pada bingkai foto didekatnya. Kepalanya dia tidurkan di atas meja belajar dengan pandangan masih terfokus pada foto itu. Mendadak ada rasa rindu pada sang bunda.


Tangan gadis itu menyentuh wajah tersenyum sang bunda. Dia membuat gerakan beraturan hingga tanpa sadar menguap lebar. Perlahan mata Hana terpejam dan setelahnya ia tertidur dengan posisi duduk di depan meja belajarnya. Mulai menjelajah alam mimpi. Berharap dalam mimpinya dapat bertemu dengan sang bunda yang sangat dirindukannya.


Sementara itu, tanpa sepengetahuan sang pemilik kamar. Mira masuk ke dalam kamar Hana. Wanita itu mengambil selimut dan menyelimutkannya ke tubuh putrinya itu. Wajah Mira berubah sendu ketika melihat foto di hadapan Hana.


“Sepertinya Hana sangat rindu padamu, Mbak,” gumam Mira.


...🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️...

__ADS_1


__ADS_2