
Pagi hari yang cerah, sudah seminggu setelah kejadian itu Rayhan benar-benar siaga karena tidak tahu entah rencana apalagi yang akan di lakukan Ron untuk bisa mendapatkan Eliza.
Rayhan saat ini sudah berada di ruang makan menikmati sarapan pagi yang dihidangkan oleh istri tercintanya. "Kak hari ini jam sembilan, Eliza ada jadwal periksa ke dokter kandungan" Ucap Eliza duduk disamping Rayhan.
"Ok, aku antar ya sayang" Rayhan masih menikmati sarapan paginya.
"Kak Ray gk kerja, katanya ada miting hari ini dengan kak Reza" Ucap Eliza tersenyum merasa senang melihat suaminya begitu lahap menikmati masakannya.
"Nanti aku bilang sama Reza biar mitingnya setelah nganterin kamu periksa sayang"
"Aku gak apa-apa kok kak, biar Eliza periksa sendiri nanti" Ucap Eliza membuat Rayhan menoleh pada istrinya itu yang sama sekali belum menyentuh sarapannya.
"Aku anterin sayang, istri dan anakku lebih penting" Rayhan mengambil alih sendok yang sedari tadi hanya di pegang saja oleh Eliza. "Kamu dari tadi kenapa gak sarapan sayang" Ucap Rayhan hendak menyuapi Eliza.
"Eliza neg kak..." Menutup mulutnya sambil menggeleng.
Rayhan mengeryit, "Sayang kalau kamu gak makan kasihan anak kita" Rayhan mengusap perut Eliza.
"Kak Ray, cuman perhatian sama anak kita tapi sama Eliza gak" Protes Eliza mengalihkan pandangannya dari Rayhan. Entah mengapa hari ini ia ingin sedikit mengerjai suaminya itu.
"Sayang bukan begitu, aku sayang sama kalian berdua. Makan ya.... biar istri dan anakku sehat dan gemuk" Rayu Rayhan melihat istrinya yang sedang merajuk itu. Ia sama sekali tak bisa marah jika terhadap istrinya apalagi pada saat kodisi Eliza yang sedang hamil saat ini pasti pengaruh hormon dalam tubuhnya akan berubah-rubah.
"Kak Ray pengen Eliza gemuk, terus kalau nanti Eliza gemuk pasti kak Ray akan lirik-lirik wanita lain atau lirik si Bella ganjen itu" Ketus Eliza yang masih berusaha menahan tawa karena ia senang dengan ekpresi Rayhan yang terlihat serba salah.
"Sayang mana mungkin seperti itu, aku sayang sama kamu apa adanya bukan ada apanya kayak yang author bilang"
(Author : Lah kenapa jadi saya yang di bawa-bawa ....🙄🙄)
__ADS_1
"Tidak perduli seperti apapun nanti perubahan kamu, selamanya aku cinta sama kamu dan hanya kamu yang aku inginkan sayang" Ucap Rayhan meraih tangan Eliza dan menciumnya. "Justru aku yang takut sayang, kalau nanti aku terlihat sudah tua, kamu akan ninggalin aku" Ucap Rayhan yang menyadari perbedaan usia di antara mereka di tambah lagi wajah Eliza yang masih selalu terlihat muda seperti gadis remaja.
Eliza menyeringai. "Tentu saja aku akan mencari yang lebih muda dan gagah dari kak Ray karena kalau kak Ray sudah tua pasti sudah tidak kuat lagi olah raga malam" Usil Eliza benar-benar ingin mengerjai suaminya.
Rayhan membelalak kaget mendengar ucapan istrinya. "Sayang, kenapa kamu meragukan stamina suamimu ini. Meskipun sudah tua nanti kalau masalah olah raga malam jangan pernah kau ragukan lagi. Apa kamu sekarang ingin bukti" Rayhan menyeringai menanggapi ucapan usil istrinya itu.
"Kak Ray.....!!" Teriak Eliza saat Rayhan menghujani ciuman bertubi-tubi pada dirinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=
"Alhamdulillah tuan Rayhan. Istri dan calon anak-anak anda baik-baik saja" Ucap dokter kandungan pada Rayhan dan Eliza yang saat ini di perut Eliza sudah terpasang alat penghubung dengan sebuah monitor yang menunjukkan ada pergerakan dari dua benda kecil pada gambar layar monitor.
Rayhan terperangah mencoba mencerna kata-kata dokter cantik paruh baya itu. "Maksud dokter, anak-anak saya?" Tanya Rayhan kemudian melihat layar monitor."Dan kenapa gambar di layar monitor itu ada dua pergerakan dok" Tunjuk Rayhan bingung pada layar monitor.
