
"Jangaaan sentuh saya.......lepaskan saya.....hiks..... hiks" Eliza seketika terduduk meringsut dengan tangannya refleks memegangi selimut menutupi tubuhnya yang bergetar ketakutan........ Keringat mengalir di wajahnya beriringan dengan air mata. "Jangan sentuh saya" Tangis Eliza sembari menggelengkan kepalanya, ketakutan masih meliputinya sampai terbawa mimpi.
Rayhan yang melihat itu, mencoba mendekati menenangkan Eliza. "El sayang jangan takut ada saya disini. Kamu akan baik-baik saja" Rayhan memeluk Eliza yang masih bergetar ketakutan dengan tangisnya.
Entah di peluk Rayhan, Eliza merasa aman. Pelukan Rayhan membuat hatinya menghangat. Aroma maskulin dari tubuh Rayhan yang tercium oleh Eliza seperti tidak asing bagi Eliza. Cukup lama keduanya pada posisi itu. Rayhan mencurahkan segala rasa kasih sayangnya pada Eliza.
Tubuh rapuh Eliza perlahan meringsut mundur dari pelukan Rayhan ketika ia kembali teringat dengan ucapan Ron bahwa Rayhan adalah laki-laki psikopat yang terobsesi pada dirinya. "Saya ingin pulang" Ucap Eliza tak ada binar di manik matanya yang biasa Rayhan lihat.
"El sayang, kamu belum sembuh masih butuh pengobatan di sini. Sabar ya" Rayhan mencoba menyentuh tangan Eliza tapi gerakannya tertahan ketika melihat Eliza memandangnya dengan rasa takut. Rayhan tahu Eliza pasti merasa bingung dengan ingatan yang hilang di tambah lagi entah racun apa yang Ron masukkan ke dalam pikiran Eliza tentang dirinya sehingga Eliza sangat ketakutan ketika ia dekati.
"Saya ingin pulang tuan.....hiks.... hiks" Eliza masih duduk dengan selimut hampir menutupi seluruh tubuhnya. Melihat itu hati Rayhan merasa sangat sakit.
"El sayang, kamu ingin pulang kemana" Lirih Rayhan bertanya, seketika pertanyaan yang Rayhan lontarkan membuat Eliza menghentikan tangisnya, dalam hati ia pun juga bertanya kemana ia akan pulang. Ia tidak ingin pulang kerumah Ron karena ia pasti akan sulit keluar lagi meskipun Ron sangat baik padanya dan Momynya Nancy juga menyanyanginya.
Eliza kembali menangis, ia merasa bingung kenapa ia merasa tidak berguna di dunia ini, bahkan untuk mengingat rumahpun ia tak bisa. "Mama.... hiks.... hiks.... aku ingin ikut Mama" Kata itu terucap dari bibirnya secara refleks mungkin hanya mamanya yang Eliza ingat dari semua mermorinya yang hilang. Kata-kata Eliza membuat Rayhan seperti terhenti bernafas mendengarnya karena waktu itu ia bertanya pada Eliza tentang keluarganya dan Eliza lebih memilih tidak menjawab dan hanya mengatakan jika ia hanya Punya Mama yang sudah tiada.
"Jangan berkata seperti itu sayang. Lihatlah aku" Rayhan mendekati Eliza duduk dihadapannya dan menakup wajah Eliza mengarahkan agar menatap wajah Rayhan. "Apa kamu tidak bisa melihat betapa saya mencintaimu sayang, jika kamu berkata seperti itu bagaimana saya bisa hidup tanpamu"Ucapan itu keluar dari bibir Rayhan dengan hati yang pilu. Bagaimana mungkin gadis yang di cintainya berpikiran ingin mati.
Eliza menatap Rayhan dengan air mata yang tak henti mengalir. "Sayang, kamu harus percaya sama saya" ucap Rayhan lembut, Eliza tidak menjawab dan hanya suasana hening yang terjadi pada keduanya saling menatap. " Sekarang kamu istirahat ya" Rayhan tidak ingin membuat Eliza terlalu banyak berpikir dengan keadaannya saat ini karena Rayhan ingin fokus pada kesembuhan Eliza.
Mata Rayhan masih terjaga memandangi gadis yang ia cintai terlelap dalam tidurnya setelah dokter Danu memberikan suntikan penenang.
__ADS_1
Pagi hari, Rayhan masih duduk berada disamping Eliza. Menggenggam erat dan mencium punggung tangan Eliza.
Rayhan sama sekali tak beranjak dari ruangan Eliza bahkan saat sholat subuh, ia lebih memilih menjalankan sholat diruangan itu. Rayhan benar-benar tidak ingin kehilangan Eliza lagi.
Perlahan Eliza membuka kedua mata indahnya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah tampan Rayhan yang tersenyum menatap dirinya. "Pagi sayang" Ucap Rayhan. Eliza mengerjapkan matanya sembari bangun dari tidur.
Eliza hanya terdiam menyikap selimut yang menutupi tubuhnya dan beranjak duduk di tepi ranjang. Rayhan bangkit dari duduknya dan mendekati Eliza. "Sayang, kamu mau ke mana? Kamu butuh sesuatu, bilang saja" Ucap Rayhan yang selalu lembut pada Eliza.
"Saya ingin ke kamar mandi tuan" Ucap Eliza sedikit malu hendak turun dari ranjang. "Tuan apa yang anda lakukan" teriak Eliza seketika kaget karena Rayhan tiba-tiba menggendongnya.
"Saya akan mengantar kamu sayang, pegang tiang infusnya" Rayhan melirik tiang infus di samping Eliza agar Eliza mengambilnya. Sekilas bayangan kejadian yang sama seperti ini muncul di ingatan Eliza. Ia seperti pernah mengalami dimana tempat yang sama dan pria tampan ini juga menggendong tubuhnya dengan infus di tangan. "Sayang kenapa diam saja" Suara Rayhan menyadarkan Eliza dari potongan ingatannya yang sedikit muncul.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
..
Bersambung.................
__ADS_1
Banyak kisahΒ² cinta yang bisa bikin baper, siap meluncur di novel ini tapi sayang update nya sering ketunda karena waktu Author buat menulisnya gak ada yang longgar...... sempit semua ππ ...........Tapi terima kasih buat yang masih berkenan mampir di novel ini...... Tujuan Author hanya ingin menghibur buat semua para Readers tercinta sekalian menyalurkan hobby Author yang suka berhalu dan menulis.π π
Jaga kesehatan selalu ya... ..love you All ππππ