
Rayhan mengerjapkan mata, kumandang adzan subuh membangunkannya dari tidur. "Kenapa aku bisa tertidur disini" Ucap Rayhan bangun dari sofa di ruang kantornya yang terlihat sunyi dan sepi. Rayhan merasa kaget ketika mendapati dirinya bertelanjang dada. "Ah kenapa kepalaku pusing sekali" Keluhnya memegangi kening kemudian beranjak mengambil kemeja yang berada di sebelah lalu memakainya.
"Kasihan Istriku pasti akan sedih sendirian di rumah, kenapa aku bisa ketiduran sih" Gerutunya sembari memakai jas dan melangkah keluar ruangan itu. Perusahaannya sangat sepi hanya tertinggal para security yang bertugas shift malam.
Rayhan melajukan mobilnya menuju ke rumah, ia benar-benar khawatir dengan istrinya yang pasti akan sangat cemas karena dirinya tidak pulang semalam. Rayhan segera masuk ketika sampai di rumahnya.
Perlahan Rayhan membuka pintu kamarnya, ia mengedarkan pandangan mencari keberadaan istrinya. "Sayang" Ucap Rayhan membuka pintu kamar mandi tapi nihil sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan istri tercintanya itu.
Rayhanpun memutuskan keluar kamar dan ia mendapati bi Ijah yang tertidur di ruang tamu. "Bi, maaf membangunkan" Ucap Rayhan mendekati bi Ijah yang mengerjapkan mata bangun dari tidurnya.
" Maaf tuan, saya ketiduran. Nona di mana tuan?" Tanya bi Ijah mengedarkan pandangan di sekitar Rayhan mencari keberadaan Eliza.
Alis Rayhan bertaut. "Justru itu yang ingin saya tanyakan pada bibi. Dimana istri saya, kenapa tidak ada di kamarnya?" Tanya Rayhan bingung sama hal nya dengan bi Ijah.
"Loh, bukannya nona semalam menyusul tuan ke perusahaan" Tutur bi Ijah.
Rayhan terlihat kaget dengan ucapan bi Ijah "Maksud bibi?" tanya Rayhan yang raut wajahnya berubah menjadi puncat dan cemas.
"Semalam setelah menelpon, Non Eliza menangis. Saya sudah melarangnya tuan tapi nona nekat pergi menyusul tuan dan sampai sekarang belum kembali. Bibi pikir non Eliza sama tuan" Tutur bi Ijah memberikan penjelasan.
Rayhan meraup wajahnya kasar, Ia bingung apa sebenarnya yang terjadi. "Setelah non Eliza pergi, tuan Reza datang kemari mencari non Eliza kemudian pergi menyusul non Eliza setelah tahu dari cerita bibi" Lanjut bi Ijah membuat Rayhan berpikir sejenak.
El sayang saat ini pasti ada di rumah Reza. pikir Rayhan. Kemudian beranjak. "Ya sudah bi, terima kasih" Ucap Rayhan.
Rayhan masuk ke dalam kamarnya kemudian membersihkan diri di kamar mandi lalu menjalankan sholat subuh. Setelah itu Rayhan segera berganti pakaian dan bergegas keluar dari rumah, terlihat langit masih petang ketika Rayhan kembali melajukan mobilnya menuju rumah Reza karena begitu khawatir dengan istrinya.
Rayhan beranjak keluar setelah memarkirkan mobilnya dan melangkah mendekati pintu rumah Reza dan menekan bel rumah.
Seorang ART terlihat membukakan pintu. "Cari siapa tuan" Tanyanya.
"Saya suami dari adiknya Reza, Apa Reza ada?" Tanya Rayhan balik.
"Oh mari silahkan tuan. Tuan Reza dan Nona ada di dalam kamar atas" Ucap ART itu membiarkan Rayhan masuk ke dalam rumah menuju ke lantai atas. Rayhan perlahan mendekati pintu kamar yang sedikit terbuka. Disana ia dapat melihat Reza sedang duduk tertidur di kursi dekat ranjang istrinya berbaring.
