Mencari Gadis Penyelamatku....!!

Mencari Gadis Penyelamatku....!!
Episode 126


__ADS_3

Rayhan mencium perut dan kening Eliza menunjukkan betapa ia menyanyangi istri dan calon anak-anaknya sebelum ia berangkat ke kantor.


Eliza mencium punggung tangan Rayhan. "Hati-hati di jalan kak" Ucap Eliza di angguki oleh Rayhan.


"Aku mencintai kalian, kamu juga hati-hati di rumah sayang" Ucap Rayhan sebelum masuk mobil dan melajukannya.


Eliza masih berdiri di depan rumah menatap mobil Rayhan yang perlahan menghilang dari pandangannya. "Maaf kak, Eliza tidak bisa bilang kalau Eliza akan mememui papa" Guman Eliza pelan kemudian perlahan ia masuk ke rumah dan berganti pakaian bersiap-siap untuk menemui Papanya atas permintaan pak Rudi.


Setelah selesai bersiap, Eliza bergegas keluar rumah karena sudah ada sebuah mobil suruhan pak Rudi yang menunggunya di depan gerbang.


"Maaf nona anda mau kemana?" Tanya pengawal Rayhan yang berjaga di pos depan.


"Aku ingin keluar sebentar dan sudah minta ijin dari tuan dan aku juga sudah memesan taksi on line jadi kalian tidak perlu mengantarku" Bohong Eliza nampak gugup.


"Baiklah nona jika anda sudah minta ijin tuan" Ucap pengawal itu yang nampak mengeluarkan ponsel dari sakunya menghubungi tuannya setelah melihat Eliza berjalan keluar gerbang rumah.


Dengan tampak ragu-ragu Eliza masuk ke dalam mobil itu. Mobil itu melaju membawa Eliza ke sebuah apartement mewah. Eliza perlahan menekan tombol pintu apatement itu.


"Silahkan nona Eliza" Ucap pak Rudi membukakan pintu. Eliza perlahan berjalan mengikuti langkah pak Rudi menuju sebuah kamar, terlihat Baron papanya sedang duduk di sebuah kursi yang berada di balkon kamar itu dengan wajah pucat memejamkan mata sebuah syal melingkar di lehernya.


Pak Rudi menunduk pada Eliza sebagai tanda ia berpamitan meninggalkan mereka tanpa suara. Eliza terdiam memandang Baron yang masih belum mengetahui keberadaannya. "Pa..."Ucap Eliza memberanikan diri membuka suara berdiri tidak jauh dari keberadaan Baron. Ia berusaha untuk melupakan potongan-potongan ingatan masa lalu di mana Baron menyakiti mama dan dirinya karena biar bagaimanapun laki-laki paruh baya itu adalah ayah kandung yang harus ia hormati apalagi saat ini Baron sedang sakit parah.


Baron seketika membuka mata dan menoleh pada asal suara. "Eliza..." Lirih Baron beranjak dari duduknya dengan tangan memegang dadanya seolah menahan sakit.


Eliza masih berdiri terdiam mematung menatap Baron. Perlahan Baron mendekati Eliza kemudian memeluknya dengan erat. "Maafkan papa Eliza" Ucap Baron tapi tidak mendengar jawaban dari Eliza kemudian ia melonggarkan pelukannya, sejenak menatap Eliza. "Kamu mau kan memaafkan papa" Eliza tidak tahu harus berkata apa dan hanya bisa mengangguk membuat Baron kembali memeluknya.


Sejak ia lahir baru saat ini Eliza bisa merasakan pelukan hangat dari seorang ayah. Air mata jatuh begitu saja dari manik mata indah Eliza. Ia memang rindu punya ayah, rindu kasih sayang seorang ayah yang sedari kecil tidak ia dapatkan sama sekali dari seorang Baron.


Papa memelukku dan meminta maaf.....Ya Allah semoga papa benar-benar sudah berubah dan menyesali perbuatannya pada mama dulu. Guman Eliza dalam hati.


"Papa lagi sakit, sebaiknya istirahat saja" Ujar Eliza membuat Baron perlahan melonggarkan pelukannya.

__ADS_1


"Dari mana kamu tahu kalau papa lagi sakit, jangan bilang dari Rudi" Ucap Baron seketika. "Padahal aku sudah memintanya agar tidak memberi tahu siapapun" Kesal Baron.


"Pak Rudi merasa khawatir sama papa, papa saat ini butuh dukungan dari keluarga. Biar Eliza bilang ke kak Reza juga" Eliza hendak mengambil ponsel di tasnya tapi seketika di tahan oleh tangan Baron.


"Jangan Nak, ini sudah takdirku. Aku harus menjalaninya karena semua kesalahan-kesalahanku pada kalian" Baron mengajak Eliza duduk berdampingan di kursi.


"Tapi jika kak Reza dan kak Ray tahu mereka pasti akan bisa membantu untuk pengobatan papa" Ucap eliza berusaha membujuk Baron agar menyetujui keinginannya.