Dokter wanita itu tersenyum. "Tuan Rayhan seperti yang terlihat dalam layar monitor itu, saat ini di dalam rahim istri anda bukan hanya satu tapi ada dua anak anda di dalamnya. Selamat ya tuan Rayhan ada baby twins di dalam rahim istri anda" Tunjuk dokter itu pada layar. "Mereka terlihat sangat gesit tuan meskipun baru berumur delapan minggu"
"Tuan anda harus benar-benar menjaga kondisi istri anda dan untuk nyonya Rayhan saya harap perbanyak istirahat dan makan makanan apapun yang anda inginkan karena mungkin pada fase kehamilan ini pasti anda akan banyak pilih-pilih makanan karena rasa mual yang mungkin akan timbul" Ucap dokter kandungan itu.
"Terima kasih dokter" Ucap keduanya.
Rayhan dan Eliza keluar dari ruangan obgyn setelah mendapatkan vitamin yang harus di minum Eliza. "Sayang kamu tunggu di sini sebentar ya, saya ada perlu sebentar dengan salah satu dokter di rumah sakit ini" Ucap Rayhan yang mendapat anggukan dari Eliza.
Eliza terlihat menunggu di bangku pasien saat seseorang yang ia kenal melintas di depannya. Eliza seketika tertegun melihat pria paruh baya itu melewatinya tanpa mengetahui keberadaannya, hanya asisten yang mengikuti di belakangnya terlihat memungguti lembaran kertas yang terjatuh di depan Eliza saat tak sengaja tertabrak seseorang.
"Pak Rudi, siapa yang sakit" Tanya Eliza ikut membantu memunguti lembaran kertas yang terjatuh.
"Nona Eliza apa kabar?" Tanya pak Rudi kaget tidak menyangka bertemu Eliza setelah sekian lama. Pak Rudi adalah asisten setia Baron yang sudah sejak lama ikut bersama Baron.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik pak, siapa yang sakit" Tanya ulang Eliza dan tak sengaja mata Eliza menangkap tulisan-tulisan yang tertera di dalam salah satu lembaran kertas yang berada di tangannya. "Ya Tuhan...." Eliza membekap mulutnya. "Apa maksud semua ini pak" Tanya Eliza merasa kaget.
"Maaf nona, seperti yang anda lihat. Tuan Baron sedang sakit keras, ada masalah di jantung beliau. Nona saat ini tuan Baron membutuhkan keluarga terutama anda nona untuk berada disampingnya memberikan dukungan sepenuhnya pada beliau" Ucap Rudi terlihat sedih. "Nona papa anda begitu menyesali perbuatannya selama ini pada anda dan nyonya Fadiyah. Beliau mencari keberadaan anda nona agar bisa memperbaiki kesalahannya sebelum beliau pergi dari dunia ini" Ucapan Rudi membuat Eliza terdiam.
Rudi terlihat mengeluarkan sebuah kartu nama dan memberikan pada Eliza. "Maaf nona ini nomor ponsel saya, silahkan anda hubungi saya jika ingin mengetahui keadaan papa anda dan saya minta anda jangan beritahu siapapun tentang ini semua terutama suami anda dan tuan Reza karena tuan Baron tidak ingin siapapun tahu tentang penyakitnya, ia ingin terlihat baik-baik saja terutama di depan menantunya, tuan Reza dan juga anda" Rudi tampak menghela nafas. "Saya terpaksa hanya memberi tahu anda karena saya merasa kasihan pada beliau. Nona kalau begitu saya permisi" Pamit Rudi pada Eliza yang tidak menjawab hanya terdiam mematung.
Eliza merasa sedih mendengar ucapan Rudi tentang papanya. Biar bagaimanapun Baron adalah orang tuanya yang masih tersisa saat ini, meskipun dia begitu membencinya atas perlakuan buruk pada mamanya.
Eliza benar-benar bingung dalam hatinya terus bergejolak antara untuk memaafkan papanya atau mengabaikannya hingga suara Rayhan menganggetkan dan menyadarkanya dari lamunan. "Sayang kamu kenapa" Tanya Rayhan mengeryit melihat istrinya terlihat cemas.
"Aku gak apa-apa kak" Jawab Eliza.
"Yakin...."
"Hmmm" Eliza mengangguk.
"Ya sudah, istriku ikut sekalian aku miting ya di restoran XX dekat sini sekalian makan siang biar kedua anak kita tidak lapar karena tadi pagi kamu cuman minum susu" Ucap Rayhan dan Eliza pun mengangguk.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.......