
Sejak berkumpul di tempat ini ekspresi Nita sudah menunjukkan kekesalan yang sangat besar. Nita pikir dia akan pergi liburan hanya berdua dengan Kendrict, tapi ternyata pemikirannya salah. Teman-teman Kendrict yang lain juga ikut serta. Rencana-rencana yang sudah cewek itu susun rapi gagal total bahkan sebelum semua rencana itu terealisasi.
“Udah semua? Ayo berangkat. Cewek-cewek ikut mobil si Joni aja,” kata Kendrict yang sudah duduk di atas motornya.
Nita yang hendak mengeluarkan protesnya langsung ditarik oleh si pemilik mobil dan memaksanya untuk duduk di kursi depan.
“Tenang, gue nyetirnya nggak ngebut kok,” kata Joni memamerkan senyumnya. Lalu cowok bertubuh gempal itu memutari mobilnya dan segera masuk, duduk di sebelah Nita.
Rombongan Kendrict mulai berjalan menjauh dari tempat berkumpul mereka tadi. Kendrict dan Putra naik motor masing-masing, sementara yang lain menaiki mobil. Ada kurang lebih tiga mobil yang semuanya berisi teman-teman satu geng Kendrict.
Perjalanan menuju tempat tujuan ditempuh dalam waktu 2 jam. Suasana jalanan mulai padat oleh kendaraan yang sepertinya juga hendak berlibur. Selama dua jam mereka sama sekali tidak beristirahat. Memang Kendrict sudah terbiasa melakukan perjalanan jauh. Cowok itu sering kabur-kaburan bahkan tak jarang hingga luar kota.
Kini Kendrict dan teman-temannya telah memasuki kawasan dengan banyak vila ataupun penginapan di sepanjang jalan. Jarak vila milik keluarga Kendrict masih agak jauh. Mereka harus melalui jalanan kampung yang menanjak. Memang vila milik keluarga Kendrict agak terpencil dari rumah-rumah penduduk.
Setelah memalui perjalanan yang panjang, mereka akhirnya sampai di vila tersebut. Teman-teman Kendrict menatap bangunan megah itu dengan tatapan kagum, bahkan beberapa di antara mereka berdecak mengagumi bangunan yang biasanya sering mereka lihat di televisi.
“Kalian pilih sendiri kamar yang mau ditempati,” kata Kendrict.
Teman-teman Kendrict langsung berebut masuk ke dalam vila itu. Di dalam bangunan ini tak kalah megahnya. Banyak perabot mahal tentunya. Kendrict berjalan masuk setelah semua teman-temannya masuk. Matanya meneliti tiap sudut ruangan. Sudah sangat lama dia tidak berkunjung ke sini. Entah apa tujuan orang tuanya membeli tempat ini jika tidak pernah dikunjungi sama sekali.
Langkah Kendrict berhenti di halaman belakang vila. Pandangannya meluas menatap pemandangan di depannya. Sebuah tanah kosong yang juga milik keluarga Kendrict ditumbuhi oleh rumput hijau. Walau tidak pernah dikunjungi, tempat ini sangat terawat. Orang tua Kendrict mempekerjakan beberapa orang untuk merawat tempat ini. Ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul pada Kendrict.
Lagi-lagi dia kembali menaruh harapan pada kedua orang tuanya untuk bisa berlibur bersama. Kendrict terkekeh merutuki kebodohannya itu. Tangannya merogoh tas selempang yang dikenakan, mengambil sebungkus rokok lengkap dengan koreknya. Sejenak Kendrict menatap bungkus rokok di tangannya. Cukup lama dia menatap bungkus itu, tapi kemudian tangannya mengambil sebatang rokok dari dalam sana. Menyulutnya dan merasakan tiap sesapan rasa manis dari rokok itu.
Kendrict masih diam berdiri di tempatnya sembari menikmati rokoknya, sama sekali tidak terganggu dengan suara gaduh dari dalam sana. Namun, sebuah tepukan mengangetkan cowok itu dari lamunannya.
“Gue cari ternyata di sini lo,” kata Putra. Lalu tangannya merebut bungkus rokok yang masih Kendrict pegang, “Minta satu,” katanya.
Kendrict hanya mengangguk, tangannya mengangsurkan korek pada Putra. Tidak ada obrolan setelahnya. Keduanya sama-sama menikmati kesunyian di sini. Namun, kebisuan mereka tidak berlangsung lama sampai Putra bertanya pada Kendrict.
“Lagi ada masalah lo?”
