Mencari Gadis Penyelamatku....!!

Mencari Gadis Penyelamatku....!!
Episode 138


__ADS_3

Mobil Rayhan melaju dengan Reno memegang setir dan Reza berada di sampingnya. Eliza masih terdiam berada di kursi belakang mobil bersama Rayhan.


Hening suasana di dalam mobil sampai tiba di rumah Rayhan.


Reza keluar dari mobil kemudian membukakan pintu untuk Eliza. "Gadis kecilku, sudahlah jangan terlalu di fikirkan. Ingat ada keponakan ku di sini" Ucap Reza memegang perut adiknya yang terlihat masih sedih.


"Maafin Eliza kak" Ucap Eliza menangis tiba-tiba memeluk Reza.


"Gadis kecilku, kakak akan selalu memaafkanmu asal kamu janji pada kakak, kedepannya jangan pernah merahasiakan apapun pada kakak dan suamimu" Ucap Reza membelai lembut kepala Eliza sedangkan Rayhan terdiam ada di sebelah mereka bersandar di mobil dengan kedua tangan dilipat di dada. " Sudah malam, istirahatlah" Reza kemudian menoleh pada Rayhan. "Ray jaga baik-baik istrimu" Rayhan mengangguk kemudian Reza perlahan melepaskan pelukannya pada Eliza. ”Kakak pulang dulu” Pamit Reza di angguki Eliza.


"Terima kasih Za, hati-hati dijalan” Ucap Rayhan.


Reza mengangguk kemudian masuk ke dalam mobil Rayhan yang siap di lajukan Reno.


Eliza masih terdiam menatap mobil Rayhan yang membawa kakaknya berlalu. "Kita masuk" Ucap Rayhan menarik tangan Eliza masuk ke dalam rumah. Eliza hanya terdiam merasa bersalah mengikuti langkah dan tarikan tangan Rayhan.


Rayhan menarik Eliza masuk ke dalam kamar, mendudukkan Eliza di pinggiran ranjang. Eliza menunduk tidak berani menatap Rayhan yang berdiri di hadapannya menahan kekecewaan. "Jika tadi aku tidak datang apa yang akan terjadi sayang?" Tanya Rayhan melihat istrinya yang tidak berani menatapnya.


"Maaf" Ucap Eliza masih menunduk meremas bajunya merasa takut jika Rayhan marah pada dirinya.


"Kau tahu sayang, aku bisa tiada jika kehilangan kalian" Terlihat Rayhan menahan genangan air di pelupuk matanya yang hampir mengalir. "Sebenarnya kau anggap apa aku ini di hidupmu sayang?" Ucap Rayhan menghela nafas mengusap air mata yang sempat ia tahan. "Apa aku tidak berarti hingga dengan mudah kau bisa meninggalkanku begitu saja" Rayhan meraup wajahnya kasar membalikkan badan memunggungi Eliza yang perlahan berdiri dari duduknya.


"Maaf kak, bukan seperti itu....hiks....hiks....." Lirih Eliza menangis merasa sakit dengan ucapan Rayhan. "Aku sayang sama kak Ray" Eliza memeluk punggung Rayhan. "Kak Ray jangan marah sama Eliza, cukup papa yang tidak menginginkan Eliza di dunia ini" Eliza semakin menangis.


Hati Rayhan seketika tersentak, ia sadar sebenarnya Eliza sepenuhnya tidak bersalah dan justru Eliza lah korban disini atas kejahatan papanya. "Sudah malam istirahatlah" Ucap Rayhan.


"Tidak, sebelum kak Ray mau maafin Eliza" Eliza semakin mengeratkan pelukannya.


"Istirahatlah...." Lirih Rayhan perlahan melepas tangan Eliza yang memeluknya. Rayhan ingin menenangkan pikirannya akan bayang-bayang kehilangan istri dan anaknya jika saja ia tadi tidak datang tepat waktu.

__ADS_1


"Kak..." Lirih Eliza melihat Rayhan berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Eliza bisa memaklumi jika mungkin Rayhan masih belum bisa memaafkan dirinya karena kesalahan yang ia perbuat.


Eliza masih terdiam melihat Rayhan menutup pintu kamar mandi.


Kak Ray masih marah, sebaiknya Eliza tidak mengganggu kak Ray dulu. Pikir Eliza yang tidak ingin membuat Rayhan lebih kesal lagi.


Eliza pun melangkah mengambil baju ganti di lemari lalu keluar kamar. Ia menuruni tangga menuju ke dalam kamar tamu yang berada di bawah. Eliza masuk ke dalam kamar mandi membersihkan dirinya.


Selesai mandi, Eliza merebahkan dirinya di kasur merasa lelah, ingatannya kembali berputar tentang kejadian tadi membuat air matanya kembali mengalir. "Ma, kenapa Baron tega sama Eliza" Lirih Eliza hingga lama kelamaan ia pun tertidur.


