
Eliza merasa kaget karena saat membuka pintu sudah ada Rayhan menunggunya di depan kamar mandi. "Sudah selesai sayang? apa mau aku gendong lagi" Ucap Rayhan tersenyum. Eliza menatap Rayhan dan segera menggelengkan kepala perlahan sebagai jawaban sebelum Rayhan benar-benar akan menggendongnya. " Ya sudah kamu istirahat ya" Rayhan mengambil alih tiang infus yang dibawa Eliza dan mengantarkannya perlahan ke ranjang.
Perlahan Eliza duduk di tepi ranjang, Rayhan terlihat mengambil sisir dan handuk kecil di meja dekat ranjang tempat Eliza duduk. Rayhan masih dengan tersenyum mendekati Eliza, sebuah handuk kecil mendarat lembut di wajah Eliza. "Tuan mau apa?" Refleks tangan Eliza menepis tangan Rayhan.
"Kamu tadi habis cuci muka kan, saya hanya ingin membantu mengeringkannya sayang" Tangan Rayhan kembali terangkat mengusap wajah putih mulus Eliza dan Eliza hanya terdiam, lagi-lagi ada desiran aneh dalam hatinya saat berhadapan begitu dekat dengan Rayhan. "Cantik" sebuah kata keluar begitu saja dari bibir Rayhan tanpa terkendali karena betapa ia mengaggumi gadis yang berada di hadapannya saat ini.
"Apa tuan" Eliza memastikan pendengarannya, menatap manik mata Rayhan. Rayhan lagi-lagi hanya menanggapinya dengan tersenyum.
"Kekasih saya benar-benar cantik" Rayhan beralih dengan sisir yang ia pegang. Masih dihadapan Eliza yang terduduk di tepi ranjang, Rayhan menyisir lembut rambut Eliza. Jika di lihat dari beberapa posisi Rayhan tampak seperti mengalungkan tangannya sedang memeluk Eliza. Desiran halus nafas Rayhan yang tampak serius dengan sisir yang perlahan dengan lembut ia daratkan di rambut Eliza membuat degup jantung Eliza berdetak kencang bersahutan dengan degup jantung Rayhan karena dada bidang pria tampan itu saat ini tepat di hadapannya. Eliza merasakan seperti ada bunga yang tiba-tiba tumbuh di hatinya.
Sebuah kuncir kuda sudah terbentuk dirambut panjang Eliza. "Manis sekali" Ucap Rayhan yang telah selesai dengan sisirnya beralih memandang wajah kekasihnya itu. Tangan Eliza refleks terangkat perlahan menyentuh tangan Rayhan yang masih memegang sisir. Eliza kembali merasakan seperti pernah mengalami kejadian yang sama, laki-laki yang berada di hadapannya saat ini terlihat sekilas di ingatan pernah menyisir rambutnya dalam keadaan yang sama yaitu di rumah sakit.
"Tuan" Ucap Eliza perlahan ingin bertanya pada Rayhan. Rayhan yang tangannya di sentuh oleh Eliza tampak merasa sangat senang, "Apa pernah ada kejadian seperti ini?" Pertanyaan Eliza menganggetkan Rayhan, apa Eliza sudah kembali mengingat dirinya.
"Apa kamu ingat sayang" Rayhan balik bertanya pada Eliza yang terlihat sedang bingung. Rayhanpun berjongkok di hadapan Eliza sembari memegang tangan Eliza.
Eliza perlahan menggeleng. "Saya merasa sepertinya anda pernah menyisir rambut saya saat berada di rumah sakit" Rayhan tersenyum meskipun ada sedikit kekecewaan karena ia berharap Eliza ingat dengan dirinya.
"Saat itu kamu mengalami alergi karena memakan tumis kerang. Saya yang menjaga kamu saat itu di rumah sakit ini"
"Dan dengan dokter tampan yang sama pula nona Cantik" Sahutan sebuah suara tiba-tiba muncul dari balik pintu yang terbuka membuat Rayhan dan Eliza beralih menoleh pada dokter Danu yang baru datang dan sempat mendengar percakapan keduanya. Rayhan pun berdiri dari posisinya ketika dokter Danu melangkah mendekati mereka.
