
Booom....Tabrakan itu tak terhentikan tapi bukan mobil Rayhan yang tertabrak truk melainkan mobil Erny. Saat mobil Erny mendorong maju mobil Rayhan melewati batas lampu merah agar tertabrak truk yang melintas itu, dengan sigap dan cepat Rayhan ikut menginjak gas mobil hingga mobilnya melaju cepat dan mobil Erny yang mendorong mobil Rayhan seketika itu juga mobilnya ikut melaju ke depan menggantikan posisi mobil Rayhan hingga mobilnya lah yang tertabrak truk itu. Erny tewas seketika itu juga. sedangkan mobil Rayhan yang melaju cepat menabrak sebuah tiang papan reklame hingga terguling.
Rayhan yang berlumuran darah, tangan nya terangkat berusaha meraih Eliza. "Istriku....."Lirih Rayhan lemas melihat Eliza berada di sampingnya yang juga berlumuran darah. Rayhan berusaha untuk terjaga mengerjapkan mata yang mulai terlihat samar-samar, ia harus kuat tidak boleh pingsan. Pandangan Rayhan mulai menggelap dan seketika itu juga Rayhan tak sadarkan diri.
Ciiit......
"Ya tuhan...." Teriak dua orang bersamaan di dalam mobil yang terhenti seketika itu juga.
"Jolie......!!"
"Gadis kecilku...."
Teriak Ron dan Reza keluar cepat dari mobil berlari menghampiri mobil Rayhan yang terguling. Keduanya melihat Eliza dan Rayhan berlumuran darah terjebak dalam mobil itu.
Reza membuka pintu kemudi sedang Ron membuka pintu samping kemudi. "Kau selamatkan Ray dan aku akan selamatkan Jolie" Ucap Ron pada Reza. Reza berhasil menarik tubuh Rayhan keluar dari mobil.
"Jolie adikku sayang bertahanlah" Ucap Ron perlahan menarik Eliza keluar dari pintu mobil namun tiba-tiba terdengar sesuatu jatuh menimpa di atas mobil Rayhan...
Braak....
Sebuah papan reklame jatuh di atas mobil Rayhan berada tepat di atas Ron dan Eliza berada. Beruntung papan reklame itu tidak terlalu besar hingga seseorang dengan cepat dapat menahannya dan tidak sampai mengenai Ron dan Eliza. "Cepat bawa adikmu keluar nak" Ucap Baron berusaha menahan papan reklame itu yang separuh bagian bertengger di atas mobil Rayhan dan yang separuh bagian lagi sedang ia tahan dengan tangannya agar tidak menimpa Ron yang sedang menggendong Eliza.
Eliza samar-samar melihat Baron yang menahan papan reklame dengan darah yang mengalir dari luka tembakannya.
Ron mengangguk. "Pa....." Lirih Eliza kemudian tak sadarkan diri. Baron segera melepas papan Reklame setelah Ron berjalan menjauh dari pintu mobil.
"Ah...." Baron mencoba melangkah sembari memegangi luka tembakan di dadanya yang semakin banyak darah mengalir.
Dua mobil ambulance pun sudah tiba.
__ADS_1
"Pa...." Teriak Reza berlari memapah Baron setelah memasukan brankar dorong Rayhan ke mobil ambulance. "Kita ke rumah sakit, apa papa masih bisa berjalan" Tanya Reza memegang kuat Baron yang terlihat semakin pucat.
"Papa tidak apa-apa, bagaimana adikmu Eliza?" Tanya Baron, dengan wajah benar-benar menahan sakit.
Reza mengarahkan wajahnya pada keberadaan Ron yang membaringkan Eliza perlahan di brankar dalam mobil ambulance. "Eliza bersama kak Ron, luka Papa juga harus cepat di obati" Reza segera membawa Baron masuk ke dalam mobil ambulance Rayhan.
Kedua mobil ambulance itu pun melaju cepat menuju rumah sakit meninggalkan lokasi yang sudah mulai di jaga banyak polisi yang baru tiba.
***
Tiga brankar dorong di larikan cepat dalam lorong rumah sakit menuju ruang IGD. Dokter dengan cepat menangani ketiga pasien tersebut. Dokter Danu sebagai pimpinan baru yang di pilih Rayhan di rumah sakitnya juga tampak baru saja tiba ikut menangani ketiga pasiennya itu.
"Tuan Rayhan, nona cantik..." Ucap dokter Danu kaget ternyata pasiennya adalah kedua sahabatnya. Dokter Danu bergegas memeriksa keadaan Rayhan, Eliza dan Baron yang berada dalam satu ruangan di ruang IGD. Ron dan Reza terlihat begitu cemas menunggu di depan ruang IGD.
