
Eliza, Hanna dan Nancy sedang sibuk memilih baju di sebuah clothing store yang ada di dalam mall sedangkan Ron duduk menyeringai tak henti menatap Eliza dari sebuah kursi tunggu di toko baju itu dan mendapat pengawasan ketat dari anak buah Rayhan.
Hari ini Ron sama sekali tidak di dampingi anak buahnya karena permintaan Nancy, ia hanya berdua saat pergi ke Mall.
"Eliza...." Panggil Nancy mulai membiasakan diri dengan panggilan itu bukan lagi Jolie. "Kamu coba yang ini sayang" Ucap Nancy memberikan sebuah dress cantik pada Eliza.
"Itu bagus nyonya tapi sebaiknya kakak ipar mulai saat ini membiasakan pakai baju dress hamil" Sahut Hanna membuat Nancy mengeryit kaget.
"Eliza sayang kamu sekarang sedang mengandung....." Tanya Nancy tampak bahagia.
Eliza mengangguk tersenyum. "Iya mom".
"Selamat ya sayang" Nancy mencium kening Eliza. "Kau sudah aku anggap anakku sendiri. Bolehkan aku juga menganggap anakmu kelak seperti cucuku sendiri" Ucap Nancy begitu tulus pada gadis penyelamat hidupnya itu yang ia sayangi seperti menyanyangi Ron. Nancy juga berharap Ron bisa berubah dan kelak bisa menganggap Eliza sebagai saudara.
"Tentu mom" Eliza memeluk Nancy. Dia merasa beruntung punya tiga ibu di dunia ini yaitu mamanya Fadiyah, mama Nany dan momy Nancy.
Eliza sudah selesai mengganti bajunya dengan dress hamil cantik pilihan Nancy. "Kamu cantik sekali sayang" Ucap Nancy saat Eliza keluar dari ruang ganti.
"Kakak ipar Hanna memang cantik tante, makanya kakak ku sangat menyayanginya" Sahut Hanna yang juga baru keluar dari ruang ganti dengan baju dress pemberian Nancy.
"Di banding kakakmu, aku jauh lebih mencintai Jolieku" Sahut Ron berdiri dari duduknya yang sedari tadi menatap Eliza. Ron mulai melangkah dan mendapat perhatian anak buah Rayhan yang bersiap mencegahnya jika mendekati istri tuannya.
Hanna terlihat marah mendengar ucapan Ron, sedari tadi ia juga tidak suka memperhatikan tatapan Ron yang tidak biasa pada kakak iparnya. "Kakak ipar hanya milik kak Ray, tidak perduli suka atau tidak. Seharusnya om tidak boleh berkata seperti itu apalagi mencintai istri orang" Seru Hanna pada Ron membuat langkah Ron terhenti dan menatap tajam pada Hanna.
"Dia itu Jolie ku selamanya akan menjadi milikku. Kau anak kecil mana mengerti" Suara Ron meninggi. Nancy yang mendengar itu menatap tajam Ron.
"Jaga bicaramu Ron, dia adalah Eliza istri Rayhan" Bentak Nancy pada Ron membuat Ron seketika merasa kesal Momynya ternyata benar-benar sudah tidak mendukungnya lagi.
"Ron tidak perduli mom, dia akan tetap menjadi Jolie ku selamanya" Ron nekat hendak mendekati Eliza tapi di cegah oleh tangan seseorang.
"Tuan Ron, sepertinya kau benar-benar butuh seorang psikiater" Ucap Rayhan yang tiba-tiba muncul.
Setelah mendapat laporan dari anak buahnya Rayhan segera menyusul ke mall itu.
Ron menghempas tangan Rayhan yang menahannya. "Kau pikir aku gila" Bentak Ron membuat Rayhan meraih kerah baju Ron.
__ADS_1
"Yah kau memang sudah gila, kau ingin merusak rumah tanggaku dan kau ingin mengambil istri dan anak-anakku" Ucap Rayhan meninggi menatap tajam Ron dengan tangan masih menggegam erat kerah baju itu.
"Ha.....ha...." Ron tertawa kemudian berganti menyeringai. "aku tidak perduli kau bilang aku gila karena memang tanpa Jolieku aku bisa gila" Seru Ron.
Rayhan semakin mengeraskan gengaman tangannya pada baju Ron. "Kau dengar Ron fernandes....Aku Rayhan syarif tidak akan pernah membiarkan itu terjadi" Sarkas Rayhan melepas keras cengraman tangannya membuat tubuh Ron terhempas mundur. Rayhan kemudian melangkah mendekati Eliza berada. Nancy terlihat menitikkan air mata merasa sedih dengan kelakuan anaknya.
"Maafkan atas sikap anakku nak Rayhan" Ucap Nancy pada Rayhan yang berada dihadapannya.
"Maaf Nyonya, wanita baik seperti anda sungguh sangat di sayangkan memiliki anak seperti Ron" Ucap Rayhan masih bersikap sopan pada Nancy. Rayhan kemudian menoleh pada Eliza dan Hanna. "Kita pulang..." Ucap Rayhan kemudian meraih tangan Eliza untuk mengikutinya. "Kami permisi Nyonya" Pamit Rayhan dan Nancy mengangguk.