"Selamat pagi nona Cantik, bagaimana keadaanmu hari ini. Apa ada keluhan?" Dokter tampan itu pun memeriksa Eliza.
"Tidak ada dokter" Ucap Eliza sembari menggelengkan kepala seperti anak kecil.
__ADS_1
Imutnya...... Bathin kedua rival tampan itu menatap Eliza.
"Pasti keluhan ada di tangan kamu kan nona Cantik" Goda dokter Danu menunjuk tangan Eliza yang terpasang jarum infus karena ia masih ingat benar gadis yang di cintainya itu takut jarum suntik.
"Darimana dokter tahu? Apa dokter mengenal saya?" tanya Eliza setelah mendengar penuturan dokter muda itu yang benar adanya.
"Tentu saja saya mengenal anda nona Cantik. Kita itu sangat dekat sekali bahkan... " belum sempat dokter tampan itu melanjutkan ucapannya sudah ada sela suara seseorang berdehem yang sedang berdiri disampingnya melipat kedua tangan di depan dada bersandar pada meja dekat ranjang Eliza dengan tatapan tajam. "Haha.......saya bisa di bilang dokter sekaligus teman anda nona Cantik" ralat dokter Danu tertawa ketika menoleh pada Rayhan yang sudah tercetak jelas aura kecemburuan di wajahnya.
"Dokter jika anda teman saya, anda pasti tahu siapa saya dan nama saya?" tanya Eliza yang merasa bingung karena tiga pria tampan yang ia jumpai memanggilnya dengan panggilan yang berbeda. Jika Rayhan memanggilnya dengan nama Eliza, sedangkan Jolie untuk panggilan dari Ron dan saat ini dokter muda itu memanggilnya dengan nona Cantik.
"Tentu saja nama anda nona Cantik bagi saya" Lagi-lagi terdengar suara orang berdehem di sebelah dokter muda itu, membuatnya tertawa untuk kedua kalinya karena ia senang bisa sedikit menggoda rivalnya agar tidak terlihat sedih karena sedari berjumpa kemarin hanya gurat kesedihan yang tampak di wajah Rayhan yang cemas dengan keadaan kekasihnya. "haha..... Maaf-maaf saya hanya bercanda, nama anda sebenarnya adalah Eliza Fadiyah" dokter Danu pun melihat Eliza terdiam tampak sedang berusaha mengingat nama itu. "Nona Cantik, jangan terlalu di paksakan untuk mengingat karena anda bisa terserang sakit kepala lagi. Ingatan anda akan berangsur kembali pulih dengan sendirinya. Anda harus bersabar"
Jika namaku adalah Eliza lalu kenapa paman memanggilku Jolie. Guman Eliza dalam hati.
"Terima kasih dokter" balas Rayhan dingin masih merasa kesal.
Setelah kepergiaan dokter Danu dari ruangan Eliza yang sudah selesai dengan pemeriksaannya, Hanna datang menjenguk Eliza. Eliza sempat kaget karena gadis SMU itu tiba-tiba datang keruang dimana ia di rawat.
"Bagaimana keadaan kakak cantik?" Hanna tersenyum mendekati Eliza ikut duduk disamping Eliza di pinggiran ranjang setelah meraih dan mencium punggung tangan Rayhan.
"Kenapa kamu ada disini?" bukan jawaban tapi Eliza balik bertanya karena masih bingung apalagi melihat Hanna mencium punggung tangan Rayhan.
"Hanna adalah adik saya, terima kasih ya sayang kamu sudah menyelamatkan Hanna" Rayhan mendekati Eliza. Eliza hanya mengangguk sembari menoleh pada Rayhan. Sebenarnya masih ada rasa takut yang di rasakan pada Rayhan ketika mengingat ucapan Ron. "Sayang, nanti kamu pulang kerumah kami ya" Mendengar ucapan Rayhan Eliza membulatkan mata sempurna di iringi dengan gelengan kepala, mana mungkin ia pulang dengan laki-laki yang psikopat dan terobsesi pada dirinya......
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.......
Happy reading...... jaga kesehatan selalu ya..... jangan lupa untuk selalu menyematkan doa disetiap memulai aktifitas ..... love you All 😍😍
__ADS_1