
Hari ini di restoran XX tampak Rayhan dan Reno sedang menunggu kedatangan Bella. Rayhan benar-benar ta sabar, ia tidak perduli lagi dengan masalah kerja sama dengan perusahaan Bella. Saat ini ia hanya ingin tahu apa yang di inginkan wanita licik itu, kenapa menjebak dirinya.
"Apa kamu yakin dia akan datang Ren?" Tanya Rayhan pada Reno yang duduk di sebelahnya.
"Mudah-mudahan tuan, kemarin saya sudah menghubungi sekretaris nyonya Bella dan mengingatkannya tentang pertemuan miting kali ini" Jawab Reno yang sedikit cemas dan berulang kali menatap benda digital yang melingkar ditangannya.
Cukup lama keduanya menunggu hingga akhirnya Reno pamit pada Rayhan untuk ke toilet.
Di parkiran restoran, Bella tampak turun dari mobil seorang diri. Bella melangkahkan kakinya menuju pintu masuk restoran. Wanita yang selalu berpenampilan seksi itu sejenak mengedarkan pandangan ketika melalui pintu masuk restoran.
Senyum seringainya muncul ketika melihat Rayhan yang sedang terlihat seorang diri. "Selamat siang tuan Rayhan" Sapa Bella ketika sudah berada dekat tempat duduk Rayhan. Bella tampak tersenyum seperti merasa tidak bersalah sama sekali, berbeda dengan Rayhan yang tampak mengepalkan tangan menahan amarah melihat kedatangan Bella yang tanpa malu duduk di sampingnya.
Rayhan tak menjawab sapaan Bella. "Akhirnya kau muncul juga" Sungut Rayhan menatap sinis Bella. "Aku tidak ingin basa basi, apa yang kau inginkan dariku dan kenapa kau menjebak serta memfitnahku di depan istriku. Katakan!!!" Bentak Rayhan yang sejenak membuat kaget para pengunjung lain di restoran.
Bella hanya menyeringai, dia seolah tidak gusar melihat kemarahan Rayhan. "Apa maksudmu tuan Rayhan" Tanya Bella berpura-pura tidak mengerti.
"Kau benar-benar wanita licik, jangan paksa aku untuk menggunakan kekerasan" Ancam Rayhan memegang lengan tangan Bella dengan keras membuat Bella mengeryit merasakan sakit pada lengan tangannya.
Disisi lain tampak Eliza dan Reza juga baru tiba di restoran yang sama dengan Rayhan berada. Hari ini Reza sengaja mengajak adiknya untuk makan di luar karena merasa kasihan pada Eliza yang pasti merasa jenuh berada di rumah. "Kamu masuk dulu dan pilih tempat duduk sesukamu nanti kakak menyusul, kakak mau menerima telp dulu" Ucap Reza beranjak meninggalkan Eliza yang berada di depan pintu restoran. Eliza mengangguk menatap kakaknya yang pergi dengan ponsel di telinga mencari sinyal di luar restoran.
Perlahan Eliza melangkahkan kakinya melewati pintu restoran mengedarkan pandangan, ia ingin mencari tempat duduk yang nyaman. Perlahan ia berjalan tanpa sengaja mendekati di mana meja Rayhan berada.
Langkah Eliza terhenti ketika mata polosnya menatap dimana Rayhan yang memunggunginya sedang memegang lengan Bella. Bella yang merasakan sakit pada lengannya, secara tidak sengaja matanya menangkap keberadaan Eliza yang berdiri dibelakang Rayhan sedang menatap dirinya pada posisi itu, akhirnya terbesit ide jahil di benaknya.
Bella tiba-tiba memeluk erat Rayhan membuat Rayhan seketika berjengit kaget dan semakin emosi, "Apa yang kau lakukan" Rayhan berusaha melepas pelukan Bella yang semakin erat.
PRAAK...... Suara ponsel terjatuh dari genggaman tangan Eliza membuat Rayhan menoleh pada asal suara. Rayhan terlonjak kaget dengan mata terbuka lebar menatap istrinya yang sedang melihatnya pada posisi itu.
"Istriku......" Ucap Rayhan mendorong keras Bella hingga jatuh tersungkur.
__ADS_1
"Ah sakit sayang kenapa mendorongku, kemarin-kemarin kau begitu senang dengan servis yang kuberikan sekarang mendorongku hanya karena gadis kecil itu" Ucap Bella sengaja berbohong yang masih terduduk di lantai.
"Tutup mulutmu pembohong...!!! dasar kau wanita licik" Bentak Rayhan. Ia perlahan melangkah ingin mendekati istrinya yang terlihat menatapnya dengan sorot mata yang menyakitkan bagi siapapun yang melihat terutama Rayhan.