Rayhan perlahan mendekati ranjang Eliza. Ia duduk di pinggiran ranjang samping Eliza yang masih memejamkan mata dan mengabaikan Reza yang masih tertidur pulas di kursi dekatnya. "Istriku...." Lirih Rayhan mengusap halus pipi Eliza membuat istrinya itu membuka mata indahnya secara perlahan.
Eliza seketika menegang dengan nafas sedikit tercekat, wajah nya semakin pucat dan tubuhnya bergetar. Eliza kembali mengingat memori semalam saat menatap sosok dihadapannya.
"Kakak Eliza takut.....Kak Reza" Teriak Eliza terduduk dengan air mata kembali lolos dari matanya. Kejadian semalam benar-benar meninggalkan trauma ketakutan dan luka yang teramat dalam bagi Eliza. Dulu ia begitu sulit untuk jatuh cinta apalagi menyukai laki-laki karena ada bayangan Baron (Papanya) yang kejam begitu menghantuinya hingga sampai ia bertemu dengan Rayhan.
__ADS_1
Rayhan tampak bingung, hatinya serasa mencelos melihat istrinya yang ketakutan melihat dirinya.
"Sayang, ini aku suami kamu" Ucap Rayhan menjulurkan tangannya hendak menyentuh tapi seketika di tepis oleh Eliza.
"Jangan sentuh Eliza" Ucap Eliza gemetar.
Reza seketika terbangun dari tidur, ia begitu kaget mendapati sosok Rayhan berada di dekat adiknya yang ketakutan.
"Apa lagi yang ingin kamu lakukan pada adikku" Teriak Reza menarik paksa tubuh Rayhan dan menghempaskannya di sudut tembok kamar.
"Apa maksudmu Za" Tanya Rayhan bingung. Apalagi Reza seketika memberikan satu pukulan pada Rayhan membuat sudut bibirnya berdarah.
" Hentikan Kak...." Teriak Eliza beranjak bangun dari ranjang. Rayhan hendak melangkah cepat menghampiri istrinya tapi seketika tubuh kembali di tahan oleh Reza.
"Jangan dekati adikku lagi" Bentak Reza kemudian melangkah menghampiri di mana adiknya berada. "Kamu tidak apa-apa gadis kecilku" Ucap Reza merangkul pundak Eliza.
"Sayang, kita pulang ya" Ucap Rayhan lembut melangkah mendekati istrinya dan Reza berada.
Eliza sama sekali tak menghiraukan ucapan Rayhan, hatinya masih teramat sakit dengan kejadian semalam apalagi ia melihat Rayhan sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun seolah tidak ada yang terjadi semalam.
"Kakak, sakit kak" Ucap Eliza menekan dadanya kuat-kuat. Tangisnya pecah membuat Rayhan dan Reza menjadi gelisah. Reza segera mendekap tubuh Eliza kedalam pelukannya membuat Rayhan mematung bingung ada apa sebenarnya.
"Sakit kak......Eliza ingin ikut mama" Sontak kalimat Eliza membuat kedua pria tampan itu berjengit kaget, hati mereka terenyuh mendengar ucapan wanita yang sama-sama mereka sayangi.
"Jangan bekata seperti itu sayang" Rayhan lebih mendekati Eliza menjulurkan tangannya tapi di cegah oleh Reza.
"Kamu satu-satunya yang kakak miliki di dunia ini, kakak tidak ingin mendengar kamu berkata seperti itu gadis kecilku" Reza menitikan air mata tidak ingin kehilangan lagi wanita yang ia sayangi setelah mamanya. "Ada kakak, kamu tinggal bersama kakak, kakak akan menjagamu seumur hidup kakak" Ucap Reza tulus membuat Rayhan merasakan hatinya berdesir ngilu tak terima, harusnya dirinya yang berkata seperti itu.
