
Hana masih menatap kalung yang tersimpan rapi dalam kotak. Ia sempat terpukau dengan kecantikan kalung tersebut. Namun, membaca merek yang tertulis di kotak itu membuatnya ragu.
Sangat tidak masuk akal remaja seusianya mampu membeli barang mewah seperti itu. Sementara Hana masih memikirkan banyak hal, Kendrict mengernyitkan dahi melihat ekspresi gadis didepannya ini.
"Kenapa? Kamu nggak suka? Kurang bagus, ya?" tanya Kendrict bertubi-tubi.
Hana terkejut dan dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Nggak, kalungnya cantik. Aku suka. Tapi, kamu serius ini buat aku?"
"Iya, ini buat kamu. Sini aku bantu pasang."
Hana menahan tubuh Kendrict yang mulai mendekat. Cowok itu mengernyit heran dengan tingkah Hana.
"Ini pasti mahal, Ken."
Kendrict menggeleng dengan cepat. "Nggak kok."
"Kamu beli sendiri?" tanya Hana memastikan.
"Iya, kenapa sih?" jawab dan tanya Kendrict bingung.
"Ken, aku tau kalung ini harganya mahal. Kamu beneran mau kasih aku?"
"Iya beneranlah. Pokoknya ini buat kamu, aku sengaja pilih yang paling cantik. Aku sama sekali nggak peduli sama harganya."
Hana menghembuskan napasnya. "Kamu simpen dulu aja."
"Kenapa jadi aku yang simpen? Kamu nggak suka, ya? Menurut kamu jelek? Ckck, tau gitu aku ajak kamu langsung, biar bisa pilih sendiri."
Hana menepuk dahinya mendengar penuturan Kendrict. Harus bagaimana lagi menjelaskan pada cowok didepannya ini? Namun, Hana juga tidak mau menyinggung Kendrict.
Walau sudah berpacaran, Hana sama sekali belum mengetahui keluarga Kendrict. Dia hanya tahu jika cowok itu tinggal di sebuah kamar kos. Sempat bertanya-tanya, apakah Kendrict bukan berasal dari kota ini?
"Sini nurut! Aku bantu pake, kalo kamu nggak suka besok kita beli yang baru," ucap Kendrict yang habis kesabaran.
__ADS_1
Cowok itu memutar tubuh Hana dan segera memasangkan kalung tersebut. Setelah terpasang, senyum Kendrict terbit.
"Ternyata cocok sama kamu," katanya.
Hana diam dan tangannya menyentuh bandul kalung tersebut. Dia masih ragu memakai kalung ini. Apakah dia boleh menerima hadiah seperti ini?
GREP!
Hana terkejut ketika tiba-tiba Kendrict memeluknya. Tangan cowok itu menepuk pelan punggung Hana. Waktu terasa berhenti saat ini. Gadis itu menikmati momen yang terjadi. Dia tidak mau kehilangan momen seperti ini.
"Makasih, kamu udah mau percaya sama aku."
Hana merenggangkan pelukannya dan menatap wajah Kendrict. Malam ini entah mengapa cowok itu terlihat sangat tampan. Jantung Hana lagi-lagi dibuat berdetak kencang.
Kendrict menyentuh pipi Hana, masih dengan senyumannya. Senyum itu seakan menular. Hana juga ikut tersenyum. Bahkan wajahnya sudah merah merona.
Terbawa suasana, Kendrict mendekatkan wajahnya pada Hana. Dahi mereka bertemu, hembusan napas keduanya saling beradu dan tatapan mereka terkunci. Senyum di antara keduanya mulai memudar, digantikan dengan ekspresi serius yang Kendrict tunjukkan.
Cowok itu makin dekat. Spontan Hana memejamkan matanya, walau dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Jantungnya sudah berdebar tak karuan saat ini. Namun, ternyata bukan hanya dirinya saja. Hana mendengar detak jantung lain yang samar-samar terdengar.
Hana membuka matanya lebar-lebar dan refleks menjauhkan Kendrict. Gadis itu terlihat salah tingkah melihat ada bapak-bapak yang sepertinya baru pulang melaut dan memergoki mereka.
Sedangkan, Kendrict menatap datar pada bapak tersebut. Dia merasa bapak itu mengganggu. Dengusan kecil keluar dari hidung Kendrict. Namun, walau begitu wajah cowok itu juga merah padam.