Selang beberapa waktu, pintu IGD terbuka. satu persatu Brankar terlihat di dorong oleh para perawat, Brankar Rayhan di dorong para perawat menuju ruang rawat, brangkar Baron di dorong menuju ruang operasi sedangkan Eliza masih di ruang IGD bersama dengan dokter kandungan. "Bagaimana keadaan mereka dokter" Tanya Ron dan Reza secara bersamaan melangkah mendekati dokter Danu.
"Tuan Ron apa sebenarnya yang terjadi?" Tanya balik dokter Danu menatap tajam Ron, belum menjawab pertanyaan yang di lontarkan keduanya. "Apa ini ada hubungannya dengan anda lagi?" Dokter Danu yang belum tahu hubungan antara Ron dan Eliza sedikit terpancing emosi, ia mengira Ron masih berniat ingin memiliki Eliza.
"Tuan Ron, saya mohon lepaskanlah nona cantik bersama tuan Rayhan. Semua yang anda lakukan hanya akan menyakitinya" Ucap dokter Danu membuat Ron mulai paham jika dokter tampan itu masih mengira dirinya ingin merebut Eliza dari Rayhan.
"Anda salah paham dokter" Sela Reza pada dokter Danu.
"Siapa anda? anda tidak tahu apa-apa jadi jangan ikut campur" Tutur dokter Danu yang entah mengapa ia begitu emosi melihat kedua sahabatnya terluka di tambah lagi melihat keadaan Eliza yang sedang hamil besar terluka parah.
"Saya adalah kakak dari Eliza dokter" Ucap Reza kemudian memegang pundak Ron. "Dan mana mungkin kakakku ini juga menyakiti adiknya" Tutur Reza menjelaskan.
"Apa maksud anda?" Kini giliran dokter Danu yang merasa bingung.
"Dia dan Jolie adalah adikku dokter" singkat Ron ikut menjelaskan membuat dokter Danu kaget baru tahu kenyataan itu. "Dokter bagaimana keadaan Jolie adikku, Rayhan dan papaku" Lanjut Ron beralih bertanya.
__ADS_1
Dokter Danu seketika tersadar dengan pertanyaan Ron dan menyampingkan rasa kagetnya. "Tuan Rayhan belum sadar, kami akan pindahkan ke ruang rawat dan akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut sedangkan untuk papa kalian, beruntung luka tembakan tidak terlalu dalam, tidak sampai mengenai organ vital dan saat ini operasi pengambilan peluru sedang berlangsung oleh salah satu dokter kami." Tutur dokter Danu menjelaskan.
"Untuk nona Cantik, bayi yang dalam kandungannya harus segera di keluarkan. Sayangnya kondisi nona cantik sangat lemah dan masih belum sadar sehingga kami terpaksa mengambil keputusan jalan satu-satunya adalah melakukan tindakan operasi tapi...." Jeda dokter Danu Terlihat tak sanggup melanjutkan kalimatnya membuat membuat Reza dan Ron semakin cemas.
"Tapi apa dokter?" Tanya bersamaan Reza dan Ron.
"Operasi kali ini akan sangat membahayakan bagi nyawa nona cantik dan keluarga harus bersiap menerima kemungkinan terburuk dari operasi yang kami lakukan kali ini" Tutur dokter Danu yang terdengar begitu getir.
"Apa maksud dokter?" Tanya Ron emosi meraih kera baju dokter Danu. "Aku tidak mau tahu, Jolie adikku harus selamat dokter" Ucap Ron matanya sudah berkaca-kaca sedangkan Reza sudah ambruk terduduk di bangku pasien tak sanggup membayangkan hal terburuk terjadi pada adik kesayangannya.
Operasi Baron sudah selesai di laksanakan dan Baron yang belum sadar di pindahkan ke ruang rawat. Setelah melihat keadaan Baron dan Rayhan yang belum sadarkan diri kini Ron dan Reza mengikuti brankar dorong yang membawa Eliza menuju ruang operasi. "Kau harus selamat Jolie adikku, maafkan aku selama ini sudah menyakitimu" Lirih Ron dalam hati.
"Gadis kecilku, kamu harus kuat" Lirih Reza yang langkahnya bersama Ron terhenti saat Eliza sudah memasuki ruang operasi bersama beberapa para dokter dan perawat.
"Kalian berdoalah, kami akan berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan ibu dan anak-anaknya" Ucap dokter Danu pada Ron dan Reza kemudian ikut melangkah masuk. Pintu operasi sudah tertutup, lampu merah di atas pintu pun telah menyala tanda operasi sedang berlangsung.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.....