Eliza tiba-tiba kembali merasa pusing kemudian pandangan seketika menjadi gelap lalu ambruk di pelukan Reza.
Rayhan merasa lemas melihat keadaan istrinya yang di bopong Reza dan di rebahkan kembali di tempat tidur.
Reza mengambil ponselnya dan terlihat sedang menghubungi seorang dokter setelah menyelimuti tubuh adiknya. Rayhan masih mematung lemas, bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya.
"Aku butuh penjelasanmu" Ucap Reza menarik lengan Rayhan keluar dari kamar setelah memutuskan sambungan ponselnya. "Sekarang jelaskan, kenapa kamu berselingkuh dengan Bella? apa kurangnya adikku" Bentak Reza pada Rayhan yang seketika tersentak kaget dengan ucapan sahabatnya itu. "Aku benar-benar menyesal menyerahkan adikku padamu. Aku pikir kamu laki-laki baik yang setia dan tulus menyanyangi adikku tapi nyatanya...." Reza tidak melanjutkan kalimatnya, terlihat matanya memerah menahan kekecewaan pada sahabatnya itu.
"Kamu bilang aku selingkuh dengan Bella, Apa maksud kamu Za?" Tanya balik Rayhan bingung.
"Semalam aku melihat adikku menangis keluar dari perusahaanmu, dia terlihat begitu menyedihkan seperti melihat sesuatu yang telah membuatnya hancur" Jelas Reza tersenyum miris. Rayhan masih bingung dan tampak berpikir.
__ADS_1
"Semalam aku tidak bisa mengingat apapun dan tadi subuh tiba-tiba saja aku terbangun masih dikantor, kepalaku terasa sakit" Rayhan berusaha mengingat tapi ia benar-benar semalam merasa tertidur dan tidak mengingat apapun.
"Apa maksudmu, kau jangan berbohong padaku" Ucap Reza kemudian mengeluarkan ponsel Eliza dan memutar rekaman suara Bella dan istrinya.
"Kurang ajar, wanita itu benar-benar licik" Umpat Rayhan. "Pantas saja istriku begitu membenciku" Rayhan benar-benar geram, ia pasti akan membuat perhitungan dengan wanita ular itu dan ia ingin tahu apa sebenarnya yang di inginkannya.
Rayhan sejenak terdiam kemudian menatap tulus sahabatnya itu. "Kita sudah bersahabat sejak lama, apa kamu tidak pernah tahu bagaimana aku selalu menjaga diriku selama ini" Reza menatap mata Rayhan terdapat kejujuran di dalamnya masih sama seperti dulu. Ia dan sahabatnya itu sejak dulu memiliki kesamaan yaitu benar-benar menjaga diri dan hatinya dari semua wanita terutama wanita-wanita penggoda, itulah sebabnya keduanya tidak pernah berpacaran atau dekat dengan wanita hingga usia keduanya sudah sangat dewasa.
Rayhan menghela nafas. "Didunia ini banyak sekali wanita yang menggoda diriku tapi tak satupun yang bisa membuatku tertarik dan kau tahu aku merasa jijik pada wanita-wanita seperti itu apalagi dengan Bella" Tangan Rayhan terangkat memegang pundak Reza berusaha meyakinkan sahabatnya itu. "Hanya Eliza Fadiyah adikmu, satu-satunya wanita di dunia ini yang bisa membuatku tertarik dan jatuh cinta. Hanya dengan adikmu aku ingin hidup atau aku bisa tiada tanpa adikmu" Rayhan begitu serius dengan perkataannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung......
__ADS_1
Buat yang suka dengan cerita Author, terima kasih ya ππ........Buat yang tidak berkenan, jangan di cela yaππkarena membuat alur cerita tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hargai karya Author........Semoga kalian semua terhibur.....Love you Allππ