Eliza masih berdiri di sana meremas gaunnya dengan tangan yang begetar. Lelehan cairan bening akhirnya tumpah bersamaan dengan isakan tangis yang keluar dari bibirnya. "Eliza benci kak Ray......!!!" Teriak Eliza berbalik dan melangkahkan kakinya cepat meninggalkan Rayhan yang berteriak memanggil namanya.
"Tunggu El sayang" Teriak Rayhan meraih tangan Eliza membuat Eliza refleks berbalik menghadap dirinya. Rayhan merasa sakit lagi-lagi ia menhancurkan senyum gadis itu dengan bertambahnya kesalah pahaman pada dirinya.
"Lepasin Eliza.....hiks.....hiks....." Teriak Eliza menepis tangan Rayhan.
"Sayang, aku bisa jelasin" Ucap lembut Rayhan tangannya terangkat ingin berusaha lagi menyentuh istrinya tapi lagi-lagi Eliza menepisnya.
"Jangan pernah sentuh Eliza lagi, Eliza ingin cerai dari kak Ray.....!!"
JEDAAR.......Ucapan Eliza seperti kilatan petir yang menyambar hati Rayhan membuatnya berdesir perih, sakit teramat ia rasakan pada hatinya. "Jangan ucapkan itu sayang, lebih baik aku tiada daripada harus berpisah darimu" Ucap Rayhan yang tanpa ia sadari air matanya juga ikut lolos membasahi pipinya. Bukan ini yang ia inginkan, bukan seperti ini. Rayhan tidak tahu harus bagaimana menjelaskan kesalah pahaman semua ini pada istrinya.
"Aku ingin berpisah darimu" Lirih Eliza yang masih diiringi isakan tangis. Eliza kembali melangkahkan kaki meninggalkan Rayhan yang masih mematung kaget dengan ucapan Eliza.
Bruuugh.....
"Maaf....."Ucap Eliza tanpa menoleh pada orang itu.
"Jolie sayang, kamu kenapa?" Tanya orang itu membuat seketika Eliza menatapnya karena tidak asing dengan nama panggilan itu.
"Paman.....!!" Ucap Eliza kaget beringsut mundur.
"Jolie, apa yang terjadi?" Tanya Ron lagi mendekati Eliza hendak menyentuh pundak Eliza tapi seketika tangannya di tepis oleh seseorang.
"Jangan sentuh istriku" Ucap Rayhan membuat keduanya menoleh padanya sedangkan John masih setia berada di belakang Ron.
__ADS_1
"Kau sebut dia istri tapi kenapa kau biarkan istrimu menangis seperti itu" Sungut Ron.
"Itu bukan urusanmu" Geram Rayhan. Dirinya sama sekali tidak merasa kaget dengan keberadaan Ron karena sudah mengetahui kalau Ron pasti akan bebas dengan mudah setelah ia mencabut tuntutannya.
"Semua akan menjadi urisanku jika itu menyangkut tentang Jolieku" Ucap Ron menatap Rayhan sinis.
"Kau.....!!" Rayhan sudah tidak bisa menahan emosi.
Eliza hanya terdiam berdiri di sana merasakan sakit pada kepalanya. Ia sudah tidak memperdulikan lagi pertengkaran antara Rayhan dan Ron.
Eliza perlahan melangkah mundur hingga punggungnya menghimpit seseorang yang berjalan mendekatinya dari belakang. "Gadis kecilku ada apa?" Eliza berbalik dan memeluk kakaknya erat. Reza mendekap adiknya dan menatap kedua pria itu yang menoleh padanya. Reza sempat merasa kaget dengan keberadaan Ron yang sudah bebas dari penjara. "Ada apa sayang" Tanya Reza lagi yang begitu khawatir dengan adiknya.
"Kakak, Eliza ingin pulang. Eliza benci dengan mereka semua. Semua jahat sama Eliza" Tangis Eliza semakin pecah dalam dekapan Reza hingga kesadarannya mulai menghilang. Eliza seketika pingsan.
"Gadis kecilku...." teriak kaget Reza segera menggendong Eliza.
"Istriku....." Rayhan begitu khawatir mendekati istrinya, "Biar aku yang menggendongnya Za" Pinta Rayhan pada Reza tapi di tolak oleh Reza.
"Tidak perlu Ray, untuk sementara biarkan adikku tenang dulu. Aku tidak ingin adikku menjadi depresi karena ulah kalian" Ucap Reza dingin menatap tajam kedua laki-laki itu secara bergantian sebelum beranjak menggendong tubuh Eliza masuk kedalam mobil.
Rayhan mematung menatap kepergian istrinya bersama kakak iparnya itu sedangkan Ron menyeringai senang rencananya dan Bella telah berhasil.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.......