"Eliza pamit mom" Ucap Eliza berjalan mengikuti tarikan tangan Rayhan dikuti Hanna dan anak buah Rayhan di belakangnya.
"Momy sungguh kecewa padamu Ron" Ucap Nancy setelah kepergian ketiganya.
"Kenapa momy tidak mendukungku?" Tanya Ron menatap Momynya.
"Untuk apa aku mendukungmu yang bersalah....Sadar Ron...!! dia Eliza istri Rayhan bukan Jolie" Suara Nancy meninggi, ia sudah tidak perduli lagi jika saat ini berada di tempat umum.
"Maaf mom, aku tidak perduli sekalipun momy tidak mendukungku, Aku tidak akan pernah melepas Jolieku" Ucap Ron.
Kenapa......kenapa.... kau harus memiliki sifat buruk seperti laki-laki jahat itu...... Keluh Nancy masih menangis melangkah pergi dari tempat itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mobil Rayhan sudah kembali kerumah setelah mengantar Hanna pulang. Rayhan turun dari mobilnya dan membuka pintu mobil untuk Eliza, tanpa berkata ia menggandeng tangan Eliza untuk masuk ke dalam rumah.
Braak.....Suara pintu kamar tertutup keras setelah mereka masuk ke dalam kamar.
"Apa yang kak Ray lakukan" Teriak Eliza saat Rayhan membuka baju dressnya paksa. Rayhan tidak menjawab ucapan Eliza. Ia kemudian mengambil baju di lemari dan memakaikannya pada Eliza. Eliza berusaha menahan tangis merasa takut dengan sikap Rayhan.
Rayhan masih terdiam kemudian tiba-tiba memukul tembok hingga tangannya berdarah melampiaskan amarahnya, bukan baju yang harus ia salahkan karena mengira baju itu pemberian Ron, Rayhan hanya merasa perasaannya kacau karena masih merasa emosi saat ia melihat Ron menatap istrinya seolah-olah Ron adalah suami dan ayah dari anak-anaknya.
"Hiks.....hiks." Eliza menangis membuat Rayhan seketika sadar dan menyesali atas sikapnya pada Eliza.
Rayhan hanya takut kehilangan istri dan anak-anaknya. Jika tidak memikirkan hati seorang ibu, sungguh ia pasti sudah menghabisi seorang Ron tanpa sisa.
__ADS_1
"Maaf sayang" Ucap Rayhan memeluk erat Eliza. Tidak seharusnya ia bersikap seperti itu pada Eliza meskipun ia sedikit kecewa dengan istrinya yang menyembunyikan sesuatu darinya. "Jangan nangis lagi ya" Rayhan membelai lembut rambut Eliza yang masih menangis di pelukannya.
*****
Eliza baru keluar dari kamar mandi dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Rayhan yang ternyata sudah terbaring di ranjang dengan lengan tangan menutupi kedua matanya. Rayhan tertidur melepas semua beban berat yang ia pikul selama ini menjadi seorang pemimpin dari semua perusahaannya dan menjadi kepala keluarga bagi keluarga kecilnya.
Eliza mendekati lemari dan memakai bajunya kemudian beralih ke meja rias. Setelah selesai Eliza duduk di pinggiran ranjang sebelah suaminya dengan membawa kotak P3K. Dengan mata masih sembab Eliza perlahan meraih tangan Rayhan kemudian membuka kota P3K lalu mengambil obat untuk mengolesi luka di tangan Rayhan, menempelkan kain perban dan plester. Selesai mengobati tangan Rayhan, sejenak Eliza menatap suaminya itu.
"Maaf kak, Eliza selalu membuat hidupmu tak tenang....." Lirih Eliza perlahan beranjak meninggalkan suaminya yang masih tertidur setelah mencium kening Rayhan.
Eliza melangkah turun ke dapur menyiapkan makan malam yang sempat ia masak tadi sebelum mandi. Setelah selesai ia melangkah keruang tamu, duduk di sofa membuka ponselnya yang ia bawa. Sebuah notifikasi pesan tertera di layar ponselnya.
"Nona lusa ada jadwal papa anda periksa ke rumah sakit. Bisakah anda ikut mengantar" Isi pesan itu dari pak Rudi. Eliza tidak membalas pesan itu karena merasa bingung harus bagaimana, ia tidak ingin membuat Rayhan cemas dan marah lagi.
Lebih baik besok aku ke kantor kak Reza dan mencoba bicara padanya.....pikir Eliza kemudian perlahan merebahkan tubuhnya, Eliza memiringkan tubuhnya, tak terasa air matanya kembali menetes. Eliza menangis sesenggukkan entah mengapa sejak kecelakaan menolong Nancy saat itu, dirinya sudah tidak setegar dulu lagi dalam menghadapi setiap masalah. Dia merasa dirinya begitu rapuh hingga tanpa terasa rasa kantuk menghampirinya kemudian terlelap ke alam mimpi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....