__ADS_1
Kendrict menghembuskan asap rokok dari mulutnya sebelum menjawab pertanyaan Putra.
“Masalah gue banyak, Put. Gue nggak tau harus selesaiin yang mana dulu.”
“Selesaiin satu-satu. Gue yakin lo bisa.”
“Tiap gue mau selesaiin satu masalah, ada masalah lain datang. Jadi nggak kelar-kelar masalah gue.”
“Gue ….”
“Udah, nggak perlu ikut pusing mikirin masalah gue. Kita di sini mau seneng-seneng. Lupain dulu semua hal yang buat badmood.”
Putra menghembuskan napasnya melihat senyum tengil Kendrict yang seperti biasa. Tidak ada pilihan lain, selain menyetujui perkataan cowok itu.
Setelah menghabiskan rokok masing-masing, Kendrict dan Putra bergabung bersama teman-teman yang lain. Mereka semua sekarang berkumpul di ruang keluarga dengan berbagai cemilan di atas meja. Dalam sekejap tempat ini sudah seperti sarang penyamun.
“Ntar malem kita bakar-bakar. Gimana? Pada setuju nggak?” tanya salah satu di antara mereka.
“Tapi tadi gue lihat bahannya nggak ada. Tau gitu tadi kita mampir buat beli bahan bakar-bakaran.”
“Oke, kalo gitu ayo pake undian. Yang kalah harus keluar beli bahan-bahan buat bakar-bakaran.”
“Setuju!”
“Biar gue aja yang beli sama Putra,” kata Kendrict.
Sementara Putra yang namanya disebut membulatkan matanya dan menujuk dirinya sendiri.
“Sama gue aja, Ken,” kata Nita.
“Barang yang dibeli pasti banyak, biar cowok aja yang keluar. Kalian siapin yang perlu disiapin di sini,” kata Kendrict.
__ADS_1
“Oke, gitu aja. Biar kita siapin alat-alat yang diperluin.”
Kendrict mengangguk dan memnjam mobil dari salah satu temannya, lalu segera berangkat bersama Putra.
Putra memasang wajah dongkolnya. Ia masih tidak percaya dengan ucapan Kendrict tadi yang dengan entengnya menyebut namanya. Sebenarnya Putra sangat malas dengan acara yang seperti itu. Dia ingin rebahan tenang tanpa melakukan apapun.
“Ckck, muka lo nggak enak dipandang.”
“Ngapain lo ngajak gue sih? Udah bagus tadi si Nita ngajuin diri.”
“Lo tau sendiri tuh anak gimana, malah gue yang repot nanti. Mana dia cewek, nggak bisa bawa barang banyak.”
“Asem lo, bilang aja gue diajak cuma buat dijadiin babu.”
“That right!” seru Kendrict tertawa.
Mereka menuju supermarket yang jaraknya lumayan jauh dari vila. Jalanan juga cukup ramai, sepertinya mereka akan kembali ke vila malam hari. Beberapa waktu kemudian mobil yang dikendarai Kendrict sampai di sebuah supermarket. Setelah memarkirkan mobil, keduanya segera masuk untuk berbelanja semua keperluan.
“Mencar aja, Put. Biar cepet, nanti ketemu di kasir.”
Putra haanya bisa menurut, dengan ogah-ogahan dia mengambil troli dan berjalan berlawanan arah dengan Kendrict. Sementara Kendrict mulai berkeliling mencari bahan-bahan yang diperlukan untuk acara bakar-bakar sembari sesekali melihat layar ponselnya untuk mengecek apa saja yang perlu dibeli.
“Ckck, di mana lagi nih tusuk sate,” gumam Kendrict, matanya meneliti tiap rak yang dilaluinya.
Menyerah karena tidak menemukan, Kendrict pun menghubungi Putra agar cowok itu yang mencarinya. Troli yang dikendalikan Kendrict terhenti di depan rak penuh dengan permen. Matanya tertuju pada sebuah permen lollipop. Permen itu mengingatkannya pada seseorang.
Ada sebuah senyum samar tersungging, lalu tangannya mengambil sebungkus permen lollipop itu dan dimasukkan ke dalam troli. Selanjutnya, Kendrict melanjutkan langkahnya ke rak berikutnya.
Hampir dua jam Kendrict dan Putra berkeliling di supermarket ini. Beruntung semua barang yang dibutuhkan semuanya dapat dibeli. Setelah melakukan pembayaran, Kendrict dan Putra pun segera kembali ke vila.
...🏃♀️🏃♀️🏃♀️...
__ADS_1