Rayhan keluar dari kamar mandi, Ia mengedarkan pandangan tidak mendapati istrinya. Rayhan pun mengganti baju kemudian merebahkan diri di ranjang, ia mengira istrinya sedang pergi ke dapur. Cukup lama Rayhan termenung hingga ia baru menyadari istrinya belum juga kembali.


"Sayang..." Panggil Rayhan melangkah keluar kamar. Rayhan menuruni anak tangga menuju dapur dan ruang tamu tapi ia tidak mendapati Eliza. Rayhan terlihat cemas, ketakutan di tinggalkan Eliza mulai menjalar di pikirannya lagi. "Istriku...." Panggil Rayhan lagi tapi tak ada sahutan. Rayhan hendak melangkah kembali ke kamar untuk mengambil ponsel tapi seketika langkahnya terhenti melihat ada penerangan di kamar tamu bawah.


Ceklek...Rayhan membuka pintu kamar bawah, perasaannya menjadi lega seketika melihat istrinya tertidur di ranjang. Rayhan perlahan melangkah duduk di pinggiran ranjang.


Rayhan masih memandangi istrinya, meskipun begitu besar rasa takut kehilangan Eliza tapi ada sedikit rasa lega setelah kejadian tadi. Sebuah kenyataan bahwa Ron rivalnya selama ini adalah kakak dari Eliza membuat Rayhan merasa tenang di tambah lagi ia kini tahu kakeknya Bara adalah pria yang baik sesuai dengan keyakinannya.


Rayhan perlahan ikut merebahkan diri di samping Eliza memeluk istrinya erat hingga ikut masuk ke alam mimpi.


Disisi lain Ron mengendarai mobilnya kencang dan memberhentikannya di sebuah bar. Ron menenggak banyak minuman keras hingga mabuk berat. Nancy yang merasa cemas, mencari keberadaan Ron dengan bantuan John yang baru tiba dari perancis karena mengurusi perusahaan Ron yang berada di sana.


"Ron, anakku" Ucap Nancy mendapati Ron di dalam sebuah bar.


"Momyku sayang, kau pasti berbohong padaku kan....haha..." Racau Ron tertawa kemudian perlahan berganti tangis yang pecah begitu saja. "Momy kau sungguh kejam padaku......kau membuat sebuah benteng yang tak kasat mata antara aku dan Jolieku....aku harus bagaimana untuk menghancurkan benteng itu Mom.....aku tidak mau Jolieku menjadi adikku, aku ingin Jolie menjadi istriku Mom...." Nancy semakin menangis mendengar ucapan Ron dalam mabuknya.


"Nak...." Lirih Nancy memeluk Ron yang duduk bersandar di sofa dalam club itu.


"Kenapa hidup selalu memperlakukan aku tidak adil sejak kecil Mom.....kenapa kau juga berlaku seperti itu padaku....kenapa Mom....." Ron menangis dalam pelukan Nancy.

__ADS_1


"Maaf Nak..." Hanya itu kata yang sanggup di ucapkan Nancy melihat anaknya yang hancur.


"Nyonya sebaiknya kita bawa tuan pulang dulu" Ucap John mendekat kemudian membopong tubuh Ron keluar dari club malam membawa masuk ke dalam mobil dan melajukannya bersama Nancy yang masih menangisi anaknya.


Ron masih mabuk berat ketika John merebahkan di dalam kamar tidurnya. "Jolie....Jolieku...." Rintih Ron dalam mabuknya.


"Terima kasih John" Ucap Nancy menyelimuti tubuh Ron. "Maaf merepotkanmu, kamu istirahatlah biar saya yang menjaga Ron"


"Baik nyonya saya permisi dulu" Ucap John berlalu keluar kamar meninggalkan Nancy yang duduk di pinggiran ranjang menatap anaknya yang masih terus memanggil nama Jolie.


**


Masih terus berdiri di tempat yang sama dengan meratapi semua kenyataan yang baru ia ketahui. Baron berteriak sekeras mungkin, hingga membuat Rudi yang berada di sampingnya bingung tidak tahu harus bagaimana menghadapi tuannya itu.


"Boodoooh......aku memang bodoh....Rud...!!!" Teriak Baron. "Aku kehilangan ketiganya Rud, anak-anakku darah dagingku....kenapa aku begitu bodoh.....kenapa aku baru tahu itu semua saat sudah begitu menyakiti mereka semua..!!!!" Baron terduduk di jalan setelah memukul mobilnya keras. Harusnya saat ini ia senang punya dua jagoan yang sangat tampan, gagah dan satu bidadari cantik dalam hidupnya yang akan membuatnya bangga tapi semua sudah terlambat karena tidak akan mungkin mendapatkan maaf dari ketiganya.


.


.


.


.


.


.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2