"U..., udah 'kan? Ayo pulang sekarang," kata Hana gugup.
Kendrict menundukkan kepalanya dan hanya bisa menurut. Keduanya pun keluar dari area pantai. Setelah masuk mobil, belum ada lagi percakapan di antara keduanya. Mereka sama-sama gugup. Bahkan, tangan Kendrict sedikit gemetar ketika menyalan mesin mobilnya. Beruntung Hana tidak melihat hal tersebut.
"Mau langsung pulang? Kamu laper nggak? Mau makan dulu?" tanya Kendrict yang sebenarnya tidak rela jika langsung berpisah dengan Hana begitu saja, walau besok bisa saja mereka bertemu.
"Langsung pulang aja. Kita makan di rumah, tadi bunda udah masak."
"Oke," ucap Kendrict sedikit kecewa.
__ADS_1
Akhirnya mereka langsung menuju rumah Hana. Hanya ada perbincangan singkat selama perjalanan. Keduanya sama-sama masih merasa canggung dengan kejadian di pantai tadi.
Tanpa sadar mobil yang dikendarai Kendrict sudah sampai di depan rumah Hana. Keduanya turun dan masuk bersama. Mereka disambut Mira, Glen yang duduk tidam jauh dari sana hanya melirik keberadaan Kendrict.
"Ayo makan dulu!" ajak Mira menggiring dua anak itu ke meja makan. "Ayo Glen!"
Dengan langkah diseret Glen pun mengekor menuju meja makan. Seperti biasa, Mira sangat antusias dengan kedatangan Kendrict. Mereka sibuk mengobrol, sementara Hana hanya menyimak saja dan Glen sama sekali tidak peduli.
Setelah makan malam bersama, Kendrict langsung pamit untuk pulang. Dia beralasan karena besok masih ujian akhir. Padahal sebenarnya Kendrict tidak mau mengganggu belajar Hana, karena jika cowok itu masih di sini Hana tidak akan bisa fokus belajar.
Hana masuk ke kamarnya setelah melihat kepergian Kendrict. Dia duduk di meja belajarnya. Matanya menatap pada pantulan cermin di meja belajarnya. Cermin itu memperlihatkan kalung dilehernya. Hana menyentuh kalung itu.
"Kalungnya cantik," gumam Hana tersenyum samar.
"Tapi apa gue boleh terima ini?"
Hana meraih ponselnya dan membuka aplikasi pada mesin pencari. Dia mengetikkan beberapa kata dan tidak lama muncul berbagai informasi. Gadis itu fokus membaca beberapa artikel. Namun, belum ada artikel yang dia maksud.
Akhirnya Hana mencari lagi. Dia mencoba mengetikkan sebuah kata kunci. Sebuah merek ternama yang sangat terkenal di dunia. Setelahnya, Hana dibawa ke sebuah laman web. Sepertinya web tersebut merupakan toko online dari merek tersebut.
Hana fokus mencari. Matanya meneliti barang-barang yang dijual di toko ini. Jempolnya yang sedang menggulir layar terhenti ketika melihat produk yang mirip dengan yang saat ini dipakainya.
Spontan mulut Hana terbuka dan matanya membulat sempurna. Bahkan, tanpa sadar dia memekik karena saking terkejutnya.
"Hah? Ternyata semahal ini. Ken bener-bener gila," kata Hana tidak percaya.
Hana menemukan harga kalung hadiah dari Kendrict. Muncul nominal fantastis dari layar ponselnya yang membuat Hana seketika gemetar. Perlahan tangannya melepas kalung itu dan meletakkannya dengan perlahan dikotaknya.
"Gimana bisa dia beli kalung ini? Uang dari mana?"
Berbagai pertanyaan muncul dan hal tersebut membuat Hana seketika tidak tenang. Mata gadis itu kembali melirik kalung itu. Hana menarik napas dan menghembuskannya perlahan untuk sedikit menenangkan diri. Dering ponsel mengagetkan gadis itu. Ternyata Kendrict yang menelpon.
"Ken, kalung yang kamu kasih cuma tiruan 'kan?" tanya Hana langsung, dia benar-benar gugup saat ini.
__ADS_1
"Kamu ngomong apa? Masa' aku kasih kamu yang tiruan? Itu asli," kata Kendrict dari seberang sana membuat Hana membeku ditempatnya.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...