"Sudahlah Eliza, papa tidak apa-apa. Kamu jangan khawatir, aku tidak ingin merepotkan kalian. Papa mohon kamu berjanji tidak akan memberitahu kakak dan suamimu" Pinta Baron memegang pundak Eliza.


"Tapi pa...."


"Papa mohon nak" Pinta Baron lagi yang terpaksa di angguki oleh Eliza. "Papa juga sebenarnya tidak ingin kamu tahu penyakit papa tapi sudahlah, sekarang yang terpenting kamu sudah mau memaafkan papa" Baron memegang tangan Eliza yang menanggapi ucapannya dengan tersenyum.


Cukup lama Eliza menemani Baron di rumahnya bahkan makan siang bersama hingga tanpa terasa hari menjelang sore dan ia berpamitan pulang.


"Apa ada cara agar penyakit papa bisa di sembuhkan?" Tanya Eliza pada pak Rudi yang mengantarnya sampai di depan pintu apartemen Baron.


"Kenapa?" Tanya Eliza mengernyit.


"Nona, tuan mungkin akan bersedia melakukan pengobatan itu jika ada keluarga yang mau menemaninya ke luar negri dan saya pikir keluarga yang tepat adalah anda nona anak kandungnya" Ucap Rudi.


"Mana mungkin pak, Eliza pasti tidak di ijinkan sama kak Ray, apa sebaiknya Eliza beritahu kak Reza agar bisa menemani papa" Tawar Eliza yang merasa bingung.


"Sebaiknya jangan nona, apa nona tahu tuan Reza begitu membenci tuan Baron dan saya takut penyakit tuan bertambah parah jika mengetahui tuan Reza tidak bisa memaafkannya" Ucap Rudi membuat Eliza terdiam. "Semua keputusan ada di tangan anda nona Eliza mengenai kesembuhan tuan Baron. Nona, biar bagaimanapun tuan Baron adalah papa anda. Saya harap anda bisa membujuk dan menemaninya melakukan pengobatan di luar negeri" Ujar pak Rudi pada Eliza.


"Entahlah pak, Eliza bingung berikan waktu untuk Eliza berpikir" Ucap Eliza.


"Jika anda siap silahkan hubungi saya nona, biar bagaimanapun penyakit tuan semakin lama akan semakin parah jika tidak segera di lakukan operasi dan pengobatan di luar negeri. Nona hanya perlu mengantar menemani dan menyemagatinya sampai operasi berlangsung dan setelahnya anda bisa kembali pulang biar saya yang akan merawatnya" Jelas pak Rudi yang sudah membukakan pintu mobil untuk Eliza. "Silahkan nona"


Eliza mengangguk, "Terima kasih pak" Ucap Eliza masuk ke dalam mobil dan di angguki oleh pak Rudi.

__ADS_1


Mobil itu melaju membawa Eliza kembali pulang ke rumah. "Terima kasih pak" Ucap Eliza pada supir yang mengantarnya ketika sudah sampai. Eliza perlahan memasuki gerbang, melewati pos dan nampak sudah ada mobil Rayhan terpakir di depan rumahnya.


"Kak Ray...." Lirih Eliza segera bergegas masuk ke dalam rumah merasa bersalah karena ia tidak meminta ijin keluar rumah di tambah lagi ia juga berbohong pada pengawal suaminya itu. Eliza perlahan membuka pintu rumah ia berjalan mencari keberadaan Rayhan.


Eliza menoleh ke ruang tamu tampak Rayhan sudah duduk di sofa menatap dirinya. "Dari mana sayang" Tanya Rayhan dengan ekpresi wajah yang terlihat menahan kesal.


Eliza bejalan menunduk mendekati Rayhan dan berdiri tepat di depan Rayhan yang masih duduk di sofa. "Kak Ray sudah pulang? apa mau makan? Eliza siapin ya" Ucap Eliza gugup terlihat begitu jelas bagi Rayhan bahwa istrinya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Dari mana sayang" Tanya Rayhan sekali lagi tidak menjawab pertanyaan Eliza. Rayhan sebenarnya sama sekali tidak bisa marah pada Eliza hanya saja saat ini dia benar-benar khawatir dengan Eliza dan anak-anaknya apalagi ada Ron yang berniat memisahkan mereka.


"Eliza hanya ingin jalan-jalan kak" Jawab Eliza merasa takut karena terlihat Rayhan sedang mencurigainya.


"Kenapa berbohong pada pengawal, di sini ada mobil dan supir kenapa kamu memesan taxi online. Apa kamu tidak tahu betapa khawatirnya aku seharian ini" Kesal Rayhan beranjak dari duduknya mendekati Eliza.


"Maaf kak" Eliza memilih tidak menjawab pertanyaan Rayhan karena ia tidak ingin berbohong lagi pada suaminya.


Rayhan menghela nafas, ia tidak tahu harus berkata apa. Rasa khawatir yang ia rasa benar-benar membuatnya ketakutan seharian ini memikirkan istri dan calon anak-anaknya. Ia sama sekali tak bisa marah pada Eliza. Tanpa berkata Rayhan lebih memilih melangkah menuju ke dalam kamarnya meninggalkan Eliza yang masih mematung merasa bersalah.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2